Sepuluh

475 Words
"Ini apartemenku. Sementara kamu tinggal disini ya. Aku ga mungkin bawa kamu kerumah. Takut jadi bahan omongan tetangga komplek. Kamu tau sendiri kan gimana mulutnya ibu-ibu komplek." Ucap Raka sambil berjalan memasuki apartemen nya. "Tapi Om nemenin aku disini kan? Aku takut Om, kalau sendirian." Nara memelas sambil berjalan mengekori Raka. "Memang kamu takut apaan sih? Hantu? Ga ada hantu disni."  "Ya pastilah ga ada hantu disini. Orang hantunya juga ga mau godain yang udah Om-Om." Ujar Nara sambil ketawa cekikikan. "Aishh.. dasar bocah kamu tuh. Kalau sampai ngeledekin aku lagi, aku tinggal kamu sendirian." Ancam Raka dengan tatapan tajamnya. "Yah.. jangan dong Om. Aku kan cuma bercanda. Si Om ini ga bisa aku ajakin bercanda banget sih. Hidup jangan terlalu serius juga Om. Mumet nantinya. Bisa bikin cepet tua loh." "Berisik banget sih kamu tuh. Daripada berisik terus mending cepet tidur sana. Kalau masih ngoceh-ngoceh aku tinggalin kamu disini sendirian."  "Iya deh iya aku tidur. Tapi Om janji jangan ninggalin aku sendirian di apartemen. Aku beneran takut." "Iya iya. Yaudah cepet tidur sana. Kamar kamu yang ada di pojok kanan." Ujar Raka sambil menunjuk pintu yang berada di pojakan kanan tersebut.    Melihat Nara sudah memasuki kamar tidurnya, Raka pun menghempaskan tubuhnya di sofa. Hari ini dia terlalu lelah dengan pekerjaannya di cafe lalu disibukan oleh hadirnya Nara. Nara, wanita yang sempat Raka harapkan bisa menghapus nama Andini dalam hatinya. Tapi harapannya justru harus terhempas taktala melihat sosok Nara. Nara memang tidak buruk dimata Raka. Nara adalah gadis yang imut dan menggemaskan menurut Raka. Tapi bukan seperti itu yang dia harapkan dan butuhkan. Sejatinya Raka menginginkan sosok wanita yang dewasa untuk dirinya. Raka sadar dirinya bukan lagi anak abg yang mencari-cari pacar. Dirinya sekarang ini sedang mencari pendamping hidup. Dan Nara bukan wanita yang sedang dicarinya. Usia Nara terlalu muda untuk dia. Nara lebih pantas untuk dijadikan keponakannya bukan teman hidupnya. Sebisa mungkin Raka harus mengindari Nara sampai dia pulang lagi ke Surabaya. Mungkin itu jalan terbaik untuknya dan Nara. **** "Gus kenalin ini Nara. Nara kenalin ini Agus, dia temenku sekaligus salah satu karyawan disini." Ucap Raka memperkenalkan Nara dan Agus. "Hai Nara.. aku Agus. Aku sering denger cerita kamu dari Mas Raka. Ga nyangka ternyata kamu masih muda ya." Ujar Agus sambil tertawa cekikikan. "Hai Mas Agus. Aku Nara. Memang Om Raka cerita apa aja sama Mas Agus?" Tanya Nara antusias. "Agus kamu panggil Mas. Sementara aku kamu panggil Om?" Tanya Raka murka. "Lah aku kan manggil sesuai realitanya Om. Dari wajah aja udah keliatan ko kalau usia Om sama Mas Agus itu jauh. Nah kalau dengan Nara, usia Mas Agus ga terlalu jauh." Jawab Nara dengan santainya. "Dasar bocah.. kamu tuh bener-bener ya.. ngeselin banget." Ucap Raka berbalik meninggalkan Agus dan Nara lalu berjalan memasuki ruangannya. Dan.. Blughh.. Raka membanting pintu ruangannya dengan cukup keras. Sukses itu membuat Nara dan Agus melongo tak percaya. "Kamu benar-benar luar biasa Nara." Agus tak kuasa menahan tawanya melihat moment langka ini. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD