Bab-11

1089 Words
Mentari pagi baru saja menyinari jendela kamar hotel ketika alarm ponsel Veanna berbunyi. Wanita itu membuka matanya perlahan. Tubuhnya masih terasa pegal setelah semalaman berdiri di atas panggung, dilanjutkan sesi foto sponsor dan konferensi pers yang baru selesai menjelang tengah malam. Dia duduk di tepi ranjang sambil merenggangkan bahunya pelan. Entah kenapa rasanya Veanna masih merasakan perhatian Christopher semalam. Untuk pertama kalinya setelah hari yang begitu panjang... Dia makan dengan tenang, tanpa terburu-buru mengejar jadwal berikutnya. Perhatian kecil itu membuat Veanna suka. "Hari kedua." gumamnya lirih. Veanna berjalan menuju jendela kamar. Dari lantai belasan hotel, dia bisa melihat jalanan kota yang mulai ramai oleh aktivitas masyarakat. Tidak ada banyak waktu untuk menikmati pemandangan itu. Jadwal hari ini kembali padat. Dia harus mengikuti wawancara radio dan setelah itu berangkat ke kota berikutnya untuk tour kedua. Masih ada lima hari sebelum dia benar-benar kembali ke rumah sialan itu. Suara pintu diketuk membuat Veanna menoleh, dia menatap Shandra yang masuk sambil membawa tablet ditangannya. Wanita itu tersenyum manis ketika menatap Veanna yang hanya menggunakan wardrobe saja dari hotel. “Selamat pagi.” Sapanya. Veanna tersenyum geli. “Selamat pagi Bu Manager.” Shandra terkekeh, “Apa tidurmu nyenyak?” “Sedikit, meskipun aku berpikir untuk kembali tidur.” “Itu tidak mungkin Veanna.” Ya, dia tahu itu tidak akan mungkin. Veanna meminta Shandra untuk menjelaskan kemana kita hari ini akan pergi. Dan wanita itu langsung membuka tabletnya dan memberitahu rinciannya. Jika hari ini jam delapan pagi mereka harus sudah ada di stasiun radio ternama disini, wawancara berlangsung selama empat puluh lima menit, tidak ada jam molor atau tambahan apapun. Setelah itu mereka harus pergi ke bandara untuk tour berikutnya. Jam penerbangannya jam sebelas lewat dikit, Shandra harap Veanna tidak akan ngedrama karena penampilan atau apapun itu. Dan setelah sampai di lokasi kedua Veanna hanya memiliki beberapa menit untuk siap-siap sebelum dia tampil kembali. “Kamu benar-benar tidak memberiku waktu untuk bernafas.” Gerutu Veanna. Shandra tertawa kecil. “Kalau aku memberimu waktu libur penggemar mu yang protes bukan aku.” Mereka berdua tertawa kecil. Tak lama kemudian, Veanna menyelesaikan sarapannya, berganti pakaian dengan kemeja putih sederhana dipadukan celana panjang krem. Penampilannya jauh lebih santai dibanding malam sebelumnya, tetapi tetap terlihat anggun. Sekitar pukul delapan kurang lima menit, Veanna keluar dari kamar hotel. Di depan lift, Christopher sudah menunggu dengan setelan hitam khasnya. Apa tidak ada baju yang lain selain setelan itu? Padahal semalam yang menggunakan celana panjang bebas dan juga kaos dalam berwarna putih nampak gagah dan tampan. Tapi malam ini … mungkin setelah tour kedua mereka harus menghabiskan malam bersama. Apapun itu dia harus mendapatkan benih Christopher lagi. Veanna menghentikan langkahnya sejenak. Dia menghampiri beberapa penggemar untuk menyapa, menerima hadiah kecil berupa bunga dan gantungan kunci, lalu berfoto bersama sebelum kembali berjalan menuju pintu keluar. Christopher berdiri tidak jauh darinya. Tatapannya terus memperhatikan keadaan sekitar tanpa mengganggu momen singkat tersebut. Setelah semuanya selesai, dia membukakan pintu mobil. "Silakan.” Veanna masuk lebih dulu, disusun Shandra yang langsung membuka kembali jadwal hari itu. "Wawancara radionya santai saja. Mereka lebih banyak membahas album baru." "Syukurlah." Sampai saat ini tidak ada yang tahu jika Veanna sudah berstatus menikah. Pernikahannya dengan Brian cukup dirahasiakan, karena bisa merusak reputasi Veanna dan juga Briand yang seorang pengusaha. Meskipun tidak masalah tapi Veanna tidak mau menimbulkan masalah baru, dimana suaminya itu sedang jatuh cinta dengan wanita lain sejak dulu. Dan Veanna paling tidak suka kalau ada orang lain yang mengetahui kehidupan pribadi Veanna. "Setelah itu kita tidak boleh terlambat ke bandara." "Aku mengerti." Mobil melaju meninggalkan hotel menuju salah satu stasiun radio terbesar di kota itu. *** Suasana studio radio terasa hangat. Penyiar menyambut Veanna dengan antusias, sementara beberapa pendengar sudah mengirimkan pertanyaan melalui media sosial. Selama hampir satu jam, Veanna berbincang mengenai proses pembuatan album, pengalaman di malam pembukaan tour, hingga cerita di balik salah satu lagu favoritnya. Sesekali gelak tawa memenuhi ruangan ketika penyiar melontarkan candaan yang berhasil mencairkan suasana. Tak terasa waktu wawancara pun selesai. "Terima kasih sudah datang, Veanna. Semoga tour-nya sukses." "Terima kasih. Semoga kita bisa bertemu lagi." Veanna melepaskan headphone dari kepalanya lalu berdiri. Ia berpamitan kepada seluruh kru radio sebelum berjalan keluar studio. Begitu pintu terbuka, Christopher sudah menunggu di luar. Pria itu tampak gagah di depan sana, tapi tetap saja bajunya itu yang membuat Veanna kesal setengah mati. Dia ingin sekali Christopher menggunakan baju santai meskipun sedang bekerja. Mungkin dia akan mendiskusikan hal itu dengan Shandra. Ah ya … mengingat tentang Shandra, Veanna hampir lupa dari mana mereka kenal dan akrab? "Bandara, Nona?" Veanna mengangguk sambil tersenyum tipis. Meskipun dia masih ingin istirahat sebentar, mungkin untuk menikmati satu cup ice cream di siang hari ini. Tapi nyatanya Shandra bahkan tidak mengizinkan hal itu. "Ayo berangkat.” Shandra melirik jam di pergelangan tangannya. "Kalau perjalanan lancar, kita masih punya waktu sebelum boarding." “Shandra ice boleh yaa. Panas banget ini.” keluh Veanna. Shandra menggeleng. “Tidak ya … itu lebih bahaya Veanna.” “Ayolah.” Ucap Veanna menunjukkan puppy eyesnya paa Shandra. Berharap jika wanita itu akan luluh tapi yang ada Shandra tetap saja menggeleng. Sedangkan Christopher hanya menatapnya datar. “Setelah tour selesai, apapun yang kamu ingin makan, makan.” Tapi tetap saja saat ini Veanna ingin sekali makan ice cream, dia hanya akan menghabiskan satu cup saja tidak banyak. Tenggorokannya cukup kering, di dalam dia hanya diberi air minum saja tidak lebih. Kalau tidak boleh ice cream minimal belikan Veanna buah segar agar bisa mengisi perutnya. Mendengar hal itu Christopher merasa kasihan. Dia pergi secara diam-diam untuk membeli ice cream dan juga buah. Rasanya dia tidak tega melihat Veanna yang memelas seperti itu. Iya benar ice cream di siang hari memang tidak baik, jika tubuhnya kuat dia akan baik-baik saja. Tapi jika imunnya sedang turun udah pasti akan jatuh sakit. Tapi pria itu berharap satu cup ice cream ini tidak akan membuat Veanna kenapa-napa. Tak lama Christopher pun kembali membawa satu paper bag yang langsung diberikan pada Veanna. “Makanlah di kursi depan agar Shandra tidak tau.” Awalnya Veanna bingung tapi ketika melihat satu cup ice cream yang ditaruh paling atas dan juga buah, wanita itu tersenyum kecil. Hal sekecil ini saja Christopher mampu menuruti apa maunya. Wanita itu sedikit mendekat dan mulai berbisik. “Malam ini aku ingin menghabiskan malam bersamamu.” Bisiknya dsn membuat Christopher tersenyum kecil. Akhirnya, mereka bertiga kemudian berjalan menuju mobil. Hari pertama tour telah berlalu dengan baik. Kini perjalanan berlanjut ke kota berikutnya, tempat ribuan penggemar lain sudah menunggu Veanna untuk kembali berdiri di atas panggung malam nanti. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD