Dua puluh sembilan

1676 Words
  Malam semakin larut namun Raka tak jua bisa memejamkan matanya. Dia terus bergerak gelisah di tempat tidurnya. Pergolakan hatinya terus saja mengganggu Raka hingga dia sulit untuk terpejam. Saat ini Raka masih memikirkan tentang rencana petunangannya dengan Andini yang akan berlangsung sekitar seminggu lagi dan juga memikirkan bagaimana perasaan Nara jika dia mengetahui hal ini. Ingin rasanya Raka mengacuhkan hal itu dan fokus pada Andini namun semuanya begitu sulit. Tak sanggup rasanya jika dia harus menyakiti hati Nara.    Walau bagaimanapun selama ini Nara telah banyak membantunya. Karena Nara lah akhirnya dia bisa berubah menjadi Raka yang sekarang. Berkat Nara tak ada lagi Raka yang culun dan terlihat seperti pria tua. Berganti dengan Raka yang tampan, gagah serta menawan. Lalu berkat Nara pula usaha cafe Raka berkembang pesat. Raka tak bisa begitu saja melupakan hal itu. Nara punya andil besar dalam perubahan hidupnya yang lebih baik ini. Tapi Raka juga tak ingin menyia-nyiakan kesempatan hidup bersama dengan Andini. Wanita yang selama ini diinginkannya.    Setelah melewati pergolakan hatinya, entah mengapa Raka malah melangkahkan kakinya menuju kamar Nara yang kebetulan tak terkunci itu. Raka berjalan kearah Nara yang telah berbaring di tempat tidurnya lalu duduklah dia disamping Nara.    Raka menatap wajah Nara yang sedang tertidur pulas. Lalu dia menyibakkan helaian rambut yang menutupi wajah Nara. Tiba-tiba hatinya tercekat melihat mata dan pipi Nara yang masih basah karena tangisnya. Mata Nara pun terlihat membengkak. Mungkin gadis itu terus menerus menangis hingga matanya membengkak seperti itu.    Raka lalu mengusap wajah Nara dengan lembut. Setelah itu dia menarik selimut yang berada di kaki Nara hingga atas tubuhnya. Lagi-lagi dia tercekat ketika tanpa sengaja dia melihat luka lebam pada lengan Nara. Raka lalu melihat luka lebam itu. Hatinya begitu sesak dan sakit ketika dia menyadari bahwa luka lebam tersebut karena ulahnya kemarin yang mencengkram lengan Nara begitu kuat. Dia merutuki kebodohannya karena terlalu cemburu hingga menyakiti Nara seperti ini.    Tak hanya luka lebam akibat cengkramannya saja ternyata karena saat Raka memegang tangan Nara ada luka lebam lain pada tangannya. Raka berfikir apa lagi yang dia perbuat hingga Nara terluka kembali. Dia mulai mengingatnya lagi lalu saat dia teringat akan hal itu, ingin rasanya Raka membenamkan dirinya kelaut.    Bagaimana bisa dia berbuat sekasar itu pada Nara. Bukan hanya sekali tapi dua kali. Pertama akibat cengkramannya yang kuat pada lengan Nara. Kedua akibat dia yang menghempaskan tubuh Nara pada sofa hingga tangan Nara terbentur meja didepannya. Karena Raka sekilas mendengar suara benturan itu namun dia tak terlalu menggubrisnya karena pada hari itu dia masih diliputi emosi. Dan saat ini dia menyesali segala perbuatannya pada Nara.    Raka mengusap wajah Nara dengan lembut hingga Nara terbangun dari tidurnya. Nara hanya terdiam membeku melihat Raka yang berada disampingnya saat ini. "Maaf." Ucap Raka dengan lirih. Nara lalu bangun dari tidurnya dan menatap wajah Raka. Terlihat mata Raka yang mulai berkaca-kaca. "Maaf untuk apa, Om?" Tanya Nara tak mengerti. "Maaf karena aku telah menyakiti kamu kemarin. Sampai kamu terluka seperti ini." Jawab Raka sambil menunjuk luka lebam Nara. "Oh itu.. Ga apa-apa ko. Lagipula Nara yang salah karena udah bikin Om marah. Maafin Nara ya. Tapi harus Om tau, Nara benar-benar ga bermaksud seperti itu. Hanya Om yang ada dihati Nara. Hanya Om yang Nara sayangi dan cintai. Ga ada lelaki lainnya. Nara harap Om percaya sama Nara." Lirih Nara sambil menatap wajah Raka dengan sendu. Raka lalu membawa Nara dalam pelukannya. "Aku percaya sama kamu, Na. Yaudah sekarang kamu tidur ya ini udah malam banget loh, Na." Ucap Raka. "Tapi Om temenin Nara tidur ya. Nara masih kangen sama Om Raka." Cicit Nara pelan sambil menundukan wajahnya. Takut Raka akan marah lagi padanya. Namun ternyata Raka malah mengusap pipinya. Nara pun mendongkakan wajahnya menatap Raka. Hatinya menghangat melihat Raka tersenyum padanya. "Yaudah aku temenin." Jawab Raka lalu menaikkan kakinya keatas tempat tidur. Dia menggeser posisi Nara hingga dia bisa berbaring disamping Nara. Setelah itu Raka menarik Nara dalam pelukannya. Senyum pun terbit dari bibir Nara karena Om Raka nya yang perhatian telah kembali. ****    Pagi harinya saat bangun tidur Raka tak menemukan Nara disampingnya. Kemana gadis itu pagi-pagi begini batin Raka. Dia pun bergegas ke kamar mandi untuk membasuh mukanya dan menggosok gigi. Setelah itu dia keluar dari kamar untuk mencari Nara. Namun dia begitu terkejut melihat Nara berada di dapur. Apa mungkin Nara memasak untuknya lagi fikir Raka.    Raka pun merenggut kesal. Masa iya Raka harus memakan nasi goreng buatan Nara lagi yang rasanya begitu aneh. "Lagi apa Na?" Tanya Raka berbasa-basi sambil melihat apa yang sedang dikerjakan Nara. "Taraaaa... Nara udah buatin pancake sauce strawberry buat Om Raka. Om harus coba ya. Nara udah nyicipin dulu ko sebelumnya. Dan rasanya masih layak untuk dimakan." Ujar Nara panjang lebar. Raka pun mengambil garpu dari tangan Nara lalu mulai memotong pancake nya. Setelah dia mencobanya, Raka merasa kaget karena rasanya memang enak. "Ini bener kamu yang buat?" Tanya Raka penuh selidik untuk memastikan. Sebab dirinya tak yakin kalau Nara yang membuatnya. Nara hanya tersenyum geli melihat ekspresi Raka. "Iyalah Om itu Nara yang buat. Tuh Om liat sendiri bahan-bahannya. Kalau ga percaya Nara bisa buatin lagi sekarang di depan Om Raka." "Iya deh aku percaya. Terima kasih ya. Aku ga nyangka kamu bisa membuat kue." Ucap Raka sambil memakan lagi pancake buatan Nara. Nara begitu senang karena pada akhirnya dia bisa membuat kue untuk Raka. Dan Raka terlihat sangat menyukai pancake buatannya karena Raka begitu lahap memakannya. Berbeda saat dia memakan nasi goreng buatan Nara. ****    Malam ini hawa terasa sangat dingin karena hujan yang terus mengguyur kota Bandung dengan derasnya dari tadi sore hingga saat ini. Hal itu membuat Raka dan Nara betah berada di Apartemen daripada harus pergi-pergi keluar.    Saat Nara sedang membuat s**u coklat panas, Raka memeluk tubuh Nara dari belakang. "Lagi buat apa?" Tanya Raka. "Lagi bikin s**u coklat panas nih. Om mau Nara buatin? Biar tubuhnya bisa lebih hangat." Jawab Nara sambil mengaduk s**u coklat panasnya. "Aku ga mau s**u coklat panas ah. Aku mau nya yang lain. Yang lebih hangat dari itu." Bisik Raka di telinga Nara. Sontak saja hal itu membuat tubuh Nara menegang. Raka lalu memutar tubuh Nara agar menghadapnya. Jantung Nara berdegup dengan sangat kencang saat berhadapan dengan Raka. Raka mendekatkan wajahnya pada wajah Nara lalu dia memagut bibir Nara dengan lembut.    Nara sedikit terkejut saat Raka menciumnya. Namun sedetik kemudian dia membalas ciuman Raka. Mereka berciuman dengan panasnya menyalurkan segala kerinduan yang tertahan beberapa hari ini. Hingga mereka melapaskan ciumannya karena kehabisan nafas.    Raka lalu menggendong tubuh Nara ala bridal style. Dia berjalan menuju kamarnya dan setelah sampai dikamarnya, Raka menurunkan tubuh Nara pada tempat tidurnya.    Raka memandang wajah Nara yang bersemu merah dibawah tubuhnya. Lalu dia mulai mencium bibir Nara kembali. Bahkan ciumannya lebih dalam dari yang tadi. Entah kenapa gairah nya saat ini begitu tinggi. Dia merindukan sentuhan Nara pada tubuhnya. Mungkin efek hujan diluar sana yang membuat hawa sangat dingin hingga dia menginginkan sebuah kehangatan. Sepertinya hujan malam ini menjadi saksi percumbuan dirinya dengan Nara yang begitu panas. Mereka saling memuaskan satu sama lainnya. Namun tetap menjaga kesuciannya masing-masing. ****    Setelah melewati kegiatan panasnya, Nara dan Raka masih saja berpelukan dengan sangat mesra. Nara menatap wajah Raka dan menyusuri setiap inci wajah Raka dengan jari-jarinya. Saat ini Nara ingin sekali bertanya sesuatu pada Raka namun dia bingung harus mulai dari mana. Tapi kalau dia tidak bertanya sekarang kapan lagi dia akan tau jawabannya. Akhirnya Nara pun memberanikan dirinya bertanya pada Raka. "Om, Nara boleh tanya sesuatu ga?" Tanya Nara hati-hati. Takutnya dia salah bicara." "Boleh. Mau tanya apa Na?" Raka balik bertanya. "Jadi apa arti aku sebenarnya di mata om? "    Pertanyaan Nara sontak membuat Raka terdiam. Dia pun bingung menjelaskan pada Nara sedangkan dia sendiri bingung dengan perasaannya terhadap Nara. Dia memang nyaman berada didekat Nara. Tapi dia juga belum mencintainya. "Saya lelah Na. Lebih baik kita tidur. Besok lagi kita bahas ya. " Selalu seperti itu jawaban yang dilontarkan Raka pada Nara. Setiap ditanya tentang hubungan nya Raka selalu saja menghindar. Seketika pelukan Nara pada Raka melonggar. Dia pun berbalik mebelakangi Raka. " Baiklah" ucap Nara bergetar menahan tangis nya. ****    Beberapa hari ini hubungan Nara dan Raka semakin membaik. Raka jadi lebih sering memanjakan dan memperhatikan Nara. Mungkin ini awal yang baik untuk hubungan mereka kedepannya walaupun Raka belum memberikan kepastian atas hubungannya dengan Nara tapi biarlah. Mungkin Raka memang butuh waktu untuk memikirkannya. Dan Nara masih akan sabar menunggu hal itu. "Nara, sore ini sampai tiga hari kedepan aku akan ada sedikit pekerjaan diluar kota. Jadi aku ga bisa nemenin kamu untuk sementara waktu. Kamu mau tinggal disini apa mau nginep dirumah saudara Davi dulu?" Tanya Raka pada Nara. Saat ini mereka tengah menonton tv bersama. Dengan Nara yang tidur dipangkuan Raka. "Kayaknya Nara bakal nginep dirumah saudara Davi aja. Ga apa-apa kan Om? Abis Nara takut kalau sendirian disini." Jawab Nara dengan tatapan memohonnya. "Yaudah ga apa-apa. Kamu jaga diri baik-baik ya selama aku pergi. Jangan keluyuran terus. Aku pergi ga akan lama ko. Setelah urusannya beres aku jemput kamu dirumah saudaranya Davi ya." Ujar Raka yang langsung diangguki oleh Nara dengan senyum lebarnya. Nara bersyukur karena sedikit demi sedikit banyak kemajuan positif yang ditunjukan oleh Raka. Dia jadi lebih percaya dengan Nara. ****    Sudah dua hari Raka pergi keluar kota meninggalkan Nara. Dan Nara merasa sangat kesepian karena tak ada Raka disisinya. Hanya ada Davi disampingnya selama dua hari ini. Dan itu membuat Nara sedikit bosan karena terus menerus melihat Davi.    Namun akhirnya rasa sepinya hilang ketika para sahabatnya dari Surabaya datang ke Bandung. Ada Kinanti, Melly (Yang baru saja pulang dari liburannya dari Jepang), Dita (Yang baru pulang berlibur dari Jogja) dan jangan lupakan Davi (Yang beberapa hari ini menemani kesepiannya).    Hari ini mereka berlima berencana pergi berlibur dan menyewa sebuah villa disana. Dan saat ini mereka sedang mengemasi barang-barang apa saja yang akan dibawa karena rencananya mereka akan menginap disana. Setelah selesai mengemasi barang-barang bawaannya mereka pun langsung meluncur pergi. "Ciwidey... we're coming..." Teriak mereka bersamaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD