Dua puluh dua 21+

866 Words
"Bolehkah?" tanya Raka dengan suara yang begitu parau akibat menahan gairah yang mulai membara. Nara hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan. Karena saat ini Nara pun dilanda gairah yang sangat tinggi. Dibukanya piyama yang Nara kenakan lalu dilemparkannya dengan asal. Dicumbunya Nara dengan begitu mesra sambil mencoba membuka pengait b*a yang masih melekat pada tubuh Nara. Seketika deru napas Raka terhenti saat Raka telah berhasil melihat sesuatu yang tersembunyi dibalik b*a merah muda tersebut. Sesuatu yang membuat jantung nya berdegup dengan sangat kencang nya. Ukurannya mungkin tak begitu besar karena memang sesuai dengan usia Nara yang masih tujuh belas tahun. Namun bentuknya yang masih padat membuat Raka yakin bahwa sesuatu itu belum pernah terjamah sebelumnya. Raka mulai mendekatkan wajahnya pada tubuh bagian atas Nara yang telah terbuka. Dia lalu memberikan kecupannya di sekitar area tersebut. Hingga puncak bagian atas tersebut menegang sempurna akibat kecupan-kecupan yang diberikan oleh Raka. Tak sanggup menahan godaan yang begitu indah di hadapan nya membuat Raka lebih berani melakukan hal lainnya. Dia lalu menghisap puncak yang begitu menggoda nya secara bergantian kiri dan kanan sambil meremasnya dengan lembut. Nara melenguh hebat saat mendapatkan perlakuan seperti itu dari Raka. Hingga tanpa sadar Nara membusungkan bagian atas nya lebih dekat kearah Raka sambil tangannya meremas rambut Raka saking tak kuat nya menahan hasrat yang begitu bergejolak seolah ingin dipuaskan. Melihat wajah Nara yang memerah akibat menahan hasratnya membuat Raka lebih b*******h. Ditengah cumbuan dan hisapannya pada puncak tubuh Nara, Raka memasukkan sebelah tangannya kedalam celana Nara lalu menyelipkan jari-jarinya pada celana dalam Nara. Hingga Raka bisa merasakan bagian bawah Nara yang sudah basah dibawah sana. Raka memutar jarinya secara perlahan diatas gundukan kecil milik Nara. Hingga membuat Nara mendesah hebat dibuatnya. "Ah.. Apa yang Om lakuin?" Tanya Nara sambil terus mendesah. "Memuaskanmu sayang. Apa kamu menyukainya?" Jawab Raka sambil terus memainkan jarinya dibawah sana. Raka lalu merasakan sebuah kedutan dibawah sana. Sebuah kedutan yang membuat Raka yakin kalau Nara akan segera mencapai pelepasannya. Raka memang baru pertama kali melakukan hal seperti ini. Namun walaupun begitu dia seringkali mendengar cerita dari teman-temannya mengeni hal-hal berbau se*s seperti ini. Jadi sedikitnya dia mengetahui hal apa saja yang bisa memuaskan wanita. Dan bagaimana ciri-ciri wanita yang akan mencapai pelepasannya. "Ngga. Aku ngga menyukainya," elak Nara sambil memalingkan wajahnya kearah lain. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah akibat hasrat nya yang begitu besar itu. Seketika Raka menghentikan kegiatannya dibawah sana lalu memandang wajah Nara secara seksama. Melihat Raka menghentikan kegiatannya membuat Nara keheranan. "Kenapa berhenti?" rengek Nara dengan suara parau akibat menahan hasrat nya yang begitu besar. "Kata kamu, kamu ngga menyukainya. Jadi untuk apa aku lanjutkan," ucap Raka sambil mengeluarkan jarinya dari dalam celana Nara tanpa rasa bersalah. Membuat Nara melotot tak percaya dengan kelakuan Raka. Padahal Nara sangat menikmati perlakuan Raka padanya barusan. Namun karena gengsi nya terlalu tinggi, dia jadi tak mau mengakuinya. Tapi setelah Raka menghentikan kegiatan panasnya, Nara merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang membuat kepala nya tiba-tiba pusing karena merasa belum terpuaskan. Lalu tanpa aba-aba, Nara melumat bibir Raka dengan rakus nya. Dia menggigit dan membelitkan lidahnya pada lidah Raka secara sen**al. Setelah merasa oksigen dalam tubuh nya menipis, Nara pun melepaskan pagutan nya pada bibir Raka. "Nara mohon lanjutkan lagi yang tadi Om lakukan. Nara menyukainya Om," ungkap Nara saat mereka berhenti dari ciuman panas barusan. Nara lalu menuntun tangan Raka untuk memasuki dirinya lagi. Hingga membuat Raka tersenyum penuh kemenangan saat ini. "Sure baby," balas Raka sambil menggerakan jarinya kembali diatas sana. Hingga terdengar suara desahan dan erangan Nara yang begitu seksi ditelinga Raka . "Iya begitu Om." "Iya disana." "Lebih cepat lagi Om." "Ahh.. Lepas Om. Nara pengen pipis." "Nara ga kuat Om. Lepasin dulu," cerocos Nara tanpa henti ditengah kegiatan panas nya dengan Raka. Namun Raka tak menggubris ucapan Nara sama sekali. Dia tetap memutar jarinya diatas milik Nara sambil menghisap bagian tubuh Nara yang membusung begitu sempurna secara bergantian kiri dan kanan. Nara benar-benar dibuat melayang oleh perlakuan Raka saat ini. Hingga Nara merasa ada sesuatu yang akan datang. Sesuatu yang begitu hebat. Sesuatu yang belum dirasakannya selama ini. Nara segera menarik kepala Raka yang sedang menikmati milik nya. Dia lalu mencium Raka dengan ganas. Membelitkan lidahnya dengan lidah Raka secara brutal. Di remasnya rambut Raka agar pagutan mereka lebih dalam. Lalu seketika tubuh Nara menegang hebat. "Ah..." "Om.. " "Nara mau pipis." "Nara ga bisa nahan lagi Om. "Aaah.." Nara mendesah dengan begitu hebat nya. Dia lalu ambruk dipelukan Raka yang tersenyum puas melihat pelepasan Nara yang begitu seksi dan juga menggairahkan. Raka lalu mengeluarkan jarinya dari dalam celana Nara. Setelah itu dia memperlihatkan jarinya yang basah akibat gairah yang disebabkan oleh Nara. Sontak hal tersebut membuat Nara malu bukan main. Nara lalu menyembunyikan wajahnya pada d**a bidang Raka. "Kenapa ditunjukin kayak gitu Om? Nara kan jadi malu," gerutu Nara di dalam pelukan Raka hingga membuat Raka terkekeh geli mendengarnya. "Kamu tau Na? Kamu begitu seksi dan juga menggairahkan saat pelepasan tadi. Aku menyukainya," bisik Raka dengan nada menggoda. Sontak perkataan Raka tersebut membuat wajah Nara tambah memerah saking malu nya. Nara lalu semakin menenggelamkan wajahnya pada d**a bidang Raka. Sementara Raka hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Nara yang begitu menggemaskan seperti saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD