Langkah kaki Veanna perlahan menghilang di balik koridor hotel. Pintu kamarnya menutup pelan, menyisakan keheningan yang menyelimuti taman kecil di belakang bangunan hotel. Angin malam bertiup lembut, menggoyangkan dedaunan yang diterangi lampu-lampu taman berwarna keemasan. Suasana yang semula dipenuhi tawa kini berubah jauh lebih lengang.
Christopher masih duduk di tempatnya. Cangkir kopi di hadapannya sudah lama dingin, tetapi pria itu sama sekali tidak berniat beranjak. Tatapannya lurus mengarah ke kolam kecil di tengah taman, sementara pikirannya masih dipenuhi percakapan bersama Veanna beberapa jam sebelumnya.
Shandra yang semula hendak mengikuti Veanna justru mengurungkan niatnya. Dia melirik ke arah Christopher beberapa saat, kemudian menarik napas pelan sebelum ikut duduk di kursi seberangnya.
Suara gesekan kursi membuat Christopher mengalihkan pandangannya.
“Ada yang ingin aku bicarakan.” Kata Shandra tanpa basa basi.
“Apa?”
Shandra tidak langsung berbicara. Dia menundukkan kepala sesaat, seolah sedang memilih kata-kata yang paling tepat. “Sejak kapan?”
Christopher mengerutkan keningnya bingung. “Apanya?”
“Kamu tahu arah pembicaraan Christ, tidak mungkin kamu tidak tahu apa maksud dari pertanyaanku.”
Tatapan mereka berpadu, Shandra mengenal Christopher sudah cukup lama sebelum dia menjadi manager Veanna. Rasanya tidak mungkin jika Shandra tidak mengetahui perubahan dalam diri Christopher selama ini. Meskipun dia itu menyangkal pun Shandra tetap tahu jika Christopher yang saat ini duduk di hadapannya berbeda dengan Christopher yang dulu dia kenal.
“Aku masih sama.” Ucapnya.
Shandra menggeleng. “Dulu kamu selalu menjaga jarak dengan Veanna, semua yang kamu lakukan berdasarkan tugas, tapi sekarang kamu mulai menjaganya dengan perasaan.”
Pria itu diam sesaat, menatap permukaan kopi di hadapannya. Dia tidak terlihat terkejut, karena apa yang dibilang Shandra itu benar. Seolah-olah dia sedang menunggu seseorang mengatakannya, lebih tepatnya memberikan satu ruang untuk orang bisa menemukan celah antara dirinya dengan Veanna.
“Aku tidak bisa menutupinya ya?”
Shandra tersenyum hambar, “Tidak dariku. Mungkin orang lain bisa, tapi aku … kamu akan sulit untuk mengelabuhiku, Christ.”
Christopher menghembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya malam itu, bahunya terlihat sedikit mengendur. Dia juga tidak tahu sejak kapan dia berubah. Pertama kalinya dia datang, Veanna hanyalah sebagian kecil dari penyelidikannya. Seseorang yang seharusnya Christopher lindungi untuk dia bisa menemukan orang dibalik kasus ini. Tapi nyatanya semakin lama pria itu berada di dekatnya rasanya semakin berbeda. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan lagi Christopher karena dibilang ini adalah kali pertama dia merasakannya.
“Christ jangan lupa tujuanmu. Kamu datang kesini bukan untuk jatuh cinta, tapi karena sebuah misi.” ucap Shandra lelah. “Kalau sekarang kamu membiarkan perasaan itu menguasai semua penyelidikan ini akan berantakan.”
“Aku tau.” Jawaban singkat itu membuat Shandra benar-benar frustasi. “Tapi semakin aku menjaga jarak, semakin aku jauh darinya, semua pikiranku tertuju padanya. Aku tidak benar-benar bisa lepas dari dia, Shandra.”
Shandra memijat pelipisnya pusing. “Kamu tau siapa orang yang kamu ajak sekarang Christ?” Pria itu mengangguk kecil. “Dia adalah istri dari keponakanku sendiri.”
“Aku juga tahu hal itu.”
“Lalu kenapa masih bertahan, Christ?”
Pernikahan mereka tidak bisa disebut pernikahan menurut Christopher. Briand lebih sibuk dengan wanita nya, sedangkan Veanna lebih sibuk dengan karirnya yang meroket. Mereka tidak pernah tidur bersama selama empat tahun selama pernikahan. Dan kalau Shandra ingin hubungan antara Christopher dan Veanna itu sudah lebih jauh dari hubungan yang semestinya. Jadi untuk saat ini kenapa Christopher bertahan itu karena dia benar-benar menginginkan Veanna dalam hidupnya.
Sejak pertama kali dia datang pada Christopher malam itu, semuanya sudah berubah. Apa yang terjadi malam itu semuanya sudah menjadi milik pria itu. Tidak hanya satu kali bahkan setiap pulang konser mereka selalu menghabiskan waktu bersama tanpa Shandra tahu. Jadi besar kemungkinan Christopher tidak akan pernah bisa melepaskan Veanna dengan gampang.
Shandra mengepalkan jemarinya pelan. “Kalau suatu hari Veanna kembali pada suaminya?”
Christopher menghela nafasnya pelan lalu tersenyum tipis dan berkata, “Aku akan memperjuangkannya.” Pria itu bangkit dari duduknya dan pergi, tapi baru juga beberapa langkah dia pun berkata, “Saat Veanna memilih datang kepadaku … aku sudah memutuskan tidak untuk melepaskannya.”
Shandra tidak lagi berusaha membujuk. Dia mengenal Christopher Sterling dengan sangat baik. Sekali pria itu mengambil keputusan, hampir tidak ada siapa pun yang mampu mengubahnya. Malam itu, untuk pertama kalinya, Shandra benar-benar menyadari bahwa penyelidikan yang selama ini dijalankan Christopher telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit. Bukan karena kurangnya bukti.
Melainkan karena hati Christopher kini ikut menjadi bagian dari misi yang seharusnya hanya diselesaikan dengan logika.
***
Koper berukuran sedang itu terbuka lebar di atas ranjang. Beberapa potong pakaian yang sempat digunakan selama tujuh hari tour sudah dilipat rapi oleh petugas hotel, tinggal menunggu dimasukkan kembali ke dalam koper. Di sudut meja, beberapa buku yang dibeli Veanna kemarin juga sudah tersusun rapi bersama beberapa cendera mata kecil dari kota terakhir yang mereka kunjungi. Veanna berdiri cukup lama di depan koper itu tanpa benar-benar mulai berkemas.
Tatapannya kosong.
Entah apa yang sedang dipikirkannya. Padahal beberapa jam lagi mereka akan kembali ke kota asal, kembali pada kehidupan yang sempat dia tinggalkan selama satu minggu terakhir. Perlahan, Veanna mengambil sebuah syal yang sempat dikenakannya saat berjalan mengelilingi kota bersama Christopher. Jemarinya mengusap kain itu pelan sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam koper. Bibirnya membentuk senyum tipis.
Namun senyum itu tidak bertahan lama. Selama tujuh hari terakhir, hidupnya terasa jauh lebih ringan. Tidak ada sarapan yang dipenuhi sindiran, tidak ada tatapan tajam Sherly, tidak ada desakan untuk segera memiliki anak, dan yang paling penting, dia tidak perlu berpura-pura menjadi istri yang baik di hadapan keluarga Costa. Tour itu seolah memberinya kesempatan untuk bernapas. Kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri. Dan tanpa dia sadari, sebagian besar ketenangan itu datang dari satu orang.
Christopher.
Pria itu memang tidak banyak bicara. Namun kehadirannya selalu berhasil membuat Veanna merasa aman. Bahkan dalam diam sekalipun, Christopher selalu tahu apa yang sedang dia butuhkan.
Saat dia lupa makan, pria itu akan mengingatkan. Saat dia terlalu lelah, Christopher diam-diam menyiapkan minuman hangat. Saat dia ingin berjalan tanpa tujuan, Christopher akan menemaninya tanpa pernah bertanya terlalu banyak. Semuanya terasa begitu sederhana.
Justru karena kesederhanaan itulah Veanna mulai merasa nyaman.
Dia napas panjang. Kepalanya menoleh ke arah jendela kamar hotel. Langit pagi terlihat cerah, seolah tidak mengetahui bahwa hati seseorang sedang dipenuhi kebimbangan.
Pulang.
Satu kata yang seharusnya terdengar menyenangkan. Namun kali ini justru terasa menyesakkan. Begitu kembali ke kota asal, semuanya akan kembali seperti semula. Christopher akan kembali menjalankan tugasnya sebagai pengawal dengan menjaga jarak di depan banyak orang. Sedangkan dirinya harus kembali menjalani kehidupan yang selama ini selalu ingin dia hindari. Veanna menutup koper itu perlahan.
Suara resleting yang ditarik terasa begitu nyaring di telinganya. Dia menatap koper tersebut cukup lama sebelum akhirnya berbisik pelan kepada dirinya sendiri.
"Kenapa rasanya... berat sekali untuk pulang?"
Tidak ada yang menjawab.
Hanya keheningan kamar hotel yang menemani kegelisahan Veanna pagi itu. Baru kali ini dia menyadari bahwa bukan kota ini yang membuatnya enggan kembali. Melainkan seseorang yang telah mengisi tujuh hari terakhirnya dengan begitu banyak kenangan sederhana, hingga tanpa sadar membuat perpisahan singkat itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang seharusnya.
****