"Mulai malam ini kamu tidur bareng sama aku," ujar Raka yang langsung membuat Nara melongo saking kaget nya dengan perkataan Raka.
"Ngga ah Om. Nara tidur dikamar sebelumnya aja," tolak Nara dengan halus.
"Ngga boleh. Pokonya mulai malam ini kamu harus tidur sama aku. Aku ga mau kamu pergi lagi. Aku ga mau ditinggal kamu lagi," ucap Raka dengan tegas.
"Aku ga akan pergi lagi Om. Janji deh. Aku bener-bener ga nyaman kalau harus berbagi tempat tidur kayak gini. Apalagi sama cowo," ucap Nara dengan nada memelas.
"Aku ga bakalan ngapa-ngapain kamu kok Na. Beneran deh. Aku cuma pengen ditemenin tidur aja sama kamu. Please Na." Ujar Raka dengan nada sedikit memohon.
Melihat tatapan penuh harap dari Raka membuat Nara tak kuasa untuk menolaknya. Akhirnya Nara pun setuju untuk tidur bersama dengan Raka. Dengan catatan harus ada guling yang menjadi pemisah diantara mereka. Namun emang dasar Raka. Setelah Nara tertidur pulas guling pemisah diantara mereka malah dia lemparkan kebawah. Setelah itu Raka langsung merengkuh Nara kedalam pelukannya. Karena entah mengapa berada dekat dengan Nara seperti saat ini membuat dia sangat nyaman.
****
Saat membuka kedua mata nya, senyum langsung terukir dibibir Nara. Karena saat dia membuka mata, dia melihat Raka yang masih tertidur disampingnya. Posisi tidur Raka yang menghadap kearah Nara membuat Nara leluasa memandangi wajah Raka.
Nara lalu menelusuri wajah Raka dengan jari-jarinya. Raka memiliki bulu yang mata begitu panjang dan juga lentik. Hidung yang begitu mancung. Dan juga bibir yang begitu tebal namun terlihat begitu sexy. Ah, melihat bibir Raka yang begitu menggoda membuat Nara teringat kembali akan ciuman nya bersama Raka beberapa hari yang lalu. Ciuman yang begitu panas dan juga memabukkannya.
"Masih belum puas memandangi wajah aku? Baru sadar kalau wajah aku masih imut dan ga terlihat tua?" tanya Raka dengan tersenyum menggoda.
Seketika wajah Nara memerah dan tubuh nya pun menegang. Dia benar-benar sangat malu karena kepergok oleh Raka saat memandang wajahnya. "Ih apaan sih Om. Siapa juga yang mandangin wajah Om. Geer banget Om ini," elak Nara sambil membuang pandangannya kearah lain. Setelah itu Nara segera membalikkan tubuhnya membelakangi Raka.
"Kalau gitu sini liat wajah aku," ucap Raka dengan nada yang begitu lembut.
"Ga mau ah," tolak Nara dengan nada terbata-bata.
"Kenapa ga mau liat?"
"Takut dicium lagi," ucap Nara keceplosan hingga membuat Raka tersenyum menyeringai dibelakangnya
"Jadi ga mau dicium aku lagi?" tanya Raka sambil mendekatkan wajahnya tepat dibelakang leher Nara. Membuat tubuh Nara merinding seketika.
"Ga mau lah," cicit Nara dengan nada suara yang tak meyakinkan.
"Yakin ga mau?" bisik Raka dengan suara yang terus menggoda Nara. Hingga Nara bisa merasakan hembusan napas Raka ditelinganya.
Melihat tubuh Nara yang menegang akibat kelakuannya, membuat Raka lebih berani menggoda Nara. Dikecupnya leher Nara dengan begitu lembut. Lalu dihisapnya leher tersebut dengan kuat hingga menimbulkan tanda kemerahan disana.
"Kenapa malah dimerahin lagi sih Om? Yang waktu itu aja lama ilangnya," cerocos Nara sambil membalikkan tubuhnya menghadap Raka kembali.
"Biarin. Biar orang lain tau kalau kamu milik aku. Jadi ga akan ada laki-laki lain yang berani menggoda kamu," jawab Raka dengan tatapan yang begitu lembut.
Raka lalu mencium bibir Nara dengan tiba-tiba. Membuat tubuh Nara membeku seketika karena ciuman tiba-tiba tersebut.
"Kamu hanya milik aku Nara," ucap Raka setelah melepas ciumannya. Lalu tanpa berpikir panjang, Nara membalas ciuman Raka pada nya. Bahkan bukan hanya ciuman biasa karena saat ini Nara tengah melumat bibir Raka yang sejak tadi begitu menggodanya.
Karena entah mengapa setiap berada di dekat Raka, Nara merasa telah hilang akal sehat dan juga urat malu nya. Dia bisa menjadi seliar dan seagresif ini saat bersama dengan Raka. Padahal Nara termasuk wanita yang sangat cuek.
Melihat Nara yang tiba-tiba menyerangnya, membuat Raka tersenyum di sela ciumannya. Raka lalu mulai membalas ciuman yang berikan Nara padanya. Ciuman yang awalnya begitu lembut pun berubah menjadi ciuman yang begitu dalam dan juga panas secara bersamaan.
Nara meremas rambut Raka saat merasakan sentuhan tangan Raka mulai menuju area sensitifnya. Raka membelai area terlarang tersebut sambil terus mencumbunya dengan mesra.
Nara melenguh hebat saat jari-jari Raka mulai meremas dan membelai puncak dari area tersebut. Nara begitu menikmati setiap sentuhan yang berikan Raka padanya. Saat Raka ingin membuka piyama yang dikenakan oleh Nara, Raka lalu menatap Nara meminta persetujuan darinya.
"Bolehkah?" tanya Raka dengan suara yang begitu parau akibat menahan gairah yang mulai membara. Nara hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan. Karena saat ini Nara pun dilanda gairah yang sangat tinggi.