"Assalamualaikum." Ucap Kevin sambil berjalan menuju papanya yang sedang berbaring ditempat tidurnya itu.
"Waalaikum salam. Bagaimana Kevin? Apa sudah ada kemajuan tentang keberadaan Kinara?" Tanya Pa Soeprapto pada anak sulungnya yang baru saja tiba. Pasalnya sudah satu bulan ini anak bungsunya menghilang dan sulit sekali menemukan keberadaannya itu. Semenjak Kinara menghilang, Pa Soeprapto sering jatuh sakit karena selalu memikirkan dan mengkhawatirkannya. Dan selama itu pula, perusahaannya diambil alih sementara oleh anak sulungnya yaitu Kevin.
"Papa tenang aja. Kevin sudah tau keberadaan Kinara, Pa. Kinar berada di Bandung sekarang." Jawab Kevin sambil memegang erat tangan papanya tersebut yang sudah mulai terlihat keriput. Lalu tersenyum pada Papanya.
"Kinara di Bandung? Untuk apa dia pergi jauh-jauh ke Bandung? Lalu dimana dia tinggal Kevin? Bagaimana keadaanya sekarang? Apa dia baik-baik saja? Kenapa dia tidak menghubungi Papa?" Begitu rentetan pertanyaan yang dilontarkan Pa Soeprapto pada anak sulungnya. Pasalnya dia atau mendiang istrinya tidak memiliki kerabat di Bandung. Karena dia merupakan asli orang Surabaya. Sementara mendiang istrinya orang Jakarta.
"Kinara baik-baik saja Pa. Saat ini dia sedang berlibur dengan Davi disana. Semalam Davi menghubungi Kevin dan memberitahukan kalau Kinara sedang berlibur di Bandung bersamanya dan Davi juga bilang Kinara memiliki suatu urusan disana. Setelah urusannya beres dia juga akan pulang. Namun Davi berpesan agar kita tak menyusulnya kesana karena Kinara masih ingin menenangkan hati dan fikirannya dahulu. Kinara berjanji pada Davi akan segera pulang ke Surabaya. Jadi Kevin harap Papa tidak terlalu khawatir lagi. Kita lebih baik menunggunya pulang saja ya. Davi juga mengirimkan beberapa foto kebersamaannya dengan Kinar selama di Bandung Pa. Kinar terlihat baik-baik saja sekarang." Ujar Kevin sambil memperlihatkan foto yang Davi kirimkan semalam kepada Papanya. Pa Soeprapto pun akhirnya bisa bernafas lega setelah mengetahui keadaan anak bungsunya baik-baik saja. "Alhamdulillah kamu baik-baik saja Kinar. Papa merindukan kamu sayang. Cepat pulang. Setelah kamu pulang Papa janji tak akan memaksakan kehendak Papa lagi padamu. Buat Papa kebahagiaan kamu dan kakakmu adalah hal yang utama dan yang paling penting untuk Papa." Ucap Pa Soeprapto sambil menatap foto anaknya pada layar ponsel milik Kevin dengan tatapan sedih.
****
"Lagi ngapain, Om?" Tanya Nara sambil berjalan menuju Raka yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lalu Nara duduk dipangkuan Raka dan mengalungkan tangannya pada leher Raka dengan posisi duduk menyamping sambil matanya melihat pekerjaan apa yang sedang Raka kerjakan.
"Aku lagi menghitung laporan keuangan cafe bulan ini. Dan alhamdulillah hasilnya begitu memuaskan. Pencapaian nya meningkat pesat dari bulan lalu. Mungkin karena dua minggu terakhir ini cafe mulai ramai pengunjung. Dan semua itu berkat ide kamu, Na. Makasih ya." Ucap Raka tulus sambil mencium pipi Nara. Wajah Nara pun bersemu merah mendengar pujian Raka untuknya.
"Iya Om sama-sama. Nara seneng kalau usaha cafe Om berjalan baik. Oh ya Om, rencananya aku mau kuliah disini. Menurut Om gimana?" Tanya Nara antusias. Raut wajah Raka pun berubah seketika. Dia begitu kaget mendengar pernyataan Nara yang tiba-tiba ini.
"Kamu mau kuliah di bandung?" Tanya Raka memastikan. Nara pun mengangguk dengan antusias. "Iya Om. Nara ga mau dan ga bisa kalau harus jauh-jauh dari Om Raka. Nara pengen deket sama Om Raka terus. Makanya Nara mutusin buat kuliah di Bandung aja. Jadi kita bakal terus bareng-bareng." Ujar Nara dengan wajah bahagianya lalu memeluk tubuh Raka.
"Kamu yakin mau kuliah disini? Apa kamu ga mau fikir-fikir dulu?" Pertanyaan Raka sontak membuat Nara menguraikan pelukannya pada Raka lalu menatap sedih mata Raka. "Om ga suka ya Nara kuliah disini? Om ga mau terus bareng sama Nara?" Mata Nara pun mulai berkaca-kaca.
"Bukan begitu Na. Maksud aku bukan begitu. Tapi kamu kan harus minta ijin dulu sama papa kamu sebelumnya. Kamu pasti belum bicara sama papa kamu kan?"
"Papa pasti bakal setuju ko Om. Nara bakal pastikan itu. Pokonya Nara mau deket terus sama Om. Nara ga mau jauh-jauh dari Om Raka. Nara sayang banget sama Om Raka. Huhuhu.. " Nara mulai menangis sesegukan. Raka pun lantas menarik tubuh Nara dalam pelukannya. Sebenarnya dia tengah membentengi dirinya dari Nara. Dia berharap Nara segera pulang ke Surabaya agar perasaannya cepat hilang pada Nara. Memang terdengar kejam, namun Raka tak mau kalau Nara terus berada disampingnya. Karena Nara pasti akan terus menodong kepastian hubungannya dengan Raka. Sementara Raka masih belum siap menjalani sebuah komitmen. Tapi melihat Nara menangis sesegukan seperti itu membuat dia tak tega juga. Raka benar-benar bingung harus bersikap bagaimana.
"Ya udah kamu boleh kuliah disini. Tapi dengan ijin papa kamu. Kalau papa kamu ga kasih ijin berarti aku juga ga akan menyetujuinya. Bagaimana?" Jawab Raka pada akhirnya. Raka berharap semoga saja papa Nara tidak mengijinkan Nara kuliah di Bandung. Dengan begitu dia tidak dapat bertemu lagi dengan Nara. Sebaliknya Nara terlihat senang dengan jawaban yang Raka ucapkan. Nara pun mempererat pelukannya pada Raka. "Makasih ya Om. Nara sayang banget sama Om."
"Iya sama-sama. Yaudah kamu cepet tidur gih. Ini udah larut malam."
"Tidurnya bareng sama Om Raka ya. Nara pengen peluk Om Raka terus. Om Raka kan kesayangannya Nara mulai sekarang."
"Kamu ga takut gitu tidur bareng sama aku? Nanti kalau aku apa-apain gimana?" Tanya Raka dengan nada menakuti Nara. "Mau ngapain aja Nara siap ko Om. Biar Om bisa cepet jadiin Nara pacar Om. Eh bukan pacar deh, tapi istri Om. Kan kalau Om sampai ngapa-ngpain Nara, Nara bisa minta nikah sama Om. Terus Nara jadi istrinya Om Raka deh." Ujar Nara berceloteh ria dengan senyum sumringahnya memikirkan masa depannya dengan Raka. Namun sedetik kemudian Raka menyentil keningnya dengan cukup keras hingga membuat Nara mengaduh kesakitan.
"Duh.. sakit ini Om. Galak banget sih Om Raka ini." Ucap Nara merenggut kesal sambil mengusap keningnya yang kesakitan.
"Habis kamu ngomongnya kemana aja." Jawab Raka sama-sama kesalnya. "Ya maaf Om. Nara kan cuma berangan-angan aja apa salahnya. Emang Om Raka ga mau gitu nikah sama Nara?" Tanya Nara dengan raut wajah sedih.
"Bukan begitu Na. Kamu kan masih muda. Masa depan kamu masih panjang. Kalau kita melakukan hal diluar batas, apa itu akan menjamin kita akan berjodoh? Kalau sampai ngga, kasian yang akan menjadi suami kamu nanti." Jawab Raka mencoba menjelaskan pada Nara.
"Yaudah kita menikah aja sekarang. Jadi Om bisa jadi suami Nara. Gampang kan? Lagi pula Nara sayang dan cinta sama Om Raka. Nara juga bakal setia sama Om Raka. Terus apa lagi yang Om fikirkan? Kalau soal masak atau pekerjaan rumah tangga lainnya, Nara bakal belajar ko. Nara bakal ikut les masak. Nara juga bakal beres-beres rumah." Ujar Nara dengan semangat yang menggebu.
"Ya nanti aku fikirkan. Sekarang kamu tidur dulu ya udah larut malam banget ini. Kamu harus cepet istirahat. Besok kita obrolkan lagi Ok?" Raka pun menggandeng lengan Nara menuju kamar dan menyuruh Nara berbaring ditempat tidur setelah itu Raka memakaikan selimut pada tubuh Nara.
"Sweet dream baby." Ucap Raka lalu mendaratkan ciuman pada kening Nara. Nara pun tersenyum bahagia mendapat perlakuan lembut dari Raka.