Tok.. tok.. tok..
"Om Raka!" Panggil Nara dari balik pintu ruangan kerja Raka.
"Ya, masuk aja Na," sahut Raka sambil sibuk membereskan berkas-berkas di meja kerjanya.
"Om, lagi sibuk ga?" Tanya Nara dengan wajah so imutnya.
Nih anak pasti ada maunya, batin Raka.
"Ga terlalu ko. Emangnya kenapa?" Tanya Raka sedikit ketus.
"Anterin Nara beli baju yu, Om. Nara kan cuma bawa baju ganti sedikit banget. Malu kalo pake baju itu-itu aja," bujuk Nara dengan tampang memelasnya.
"Lah, biasanya juga kan kamu suka malu-maluin Na," ledek Raka sambil terkekeh geli.
Nara lalu menarik-narik lengan Raka. Dia tak menyerah membujuk Raka agar mau menemaninya berbelanja. "Ayolah om, mau ya mau? Nara kan gatau jalan Om. Nanti kalau Nara nyasar gimana coba?" Nara terus mencoba membujuk Raka.
"Berangkat sendiri aja Na. Kan bisa naik taksi," tolak Raka dengan halus. Raka benar-benar malas keluar di jam pulang kantor seperti ini. Karena jalanan pasti bakal macet parah.
"Nara takutlah Om. Takut diculik. Nara kan ga tau siapa-siapa disini. Nara cuma kenal sama Om Raka doang." Nara tak gentar membujuk Raka.
"Yakin karena ga tau jalan? Bukan karena ga pegang uang buat beli baju?" Tanya Raka dengan tampang meledek nya.
Nara terkekeh karena ternyata Raka tau maksud terselubung nya. "Hehe.. Om Raka emang yang paling mengerti Nara."
Raka lalu tertawa keras saat melihat tampang Nara saat Raka mengetahui maksud terselebung nya. Benar-benar begitu lucu dan juga menggemaskan. "Yaudah tunggu sebentar. Aku beresin kerjaan dulu sedikit lagi. Nanti kalau udah beres aku anterin kamu beli baju," ucap Raka sambil mencubit kedua pipi Nara saking gemas nya.
"Asiikk!! Makasih ya Om. Om emang yang paling daebak. Aku tunggu di depan ya Om," ujar Nara sambil tersenyum lebar.
"Hmm," jawab Raka dengan tersenyum lebar juga. Entah kenapa Raka selalu tak bisa menolak kemauan Nara. Apapun yang Nara mau, Raka pasti selalu berusaha untuk menurutinya. Raka benar-benar tak tau alasan nya melakukan hal itu. Namun satu hal yang Raka yakini, dia melakukan semua itu bukan karena mencintai Nara. Raka tegaskan itu dalam hatinya. Bukan karena mencintai Nara.
****
"Om, ngapain mesti sembunyi-sembunyi sih?" Tanya Nara keheranan. Gimana Nara ga heran? Ketika dia dan Raka berada di dalam salah satu toko baju, Raka malah bersembunyi di balik baju-baju yang tergantung di toko baju tersebut.
Raka lalu menarik tangan Nara agar mendekat padanya hingga posisi Nara ikutan jongkok sepertinya. "Kamu liat wanita yang pakai baju merah di dekat kasir? Yang gandeng laki-laki kemeja biru itu?" Tunjuk Raka pada dua orang yang tengah berada di depan kasir tersebut.
Nara mengangguk. "Ya lihat. Memang wanita itu siapanya Om Raka? Dia pacar Om Raka?" Tanya Nara masih keheranan.
"Bukan," jawab Raka sambil menggelengkan kepalanya.
"Mantan Om Raka?" tanya Nara kembali.
"Bukan juga."
Nara melongo tak percaya mendengar jawaban-jawaban Raka barusan. "Lah? Terus siapa nya Om Raka kalau bukan pacar atau mantannya Om Raka? Ngapain juga mesti sembunyi-sembunyi kalau gitu." Nara terus menggerutu saking kesal nya pada Raka.
"Dia Andini, cinta pertama aku Nara," jawab Raka sambil menghela napas nya dengan berat. "Dulu aku pernah menyatakan cintaku pada dia sampai berkali-kali. Tapi dia selalu menolak aku," jawab Raka sambil menunduk lesu.
Gara-gara pertemuannya yang tidak disengaja dengan Andini, Raka jadi teringat kembali dengan kisah cintanya yang tragis itu.
"Ga heran sih kalau dia nolak cinta nya Om Raka. Lah orang dia nya cantik banget. Cowok yang di sebelahnya juga walaupun ga ganteng-ganteng banget tapi gayanya keren, Om. Makanya itu cewek mau sama cowok itu," jawab Nara dengan cuek nya tanpa melihat Raka yang tengah menatap nya dengan tajam sambil menggeram kesal itu.
"Jadi menurut kamu aku jelek gitu? Ga keren?" Suara Raka terdengar menakutkan hingga membuat Nara sadar akan ucapan nya barusan. Nara lalu segera menepuk bibir nya yang seringkali keceplosan itu.
"Ups, maaf Om. Aku kan cuma bicara jujur sesuai kenyataannya aja. Lagian Om Raka sih gayanya ketuaan banget. Gaya rambut Om Raka tuh jadul. Terus ini kacamata segede gaban. Mana ada cewek yang mau sama Om Raka kalau ngeliat penampilan Om Raka yang kayak gini," ucap Nara sambil menunjuk kacamata Raka yang tengah terpasang di hidung mancungnya.
"Terus aku harus gimana Na? Aku juga pengen disukain sama cewek. Apalagi kalau cewek nya itu Andini," ungkap Raka sambil tertunduk lesu.
"Ya rubah penampilan Om Raka lah. Nanti aku bantuin Om Raka biar kelihatan ganteng dan keren," ucap Nara yang langsung membuat senyum manis terukir di bibir Raka.
"Ah.. thanks banget ya Na. Ternyata ada gunanya juga kamu ada disini," ujar Raka sambil tersenyum bahagia.
"Yaudah, sekarang Om Raka temenin Nara milih baju dulu. Setelah itu Nara bantuin Om Raka. Gimana?" Tawar Nara yang langsung disetujui oleh Raka.
Nara lalu segera bangun dari posisi jongkok nya. Namun ketika Nara hendak berdiri dari posisi jongkok nya, punggungnya malah terbentur besi tempat menggantung baju-baju yang ada disana. Alhasil karena kurang menjaga keseimbangan, tubuhnya malah limbung dan menubruk Raka yang berada tepat di depan nya. Dia menubruk d**a bidang Raka dan Cup.. Nara tak sengaja mencium ujung bibir Raka.
Keduanya seketika terdiam mematung saking kagetnya dengan kejadian tidak terduga itu. Debaran kencang menguasai keduanya hingga beberapa saat. Setelah kesadaran mereka kembali, mereka langsung berdiri secara bersamaan. Wajah mereka terlihat bersemu merah menahan malu.
Nara memegang d**a nya yang terasa bergemuruh begitu hebat. Detak jantungnya pun terasa berdetak dengan sangat cepat. Ada perasaan aneh yang menguasai hati nya saat ini. Perasaan yang tak mampu dia jabarkan detail nya seperti apa. Yang jelas dia merasa, bahagia?
Karena tak kuat menahan perasaan aneh itu, Nara segera membalikkan tubuh nya membelakangi Raka. Dia lalu berjalan pergi meninggalkan Raka yang masih terdiam mematung di toko baju tersebut.
Setelah mendapatkan kesadarannya kembali, Raka segera berlari mengejar Nara yang telah berjalan cukup jauh dari hadapannya. Raka berusaha mensejajarkan langkah nya dengan Nara.
"Na, kamu ga jadi beli bajunya?" Tanya Raka dengan sedikit terbata-bata saking gugup nya.
"Ngga. Udah ga mood," jawab Nara dengan sama terbata nya dengan Raka. Mendengar suara Nara yang sama terbata-bata dengan dirinya membuat Raka senyum-senyum sendiri. Raka pun menyentuh bibirnya. Masih terasa jejak ciuman itu pada bibirnya. Membuat Raka tersenyum lebar saat mengingat momen ciuman tak disengaja tersebut. Ternyata begini rasanya ciuman. Benar-benar luar biasa, batin Raka dalam hati.