Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam akhirnya mereka sampai juga di villa daerah Ciwidey. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu hanya dua jam menjadi lebih lama karena padatnya kendaraan yang menuju Ciwidey berhubung hari ini merupakan malam minggu.
"Akhirnya kita sampai juga. Duh ini p****t gue udah tepos begini." Ujar Melly sambil menepuk-nepuk pantatnya.
"Hah? Lu kan emang pantatnya tepos dari sono nya, Mel." Jawab Dita menimpali perkataan Melly yang langsung disambut gelak tawa oleh Nara, Kinanti, dan Davi.
"Sialan lu Dit bilang p****t gue tepos dari sononya. Nih lu liat berisi gini." Ucap Melly sambil menunjukan pantatnya yang berisi itu.
"Ah p****t lu kan palsu, Mel. Gue tau ko lu pake busa pengganjal gitu buat p****t lu biar keliatan berisi padahal kan tepos." Perkataan Kinanti sontak membuat Nara, Dita dan Davi melongo tak percaya. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak setelahnya.
"Ah lu tuh malah buka rahasia gue lagi. Jadi ketauan kan ini p****t berisi bukan asli." Melly merenggut kesal.
"Yang asli lebih bagus, Mel. Daripada yang buatan. Lagi pula lu kan masih delapan belas taun masa punya p****t berisi gitu. Nanti dikira tante-tante baru tau rasa lu." Davi ikut mengomentari Melly.
"Udah-udah. Kalian ngapain mesti bahas p****t-p****t segala sih. Kita kan mau liburan disini bukan bahas masalah perpantatan." Nara mendengkus kesal.
"Haha.. iya juga ya. Yaudah sekarang waktunya kita bersenang-senang gaees.." Ucap Kinanti, Melly, dan Dita serempak. Nara dan Davi hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah absurd teman-temannya.
Mereka langsung memasuki villa yang telah disewa selama dua hari tersebut. Lalu setelah itu mereka menyiapkan perlengkapan untuk membuat api unggun diluar. Karena saat ini mereka berlima ingin menikmati waktu liburan bersama setelah beberapa bulan ini harus terpisah karena kesibukannya masing-masing.
"Eh itu di depan villa ko rame-rame banget. Kira-kira ada apa ya?" Tunjuk Dita pada teman-temanya. Mereka lantas menoleh kearah yang ditunjukkan oleh Dita.
"Kayaknya bakal ada acara resmi deh." Ucap Melly menimpali perkataan Dita.
"Itu mah lagi nyiapin acara buat lamaran besok eneng-eneng." Tiba-tiba saja ada dua orang bapak-bapak menghampiri mereka yang ternyata adalah penjaga villa yang mereka tempati.
"Ohh.. acara lamaran ya. Gue juga pengen di lamar dong." Ucap Melly yang langsung dihadiahi sebuah toyoran tepat di kepalanya oleh Davi.
"Baru aja lulus SMA udah mau dilamar aja. Kuliah dulu woii terus kerja. Gapai dulu cita-cita lu baru mikirin kearah sana." Jawab Davi dengan sok dewasa dan bijaknya.
"Aku mau ko dilamar dan nikah muda kalau sama Om Raka." Ucap Nara sambil membayangkan jika hal itu benar- benar terjadi. Pasti dia akan sangat bahagia.
"Ah lu kan emang bucin banget sama tuh Om-om. Abis di apain sih lu bisa sampe bucin gitu. Bukannya lu paling susah ya buat jatuh cinta diantara kita berlima?" Tanya Dita yang langsung diangguki oleh yang lainnya.
"Sembarangan lu pada. Gue masih suci tau. Ya cium-cium mah wajar lah. Yang penting gue sama dia punya batasan. Lagian walaupun dia udah Om-om tapi dia bisa ngejaga gue dan ga ngerusak gue sampai segitunya. Makanya gue cinta banget sama dia." Jawab Nara sambil tersenyum senang.
"Ngerti deh ngerti. Kalau orang jatuh cinta tuh emang suka bangga-banggain pasangannya." Davi menimpali ucapan Nara dengan ketus.
"Hehe.. jangan cemburu dong. Kan yang paling penting aku padamu Dav." Goda Nara sambil mengedipkan matanya.
"Ish apaan sih lu Na. Geli tau ga gue liat lu gitu." Davi langsung ngacir pergi karena merasa merinding dan geli mendengar rayuan gombal Nara. Mereka semua lantas tertawa melihat kelakuan Davi.
****
Besok paginya mereka berlima memutuskan untuk lari pagi dengan mengelilingi perkebunan teh. Udara yang sangat segar membuat mereka semua bersemangat untuk berlari. Pukul 06.00 pagi mereka telah bersiap. Rencananya selain lari pagi mereka juga ingin jalan-jalan di perkebunan teh sambil berselfie ria guna memamerkan liburannya dan kebersamaan mereka dalam akun media sosialnya masing-masing.
Setelah puas mengelilingi perkebunan teh selama empat jam penuh. Mereka berlima pun memutuskan untuk kembali ke villa.
Saat perjalanan pulang menuju villa, tali sepatu Nara terlepas. Dia pun meminta teman-temannya agar berjalan terlebih dahulu ke Villa. Setelah selesai mengikat tali sepatunya, Nara pun bersiap untuk menyusul teman-temannya didepan. Namun baru saja beberapa langkah, dia menghentikan langkah kakinya. Dia begitu kaget melihat seseorang yang sangat dikenalnya memakai pakaian jas rapi memasuki sebuah villa tepat di depan villanya. Dia adalah Raka.
"Ngapain si Om disini? Jadi si Om punya urusan kerjaan disini? Kerjaan apa ya? Bukannya disana ada acara lamaran? Apa maksud si Om urusan kerjaan itu buat menghadiri acara teman bisnisnya?" Ucap Nara pada diri sendiri. Karena penasaran akhirnya Nara pun memutuskan untuk menyusul Raka.
Namun saat Nara berada tepat di pintu masuk villa tersebut dia begitu terperanjat kaget ketika melihat adegan di depan matanya. Sebuah adegan dimana laki-laki yang selama ini dicintainya yaitu Raka tengah melamar seorang wanita lain dan disaksikan oleh banyak orang yang kemungkinan besar adalah keluarga besar keduanya. Dan yang paling mengagetkannya adalah wanita yang dilamar oleh Raka adalah Andini sosok cinta pertama yang sangat sulit dilupakan oleh Raka selama ini.
Hati Nara terasa teremas. Dan itu begitu menyakitkannya. Apalagi setelah acara tukar cincin tersebut, Andini mencium punggung tangan Raka. Sementara Raka mencium kening Andini. d**a Nara begitu sesak melihat kenyataan pahit didepannya.
Bagaimana laki-laki yang selama ini begitu dicintai dan dipercaya olehnya malah tega berbuat seperti itu. Selama ini dia dijanjikan harapan kosong oleh Raka. Alasan Raka yang selalu mengatakan takut menjalani sebuah hubungan karena trauma masa lalunya terasa seperti bualan semata.
Nara pun melangkah mundur dari tempat itu dengan derai air mata yang meluncur tanpa mampu dicegah. Dia lalu berbalik dan berlari pergi meninggalkan tempat yang begitu menyakitkan untuknya.
Setelah sampai di villa, dia langsung berlari memasuki kamarnya sambil menangis. Melihat Nara yang baru memasuki villa dengan tangisnya membuat keempat sahabat Nara begitu kaget. Mereka semua lantas berlari mengejar Nara. Namun saat mereka ingin memasuki kamar tersebut ternyata pintunya di kunci oleh Nara.
"Nara.. kamu kenapa nangis?"
"Nara, kamu baik-baik saja?"
"Nara, are you okay?"
"Nara ada apa?"
"Nara buka pintunya."
Begitulah teriakan para sahabatnya. Mereka begitu mengkhawatirkan Nara yang menangis secara tiba-tiba. Namun Nara tak mampu menjawab pertanyaan sahabat-sahabatnya tersebut. Dia masih begitu shock dengan apa yang dilihatnya tadi.
Jadi selama ini usaha dan perjuangannya sia-sia. Karena sebenarnya Raka tak pernah bersungguh-sungguh mengenai perasaannya pada Nara. Dan saat ini Nara merasa hanya dimanfaatkan oleh Raka sebagai pemuas nafsunya saja. Tak pernah ada cinta dari Raka untuknya.
Nara pun segera menghubungi nomor seseorang dalam kontaknya.
Nara: Hallo assalamu'alaikum bang Kevin. Ini aku Kinara, bang.
Kevin: Kinara? Ini bener kamu de? Alhamdulillah akhirnya kamu ngehubungin abang juga. Abang khawatir banget sama kamu.
Nara: Bang, bisa jemput Kinar sekarang? Kinar pengen pulang. Kinar udah ga betah disini. (Sambil menangis)
Kevin: Loh kamu kenapa nangis begitu? Kamu kenapa de? Cerita sama abang.
Nara: Nanti Kinar cerita sama abang. Pokonya sekarang abang jemput Kinar. Ga mau tau. Kinar pengen pulang sekarang. Huhu
Kevin: Yaudah abang jemput kamu. Kamu sekarang dimana?
Nara: Di ciwidey bang. Nanti Kinar kirim lokasinya sama abang. Pokonya Kinar pengen pulang sekarang. Titik.
Kevin: Iya de iya. Abang jemput sekarang ya. Kamu sekarang siap-siap dulu.
Nara: Yaudah kalau gitu Kinar tutup telponnya. Kinar mau nyiapin barang Kinar dulu. Assalamu'alaikum.
Kevin: Iya de. Waalaikumsalam.
Sambungan pun akhirnya terputus. Nara pun segera mengemasi barang-barang bawaannya. Dia ingin segera pergi dari kota ini dan meninggalkan Raka untuk selama-lamanya.
Setelah selesai mengemasi barang-barang nya, Nara segera melangkah keluar dari kamar. Namun begitu kagetnya dia ketika melihat keempat sahabatnya kini sudah berada di balik pintu kamarnya. Tangis Nara pun pecah dihadapan sahabat-sahabatnya.
Kinanti, Melly, Dita dan Davi segera memeluk Nara bersamaan. Mereka membiarkan Nara meluapkan segalanya dalam pelukan mereka. Setelah tangis Nara reda, mereka membawa Nara ke sofa yang berada di ruang tamu untuk menanyakan apa yang terjadi hingga membuat Nara menangis seperti ini. Lalu meluncurlah semua cerita yang sebenarnya terjadi dengan Nara. Dari dia melihat Om Raka tak sengaja hingga melihatnya melamar wanita lain. Mereka cukup kaget karena tak menyangka laki-laki yang telah mengambil hati sahabatnya yang sulit jatuh cinta ini tega memporak porandakan hati Nara hingga seperti ini.
"Berengsek emang itu Om-om. Ga tau diri banget. Sok kecakepan. Gue samperin deh sekarang." Ujar Davi dengan amarah yang menggebu. Dia tak terima sahabat baiknya diperlakukan seperti ini oleh orang lain. Namun langkahnya ditahan oleh Nara.
"Ga perlu Dav. Kamu ga perlu repot-repot nyamperin dia. Aku ga mau berurusan lagi dengan dia. Hari ini aku mau pulang ke Surabaya. Sebentar lagi bang Kevin menjemputku." Jelas Nara pada Davi.
"Baguslah kalau begitu. Kamu harus secepatnya pergi jauh-jauh dari cowo berengsek itu, Na. Sebel deh aku sama tuh cowo. Bisa-bisanya dia nyakitin sahabat aku kayak gini." Ujar Melly tak terima dengan perlakuan Raka.
Pembicaraan mereka terhenti ketika terdengar suara bising diluar. Mereka lantas pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi. Namun setelah pintu terbuka, mereka berlima kaget bukan main melihat Kevin yang berada tak jauh dari mereka sedang berdiri disamping sebuah helikopter.
Jadi ceritanya saat adiknya menghubunginya dengan menangis tersedu-sedu dan meminta Kevin agar segera datang menjemputnya membuat Kevin panik bukan main. Dia begitu khawatir dengan keadaan adiknya tersebut. Apalagi adiknya itu telah pergi dari rumah kurang lebih dua bulan lamanya. Jadi ketika Nara meminta Kevin datang menjemputnya, dia memutuskan untuk pergi menggunakan helikopter saja agar lebih cepat sampai. Dan disinilah dia sekarang.
Ketika melihat Kevin datang menjemputnya, Nara lantas berlari kearah Kevin lalu memeluk kakaknya tersebut dengan erat sambil menangis dalam pelukan kakaknya. Keempat sahabat Nara hanya memandang haru pertemuan kakak dan adik tersebut.
****
Acara lamaran Raka dan Andini hari ini berjalan dengan sangat lancar. Senyum terbit dari bibir Andini karena satu langkah telah dia lewati untuk menjadi seorang istri dari Raka Adrian. Namun hal tak sama ditunjukan oleh Raka. Seharusnya dia bahagia bisa melewati tahap ini bersama dengan wanita yang dia cintai selama ini. Tapi yang terjadi sekarang, dia merasa hampa dengan perasaannya pada Andini. Ada nama lain yang telah tumbuh dalam hatinya tanpa mampu dia cegah. Dan saat ini dia tengah merasa bersalah pada seseorang itu.
Perhatian tamu undangan pada acara pertunangan Raka dan Andini teralihkan ketika mendengar suara bising dari luar. Terdengar seperti suara sebuah helikopter yang tengah mendarat disana. Para tamu undangan pun berjalan keluar karena merasa heran ada apa gerangan sampai-sampai sebuah helikopter mendarat disini. Raka pun sama herannya. Dia mengikuti tamu yang lain untuk berjalan keluar.
Namun betapa terkejutnya Raka ketika dia melihat Davi ada disekitar sini. Raka pun lantas menghampiri Davi.
"Davi?" Tanya Raka memastikan. Davi pun lantas menolehkan kepalanya. Setelah dia tau yang memanggilnya adalah Raka, Davi lantas menatap Raka dengan tatapan benci.
"Kamu... disini? Apa kamu bersama Nara? Dimana Nara sekarang?" Tanya Raka kembali dengan nada sedikit khawatir. Tapi Davi masih tetap diam tak mau menjawab pertanyaan Raka. Lalu Raka mengalihkan pandangannya. Dia memastikan apa Nara ada disini atau tidak.
Tiba-tiba tubuhnya membeku. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Dan lidahnya terasa kelu kala melihat sosok Nara tengah menatapnya dari balik jendela helikopter yang mendarat tadi sambil menangis. Mendadak hati Raka terasa teremas. Dan itu begitu menyakitkannya.
Raka segera berlari kearah helikopter yang ditumpangi Nara. Terdengar suara teriakan Davi dari belakang.
"Halangi laki-laki itu!!! Jangan sampai dia mendekat!!!" Teriak Davi dari belakang. Sontak jalan Raka dihalangi oleh orang-orang berbadan tegap yang tadi terlihat berada disekitaran helikopter tersebut.
"Apa yang kalian lakukan? Jangan halangi jalanku. Aku hanya ingin bertemu dengan Nara." Bentak Raka pada orang-orang didepannya. Namun bentakkan Raka tak digubris oleh mereka semua.
"Kumohon jangan halangi jalanku. Aku hanya ingin bertemu dan berbicara dengan Nara sebentar saja." Suara Raka mulai melemah. Tapi tetap saja mereka tak mau membuka jalan untuk Raka.
Raka lantas berlari kearah Davi yang berdiri di belakangnya. "Davi, aku mohon. Aku hanya ingin berbicara dengan Nara sebentar saja, Dav."
"Apa lagi yang mau kamu bicarakan? Belum puas kamu menyakiti perasaan sahabatku? Kamu tau dengan jelas bahwa sahabatku sangat mencintai kamu. Kamu juga tau bagaimana usahanya selama ini untuk meyakinkan kamu. Tapi apa yang kamu lakukan padanya? Kamu malah tega mengkhianati kepercayaan yang dia berikan padamu. Kamu tega mematahkan hatinya yang baru saja merasakan jatuh cinta." Bentak Davi. Biarlah dia bilang tak sopan karena membentak orang yang lebih tua. Bahkan memanggilnya dengan sebutan kamu. Davi tak peduli. Karena saat ini dia hanya ingin melampiaskan kekesalannya pada orang yang berdiri dihadapan nya tersebut.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku sungguh menyesal. Tapi semua ini ga seperti yang kalian fikirkan. Aku bisa menjelaskannya."
"Aku mohon Davi. Biarkan aku bertemu dan berbicara dengan Nara. Sebentar saja, Dav." Lirih Raka dengan nada memohon pada Davi. "Gak. Aku ga akan biarin kamu bertemu dengan Nara lagi." Tolak Davi dengan tegas. Raka mengacak rambutnya dengan frustasi. Dia lalu berlari kembali kearah Nara. Dan langkahnya lagi-lagi dihalangi oleh orang-orang berbadan tegap tersebut.
"Nara.. turunlah.. aku ingin bicara dengan kamu." Teriak Raka pada Nara.
"Nara.. aku mohon.. turunlah sebentar."
Tiba-tiba mesin helikopter pun menyala pertanda akan segera lepas landas. Raka panik bukan main. Dia berusaha sekuat tenaga melewati orang-orang berbadan tegap tersebut. Namun tenaga nya kalah telak dari mereka semua.
"Nara.. kumohon turunlah. Bukankah kamu berjanji tidak akan meninggalkan aku?"
"Nara.. jangan tinggalkan aku, Na!!!" Raka masih berteriak dengan frustasi.
"Aku membutuhkan kamu, Na. Kumohon jangan tinggalkan aku." Lirih Raka sambil menatap Nara yang sedang melihat ke arahnya dengan tatapan sendu. Tiba-tiba buliran bening itu jatuh di pelupuk mata Raka tanpa bisa dia cegah.
Helikopter pun begerak naik. Orang-orang berbadan tegap pun membuka jalannya untuk Raka ketika helikopter telah terbang cukup tinggi. Raka segera berlari mencoba mengejarnya sambil berteriak seperti orang gila.
"Nara!! Jangan tinggalkan aku."
"Nara.. kamu telah berjanji padaku tidak akan meninggalkan aku apapun yang terjadi, Na."
"Nara.. kumohon turunlah, Na. Aku mencintai kamu. Bukankah itu yang selalu ingin kamu dengar. Sekarang aku telah mengatakannya. Jadi kumohon turunlah. Kembali padaku lagi, Na. Jangan tinggalkan aku seperti ini. Aku benar-benar membutuhkan kamu untuk hidupku. Kamu segala nya untukku, Na." Teriak Raka. Namun sepertinya ucapan Raka tak mampu didengar Nara. Raka lalu tertunduk lesu dibawah sana sambil menatap kepergian Nara. Dia menangis sejadi-jadinya. Merutuki kebodohannya yang baru menyadari pentingnya Nara bagi hidupnya. Dan menyadari bahwa dia telah jatuh cinta pada Nara.
Saat Raka tak sengaja menoleh kebelakang, dia melihat Davi dan teman-temannya yang lain bersiap untuk pergi juga. Raka lalu bangkit dan berlari kearah Davi.
"Davi, beritahu aku dimana alamat Nara di Surabaya." Ucap Raka menghadang Davi yang akan memasuki mobil Range Rover Sport miliknya.
"Kalau kamu memang benar mencintainya seperti yang kamu katakan tadi, kamu harus berusaha sendiri mencari tau keberadaannya. Selama ini bukankah Nara yang selalu berjuang untuk kamu. Sekarang waktunya kamu yang berjuang untuk Nara. Buktikan kalau kamu memang pantas untuknya. Walaupun nanti didepan sana jalannya tak akan mudah. Karena mereka pasti tak akan membiarkan kamu menemui Nara lagi." Ujar Davi lalu masuk kedalam mobilnya dan pergi meninggalkan tempat tersebut bersama teman-temannya. Sementara orang-orang berbadan tegap tersebut menaiki mobil yang lainnya.
Raka terpekur dengan apa yang dikatakan Davi padanya. Saat ini kakinya begitu lemas hingga tak mampu menopang tubuhnya. Raka pun terduduk lesu sambil terus menangis seperti anak kecil. Semua yang terjadi tak luput dari pandangan orang-orang yang berada disana terutama keluarga Andini dan keluarga Raka. Mereka seakan menyaksikan drama korea secara live.
Disana berdiri nenek Raka yang memandang cucunya dengan tatapan sedih. Beliau begitu merasa bersalah pada cucunya tersebut. Karena beliau telah memaksa Raka untuk melanjutkan pertunangan ini walau sebelumnya Raka berkata ingin membatalkannya.
Yah.. tepatnya dua hari yang lalu saat Raka baru tiba dikediaman neneknya. Dia meminta tolong pada neneknya untuk membatalkan pertunangannya dengan Andini. Namun permintaan Raka ditolak oleh beliau karena tak ingin mempermalukan nama baik keluarga. Tapi melihat Raka menangis seperti ini membuat beliau menyesal karena tak mempedulikan keinginan Raka.