Tiga puluh satu

2088 Words
   Setelah kejadian tadi siang Raka tak juga mau keluar dari kamar nya. Seluruh keluarga nya begitu panik dan mengkhawatirkan keadaan Raka saat ini. Bahkan dari tadi siang hingga malam ini dia belum mau makan. Semua itu tak luput dari perhatian nenek Raka. Beliau terus saja menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian hari ini dan menyesali keputusannya karena memaksa Raka melanjutkan perjodohan ini. Saat ini saja beliau masih menangis terisak melihat keadaan cucu kesayangannya. "Ini semua salah Ema. Coba aja kalau kemarin Ema nurutin mau nya Raka buat batalin perjodohan ini, mungkin Raka ga akan terpuruk seperti ini. Ema teh udah egois maksain keinginan Ema tanpa peduli sama perasaannya Raka. Ema lebih mentingin nama baik keluarga." Ucap Nenek Raka sambil sesegukan. "Ema teh ga boleh nyalahin diri sendiri. Ini semua bukan salah Ema sepenuhnya juga. Wajar jika Ema ingin menjaga nama baik keluarga. Mungkin memang takdir nya harus seperti ini. Ema ga boleh banyak fikiran ya." Ujar Uwa Heni mencoba menenangkan sang ibu yang sedang kalut fikirannya. "Terus sekarang harus gimana atuh? Ema khawatir pisan sama Raka. Dari tadi dia ga mau keluar mana belum makan juga." "Ema ga usah khawatir ya. Biar nanti Rafi aja yang ngomong sama a Raka. Nanti Rafi coba bujuk a Raka nya. Sekarang Ema istirahat dulu di kamar. Ga boleh banyak fikiran ya, Ma. Masalah a Raka biar Rafi yang urus." Ucap Rafi yang merupakan sepupu Raka tersebut. Rafi merupakan anak Wa Heni, Uwa nya Raka. Rafi lalu menuntun nenek nya menuju kamar dan membaringkannya di atas tempat tidur. Setelah itu dia menyelimuti nenek nya. "Istirahat ya, Ma. Ema harus jaga kesehatan juga. Jangan terlalu banyak fikiran. Rafi ga mau Ema sampai sakit karena masalah ini. Saat ini a Raka mungkin butuh waktu untuk sendiri dulu. Rafi yakin a Raka ga marah sama Ema. Dia hanya marah pada dirinya sendiri, Ma. Karena sebenernya, yang Rafi tangkap dari kejadian hari ini a Raka juga salah Ma. Dari awal dia ga bicara tentang gadis itu pada kita. Coba kalau a Raka bicara bahwa dia tengah dekat dengan seorang gadis mungkin Ema juga ga akan menjodohkannya dengan teh Andini kan?" Tanya Rafi yang langsung diangguki oleh nenek nya. Karena memang seperti itulah kenyataannya. Coba kalau Raka berkata jujur pada nenek nya dari awal bahwa dia tengah dekat dengan seorang gadis. Mungkin nenek Raka tak akan menjodohkan Raka dengan Andini anak nya pa Haliman.    Namun apa mau di kata. Nasi sudah menjadi bubur juga. Mereka ga mungkin bisa memutar waktu. Yang bisa mereka lakukan sekarang adalah memperbaiki waktu yang sekarang agar tak menyesal kembali. **** "A.. a Raka.. buka dulu pintu nya a. Rafi mau bicara sebentar sama a Raka." Ucap Rafi sambil mengetuk pintu kamar Raka. Namun tak ada jawaban dari dalam sana. Rafi tak menyerah dia mencoba kembali mengetuk pintu kamar dan membujuk Raka agar mau membuka pintu nya. "A, jangan bersikap seperti ini. Semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Kita bicara dulu yu biar kita bisa cari jalan keluar nya. Lagi pula kasian Ema daritadi nangis terus. Beliau nyalahin dirinya terus karena kejadian hari ini. Apa a Raka ga kasian sama Ema? Rafi takut Ema sakit karena mikirin masalah ini."    Akhirnya Raka pun membuka pintu kamarnya. Hampir saja tawa Rafi meledak begitu melihat kondisi Raka saat ini yang terlihat mengenaskan. Bagaimana tidak, rambut Raka begitu acak-acakan. Dengan mata yang begitu bengkak efek menangis terus menerus. Kemeja yang dipakainya pun sudah acak-acakan bukan main. Rafi begitu miris melihat Kakak sepupu nya ini yang terlihat seperti zombie. "Mau bicara apa, Raf?" Tanya Raka lalu duduk ditepian Ranjang tempat tidurnya. Rafi pun mengekori Kakak sepupu nya dan duduk disampingnya. "Aa kenapa ga bilang sama Ema dan keluarga yang lain kalau aa udah punya calon sendiri?" Tanya Rafi to the point. "Awalnya aku ga yakin dengan perasaan aku sama dia. Mengingat usia kami yang terpaut cukup jauh. Apalagi kamu tau sendiri bahwa hidupku terus dibayangi masa lalu itu." Raka menghela nafasnya saat mengingat masa lalu nya yang buruk itu. "Membuat aku membentengi diri sekuat mungkin darinya. Aku terus mengacuhkan kehadiran dia dalam hidupku. Aku takut mengalami sebuah pengkhianatan lagi. Namun dia terus meyakinkan aku, Raf. Dia terus meyakinkan aku bahwa dia akan membantu aku keluar dari masa lalu ini. Dia juga meyakinkan aku kalau dia benar-benar mencintai aku dan ga akan pernah meninggalkan aku. Tapi aku terus mengabaikan dia dan perasaannya. Bahkan dengan jahat nya aku menyakiti perasaan dia dengan bertunangan bersama Andini." "Kamu tau Raf, selama ini aku mengatakan pada dia bahwa aku belum bisa berkomitmen dengan nya. Aku juga tidak memberikan kepastian tentang status hubungan yang kita jalani kepadanya. Namun saat aku bercerita padanya tentang masa lalu itu yang menjadi alasan aku belum mau berkomitmen, dia akhirnya mengerti. Bahkan dengan sabar nya dia menungguku. Namun apa yang aku perbuat padanya? Aku malah bertunangan dengan Andini. Dia pasti mengira aku seorang penipu." Raka mencoba mengeluarkan segala isi hatinya pada Rafi. Sementara Rafi tertegun mendengar cerita Raka. Dia tak menyangka kisah cinta Raka serumit ini. "Apa a Raka mencintai gadis itu?" Tanya Rafi. Raka lalu tertawa pelan mendengar pertanyaan Rafi.  "Haha.. iya.. aku mencintai gadis itu. Kamu tahu Rafi? Aku benar-benar lelaki paling bodoh. Karena aku baru menyadari perasaan itu ketika aku telah kehilangan dia dari hidup ku." Jawab Raka dengan tersenyum getir. "Lalu apa rencana a Raka selanjutnya?" Rafi menatap kakak sepupunya tersebut. "Aku berencana menyusul dia ke Surabaya. Aku ga sanggup kehilangan dia, Raf. Nara adalah wanita pertama yang mencintai aku apa ada nya. Dia selalu menerima kekuranganku. Nara juga telah banyak membantu aku. Dia wanita yang telah merubah penampilan aku yang cupu itu. Dia juga yang membantu usaha cafe ku hingga bisa berkembang seperti sekarang ini." Ungkap Raka sambil mengadahkan kepalanya. Mencoba menahan buliran bening yang akan terjatuh lagi di pelupuk matanya. "Bagaimana dengan perjodohan a Raka dengan teh Andini?" "Aku akan membatalkannya, Raf. Lagi pula Andini telah berbohong padaku. Saat aku bertemu dengan dia seminggu yang lalu disini dia berkata bahwa dia memiliki perasaan yang sama padaku dari dulu. Dia juga berkata bahwa alasannya tidak menerima perasaanku waktu dulu karena takut di kecewakan kalau berpacaran, takut mengalami putus cinta, dan takut mengalami patah hati. Namun ternyata yang dia katakan semuanya bohong, Raf. Selama ini dia tidak pernah mencintai aku." "A Raka sebelumnya udah mengenal teh Andini? Lalu, a Raka tau darimana kalau teh Andini berbohong?" Rafi terus mencecar Raka dengan banyak pertanyaan. Dia begitu penasaran saat ini. Soalnya kakak sepupunya ini adalah orang yang sangat tertutup. "Andini adik kelas aku sewaktu SMA. Dia merupakan gadis yang populer di sekolah pada saat itu. Dia gadis yang cantik, menarik dan mudah bergaul. Dan aku menyukai dia dari SMA. Aku mencoba mengutarakan perasaan aku padanya. Namun dia mengabaikan nya. Bukan hanya sekali aku mengutarakannya. Tapi berulang kali. Dan dia selalu mengabaikannya. Dia tak menerima namun juga tak menolak. Membuat aku bingung dengan perasaan dia padaku. Hingga pada akhirnya aku menyerah dan mencoba melupakan dia." "Sampai minggu lalu aku bertatap muka lagi dengan dia disini. Aku masih merasakan desiran itu lagi. Desiran saat aku jatuh cinta pada dia dulu. Aku begitu senang saat mendengar Ema menjodohkan aku dengan Andini, cinta pertamaku. Apalagi saat Andini juga menyetujui rencana perjodohan ini. Dan yang paling membuat aku bahagia saat dia mengatakan bahwa dia juga menyukai aku dari dulu." Raka tersenyum getir mengingat hal itu. Lalu dia melanjutkan kembali ceritanya. "Namun apa yang terjadi? Dua hari kemudian saat aku bertemu teman lamaku di sebuah mall, aku tak sengaja melihat Andini sedang berkumpul dengan teman-temannya di salah satu tempat makan disana. Aku pun memutuskan untuk menghampiri dia. Tanpa sengaja aku mendengar percakapan dia dengan teman-temannya. Andini berkata pada mereka bahwa dia telah membohongi aku tentang dia yang menyukai aku dari dulu. Padahal kenyataannya dia tak pernah menyukai aku, Raf. Malah dia berkata bahwa dia sangat ilfill dengan penampilan culun ku dimasa lalu. Dia menerima perjodohan ini juga karena melihat si culun yang sudah berubah." Ucap Raka panjang lebar.    Mendengar penjelasan dari kakak sepupunya membuat Rafi akhirnya mengerti dengan masalah yang terjadi. Dia lalu menepuk bahu Raka. "Ya udah kalau gitu kita bicarain masalah ini sama Ema. Biar urusan dengan keluarga teh Andini bisa teratasi. Ema juga perlu tau duduk cerita nya seperti apa." Ujar Rafi yang langsung diangguki oleh Raka. ****    Setelah menempuh perjalanan lebih dari dua jam akhirnya helikopter yang membawa Kevin dan Nara mendarat dengan selamat dikediaman mereka yang berada di Surabaya.    Suasana terasa penuh haru ketika Nara berlari memeluk Papa nya yang telah menunggu di depan pintu. Tangis Nara pun pecah seketika di pelukan sang Papa. Dia begitu merindukan Papa nya. Nara juga merasa amat bersalah telah meninggalkan Papa nya saat itu. Setelah mengalami banyak hal kemarin, Nara baru menyadari bahwa tak ada yang dapat menandingi kasih sayang sang Papa yang begitu tulus pada nya. "Maafin Kinar pa. Maafin Kinar. Kinar udah jadi anak durhaka karena kabur ninggalin Papa." Lirih Nara dalam pelukan sang Papa. "Ngga Kinar. Kamu ga salah. Ini semua salah Papa. Karena keegoisan Papa kamu jadi mengalani banyak hal yang menyakitkan diluar sana. Maafin Papa sayang. Mulai saat ini Papa janji akan lebih mementingkan kamu juga Kevin. Kamu dan Kevin segala nya buat Papa. Dan hanya kalian berdua yang Papa butuhkan untuk hidup Papa." Balas sang Papa yang juga memeluk Nara begitu erat. Seakan tak ingin kehilangan anak nya lagi. Cukup sekali saja beliau kehilangan anaknya dan itu tak akan terjadi lagi dalam hidupnya.    Melihat pemandangan yang mengharukan di hadapannya membuat hati Kevin ikut tersentuh. Dia lantas berjalan menghampiri Papa dan Adiknya. Lalu memeluk mereka bersamaan. "Kevin sayang sama kalian." Ucap Kevin kepada Papa dan adiknya tersebut. ****    Hari ini Raka memulai perjalanannya mencari Nara ke Surabaya. Setelah menjelaskan semua permasalahan yang terjadi pada Nenek nya akhirnya sang Nenek merestui Raka untuk mencari Nara. Beliau juga berpesan agar Raka dapat membawa Nara kembali lagi kesini karena beliau masih berhutang maaf pada Nara. Selain itu Nenek Raka juga ingin mengenal lebih dekat gadis yang telah berhasil memikat cucu kesayangannya ini.    Saat ini Nenek Raka tengah membantu cucunya membereskan pakaian yang akan dibawa ke Surabaya. Setelah selesai membereskan pakaiannya, Raka mengajak Neneknya untuk duduk di tempat tidurnya. Raka meraih tangan sang Nenek lalu menggenggamnya dengan erat. "Raka berangkat sekarang ya, Ma. Ema harus jaga diri baik-baik. Doa kan Raka agar Allah mempermudah jalan Raka mencari Nara. Raka juga berniat menikahi Nara, Ma. Raka harap Ema mau merestui niat baik Raka ini. Raka terlalu banyak salah dan dosa pada Nara, Ma. Raka telah merusak nya. Walau Raka belum sampai mengambil kehormatannya namun tetap saja Raka merasa berdosa. Dan Raka akan mempertanggung jawabkan itu semua." Ucap Raka sambil menatap wajah sang Nenek dengan sendu.    Nenek Raka terperanjat kaget dengan yang Raka ucapkan barusan. Beliau begitu sedih dan kecewa dengan pengakuan Raka ini. Dan ekspresi kekecewaan itu terlihat oleh Raka. Raka lalu duduk bersimpuh dihadapan Neneknya. "Maafin Raka, Ma. Raka telah mengecewakan Ema. Raka telah bersalah dan berdosa. Tapi saat ini Raka ingin menebus semua itu, Ma. Raka ingin bertanggung jawab pada Nara. Raka berharap Ema dapat merestuinya. Nara adalah gadis yang begitu baik. Namun Raka malah merusak dan menyakitinya." Ujar Raka sambil menangis sesegukan di hadapan sang Nenek. Melihat Raka yang bersungguh-sungguh menyesali perbuatannya membuat hati Neneknya terenyuh. Beliau memang sangat kecewa dengan pengakuan Raka tersebut. Namun mendengar niat Raka yang ingin bertanggung jawab atas perbuatannya dan juga menyesali perbuatannya itu membuat Nenek nya bangga dengan keputusan Raka. "Ema memaafkan kamu, a. Ema memang kecewa dengan pengakuanmu itu. Namun mendengar kejujuran kamu dan niat baik kamu untuk bertanggung jawab atas perbuatan kamu membuat Ema bangga. Ema merestui niat baik kamu menikahi Nara. Yakin kan Nara ya, a. Jangan pernah menyerah untuk memperjuangkannya. Doa Ema akan selalu menyertai aa dimana pun dan kapan pun. Segera pulang dan bawa Nara kembali kesini ketika dia menerima aa. Ema sayang sama aa. Ema selalu ingin yang terbaik buat aa." Ucap Nenek Raka lalu merengkuh sang cucu kedalam pelukannya. "Yaudah sekarang aa cepat berangkat. Kasian Rafi udah nungguin aa. Semoga cepat berhasil menemukan Nara ya." Nenek Raka lalu mengantar sang cucu sampai kedepan rumah dimana sudah berdiri Rafi disana. Yah, Raka berangkat ke Surabaya ditemani oleh Rafi. Awalnya Raka menolaknya namun Rafi keukeuh ingin ikut Raka ke Surabaya. "Kalian hati-hati ya di kota orang. Jaga diri kalian baik-baik. Ema akan selalu mendoakan kalian dari sini. Semoga misi pencarian ini berhasil dan berakhir baik." Tutur Nenek Raka. Raka dan Rafi lalu memeluk sang Nenek berbarengan. "Insyaallah Ma. Jangan pernah lelah mendoakan kami ya. Kami berdua menyayangi Ema." Ucap mereka berdua. Setelah itu mereka berpamitan pada Nenek nya. Pencarian pun dimulai.. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD