"Arrghh.. Sial.. Kenapa kamu memberi aku janji dan harapan tinggi Nara? Kalau pada akhirnya kamu malah menjatuhkan harapan aku seperti ini. Aku benar-benar kecewa padamu Nara." Raka mengumpat dan berkata dengan letupan emosi yang masih berkobar. Bayangan Nara yang sedang berpelukan dengan lelaki lain berputar terus dikepalanya. Dia sungguh kecewa pada Nara. Padahal sebelumnya Nara berjanji padanya akan bersabar menunggu Raka lepas dari masa lalunya. Namun apa yang diliatnya tadi di mall sangat berbanding terbalik dengan pernyataan Nara. Dengan mudahnya Nara mau saja dipeluk lelaki lain sama saja seperti w************n pada umumnya fikir Raka. Handphone Raka pun berbunyi. Mengalihkan sedikit fikiran Raka tentang Nara. Terlihat nama Wa Heni (Kakak dari ayahnya) disana.
Raka : Hallo Assalamualaikum Wa.
Wa Heni : Hallo Raka. Waalaikum salam. Raka enjing dipiwarang kadieu saur Ema(Nenek Raka). Aya anu bade dicarioskeun ceunah. Raka tiasa teu? (Hallo Raka. Waalaikum salam. Raka besok disuruh kesini sama Ema. Ada yang mau dibicarain katanya. Raka bisa ga).
Raka : Insyaallah tiasa Wa. Enjing Raka kadinya nya. (Insyaallah bisa Wa. Besok Raka kesitu ya).
Wa Heni: Nya entos atuh. Raka geura kulem nya. Atos wengi ieu teh. Diantos nya enjing. Assalamualaikum. (Ya udah atuh. Raka cepet tidur ya. Udah malam ini tuh. Ditunggu ya besok. Assalamualaikum).
Raka: Muhun Wa. Waalaikum salam.
Panggilan pun berakhir. Untunglah Uwa nya menghubunginya. Dengan begitu emosinya mulai mereda. Raka pun mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidur dan memejamkan matanya mencoba melupakan kejadian hari ini yang membuat dadanya begitu sesak. Hingga dengan perlahan dia memasuki alam tidurnya.
****
Pagi hari sekali Raka pergi untuk menemui Neneknya yang tinggal di daerah Ciwidey, Kabupaten Bandung. Perjalanan yang cukup jauh dari tempat tinggalnya sekarang membuat dia harus berangkat sepagi mungkin agar terhindar dari kemacetan yang begitu parah. Terlebih lagi saat ini Raka juga tengah menghindari Nara. Setelah kejadian semalam Raka masih enggan bertatap muka dengan Nara. Perasaan kecewa yang dia rasakan pada Nara terlalu besar. Mungkin setelah kekecewaannya mereda dia akan berbicara kembali dengan Nara karena Raka juga tak mungkin terus menerus menghindari Nara seperti saat ini.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam akhirnya Raka sampai juga dikediaman Nenek nya. Dia pun segera menyalami keluarga besarnya satu persatu yang sedang berada di halaman rumah Nenek Raka.
"Assalamualaikum." Raka mengucapkan salam sambil merundukan kepalanya dengan sopan.
"Waalaikumsalam. Aduh si Aa meuni jadi tambah kasep kieu dileupas kacamatana mah. Mun jiga kieu tikapungkur kan kasep katinggalna." Raka hanya tertunduk dan tersenyum malu-malu mendengar keluarga besarnya memuji penampilan dia sekarang. (Aduh si Aa kenapa jadi tambah ganteng gini dilepas kacamatanya mah. Kalau kayak gini dari dulu kan ganteng kelihatannya).
"Oh iya a, itu udah ditungguin sama Ema di dalem." Ujar salah seorang saudara Raka.
"Yaudah kalau gitu Raka permisi masuk dulu ya semuanya. Assalamualaikum." Ucap Raka dengan sopan. "Mangga. Waalaikumsalam." Jawab saudara Raka serempak. Raka pun lalu memasuki rumah neneknya. Disana sudah ada Nenek nya yang sedang asik duduk di sebuah kursi sambil mengobrol dengan beberapa orang di hadapannya.
"Assalamualaikum, Ma." Raka berucap salam sambil mencium tangan Neneknya.
"Waalaikumsalam kasep. Aduh Ema kangen banget sama kamu. Kamu jadi tambah ganteng ya sekarang." Ucap Nenek Raka sambil mengelus rambut cucunya dengan sayang.
"A Raka? Aa teh A Raka Adrian?" Seru seseorang dibelakang Raka. Raka lalu menoleh ke belakang. Dan betapa terkejutnya dia melihat Andini sang cinta pertama ada di hadapannya sekarang. Raka pun tertegun berhadapan dengan sang cinta pertama yang masih terlihat dewasa, cantik dan juga sangat anggun tersebut. Benar-benar wanita idamannya sekali.
"Andini?" Tanya Raka memastikan dan Andini langsung mengangguk senang karena Raka masih mengingatnya.
"Ah jadi kalian sudah saling kenal ya. Ya syukurlah kalau begitu. Jadi begini Raka. Ema teh berencana menjodohkan kamu sama anaknya Pa Haliman yaitu Neng Andini ini. Gimana menurut kamu? Kamu setuju ga?" Raka begitu terkejut mendengar penuturan Neneknya tersebut. Dia senang bukan main. Karena selama ini dia memang masih mencintai dan mengharapkan Andini. Walau harapannya pernah pupus karena Andini tak kunjung menerimanya. Namun mendengar ucapan Neneknya tadi membuat harapannya yang pernah pupus itu jadi bangkit kembali.
"Kalau Raka mah gimana baiknya aja Ma. Lagipula Neng Andini nya aja belum tentu mau sama Raka." Ucap Raka sambil tertunduk lesu mengingat Andini yang selama ini selalu mengabaikan perasaannya.
"Mau.. Andini mau kok A." Ucap Andini dengan semangatnya yang membuat orang-orang yang berada disitu tertawa geli melihat tingkah Andini. Raka pun mendongkakkan wajahnya karena begitu kaget mendengar ucapan Andini yang menyetujui perjodohan ini. Padahal kan selama ini Andini selalu mengabaikan dia dan perasaannya batin Raka dalam hati.
Setelah sadar akan ucapannya, Andini menundukan wajahnya karena malu. Dia begitu senang dan bersemangat dengan perjodohan ini. Kalau dulu dia tak menyukai Raka namun berbeda dengan sekarang. Raka yang dia lihat sekarang benar-benar begitu sangat tampan dan gagah. Berbeda dengan dulu yang sangat culun dan tak menarik sama sekali.
"Nah kan sekarang Andini sudah setuju. Jadi kapan kita akan menggelar lamarannya nih?" Tanya Pa Haliman dengan semangat empat limanya karena sebentar lagi dia akan besanan dengan keluarga Wijaya yang terkenal terpandang di kampungnya tersebut. Bagaimana tidak, keluarga Raka ini memiliki perkebunan teh yang begitu luas.
"Gimana kalau minggu depan? Lebih cepat lebih baik bukan?" Seru Nenek Raka yang juga begitu semangat karena akhirnya cucu kesayangannya ini segera menikah. Padahal awalnya Nenek Raka fikir, Raka akan sulit menerima perjodohan ini bahkan mungkin tak menerimanya karena trauma masa lalu cucunya tersebut. Namun dia tak menyangka bahwa cucunya ternyata setuju dengan perjodohan ini bahkan terlihat jatuh hati dengan anak bungsu Pa Haliman tersebut.
"Ok saya setuju. Kita harus segera mempersiapkannya dari sekarang." Ujar Pa Haliman. Raka hanya mengangguk malu-malu sambil sesekali melirik Andini yang juga diam-diam melihatnya sambil tersenyum malu.
****
"Bagaimana kabar kamu, Din? Udah lama banget ya kita ga ketemu." Tanya Raka pada Andini. Saat ini mereka berdua tengah berada di tengah-tengah perkebunan milik keluarga Raka.
"Alhamdulillah baik, A. A Raka sendiri bagaimana? Iya ya udah lama banget kita ga ketemu." Jawab Andini dengan senyum yang masih malu-malu.
"Alhamdulillah seperti yang kamu liat sekarang. Begitu baik. Bahkan setelah bertemu dengan kamu jadi tambah lebih baik." Andini pun hanya tersipu malu mendengar ucapan Raka yang begitu manis tersebut.
"Kamu tau, A. Tadinya aku ingin menolak perjodohan ini. Namun setelah melihat kalau calonnya adalah A Raka aku begitu bahagia, A. Harus A Raka tau kalau sejak dulu Andini begitu mengagumi A Raka." Ucap Andini berbohong. Karena selama ini dia memang tak pernah mengagumi Raka. Bagaimana mungkin dia mengagumi laki-laki yang begitu culun seperti Raka. Namun melihat perubahan Raka yang begitu mengejutkannya dengan segala pesona yang Raka miliki sekarang, dia tak mungkin menolaknya.
"Lalu kenapa dari dulu kamu selalu mengabaikan aku, Din?" Tanya Raka sambil menatap wajah Andini dengan tatapan sendu.
"Aku dulu itu takut A. Takut akan dikecewakan kalau sampai berpacaran. Aku juga ga mau sampai mengalami putus cinta atau patah hati. Karena dulu kita kan masih remaja. Masih belum mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya." Jawab Andini yang masih saja berbohong dengan ucapannya.
Raka pun hanya menganggukan kepalanya tampak setuju dengan jawaban Andini.
"Terima kasih ya Andini. Karena kamu mau menerimaku sekarang. Bukan sebagai Kekasih kamu lagi. Tapi sebagai suami kamu nanti." Ujar Raka dengan bersungguh-sungguh lalu menggenggam jemari Andini dengan lembut.
"Sama-sama A Raka. Memang sudah seharusnya begitu kan. Mungkin ini takdir untuk kita berdua. Dipertemukan dengan kondisi yang sekarang agar langsung bisa menikah." Jawab Andini lalu membalas genggaman tangan Raka.
****
Saat ini Nara sedang berkutat dengan kegiatan memasaknya. Mungkin dengan cara ini, Raka bisa sedikit memaafkannya. Nara begitu bersalah dengan kejadian kemarin. Seharusnya dia tak bertindak ceroboh memeluk laki-laki lain yang berakhir dengan Raka yang begitu marah padanya. Seharusnya Nara bisa menjaga perasaan laki-laki itu. Dan hari ini Nara akan mencoba menebus kesalahannya yang kemarin dengan memasakan makanan untuk Raka.
Karena begitu semangatnya, dia beberapa kali menyenggol atau menjatuhkan sesuatu yang berada disekitarnya. Hingga tanpa sengaja dia menyenggol tempat sampah yang berada di dekatnya. Dan berserakanlah sampah-sampah tersebut. Saat Nara hendak membereskan, matanya tertuju pada sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah kantong plastik yang terlihat mencurigakan. Saat dia membukanya, dia begitu terkejut melihat nasi goreng dan telur buatannya berada di kantong plastik tersebut. Jadi Raka tak memakannya malah membuangnya batin Nara dalam hati. Pandangan mata Nara pun mulai berembun lalu jatuhlah buliran bening itu di pipinya. Hatinya begitu sakit melihat kenyataan ini. Mengapa Raka tak jujur saja padanya. Mungkin dengan Raka jujur, dia akan berusaha lebih keras untuk belajar memasak. Bukan dengan cara membuangnya seperti ini. Nara merasa ... tak dihargai.
****
Senyum tak hentinya terukir dari bibir Raka mengingat pertemuannya tadi dengan Andini. Apalagi saat mengingat kalau Andini setuju dengan perjodohan itu dan sebentar lagi mereka akan bertunangan membuat Raka ingin berjingkrak-jingkrak karena senangnya. Namun senyuman itu lantas meluruh saat dia membuka pintu Apartemennya dan melihat Nara tertidur di sofa ruang tamunya. Raka hampir saja melupakan Nara. Bagaimana jika gadis itu mengetahui kalau Raka akan segera bertunangan dengan wanita lain.
Raka lalu berjalan menghampiri Nara yang tertidur. Dia berjongkok di hadapan Nara lalu mengusap kepalanya dengan lembut. Dia ingin segera memberitahu Nara tentang pertunangannya dengan Andini. Dan berharap Nara akan mengerti dengan pilihannya lalu berbesar hati merelakan dia bersama Andini. Namun dia bingung harus mulai berbicara darimana. Dia tak ingin menyakiti hati Nara.
"Om udah pulang?" Nara perlahan membuka matanya ketika merasakan ada seseorang yang mengusap kepalanya.
"Udah barusan. Kamu lanjut tidur di kamar gih. Nanti badan kamu pada sakit kalau tidur di sofa." Ujar Raka sambil berdiri dari jongkoknya bersiap untuk menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat Nara menahan lengannya. Raka pun menoleh kearah Nara. "Kenapa?"
"Maaf." Lirih Nara sambil menatap mata Raka dengan sendu. "Maaf karena udah buat Om marah dan kecewa dengan sikap aku kemarin. Aku benar-benar ga bermaksud seperti itu."
"Hmm.. Ya udah sekarang kamu masuk kamar terus cepet tidur." Ucap Raka sambil menepis tangan Nara dari lengannya lalu berjalan masuk kedalam kamarnya. Saat ini Raka mencoba untuk menjauhi Nara dan menjaga jarak dengannya. Raka tidak ingin terpengaruh oleh Nara karena sebentar lagi dia akan bertunangan dengan Andini wanita yang selama ini masih dicintainya. Mungkin memang terdengar kejam, namun sepertinya dengan cara menjauhi Nara karena kejadian kemarin membuat Raka berharap Nara akan lelah dengannya lalu meninggalkan Raka. Jadi dengan begitu dia tidak perlu menceritakan perihal rencana pertunangannya dengan Andini yang akan berlangsung minggu depan tersebut.
Tangis Nara pun pecah melihat Raka yang masih belum bisa memaafkannya. Apalagi melihat Raka terus mengacuhkan dia membuat hati Nara begitu sakit. Namun Nara tetap tak mau lelah berjuang untuk Raka. Nara terlanjur mencintai Raka. Raka merupakan laki-laki pertama yang Nara suka dan cintai. Nara berharap Raka adalah cinta pertama dan terakhir untuknya.