Dua puluh tiga 21+

1009 Words
"Coba sini, aku pengen liat wajah kamu," ucap Raka sambil menangkup wajah Nara dengan kedua tangannya. Namun Nara langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Setelah itu Nara membenamkan wajahnya pada d**a bidang Raka saking malu nya dengan kejadian tadi. "Kenapa ga mau liat aku? Takut aku cium lagi seperti tadi?" "Bukankah kamu menyukai dan menikmatinya juga?" Bisik Raka di telinga Nara. Sehingga Nara bisa merasakan desiran aneh itu lagi di tubuh nya saat hembusan napas Raka menerpa kulitnya. Nara lantas mendongkakkan wajahnya. Dia lalu menatap wajah Raka yang begitu mempesona. Setelah itu ditelusurinya wajah Raka dengan jari-jarinya. Membuat darah Raka berdesir hebat akibat sentuhan-sentuhan yang Nara berikan. Raka memejamkan kedua mata nya. Dia begitu menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan oleh Nara. Hingga tak lama kemudian Raka menggeram rendah karena sudah tak mampu menahan gairah nya lagì. Raka lantas membuka kedua mata nya. Dia lalu mendekatkan wajah nya pada Nara. Dicium nya bibir Nara dengan ganas. Dia menggigit dan membelitkan lidahnya dengan begitu erotis. Membuat Nara mendesah disela ciuman mereka. Gairah Raka seketika melesat naik saat mendengar desahan Nara tersebut. Apalagi saat Raka melepas ciuman nya, dia melihat bibir Nara yang menebal akibat perbuatannya. Dan jangan lupakan dua gundukan indah yang masih belum terbungkus itu membuat Raka tak bisa berpikir waras saat ini. Setelah puas bermain dengan bibir Nara, dengan perlahan Raka menyusuri leher jenjang Nara dengan bibir nya. Diciumnya leher jenjang tersebut hingga menyisakan begitu banyak tanda kemerahan disana. Lalu turun lebih bawah lagi. Dicium dan dikulum nya bagian tubuh yang membusung dengan indah itu. Ditengah permainannya pada dua gundukan indah Nara, dengan nakal nya Raka menyelipkan kembali jari-jarinya pada bagian bawah tubuh Nara. Membuat tubuh Nara menggelinjang hebat akibat tindakan yang diperbuat oleh Raka. Raka begitu pintar memancing gairah Nara. Karena beberapa menit kemudian Nara berteriak kencang saat pelepasan itu datang kembali. Pelapasan yang dirasa berkali-kali lipat nikmat nya daripada pelepasan nya yang pertama. Raka tersenyum puas saat melihat pelepasan hebat Nara barusan. Dia lalu mendekatkan wajah nya pada Nara. "Aku udah ga tahan lagi, Na. Bisakah kamu membantu aku?" bisik Raka dengan suara yang begitu parau akibat menahan gairah nya. "Bantu apa Om?" Nara menatap Raka tak mengerti. "Bantu aku untuk menuntaskan gairah ini. Aku benar-benar ga sanggup menahannya, Na," jawab Raka balik menatap Nara. "Dengan cara apa Om? Kalau dengan cara 'itu' Nara masih belum siap," ungkap Nara sambil menundukan wajah saking malu nya. Mendengar perkataan polos Nara membuat Raka hampir saja tertawa terbahak-bahak. Kalau saja Raka tak mengingat moment yang begitu romantis saat ini mungkin dia sudah meledak dalam tawanya. "Aku ga mungkin melakukan hal itu. Aku ga mau merusak masa depan kamu." "Lalu? Dengan cara apa?" "Kamu bisa melakukannya dengan cara lain," bisik Raka sambil menuntun tangan Nara agar membuka sesuatu dibalik celananya. Dan ketika sesuatu itu telah terbuka, wajah Nara sontak berubah menjadi merah merona. Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya dia melihat sesuatu itu. Sesuatu yang begitu besar, panjang, keras dan juga panas. Nara menelan saliva nya berulang kali ketika melihat milik Raka yang sudah menjulang tinggi di hadapannya. "Begini saja," ucap Raka sambil menuntun tangan Nara menuju miliknya. Raka lalu mengajari Nara cara memanjakan miliknya. "s**t!! Ini benar-benar luar biasa sayang. Aku sangat menyukainya." "Yah seperti itu.." "Lebih cepat lagi." Raka terus meracau tak jelas saking menikmati tangan Nara yang sedang memanjakan miliknya itu. Merasa pelepasannya akan segera tiba, Raka lantas membantu Nara mempercepat gerakannya. Dia membantu Nara sambil bibir nya sibuk mencium bibir Nara dengan ganas nya. Raka lalu mendongkakkan kepalanya saat pelepasannya datang secara bergulung-gulung. Tubuh Raka pun seketika ambruk di samping Nara. Setelah itu Raka berbaring disamping Nara dengan napas yang masih terengah akibat pelepasannya yang begitu hebat. Raka lalu berbalik menghadap Nara. Dia menyusuri wajah Nara dengan jari-jarinya dan menyibakkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Nara. Dan tanpa diduga Raka mengecup kening Nara dengan begitu lembut dan juga dalam. "Terima kasih sayang. Terima kasih karena telah hadir di dalam kehidupan aku yang hitam putih ini," ucap Raka sambil membawa Nara dalam pelukannya. **** "Ko daritadi aku lihat Mas Raka senyum-senyum sendiri? Mas Raka ga lagi sakit kan?" tanya Agus keheranan. "Apaan sih Gus. Aku ga lagi sakit ko. Aku sehat banget malah," jawab Raka sambil tersenyum lebar. "Ah, aku tau alasan kenapa Mas Raka senyum-senyum sendiri." "Memang apa alasannya?" "Mas Raka lagi jatuh cinta kan? Apa jangan-jangan jatuh cinta sama Nara?" tebak Agus yang langsung membuat Raka tersenyum malu-malu. Raka lalu teringat kembali dengan kegiatan panas nya dengan Nara semalam. Kegiatan yang membuat nya begitu terpuaskan untuk pertama kalinya. Raka sungguh tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya. Mengapa dia tak bisa menahan gairah nya setiap kali berada di dekat Nara. "Apa aku bisa bersama dengan dia Gus?" Tanya Raka dengan raut wajah sedih. "Loh? Emang nya kenapa ga bisa bersama? Kalau kalian saling mencintai ya pasti bisa bersama," jawab Agus merasa keheranan. "Kamu tau sendiri kan Gus bagaimana masa lalu aku. Aku benar-benar takut menjalani hubungan ini dengan Nara. Apalagi usia Nara yang terpaut jauh dengan aku. Nara masih begitu muda. Sedangkan aku?" "Aku takut dia meninggalkan aku seperti ibu meninggalkan aku dulu. Aku takut suatu saat nanti dia akan tergoda dengan laki-laki yang lebih muda dan lebih segala nya dari aku. Aku benar-benar takut Gus." Raka menundukan wajahnya dengan lesu. "Kalau belum dicoba mana tau hasilnya Mas. Lagipula yang aku liat, Nara wanita yang baik. Dia juga terlihat menyukai dan menyayangi Mas Raka." "Apa Mas Raka tau gimana reaksi dia saat mengetahui kondisi Mas Raka waktu kecelakaan itu? Dia benar-benar panik dan juga sedih Mas. Dia begitu peduli dengan Mas Raka." "Coba Mas Raka ingat, bagaimana usaha dia merubah penampilan Mas Raka jadi seperti ini. Penampilan Mas Raka yang dulu begitu payah berubah menjadi sempurna seperti sekarang ini. Semua itu berkat Nara Mas. Penampilan Mas Raka sekarang jadi lebih terurus dari sebelumnya," cerocos Agus tanpa hentinya. Mendengar penuturan dari Agus barusan membuat Raka terdiam membisu. Jujur saja Raka masih ragu dengan perasaannya dan juga kelanjutan hubungannya dengan Nara. Dia mulai menyukai dan menyayangi Nara. Tapi dia belum yakin apakah dia telah mencintai Nara atau belum?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD