"Selamat pagi Om!!!!" Sapa Nara dengan senyuman lebarnya saat melihat Raka masuk ke dalam dapur. Raka pun tersentak kaget melihat keberadaan Nara yang tak biasanya berada di dapur pagi-pagi seperti ini.
"Kamu lagi ngapain pagi-pagi begini udah ada di dapur? Kamu ga lagi ngigau kan?" Tanya Raka sambil berjalan kearah Nara lalu menepuk-nepuk pipi Nara untuk memastikan.
"Ih Om... Nara tuh ga lagi ngigau. Nih liat, Nara lagi belajar masak nasi goreng. Nara tuh lagi memantaskan diri buat jadi istri Om nanti." Jawab Nara sambil tersenyum malu lalu menyodorkan piring yang berisi nasi goreng buatannya. Raka pun menelan salivanya berkali-kali melihat bentuk nasi goreng buatan Nara itu. Telur ceplok nya yang kecoklatan bukan karena matang tapi terlalu matang alias hampir gosong. Lalu tampilan nasi goreng yang terlalu banyak menggunakan minyak itu membuat nasi goreng itu terlihat becek. Sungguh, jangankan untuk memakannya melihatnya saja benar-benar membuat Raka tak berselera. "Dicoba dulu Om." Nara menarik tangan Raka menuju meja makan lalu meminta Raka duduk disana serta menghidangkan nasi goreng buatannya diatas meja makan. Setelah itu Nara duduk disamping Raka lalu menatap wajah Raka sambil menanti penilaian Raka terhadap nasi goreng buatannya. Dengan ragu, Raka pun mulai menyendokan nasi goreng tersebut lalu melahapnya perlahan. Sungguh rasanya benar-benar aneh dilidah Raka. Namun sebisa mungkin dia mengunyahnya karena takut membuat Nara sedih dan kecewa lagi.
"Gimana rasanya Om?" Nara antusias bertanya pada Raka dengan wajah yang berbinar. "Enak ko.. hehe." Jawab Raka sambil nyengir.
"Nara pengen nyobain dong Om." Nara mengambil sendok didepannya lalu mendekatkan sendoknya pada piring Raka. Namun seketika Raka menepis tangan Nara.
"Ga boleh. Ini kan nasi goreng buat aku. Jadi kamu ga boleh makan nasi gorengnya." Ujar Raka yang membuat Nara merenggut kesal.
Lalu sedetik kemudian Nara menyunggingkan senyumannya. "Yaudah deh ga apa-apa. Yang penting Nara udah berhasil belajar masaknya. Jadi Nara udah punya tambahan poin buat jadi calon istrinya Om Raka."
"Iya iya. Yaudah kamu mandi dulu gih. Kamu pasti belum mandi kan?" Tanya Raka pada Nara. "Oh iya. Nara hampir lupa kalau Nara belum mandi." Ucap Nara sambil menepuk jidatnya. "Yaudah Nara mandi dulu ya Om." Sambung Nara sambil berlalu pergi dari hadapan Raka menuju kamarnya.
Setelah melihat Nara masuk kedalam kamarnya, Raka berjalan kearah dapur sambil membawa nasi goreng buatan Nara. Lalu dia memasukan nasi goreng tersebut pada sebuah kantong plastik. Dan membuangnya ķe tempat sampah. Setelah itu Raka mengambil segelas air putih dan menegaknya sampai habis. Namun karena rasa nasi goreng yang aneh itu masih menempel di tenggorokannya, Raka mengambil buah segar didalam lemari es nya dan memakannya. Untung saja rasa nasi goreng itu akhirnya bisa berkurang. Berpura-pura menikmati masakan yang Nara buat benar-benar membuat Raka sedikit tersiksa. Ingin Raka mengatakan yang sejujurnya pada Nara namun dia urungkan karena melihat semangat dan harapan Nara yang begitu tinggi membuat Raka tak tega untuk merusaknya.
****
"Kamu mau jalan kemana lagi Na? Perasaan daritadi kamu muter-muter terus." Tanya Raka berjalan dibelakang Nara sambil merenggut kesal. Pasalnya setelah acara nonton dan makan bersama, Nara malah berjalan kesana kemari entah mencari apa.
"Aku lagi nyari toko mainan nih Om. Aku mau nambahin koleksi boneka barbie." Jawab Nara dengan antusiasnya. "Loh ko boneka barbie sih? Katanya mau jadi istri tapi mainannya masih barbie?" Raka meledek Nara sambil menahan tawanya agar tak menyembur.
"Kan nanti koleksi boneka Nara bisa dipake juga buat anak kita kelak Om. Jadi kalau kita udah nikah terus punya anak cewe, kan kepake boneka barbie nya." Jawab Nara dengan polosnya. Raka hanya tersenyum mendengar penuturan Nara. "Yaudah ayo kita cari boneka barbie nya ya." Ajak Raka sambil menggenggam tangan Nara agar berjalan bersama. Entahlah sulit sekali untuk Raka menolak segala keinginan Nara.
Saat sedang berjalan mencari toko mainan, Nara menghentikan langkahnya. Raka pun sontak menolehkan kepalanya kearah Nara. "Kenapa berhenti Na?" Tanya Raka pada Nara. Lalu arah matanya mengikuti apa yang menjadi perhatian Nara sehingga menghentikan langkahnya. Raka pun terdiam seketika dengan apa yang sedang dilihat Nara. "Aku pengen pake gaun pengantin itu Om. Cantik banget gaunnya. Terlihat sederhana namun begitu elegan banget ya Om. Nanti kalau kita nikah, bikin gaun yang kayak gitu ya. Nara suka banget sama gaunnya." Ujar Nara sambil merangkul lengan Raka dengan manja. Raka hanya bisa membalas ucapan Nara dengan senyumnya.
"Oh ya Om, nanti kalau Om mau melamar Nara harus ditempat yang romantis ya. Terus Nara ga minta cincin yang bagus dan mahal-mahal ko. Nara mau cincin yang sederhana aja. Tapi yang ada gambar hello kitty nya. Soalnya selain barbie, Nara juga suka banget sama hello kitty." Celoteh Nara dengan semangat sambil mengkhayalkan saat nanti Raka melamarnya.
"Iya Na iya. Yaudah ayo katanya tadi mau ke toko mainan. Keburu malam loh." Ucap Raka lalu mengapit lengan Nara dan membawa Nara pergi dari sana. Raka tidak mau Nara terus berada disana. Bisa-bisa Nara terus berkhayal hal-hal seperti itu. Karena Raka pastikan hal itu tidak mungkin terjadi. Dia tidak mungkin akan menikahi gadis kecil seperti Nara. Walaupun Raka merasa bahagia berada didekat Nara dan sayang terhadap Nara, tapi kalau untuk hal seperti menikah sungguh itu bukan hal yang diimpikan bahkan difikirkan oleh Raka. Karena perbedaan usia yang begitu jauh diantara mereka membuat Raka tak yakin dan begitu ragu akan kelangsungan hubungannya dengan Nara apabila hubungan ini terus melangkah jauh.
Sesampainya di toko mainan, Raka masih terdiam membisu. Dia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri hingga tak sadar kalau Nara daritadi memanggil namanya. Kesadarannya pun kembali saat Nara mencubit kedua pipinya yang membuat Raka mengaduh kesakitan.
"Duh. Sakit atuh Na." Protes Raka pada Nara. "Abis Om dipanggil-panggil ga nyaut aja. Ayo masuk kedalam." Nara menimpali ucapan Raka yang protes terhadapnya sambil menarik tangan Raka agar mengikutinya namun ditahan oleh Raka. "Kenapa Om?" Tanya Nara tak mengerti.
"Kamu masuk kedalemnya sendiri aja ya. Aku pengen ke toilet dulu. Nanti kalau udah beres aku nyusulin kamu kesini lagi. Ok?" Ucap Raka pada Nara. Nara pun hanya menganggukan kepalanya tanda setuju. Raka lalu berjalan menjauhi Nara yang masih berdiri termenung memandang Raka dari belakang. Sebenarnya dia tau, kalau saat ini Raka sedang memberikan jarak padanya gara-gara kejadian di toko baju pengantin itu.
Lamunan Nara pun buyar ketika ada yang menepuk bahunya. "Hai.." Sapa seseorang yang menepuk bahunya tersebut