Bab-12

1039 Words
Penerbangan berlangsung hampir dua jam. Selama di dalam pesawat, Veanna memilih memejamkan mata. Dia memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat, sementara Shandra sibuk memeriksa jadwal di tabletnya. Begitu pesawat mendarat, rombongan langsung dijemput oleh panitia lokal. Sebuah minibus hitam membawa mereka menuju lokasi konser kedua. Sejujurnya Veanna ingin protes tapi melihat antusias mereka membuat wanita itu mengurungkan niatnya. Meskipun kakinya rasanya ingin protes, jadwal tour kali ini benar-benar berbeda dari yang sebelumnya. Dan mungkin ini yang dimaksud artis naik daun yang sedang populer. Di sepanjang perjalanan, spanduk promosi album Veanna terlihat terpasang di beberapa sudut jalan. Bahkan sebuah layar digital besar di pusat kota menampilkan video singkat promosi tour yang akan dimulai malam itu. Veanna memperhatikan semuanya dari balik jendela. "Kota ini menyambut kita dengan meriah." Shandra ikut melihat ke luar. "Penjualan tiketnya juga bagus. Hampir sama seperti kota pertama." Itu tandanya pundi pundi uang mereka akan terkumpul dengan baik bukan? Veanna tersenyum puas. Tak lama kemudian, kendaraan memasuki area belakang gedung pertunjukan. Suasana di sana tidak kalah sibuk dibanding kota sebelumnya. Kru produksi sedang menurunkan perlengkapan, penata cahaya memeriksa lampu panggung, sementara para musisi melakukan persiapan terakhir. Veanna masih diam sampai akhirnya Christopher membuka pintu mobilnya dengan senyum tipisnya. Kali ini dia tidak menggunakan setelah, tapi menggunakan kaos hitam celana hitam dan juga id card jika dia adalah pengawal pribadi Veanna. Dan entah kenapa Veanna malah lebih suka melihat Christopher seperti ini, terlihat … tampan. Veanna turun sambil merapikan jaket yang dikenakannya. Dia mengangkat wajah, memandang panggung megah yang beberapa jam lagi akan dipenuhi ribuan penonton. Semuanya sudah siap tinggal menunggu Veanna untuk sound check. Meskipun itu tidak perlu tapi wanita itu cukup profesional dan melakukannya. Bahkan selama soundcheck wanita itu malah di sibuknya dengan kopernya yang hampir saja hilang. “Koperku?” Pekiknya. “Tenang saja, koper itu tidak akan hilang. Christ yang membawanya.” Terdengar suara gelak tawa di tribun. Dan Veanna baru sadar ketika dia memekik karena mencari koper dia baru sadar jika dia tidak menjauhkan microphone yang dia pegang dari bibirnya. Sehingga ribuan orang yang berada di depan panggung mampu mendengar suaranya dan tertawa. Veanna kemudian berjalan memasuki lorong backstage. Aroma khas panggung, suara alat musik yang sedang diuji, serta langkah para kru yang hilir mudik seolah menjadi pertanda bahwa malam panjang kembali menantinya. Dia berhenti sejenak di depan pintu ruang ganti. Menarik napas dalam. Lalu tersenyum kecil. "Baiklah..." Katanya sambil menghembuskan nafas pelan, "Hari kedua dimulai." Dengan langkah mantap, Veanna membuka pintu ruang ganti, bersiap menjalani penampilan keduanya dalam rangkaian tour promosi album yang baru saja dimulai. *** Ruang keluarga kembali hening setelah tayangan konser Veanna berakhir. Sherly mematikan televisi, lalu meletakkan remote di atas meja. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa sambil menghela napas pelan. Tersenyum tipis sambil menjalankan apa yang ada di pikirannya. "Kalau dipikir-pikir..." ucapnya memecah keheningan. "Empat tahun itu bukan waktu yang sebentar, Bri." Briand yang sejak tadi duduk di kursi tunggal hanya mengangkat pandangannya sebentar. Jemarinya masih bertaut, sementara pikirannya entah sedang mengembara ke mana. "Aku tahu." Katanya pelan, seolah menyiratkan sesuatu yang akan diucapkan oleh Sherly. Orang yang selama ini dia percaya dan dia lindungi. Wanita yang terlihat lemah di matanya. "Selama empat tahun itu..." Sherly melanjutkan dengan nada yang tetap tenang, "apa pernah sekali saja kamu merasa pernikahan itu membuatmu bahagia?" Pertanyaan itu membuat Briand terdiam. Bukan karena dia tidak memiliki jawaban, tetapi karena jawaban itu sudah lama ada di dalam kepalanya. Dia bertahan selama empat tahun itu karena siapa? Dan selama empat tahun ini dia membuang waktu karena siapa? Dia tahu hanya saja dia tidak aku ambil pusing, waktu itu dia berpikir dengan menikahi wanita itu keluarganya akan bahagia. Tapi nyatanya dirinya yang paling tersiksa. "Tidak." Sherly tidak tampak terkejut mendengarnya. Justru dia tersenyum tipis, seolah sudah menduga jawaban tersebut. Karena selama empat tahun ini dia yang terus menemani Briand. Jadi, dia tahu apa yang pria itu rasakan selama menikah. "Kalau begitu, kenapa kamu masih bertahan?" Briand mengusap wajahnya perlahan sebelum menyandarkan punggung ke sofa. Jika dia tidak bertahan maka dia tidak akan memiliki apapun seperti saat ini. Ancaman kakek masih begitu terasa di pundaknya. "Kakek." "Lagi-lagi Kakek." Nada suara Sherly tidak terdengar menyalahkan. Dia justru terdengar iba. "Aku paham beliau sangat menyayangimu. Beliau juga ingin melihat keluargamu utuh. Tapi... apa beliau tahu bagaimana kehidupanmu selama ini?" Briand menundukkan kepala. "Tidak.” Sherly mengangguk pelan. "Beliau melihat kalian sebagai pasangan yang baik-baik saja. Padahal kenyataannya, kamu bahkan tidak pernah menjalani kehidupan sebagai suami." Ruangan kembali sunyi. Sherly sengaja tidak melanjutkan ucapannya. Ia membiarkan Briand mencerna setiap kalimat yang baru saja didengarnya. Sudah jelas pria itu akan terus mendengarkan apa yang Sherly katakan. Bahkan selama ini hanya ucapan Sherly yang didengar oleh Briand. Dia tidak akan mendengarkan siapapun kecuali Sherly. Dengan begitu untuk menguasai Briand akan cukup mudah untuk Sherly. Beberapa saat kemudian, wanita itu kembali bersuara. "Aku hanya takut." Briand menoleh. "Takut apa?" "Takut kamu terlalu sibuk menjaga harapan orang lain... sampai lupa kalau kamu juga punya hak untuk menentukan hidupmu sendiri." Kalimat itu terdengar sederhana. Namun bagi Briand, kalimat itu seperti mengetuk sesuatu yang selama ini diabaikan. Dia memang tidak pernah menginginkan pernikahan itu. Dia juga tidak pernah mencoba memperbaikinya. Ditambah lagi kakek sekarang meminta cucu dari pernikahannya dengan Veanna. Semuanya berjalan begitu saja karena dia merasa tidak memiliki pilihan lain. Semua ini dia lakukan untuk kakek. Tapi dia juga merasa selama empat tahun bersama dengan Veanna itu hanya kekosongan yang dia dapat. Pertengkaran, dan juga perselisihan yang tidak ada habisnya. Menurut Briand, Veanna itu wanita pembangkang. Dan menurut Veanna, Briand itu terlalu egois yang hanya mendengar satu pihak dan tidak ingin mendengarkan pihak lainnya. Sherly memperhatikan perubahan ekspresi pria di hadapannya. Sudut bibirnya terangkat tipis, tetapi ia segera menyembunyikannya. "Aku tidak sedang menyuruhmu melakukan apa pun, Bri." Wanita itu meraih cangkir tehnya, lalu meminum seteguk sebelum melanjutkan. "Aku hanya ingin kamu sesekali memikirkan dirimu sendiri. Jangan terus hidup untuk memenuhi keinginan orang lain." Briand menarik napas panjang. Entah mengapa, setiap kali Sherly berbicara, semuanya selalu terdengar masuk akal. Tidak pernah terdengar memaksa. Tidak pernah terdengar seperti hasutan. Namun justru karena itulah, kata-kata Sherly selalu berhasil menetap di kepalanya lebih lama daripada ucapan siapa pun. Malam itu, tanpa Briand sadari, benih keraguan yang selama ini hanya tersimpan di sudut hatinya mulai tumbuh sedikit demi sedikit. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD