"Sudah kubilang diem aja," bisik Sila sambil mencubit paha Rey yang duduk berdampingan. Rey mengaduh dalam hati. Tidak mungkin ia menampakkan ringis kesakitan di hadapan Rangga dan Dinda yang kini sudah duduk berhadapan dengannya.
Oh, jangan ingatkan kejadian tiga puluh menit lalu saat dirinya kepergok sedang menindih singa betina oleh adik masing-masing dan juga Tuan besar, Rangga beserta Nyonya yang entah angin apa membawa kedua orang tua Sila itu datang pada saat yang tidak tepat.
"Kalian sudah dewasa, Papa tahu itu. Tapi, tidak dengan mengumbar kemesraan di depan rumah. Bagaimana jika ada yang melihat selain kami? Bisa-bisa kalian diarak keliling kompleks karena tuduhan berbuat asusila," ucap Rangga menasihati dengan tatapan penuh intimidasi pada dua orang di depannya. Anaknya sendiri dan rekan kerjanya.
"Tapi ... itu tidak seperti yang Papa lihat. Kami cuma tidak sengaja terjatuh." Sila mencoba membela diri pada tuduhan Papanya yang hendak berbuat m***m.
"Benar, Om. Tadi saya yang kurang hati-hati. Kalau saja saya bisa sedikit menahan diri, mungkin tidak akan terjadi hal yang Om dan Tante lihat," sahut Rey menimpali. Keduanya berharap segera mendapat pembelaan bahwa yang dilakukan beberapa saat lalu memang benar-benar tidak disengaja.
Tapi tidak bagi Rangga yang telinganya menangkap maksud dari kata 'Kalau saja saya bisa sedikit menahan diri mungkin tidak akan terjadi'.
"Kamu suka sama anak Om?"
Gubrakkkkkk!
Sila menganga begitupun Rey yang merasa ada guyuran hujan es batu berjatuhan di atas kepalanya. Rasanya dingin dan sangat mengejutkan karena pertanyaan Rangga barusan.
"Bu ... bukan seperti itu Om," jawab Rey gugup setengah mati. Kenapa pertanyaan Rangga seperti pertanyaan seorang ayah pada calon menantunya, apakah siap menjalani rumah tangga dengan anaknya?
Ya ampun! Rey malah berhalusinasi terlalu tinggi.
"Ih, Papa apaan sih. Rey kan nggak suka cewek, mana mungkin suka sama aku. Lagian Papa kenapa nggak percaya sih, kami tadi cuma jatuh. Aku yang narik baju dia sampek jatuh." Sila merasa tidak tahan dengan tuduhan Papanya dan Rey yang diharapkan dapat membela diri malah mendadak gagap.
"Beneran Rey, kamu nggak suka sama anak tante?" Dinda malah menyambung pertanyaan suaminya. Sila menghembuskan nafas berat.
"Ma, kenapa malah dibahas lagi sih." Sila mencebikkan bibirnya.
"Baiklah kalau begitu. Papa anggap kalian benar, dan lain kali kalau mau bermesraan, cari tempat yang sepi." Rey mengangguk dan Sila hanya memutar bola matanya jengah.
"Dan kamu Rey, Om harap kamu tahu batasan. Sebelum sah, jangan sampai berbuat yang tidak-tidak pada anak Om." Rangga memperingati Rey yang tertegun sejenak.
"Baik, Om. Saya akan menjaga kepercayaan yang diberikan." Rey menjawab dengan yakin. Rangga tersenyum senang begitu pun Dinda. Tapi tidak dengan Sila yang melemparkan tatapan 'apa maksud ucapanmu itu' pada Rey di sampingnya.
Rangga dan Dinda pun segera meninggalkan anaknya menuju ke kamar. Sebenarnya Dinda ingin pergi ke rumah Mey karena kabarnya sahabat sekaligus iparnya itu sedang bertandang ke Jakarta bersama Denis. Ternyata, sesampai di rumahnya, Mey masih berada di Surabaya karena ada keterlambatan jadwal pesawat yang mereka tumpangi. Alhasil ia dan Rangga kembali pulang, begitu sampai di halaman rumah malah disuguhi adegan tidak senonoh anaknya dan tetangga samping rumahnya.
******
"Enak aja bilang aku nggak suka cewek, sok tahu amat!" ketus Rey pada Sila yang masih duduk di sampingnya sambil memainkan ponselnya.
"Emang bener gitu kok, kata adikmu sendiri," balas Sila acuh.
Rey kesal bukan main. Bisa-bisanya adiknya sendiri memfitnahnya dengan amat kejam.
"Aku masih suka perempuan, mau bukti?" Senyum licik Rey tercetak di sudut bibirnya. Sila seketika menoleh ke arah Rey yang duduk menyamping ke arahnya.
"Bukti apa? Nggak minat!" ketus Sila. Oke, Rey masih menahan rasa sabarnya yang tiba-tiba sudah mulai menipis.
"Beneran nggak mau tahu? Jangan menyesal loh." Sila masih saja acuh.
"Ap sih!" bentak Sila risi pada Rey yang merajuk.
Rey meraih tangan Sila yang bebas karena satu tangannya sedang memainkan ponsel. Begitu diraih, Sila yang kaget hanya melihat ke mana tangannya dibawa.
Semakin turun .
Turun lagi ke bawah dan bergeser ke arah samping.
Sila menelan ludahnya, panik tak karuan karena tangannya kini dibawa ke arah paling menyeramkan di sela-sela kedua paha yang terbuka karena paha satunya sedang ditekuk dan menempel di sofa sedang satunya masih tertahan pada tempatnya.
Loh, mau dibawa ke mana nih tangan.
"Biar kamu percaya kalau aku beneran masih normal, pegang aja tuh yang di bawah. Kayaknya lagi bangun. Deket sama perempuan memang selalu begini. Yah, meskipun kamu bukan perempuan, setidaknya singa betina itu masih dalam spesies makhluk perempuan." Jelas Rey yang masih mencekal tangan Sila setengah menggantung di depan antara d**a dan perutnya.
Sila yang mendengar ucapan Rey seketika melebarkan matanya. Dengan gerakan cepat sebelum tangannya ternoda menyentuh apa yang diinginkan penjahat bibir di sampingnya, ditarik cepat tangannya dan langsung mencengkeram leher Rey.
Rey yang kaget dengan reaksi Sila dengan gurauannya, tidak siap untuk menyangkal. Lehernya dicekik, sontak tubuhnya langsung jatuh ke belakang hingga kepalanya membentur sofa. Dirinya kini telentang dengan Sila di atasnya sambil mencengkeram lehernya hingga nafas Rey terasa sesak.
"Enak aja suruh pegang barang haram begitu. Mimpi aja sono!" Sila semakin mencengkeram leher Rey hingga wajahnya memerah. Rey meronta dan berusaha melepas cekalan Sila namun tidak disangka kekuatan Sila yang terbakar emosi malah sepuluh kali lipat besarnya.
Tangan Rey meraih leher Sila tapi tak juga berhasil. Dengan sisa tenaga dan nafas yang kembang kempis, Rey mencengkeram pinggang Sila yang ramping kemudian menggelitiki dengan jarinya.
Begitu pinggangnya terasa geli, Sila merenggangkan cengkeraman tangannya dan tertawa menahan rasa geli yang semakin dilajukan oleh Rey.
Merasa berhasil lolos dari maut, Rey semakin menggerakkan jari jemarinya di pinggang Sila tanpa menyadari bahwa dirinya juga ikut tertawa melihat singa betina menahan geli dengan bergerak naik turun di atas perutnya.
Rey menikmatinya.
Dirinya tertawa bersama Sila yang menahan geli.
Eh, bukan itu sebenarnya. Tapi...
Pantat Sila yang mengayun dan menghentak di perutnya hingga menyebabkan 'barang haram' yang disebutkan Sila barusan telah terusik tidurnya. Padahal ide mengerjai Sila jika 'barang haram'nya sedang bangun hanyalah omong kosong untuk menakuti singa betina agar tidak mengatainya 'tidak suka perempuan' lagi. Namun, sekarang salahnya sendiri malah benar-benar bangun dari bertapanya.
"Ekhem!"
Sila menoleh ke sumber suara dan Rey menghentikan gerakan jarinya kemudian melonggokkan kepalanya.
"Eh Emil, Iko." Sila menyebut tetangga dan adiknya dengan muka menahan malu.
"Nikah gih kalian kak, lama-lama kami jadi dewasa sebelum waktunya," ucap Iko sambil menatap horor kelakuan kakaknya yang ternyata sangat menghawatirkan.