Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum Om." Terdengar suara nyaring Nara dari balik pintu ruangan Raka.
"Waalaikumsalam. Masuk aja Na."
"Kenapa kusut banget Om mukanya? Belum disetrika?" Tanya Nara sambil terkekeh geli melihat penampilan Raka yang terlihat begitu kusut itu. Lalu berjalan mendekati Raka.
"Pemasukan cafe semakin hari semakin menurun Na. Aku bingung harus bagaimana lagi biar cafe ini bisa rame kayak dulu. Aku ga mungkin menutup cafe ini. Cafe ini peninggalan almarhum ayah." Jawab Raka dengan wajah yang sangat kusut memikirkan kelangsungan cafe nya.
"Coba ganti dekorasi cafe nya deh Om. Menurutku dekorasi cafe nya terlihat membosankan."
"Emang kelihatan membosankan gitu?"
"Menurutku sih gitu Om. Nanti deh aku coba ubah dekorasinya biar keliatan menarik dan instagramable."
"Thanks ya Na. Oh ya aku juga kekurangan asupan vitamin ini." Raka merenggut manja.
"Om mau Nara bawain apa? Buah atau sayur? Nara cariin sekarang." Tanya Nara sambil bersiap pergi namun langkahnya ditahan oleh Raka. "Ada apa Om?". Raka pun menarik Nara agar mendekat lalu mendudukan Nara di pangkuannya. Lalu Raka mendekatkan wajahnya pada Nara hendak menciumnya. Namun kegiatannya harus terhenti ketika Agus masuk kedalam ruangannya.
"Ups sorry.. Aku ganggu kalian ya. Lanjut aja kalau begitu." Ucap Agus terkekeh geli menahan tawanya. "Oh ya lain kali kalau mau mesra-mesraan pintunya jangan lupa di kunci ya. Atau kalau ngga mesra-mesraannya di Apartemen aja biar bebas.. hahaha.." Sambung Agus sambil tertawa terbahak-bahak lalu keluar dari ruangan Raka. Raka pun merenggut kesal karena moment romantisnya harus terganggu oleh Agus. Lalu kekesalannya bertambah ketika melihat Nara juga malah menertawakannya.
"Tertawa saja Na selagi masih disini. Karena kalau sudah di Apartemen, aku bakal buat kamu mendesah lagi seperti kemarin." Bisik Raka sambil tersenyum menyeringai. Sedangkan Nara terlihat shock dengan ucapan Raka. Nara pun hanya mampu menelan salivanya berkali-kali sambil membayangkan apa yang akan dilakukan oleh Raka nanti.
****
"Gimana Om? Bagus ga?" Nara memperlihatkan hasil dekorasinya untuk cafe Raka.
"Bagus Na. Terlihat lebih menarik. Kenapa aku ga kefikiran buat rubah dekorasinya dari dulu ya?"
"Ini sih bukan bagus lagi tapi keren banget." Ucap Agus menimpali pembicaraan mereka berdua.
"Makasih ya Na. Semoga dengan perubahan seperti ini cafe jadi rame lagi." Ujar Raka sambil memeluk pinggang Nara dari belakang. Hal itu sontak membuat Agus memutar bola matanya. "Mulai deh mulai mesra-mesraan nya. Liat-liat kondisi lah. Aku kan berasa jadi obat nyamuk ini." Agus merenggut kesal lalu berlalu meninggalkan Nara dan Raka yang tertawa melihat kelakuan Agus.
"Na, kita nonton yu." Ajak Raka dengan semangat yang langsung membuat Nara mengernyit bingung. "Tumben banget Om ngajak Nara nonton."
"Sebagai ucapan terima kasih karena kamu udah bantu aku. Sekalian pengen jalan berduaan gitu. Kalau disini nanti digangguin Agus lagi." Jawab Raka lalu menarik tangan Nara untuk segera pergi ke bioskop.
****
"Hai.. boleh kenalan? Nama kamu siapa?" Sapa seorang laki-laki yang masih berseragam SMA itu sambil mengulurkan tangannya. Nara pun membalas uluran tangan laki-laki tersebut. "Boleh.. Namaku Nara." Jawab Nara sambil tersenyum ramah.
"Hai Nara. Aku Lutfi. Salam kenal ya." Ucap laki-laki yang bernana Lutfi tersebut. "Oh ya kamu sendirian? Mau gabung sama aku dan teman-teman aku ga?" Sambung Lutfi sambil menunjuk pada teman-temannya yang berada tak jauh dari tempat mereka mengobrol. Teman-teman Lutfi pun melambaikan tangan mereka dan tersenyum pada Nara yang dibalas senyuman lagi oleh Nara. Namun belum sempat Nara menjawab ajakan Lutfi terdengar suara orang berdehem dibelakang Nara. Siapa lagi orangnya kalau bukan Raka.
"Nara ga sendiri. Dia sama aku." Jawab Raka dengan suara ketusnya sambil menatap Lutfi tak suka.
"Udah dapat tiketnya Om?" Tanya Nara lalu bangkit dari duduknya menghampiri Raka. Lutfi pun ikutan bangkit dari duduknya dan ikut menghampiri Raka. "Selamat sore Om. Nama saya Lutfi. Maaf tadi saya cuma ngajak keponakan Om yang bernama Nara ini buat ikut gabung nonton sama temen-temen saya. Soalnya tadi saya kira dia sendirian." Ucap Lutfi dengan nada sopan dan tersenyum lebar itu lalu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Raka namun tak digubrisnya. Raka pun lalu menarik tangan Nara tak menimpali ucapan Lutfi lalu menjauhi Lutfi yang melongo keheranan melihat kelakuan seseorang yang dia kira Om Nara tersebut.
****
"Aku ga suka kamu berpenampilan kayak ABG gini. Aku jadi berasa tua banget." Raka merenggut kesal. Gimana ga kesal, niat hati ngajak Nara buat kencan tapi malah berakhir dengan melihat Nara digodain anak SMA. Padahal Raka baru ninggalin Nara sebentar aja buat beli tiket nonton.
"Ya maaf Om. Nanti kalau jalan bareng lagi aku berpenampilan dewasa deh. Biar ga keliatan kalau umur kita ga jauh banget." Ucap Nara sambil tersenyum pada Raka lalu memeluk lengan Raka.
"Aku bener-bener ga suka liat kamu digodain kayak tadi. Apalagi sama anak SMA pula. Ditambah tuh bocah malah bilang kamu keponakan aku lagi." Raka masih saja menggerutu mengingat kejadian tak mengenakan hatinya tadi.
Melihat tatapan tak suka Raka pada Lutfi tadi membuat hati Nara terasa menghangat. "Om cemburu?" Nara bertanya dengan spontan. Sontak pertanyaan Nara membuat tubuh Raka membeku. "Kalau Om cemburu kenapa kita ga pacaran aja? Kan biar status hubungan kita jelas. Jadi kalau ada yang godain Nara kayak tadi, Nara bisa bilang kalau Nara udah punya pacar yaitu Om Raka." Sambung Nara dengan senyum yang masih terukir diwajahnya.
"Aku.. belum siap Na. Aku belum siap untuk berkomitmen. Walau itu hanya sebatas pacaran. Maafkan aku Na. Kamu tau sendiri kan bagaimana masa laluku. Aku harap kamu mau bersabar dan menungguku. Dan mau membantu aku keluar dari masa lalu ini." Raka tertunduk lesu. Dia benar-benar bingung harus bagaimana. Disatu sisi dia tak rela Nara didekati pria lain. Tapi di satu sisi juga dia belum bisa keluar dari masa lalunya yang begitu menyedihkan itu. Apalagi mengingat usia Nara yang terpaut jauh darinya membuat dia ragu dengan hubungan ini apabila berlanjut kearah yang serius. Dia takut suatu hari nanti Nara akan tergoda oleh pria yang lebih muda dan gagah darinya lalu meninggalkan Raka yang tua ini. Raka belum siap dengan hal itu.
"Nara mengerti ko Om. Nara bakal berusaha untuk sabar dan menunggu Om Raka. Tapi satu hal yang harus Om tau, Nara begitu menyayangi dan mencintai Om Raka." Ucap Nara lalu memeluk tubuh Raka. Dan Raka... hanya terdiam tak mampu berkata apa-apa lagi.