Usai konser terakhir, Veanna tak memilih langsung pulang. Meskipun semua pekerjaannya telah usai tapi wanita itu enggan untuk pulang. Dia memilih pergi berkeliling kota, membeli beberapa buku, pergi ke coffee shop dan melakukan aktivitas lainnya. Dan untungnya meskipun dia bertemu dengan penggemarnya, mereka seolah menjaga privasi Veanna saat ini dan membiarkan wanita itu mengunjungi tempat tempat yang indah di kota ini.
Mampir disalah satu restoran ternama Veanna pun mendengus. Dia menatap Christopher yang berdiri di sampingnya tanpa mau duduk di samping maupun di hadapannya.
“Ada apa denganmu? Kenapa kamu tidak duduk? Tidak mungkin kan kamu makan dengan berdiri?”
Christopher tersenyum tipis. “Bukannya ini pekerjaan saya?”
“Christ ayolah … konser tlah usai, tidak ada wartawan, tidak ada penggemar dan tidak ada lainnya selain aku dan kamu disini.”
Kalimat terakhir membuat pria itu terdiam. Dan memilih duduk di hadapan wanita itu sambil menikmati secangkir kopi yang dipesankan oleh Veanna. Rasanya ingin sekali dia berbicara tentang hal semalam, tapi tempat ini cukup umum Christopher takut jika ada orang lain yang mendengarkan obrolan mereka. Tentang hubungan apa yang sudah terjalin di antara mereka sejauh ini? Hanya sebagai atasan dan pengawal atau lebih? Mengingat hubungan ini sudah tidak pantas lagi di sebuah pengawal dan bos. Mereka tidur bersama, menghabiskan waktu bersama mana mungkin jika hanya dianggap sebagai pengawal? Dan sialnya Christopher tidak suka dianggap seperti itu oleh Veanna.
Keheningan mulai melanda mereka. Christopher yang sibuk memainkan gelas kopinya, dan Veanna yang sibuk mengambil beberapa gambar yang bagus untuk diunggah di akun sosial medianya. Dia tidak tahan dengan hal ini, dia harus mendapat jawaban yang seharusnya dari bibir Veanna. Persetan dengan teman ini jika ada yang mendengar itu salah mereka.
“Veanna … .” Panggil Christopher pelan, sambil menatap Veanna yang tatapan yang berubah serius. Wanita itu pun juga langsung mendongak meletakkan ponselnya di samping piring kuenya dan menatap Christopher. “Semalam … kenapa kamu menjelaskan gosip murahan itu di atas panggung?”
Veanna mendengus. “Aku harus menjelaskan Christ, agar tidak terjadi masalah kembali.”
Pria itu mengangguk kecil. “Jadi hubungan kita hanya sebatas artis dan pengawal? Setelah banyak hal yang kita lakukan?”
Veanna diam sejenak, dia menatap Christopher dengan sorot mata yang sendu. Tapi detik berikutnya dia pun tersenyum sambil mengusap punggung tangan pria itu. “Christ hubungan kita sudah lebih dari itu, dan kamu memahami hal itu. Aku tidak mungkin mengatakan jika hubungan kita lebih dari artis dan pengawal.”
“Dan jika di bawah panggung apa hubungan kita?” Potong Christopher cepat.
“Kamu ingin menganggapku apa? Sedangkan aku sudah memiliki suami?”
“Aku tidak peduli dengan hal itu. Mau kaku punya suami atau tidak, setelah malam itu … malam di apartemen ku kamu menjadi milikku.”
Veanna agak sedikit kaget mendengar hal itu, tapi untuk membuat pria itu tidak berpikir macam-macam akhirnya dia pun mengangguk kecil. Ini hanya sementara tidak masalah jika dia menganggap Veanna sebagai miliknya. Dan setelah Veanna bisa hamil, sudah jelas Veanna akan membuang Christopher begitu saja dari hidupnya.
***
Malam harinya untuk penutupan, wanita itu mengajak Christopher pergi ke taman hotel bersama dengan Shandra. Tapi wanita itu cukup lama jika harus menunggu, hingga Veanna berinisiatif untuk membeli beberapa cemilan dan juga minuman soda untuk mereka nikmati. Setidaknya malam ini lumayan cerah banyak bintang yang bertaburan. Kapan lagi coba menikmati malam yang panjang di kota orang.
Tak lama Shandra pun datang dengan baju lengan panjang nya. Wanita itu tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya. “Aku pikir tidak jadi.” Katanya.
“Mana mungkin. Ini hari terakhir kita harus menikmatinya sebelum pulang.”
“Ya aku setuju dengan hal itu.”
Mereka pun asyik ngobrol, tapi pandangan Veanna terarah pada Christopher yang masih berdiri di sampingnya. Wanita itu mendengus dia memberikan cemilan pada Christopher agar tidak terlihat menderita. Masa iya Veanna dan Shandra makan dia hanya diam saja, tidak hanya itu Veanna juga meminta Christopher untuk duduk. Dia tidak perlu menjaga secara formal. Semua agenda Veanna sudah selesai dan wanita itu ingin Christopher dan juga Shandra menikmati malam terakhir sebelum akhirnya kembali besok pagi
Tapi sayangnya Christopher menolak, dia tidak akan duduk karena hal ini bagian dari pekerjaannya. Veanna yang kesal pun langsung menarik pria itu hingga akhirnya duduk di sampingnya. Sehingga membuat Veanna bisa bersandar di bahu pria itu.
“Aku memanggil Christopher bukan pengawal.” Katanya.
Tatapan Christopher sempat berubah. Entah mengapa, mendengar Veanna memanggil namanya tanpa embel-embel apa pun selalu menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan. Tangannya reflek menyentuh pinggang wanita itu dan sedikit mengusapnya pelan. Memberikan kesan hangat di pelukan badan yang kekar itu.
Shandra yang menyadari hal itu menaikkan satu alisnya. Christ bukan pria sembarangan untuk disentuh, dia hanya bisa disentuh jika dia mengizinkan. Mengingat sejak dulu pria itu paling anti dengan wanita, menurutnya semua wanita itu ribet dan hal itu membuat Christopher tidak betah dengan wanita manapun. Tapi dengan Veanna?
“Wow … ajaib.” Goda Shandra. “Biasanya dia paling susah jika disuruh duduk.” Kekehnya.
Christopher tidak menanggapi, dia lebih memilih mengambil minuman kaleng milik Veanna dan meneguknya tanpa merasa jijik. Keheningan yang tercipta justru terasa nyaman. Sesekali mereka menikmati camilan sambil memandangi taman hotel yang mulai sepi. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma bunga yang ditanam di sepanjang jalan setapak. Veanna membuka bungkus keripik lain, lalu tanpa sadar menyodorkannya ke arah Christopher.
Pria itu mencobanya dan mengomentari jika cemilan itu enak, tapi ketika Veanna meminta Christopher untuk mengambil kembali, pria itu menolak. Cemilan yang Veanna berikan rasanya terlalu asin, sedangkan Christopher tidak terlalu suka makanan yang asin.
“Ayolah satu lagi.” Renggek Veanna.
“Sudah, ini terlalu asin.”
“Kamu itu membosankan sekali.”
“Kalau begitu habsian sendiri.” Kata Christopher dan membuat Veanna mengangguk kecil.
Percakapan ringan itu membuat Shandra semakin heran. Selama seminggu tour berlangsung, dia hampir tidak pernah mendengar Christopher bercanda, apalagi menanggapi godaan Veanna seperti sekarang.
Beberapa menit kemudian, Veanna meraih gelas coklat hangatnya. Namun sebelum sempat menyentuhnya, Christopher lebih dulu mendorong gelas itu sedikit ke arahnya. Sejak tadi pria itu memperhatikan kalau Veanna hanya makan saja tidak dengan minum hangat, dia hanya minum minuman kaleng yang tadi sempat Christopher habiskan. Cuaca sangat dingin nila tidak minum banget sudah dipastikan Veanna akan jatuh sakit besoknya.
Tak tahan dengan semua ini, wanita itu pun menaruh cemilannya dms menatap mereka berdua yang masih bercanda tawa tanpa menghiraukan tatapan Shandra yang mulai curiga. Banyak sekali pertanyaan yang ada di pikiran Shandra, apa mungkin mereka benar-benar ada hubungan diluar job desk nya sebagai pengawal? Kalau iya sejak kapan? Dan kenapa hal seperti ini Shandra sampai kecolongan? Apa dia lupa tugas Christopher itu apa?
“Boleh aku tanya sesuatu?” Tanya Shandra akhirnya dan membuat obrolan mereka berhenti sejenak
Veanna mengatur posisi duduknya untuk lebih tegak dan sedikit menjaga jarak dengan Christopher. Pria itu juga melepaskan tangannya yang berada di pinggang Veanna, agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Shandra. Tapi sepertinya semuanya sia-sia.
“Apa?”
“Aku merasa sedang duduk berdua dengan orang yang berbeda.”
Veanna mengerutkan keningnya. “Maksudnya?”
****