"Lutfi? Kamu Lutfi kan?" Tanya Nara memastikan.
"Iya aku Lutfi yang waktu itu ketemu kamu di bioskop. Ternyata kamu masih inget aku juga ya. Aku kira udah lupa. Hehe.." Jawab Lutfi tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya masih ingetlah. Yang ngajak kenalan itu kan? Haha.. " Nara tertawa mencoba mencairkan suasana yang terlihat canggung itu.
"Ya syukurlah kalau inget. Oh ya kamu lagi nyari apa di toko mainan?" Tanya Lutfi sambil berjalan masuk kedalam toko mainan beriringan dengan Nara.
"Aku lagi nyari boneka barbie nih. Kalau kamu lagi nyariin apa?" Nara balik bertanya pada Lutfi.
"Aku lagi nyariin hadiah buat keponakan aku nih. Soalnya besok dia ulang tahun. Kamu mau bantuin aku ga buat milihin hadiah apa yang bagus? Soalnya keponakan aku perempuan. Aku kurang begitu paham apa yang disukai anak perempuan." Terang Lutfi pada Nara.
"Yakin nih buat keponakannya? Bukan buat pacarnya gitu?" Nara bertanya sambil menggoda Lutfi. Sementara Lutfi langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bener buat keponakan aku ko. Lagian aku ga punya pacar juga. Kamu kali yang udah punya pacar ya?" Nara pun hanya terdiam mendengar pertanyaan Lutfi lalu sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Belum? Kamu belum punya pacar? Terus yang Om-om itu siapa? Dia bukan Om kandung kamu kan? Soalnya dia possesive banget. Terlalu berlebihan keliatannya kalau hanya sekedar perhatian Om sama keponakannya. Dia pasti pacarnya kamu ya kan. Jawab jujur juga ga apa-apa ko sama aku mah nyantai aja." Tutur Lutfi dengan jujur sambil nyengir.
"Dia emang bukan Om kandung aku. Dia juga bukan pacar aku."
"Kalau bukan keduanya, ga mungkin kan kalau dia suami kamu."
"Apalagi itu ga mungkin banget." Ucap Nara sambil tertunduk sedih lalu menangis sesegukan meratapi kisah cintanya yang tak jelas statusnya itu. Lutfi pun lantas kelabakan sendiri ketika melihat Nara mulai menangis.
"Duh.. cup.. cup.. jangan nangis dong. Aku salah bicara ya. Maafin aku ya. Aku ga bermaksud buat mengintogerasi kamu ko. Aku cuma penasaran aja. Ya syukur-syukur kalau kamu ga punya pacar. Berarti aku ada kesempatan buat deketin kamu kan?" Ujar Lutfi mencoba menenangkan Nara. Namun tangis Nara malah semakin kencang. Lutfi jadi salah tingkah sendiri ketika beberapa pengunjung toko mainan itu memperhatikan dia dan Nara.
"A, itu pacarnya jangan dibuat nangis dong. Kan kasian. Beliin aja kek apa yang pacarnya mau. Pelit amat sih jadi cowok." Ujar salah seorang pengunjung.
"Iya tuh a beliin aja. Jangan itungan jadi cowok mah." Timpal pengunjung satunya yang langsung disetujui oleh pengunjung lainnya. Lutfi lantas dibuat bingung sendiri. Kenapa semua pengunjung disini menyalahkannya seperti itu. Apa dia terlihat seperti cowok yang ga berperasaan dan pelit? Padahal mah dia cowok yang baik dan royal banget. Apalagi kalau sama cewek yang dia suka.
Lutfi lalu membawa Nara yang sedang menangis kedalam pelukannya dan memohon maaf kepada para pengunjung atas ketidaknyamanannya.
"Nara udah atuh jangan nangis terus. Aku jadi disalahin sama ibu-ibu disini. Aku minta maaf tadi udah salah ngomong. Janji deh ga akan ngomong kayak gitu lagi." Ucap Lutfi sambil mengelus punggung Nara dengan lembut. Ah bahagianya Lutfi hari ini. Biarlah dia dimarahin banyak ibu-ibu yang penting dia bisa peluk Nara kayak gini. Ibaratnya mah musibah yang membawa berkah.
Namun kebahagiaan Lutfi harus terganggu ketika ada yang melepaskan pelukannya pada Nara dengan sangat kasar. Dan ternyata pelakunya adalah Raka.
"Lepasin tangan kamu dari Nara. Sekarang!!!" Bentak Raka yang begitu sangat emosi. Tadi ketika Raka ingin menjemput dan mengajak Nara untuk pulang, dia melihat adegan yang membuat hatinya begitu panas dan mendidih. Nara sedang berpelukan dengan laki-laki lain. Dan yang membuat Raka lebih geram lagi ketika tau laki-laki itu sama dengan laki-laki yang mengajak Nara berkenalan di bioskop.
Mendengar bentakan Raka, Nara lantas mendongkakkan kepalanya melihat Raka. Ada kabut amarah yang begitu besar pada matanya. Apalagi ketika melihat kepalan tangan Raka yang seakan siap kapan saja untuk menghajar seseorang.
"Om Raka? Nara bisa jelasin semuanya ko Om. Ini ga seperti yang Om fikirkan." Lirih Nara sambil mencoba menggapai wajah Raka namun dengan segera Raka menangkis tangan Nara.
"Kamu ikut aku pulang. Sekarang!!" Sentak Raka sambil mencengkram lengan Nara dengan kasar lalu menariknya. Melihat perlakuan Raka pada Nara membuat hati Lutfi mencelos. Dia tak menyangka laki-laki dihadapannya bisa berlaku kasar pada wanita yang dia sukai, Nara. Pada akhirnya Lutfi pun terbakar emosinya. Dia lalu berlari mengejar Nara dan menarik tangan Nara hingga langkah Raka pun terhenti.
"Jangan berlaku sekasar itu sama cewek, Om. Lagipula untuk apa Om harus semarah itu. Om kan bukan pacarnya Nara." Ujar Lutfi dengan lantangnya.
Raka lalu berbalik arah menghadap Lutfi sambil menunjuk wajah Lutfi. "Kamu? Ga perlu ikut campur urusanku dengan Nara. Karena kamu bukan siapa-siapa. Kamu hanya orang luar." Ucap Raka pada Lutfi lalu menghentakkan pegangan tangan Lutfi pada Nara dan menarik Nara segera dari hadapan Lutfi. Hati Lutfi sungguh terasa sakit melihat perlakuan Raka pada Nara. Apalagi melihat Nara yang terus saja menangis sesegukan seperti itu terasa sangat menyayat hati kecilnya. Namun dia juga tak bisa berbuat banyak. Karena dia tak mengerti akar permasalahannya dimana. Dan benar juga kata Raka kalau dia hanyalah orang luar saja yang tak perlu ikut campur urusan mereka.
****
Raka terus menarik lengan Nara hingga parkiran. Dia membuka pintu penumpang mobilnya lalu mendorong tubuh Nara agar masuk kedalam. Setelah itu di membanting pintunya dengan keras dan berjalan kearah pintu kemudi lalu melajukan kendaraannya dengan cepat. Saat ini Raka benar-benar hilang kendali dan tidak dapat mengontrol emosinya. Selama diperjalanan pun baik Raka ataupun Nara hanya terdiam dengan pemikirannya masing-masing. Raka yang masih tersulut emosinya terlihat menahan semuanya. Terlihat dengan jelas hembusan nafasnya yang begitu cepat dan kepalan tangannya yang mencengkram erat kemudinya menahan lonjakkan emosi yang siap untuk meledak tersebut. Sementara Nara hanya menangis sesegukan tidak tau harus berbuat apa. Dia ingin berbicara namun takut Raka akan semakin tersulut emosinya yang nantinya akan membahayakan perjalanan pulang mereka.
Sesampainya di parkiran Apartemen, Raka segera menarik lengan Nara dengan kasar sama seperi apa yang dia lakukan di mall tadi. Lalu dia menyeret Nara menuju Apartemennya. Setelah sampai didepan pintu Apartemennya Raka segera membuka pintunya dan setelah berhasil masuk kedalam, dia segera melemparkan tubuh Nara ke sofa dengan kasar. Nara mengaduh kesakitan ketika tangannya menghantam meja didepannya. Namun Raka tak menggubrisnya. Emosi pada diri Raka masih menguasainya.
"Apa yang kamu lakukan dibelakang aku Nara?" Tanya Raka dengan membentaknya. Air mata pun terus mengalir dipipi Nara melihat kilatan emosi pada mata Raka. Dia sungguh ketakutan dengan perilaku Raka saat ini. Raka sangat berbeda dengan yang dia kenal selama ini. Karena selama ini Raka selalu bersikap baik dan sabar kepadanya. Namun saat melihat Raka yang sekarang, Nara seakan tak mengenalnya.
"Kenapa Om harus marah seperti itu? Bukankah kita tidak memiliki hubungan apapun? Lalu untuk apa Om marah-marah begini?" Nara balik bertanya dengan tatapan menghunus tajam pada Raka. Akhirnya dia bisa juga mengeluarkan suaranya yang dia tahan sejak tadi.
"Aku hanya menagih janji dan ucapanmu. Bukankah kamu sendiri yang bilang akan menungguku? Setia padaku? Tapi apa yang aku lihat tadi? Kamu malah kegatelan dengan laki-laki itu. Bagaimana aku bisa mempercayaimu? Bagaimana aku bisa menerimamu? Harusnya kamu membuat aku yakin dengan perasaan kamu bukan malah sebaliknya. Aku jadi tambah meragukan kamu, Nara. Apa kamu memang pantas untukku atau tidak. Melihat kelakuanmu hari ini jujur membuat aku ragu terhadap kamu dan kelanjutan hubungan kita. Maaf." Ujar Raka lalu berbalik pergi menuju kamarnya dan meninggalkan Nara yang terdiam membisu dengan air mata yang masih mengalir dipipinya. Nara pun mengelus tangannya yang sedikit memar karena benturan tadi yang cukup keras. Namun rasa sakit pada tangannya tak sebanding dengan sakit pada hatinya mendengar pernyataan Raka barusan. Bahkan berkali-kali lebih menyakitkan.
'Kenapa mencintai kamu harus sesakit ini Om?' Batin Nara dalam hati.