Bab-16

1112 Words
Pagi di kota keempat menyambut rombongan tour dengan langit yang cerah. Jadwal keberangkatan menuju kota kelima baru dimulai menjelang siang, sehingga untuk pertama kalinya selama beberapa hari terakhir, Veanna memiliki waktu luang sebelum kembali menjalani rutinitas yang padat. Jarum jam baru menunjukkan pukul enam ketika Veanna keluar dari kamarnya dengan pakaian olahraga sederhana. Legging hitam dan jaket olahraga berwarna abu-abu membuat penampilannya jauh berbeda dari sosok glamor yang selalu terlihat di atas panggung. Begitu pintu lift terbuka, Christopher sudah berdiri di depan lobi hotel. Ia mengenakan kaus hitam polos dipadukan celana training gelap. Penampilannya sederhana, tetapi tetap memancarkan kesan rapi. “Selamat pagi.” Sapa Veanna. “Selamat pagi Nona.” Veanna mendengus kecil. “Kita hanya berdua tidak ada orang lain, lebih baik panggil Veanna saja tanpa harus ada embel-embel Nona.” “Tapi—” “Ini perintah Christ, aku lebih nyaman kamu panggil aku nama saja.” Christopher tidak menjawab dia hanya mengangguk kecil sebagai jawaban. Sedangkan Veanna lebih memilih memperhatikan penampilan Christopher yang berbeda pagi ini. Dia tak lagi menggunakan jas seperti biasanya, meskipun hanya baju santai tapi menurut Veanna dia tetap terlihat sopan dan rapi. “Jarang sekali melihatmu berpenampilan seperti ini Christ.” Pria itu terkekeh. “Tidak mungkin rasanya saya pergi ke tempat gym menggunakan jas, atau mungkin semua orang akan menatap saya dengan aneh.” Tentu saja jawaban itu membuat Veanna tertawa kecil. Mereka kemudian berjalan menuju pusat kebugaran yang masih berada di area hotel. Suasananya belum terlalu ramai. Hanya beberapa tamu yang sedang berlari di atas treadmill atau berlatih angkat beban. Veanna memulai dengan pemanasan ringan. Setelah itu dia menaiki treadmill, sementara Christopher memilih alat di sampingnya. Selama beberapa menit, tidak ada percakapan di antara mereka. Hanya suara langkah kaki di atas treadmill dan alunan musik pelan yang memenuhi ruangan. Mereka fokus dengan apa yang mereka lakukan kali ini. Dan Veanna baru menyadari selama tour berlangsung mereka jarang sekali untuk olahraga. Yang biasanya Veanna lakukan satu Minggu sekali nyatanya tidak sama sekali. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya soal bayi dan melupakan apa yang terjadi setelah itu. Begitu juga dengan Christopher yang hanya melakukan latihan sejenak sudah merasa ngos-ngosan. “Karena jadwal mu terlalu padat, sehingga tidak memiliki waktu untuk olahraga.” Veanna mendengus. “Bukan jadwalku, tapi jadwal kita.” Christopher menoleh kaget menatap Veanna dengan bingung. “Jadwal kita?” Veanna tersenyum sambil berlari pelan. Iya jadwal kita, dimana pria itu juga ikut berpindah-pindah kota bersama dengan Veanna. Yang dimana memiliki jadwal tidur yang berantakan, tidur paling akhir dan bangun paling awal. Itu jika memiliki tensi darah yang rendah sudah dipastikan pria itu akan pingsan karena kelelahan. Tapi nyatanya dia cukup kuat dan tidak pandai mengeluh dalam hal ini. Bahkan ketika pagi pun pun pria itu terlihat fresh dan enak dilihat. “Kamu yang paling capek sih kalau menurut aku.” Christopher menoleh. “Sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjaga keselamatan mu.” “Jawaban yang membosankan.” gerutu Veanna. Satu jam telah berlalu, Veanna sudah merasa lelah dan memilih mengakhiri olahraganya kali ini. Mereka memutuskan untuk kembali ke hotel mereka masing-masing sebelum akhirnya berakhir untuk sarapan bersama sebelum akhirnya berangkat menuju ke lokasi selanjutnya untuk tour. Shandra belum bergabung. Wanita itu masih menghadiri rapat singkat dengan panitia lokal mengenai perpindahan peralatan menuju lokasi konser kelima. Merasa sudah siap dengan penampilan mereka, Veanna memilih keluar lebih dulu dari hotel untuk memanggil Christopher. Tapi yang terjadi, pria itu malah sudah lebih dulu berdiri di depan pintu kamar hotelnya yang bersiap-siap untuk mengetuk pintu kamar hotel Veanna. Tentu saja moment itu membuat Christopher tertawa kecil bersama dengan Veanna. Baru kali ini dia melihat pria itu tertawa kecil selain senyum tipis dan juga kekehan. Mereka memutuskan untuk berangkat bersama. Sepanjang perjalanan banyak sekali yang mereka ceritakan. Terutama masa kecil Veanna yang cukup unik. Dimana dia paling suka menjahili ibunya dan juga ayahnya, tapi untung saja kedua orang tuanya cukup sabar sehingga dia selalu bebas dari hukuman. Berbeda dengan kakaknya yang sering kali mendapat hukuman dari ayahnya karena terlalu bandel. Memasuki restoran hotel, mereka memilih duduk di dekat jendela agar lebih bisa menatap sekeliling tempat ini dan juga taman hotel. Candaan mereka masih berlangsung setelah Veanna menceritakan jika semasa sekolah dulu dia suka sekali dihukum. Tapi meskipun begitu Veanna paling suka olahraga basket, dia bahkan sampai jadi ketua basket putri waktu itu dan memenangkan banyak pertandingan. Hanya saja hal itu jika dilakukan sekarang bisa membuat pinggang Veanna lepas dari tempatnya. “Kali ini biarkan aku yang traktir.” Ucap Veanna mengalihkan pembicaraan. Christopher menaikan satu alisnya menatap Veanna heran. “Kenapa begitu? Aku masih menerima gaji?” “Ya aku tahu, anggap saja ini rasa terimakasih ku karena kamu sudah menolong masalah keluargaku dan juga menjagaku selama tour.” Christopher tidak lagi membantah, meskipun masalah rumah tangga adalah masalah yang tidak ingin Christopher ikut canpuri..Beberapa menit kemudian, pelayan mengantarkan dua porsi sarapan beserta secangkir kopi hitam untuk Christopher dan jus jeruk untuk Veanna. Suasana di antara mereka terasa nyaman. Veanna sesekali menceritakan kejadian lucu selama tour, sementara Christopher lebih banyak mendengarkan. Sesekali pria itu membalas dengan komentar singkat yang justru membuat Veanna tertawa. Pria itu sulit ditebak kadang dia enak diajak berbicara kadang juga tidak. Kadang cerewet jika tidak diinginkan kadang juga tidak. Entah lah mungkin semua pria begitu, atau hanya Christopher saja yang begitu? Tanpa mereka sadari, dari balik deretan tanaman hias yang membatasi area restoran, sepasang mata sejak tadi memperhatikan. Seorang pria mengenakan topi hitam perlahan mengangkat ponselnya. Mengambil beberapa gambar dan juga pose yang berbeda. Yang pertama, Veanna yang sedang tersenyum ke arah Christopher. Senyum yang begitu manis bahkan semua orang jarang sekali menatap senyum itu. Yang kedua, kali ini giliran Christopher yang sibuk menuangkan air minum ke gelas Veanna yang sudah kosong. Pria itu memeriksa hasil jepretannya sekilas sebelum membuka sebuah aplikasi perpesanan. Dia tersenyum puas dengan hasil fotonya, sudah jelas bosnya ini pasti akan suka dengan hasil fotonya. Dia memilih satu nama tanpa foto profil. Tanpa menuliskan kalimat panjang, dia hanya mengirim dua foto tersebut disertai satu pesan singkat. Jika hubungan Veanna dan pria asing itu cukup dekat. Beberapa detik kemudian orang itu mendapatkan balasan pesan, yang dimana tersampaikan jika orang itu harus terus mengawasi Veanna dan Christopher dimanapun berada. Apa yang mereka lakukan, apa yang semoga terjadi diantara mereka harus dilaporkan. Setidaknya selama tour dia tahu apa yang sudah terjadi dengan wanita itu. Dan tentunya orang itu tidak boleh kehilangan jejak sedikitpun pada Veanna maupun Christopher. Pria bertopi itu mengunci ponselnya, lalu bangkit dari kursinya seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Sementara itu, Veanna dan Christopher masih menikmati sarapan mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa sejak pagi itu, setiap langkah mereka mulai diawasi oleh seseorang yang identitasnya masih menjadi misteri. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD