"Kevin, kamu udah tau keberadaan Kinar dimana?" Tanya Pa Soeprapto frustasi. Beliau benar-benar dibuat khawatir oleh anak gadis satu-satunya itu. Sudah hampir 2 minggu Kinar menghilang tanpa ada kabar satupun. Padahal Pa Soeprapto sudah melakukan segala cara untuk menemukan anaknya itu tapi begitu sulit beliau menemukannya.
"Kevin udah nanya sama semua teman-teman Kinar Pah. Tapi hasilnya nihil. Mereka semua pada gatau Kinar kemana. Apalagi menurut mereka semua akun media sosialnya udah ga pernah Kinar aktifin lagi dan nomor Kinar pun susah dihubungi semenjak Kinar menghilang." Jawab Kevin menunduk lesu.
"Ya allah.. kamu kemana sih Kinar. Papa benar-benar menyesal udah maksain keinginan Papa. Kalau tau bakal kayak gini, lebih baik dulu Papa batalin rencana pernikahan Papa dengan tante Sarah. Papa lebih baik ga menikah lagi selamanya daripada harus kehilangan kamu nak." Ucap Pa Soeprapto sedih.
"Sabar Pah. Kevin bakal terus berusaha buat cari adek. Papa harus kuat, ga boleh drop. Kita pasti bisa menemukan Kinar kembali. Kita bisa menyebarkan orang-orang kita sampai luar Surabaya Pah. Kevin curiga kalau Kinar keluar dari Surabaya. Karena kalau adek masih di Surabaya, seharusnya kita sudah menemukannya." Ujar Kevin sambil mencoba menguatkan papanya.
"Baiklah Vin. Papa percaya padamu. Terima kasih ya Vin."
"Ga masalah Pah. Kinar juga kan adek Kevin. Kevin yakin bisa bawa Kinar kembali pada kita Pah."
****
"Duh ko tiba-tiba malam ini panas banget. Apa mungkin mau hujan kali ya. Mana ini tenggorokan kering banget. Mau ngambil minum keluar takut. Kalau ga ngambil minum sepet banget ini tenggorokan." Nara berucap sambil menimang-nimang antara keluar ngambil minum atau menahan rasa hausnya karena ketakutan. Diliriknya jam sudah pukul 11 malam.
"Ah.. bodo amat deh. Daripada ini tenggorokan sepet terus gakan bisa tidur. Semoga aja ga ada penampakan." Nara pun keluar dari kamar melangkahkan kakinya menuju dapur. Diambilnya gelas kosong lalu menuangkan air dari dispenser.
"Ah.. leganya." Ucap Nara saat meneguk air minumnya. Saat hendak berbalik pergi dari dapur, ada sebuah tepukan di bahunya. Seketika bulu kuduk Nara merinding. Dia pun lalu berteriak dengan kencangnya.
"Ah setan.." Teriak Nara dengan sangat kencang.
"Setan? Mana? Mana setan?" Tanya Raka kaget sambil celingak celinguk kesana kemari. Gara-gara teriakan Nara, semula mata Raka yang sedikit terpejam karena masih mengantuk pun lalu melotot sempurna.
"Aissh Om. Aku kira setan." Ucap Nara sambil mengelus dadanya yang sempat kaget itu.
"Jadi aku yang kamu bilang setan tadi?" Tanya Raka murka.
"Ya abis Om sih. Jalan ga kedengeran suaranya. Tau-tau nepuk bahu Nara. Kan Nara kaget jadinya." Ujar Nara sambil memanyunkan bibirnya kesal. Seketika Raka terkesikap dengan penampilan Nara malam ini. Nara terlihat cantik menurut Raka. Apa mungkin efek lampu yang redup jadi wajah Nara lebih bercahaya batin Raka. Lalu Raka dibuat cengo saat sadar Nara memakai gaun tidur pendek dan memiliki tali kecil dibahunya. Entah apa yang merasuki Raka saat ini. Dia berjalan mendekat ke arah Nara. Sontak Nara melangkah mundur. Raka melangkah maju lagi dan Nara yang melangkah mundur. Hingga akhirnya punggung Nara menubruk dinding dan ga bisa kemana-kemana lagi karena Raka mengurung Nara dengan kedua tangannya yang berada di kanan dan kiri tubuh Nara.
Tubuh Nara mematung saat jari-jari Raka menelusuri wajahnya lalu berhenti dibibirnya. Raka mengusap bibir Nara lembut dengan jari-jarinya. Dia pun jadi teringat kecupan yang tidak disengaja tempo hari. Dan saat ini Raka seakan ingin mencobanya lagi. Raka mendekatkan wajahnya dengan wajah Nara. Terasa hembusan nafas keduanya saat berdekatan saat ini. Raka pun mengecup bibir Nara. Seakan tak puas, Raka melumat bibir Nara dengan lembut. Karena tak ada balasan dari Nara, Raka pun menghentikan aksinya. Lalu dilihatnya mata Nara yang terpejam membuat Raka tersenyum geli. Ternyata Nara menikmati ciumannya monolog Raka dalam hati. Raka pun mendekatkan lagi wajahnya pada Nara lalu menggigit bibir bawahnya. Nara pun mengaduh lalu membuka mulutnya untuk protes. Tapi seketika, Raka memasukan lidahnya dalam mulut Nara. Dia membelit lidah Nara dengan lidahnya. Karena terbawa suasana, Nara pun membalas ciuman Raka. Nara yang awalnya gatau harus bagaimana saat berciuman pun mencoba mengikuti apa yang Raka lakukan padanya. Sebuah kecupan singkat itu pun beralih menjadi ciuman yang panas. Raka memegang tengkuk Nara agar bisa mencium Nara lebih dalam lalu memeluk pinggang Nara agar gadis itu tak bisa kemana-mana.. Sementara tangan Nara sudah mengalung dileher Raka sambil membalas lumatan yang Raka berikan padanya.
Karena merasa kehabisan oksigen, lantas keduanya pun menghentikan kegiatannya tersebut. Terdengar suara nafas mereka yang ngos-ngosan seperti telah berlari jauh. Raka memandang wajah Nara yang bersemu merah. Saat dipandang oleh Raka, Nara pun jadi kikuk lalu memilih menundukan kepalanya karena malu. Raka terlihat tersenyum senang melihat wajah Nara yang beda dari biasanya. Terlihat sangat menggemaskan saat malu-malu seperti ini menurut Raka. Raka pun mendekatkan kembali wajahnya kesamping Nara lalu berbisik mesra.
"Bibir kamu manis. Aku menyukainya." Bisik Raka ditelinga Nara. Wajah Nara sontak dibuat merona oleh perkataan Raka. Raka pun mengelus puncak rambut Nara lalu pergi berjalan menuju kamarnya. Nara pun menatap kepergian Raka. Namun sebelum mencapai kamarnya, Raka berbalik menghadap Nara.
"Lain kali jangan memakai baju seperti itu, nanti aku tergoda. Kalau aku tergoda lagi, kamu tau kan hukumannya seperti apa? Hukumannya seperti yang baru saja terjadi." Ucap Raka sambil mengerlingkan matanya. Raka pun berjalan memasuki kamarnya. Saat Raka sudah masuk kamar, Nara memegang dadanya yang bergemuruh hebat. Lalu dilihatnya baju yang dia pakai. Nara pun tepok jidat saat menyadari kelalaian nya. Gimana ngga, Nara ga sadar kalau dia tengah memakai gaun tidur yang pendek dan memang tampak menggoda. Pantas aja itu si Om kagak bisa nahan batin Nara dalam hati. Dia pun merutuki kebodohannya itu yang begitu ceroboh.