dua

1084 Words
"Wil! Itu ada yang mencet bel di luar!" Aku mematikan mesin juicer, lalu menuangkannya ke dalam gelas. Berjalan ke ruang tv, aku memberikan jus itu pada Rafa. Minggu pagi, Rafa sedang memeriksa tugas-tugas dari mahasiswa di depan laptop. Setelah meminum jus itu, ia meletakannya di atas meja, sementara aku berjalan menuju pintu. Siapa yang bertamu? Seorang perempuan cantik berdiri di depanku dengan senyuman manis. Wahai, Tuhan, apa dia manusia? Rambutnya panjang menjuntai. Kulitnya putih bersih, berbeda dengan kulitku. Tubuhnya ramping. Wajahnya pun bersih sekali lengkap dengan bibir pink merona. She's totally an angel. "Selamat pagi," sapanya. Suaranya lembut sekali. Aku hanya mampu tersenyum lebar, sembari mengangguk. "Aku tetangga baru. Tepat di samping rumahmu." Ia menunjuk rumah bercat putih, di samping rumahku. "Karena rumah di sini tanpa tembok pembatas dan pagar, rasanya aneh kalau kita nggam saling kenal." She's so kind. "Halo. Iya. Kalau gitu salam kenal." Kuulurkan tangan ke hadapannya. Waduh, tangan kami sangat terlihat berbeda saat ia menerima uluran tanganku. "Aku Gea. Selamat datang di kompleks ini anyway." Dia tertawa kecil, lalu mengangguk berkai-kali. Cantik sekali, sih. "Aku Angel. Dan, aku nggak tau simbol perkenalan di daerah sini apa. Tapi, karena aku minoritas, cari aman aja, aku beli kue jadi. Mau bertetangga denganku?" "Mau bangeeet!" kuterima pemberiannya dengan senyuman lebar. Dia manis sekali. Minoritas? "Aku udah nunggu penghuni baru rumah ini dan akhirnya Mbak yang datang." "Siapa, Wil?!" Itu suara teriakan Rafa dari dalam rumah. Aku nyengir, merasa tidak enak dengan Mbak Angel. "Sori, Mbak Angel. Itu suamiku. Mau masuk dulu?" "Oh, aku pikir kamu masih gadis. Maaf, maaf." "Mbak bukan yang pertama mikir gitu, kok." Dia tertawa melihat aku mengedipkan sebelah mata. Aku punya tetangga baru! "Mau kenalan sama suamiku?" "Is it oke?" Kini, aku yang tertawa. "Dia bukan artis, Mbak Angel. Ayok, masuk!" Aku mengajak Mbak Angel menghampiri Rafa. "Sayang, kenalin, aku punya teman baru." Rafa mendongak, mengernyitkan dahi sesaat sebelum ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya sopan. "Halo, aku Rafa." "Angel." "Baru pindah?" "Iya. Rumahnya Pak Jamal sebelumnya." "Oh, rumah samping ini, dong?" "Dan Mbak Angel ini bawain aku kue, Raf." Aku mengankat kotak kue lumayan tinggi, sembari memainkan mata dan alis. "Seneng, deh. Makasih lagi ya, Mbak Angel." Rafa tertawa kecil, mengendikan bahu, lalu ia berkata, "Agak kekanakkan, Mbak. Mohon dimaklumi." Mendengar itu, Mbak Angel tertawa, sementara aku mencebik kesal. "Mbak Angelnya dibuatin minum dong, Ge." Rafa menggeser tubuhnya, kembali meminum jus yang kubuat. "Makasih, tapi nggak usah. Suamiku udah nunggu, mau beres-beres." "Yah." Aku mendesah kecewa. Aku senang punya teman baru, tetapi belum apa-apa dia sudah akan pulang. "Raf, aku boleh ikut Mbak Angel ke rumahya enggak? Mau bantuin dia." Sebelum menjawab, Rafa menatap Mbak Angel. "Nanti malah kamu bikin rusuh di sana." "Janji. Eggak." "Coba tanya Mbak Angel dibolehin enggak." Aku tersenyum lebar, mengecup pipi Rafa. Kemudian, berbalik menatap Mbak Angel. "Aku boleh bantuin Mbak Angel?" "Kamu nggak lagi sibuk?" "Eng—" "Sibuknya dia Cuma ngabsenin pedagang di mal, Mbak," sela Rafa. Setelah mengatakan itu, dia langsung fokus ke laptopnya. Dasar. Setelah diberi pesan oleh Rafa untuk tidak membuat onar, tidak merepotkan Mbak Angel dan suaminya, akhirya aku dan Mbak Angel sudah berada di dalam rumah mereka. beberapa kali aku pernah bermain ke rumah ini ketika Pak Jamal dan keuarganya yang menghuni. Ibu Ika—istri Pak Jamal—orangnya sangat ramah, ia sering mengajariku memasak, walaupun sampai sekarang hanya beberapa yang bisa kupraktikan dengan baik tanpa pengawasan. Aku sedang duduk di sebuah sofa hitam, saat Mbak Angel naik ke atas untuk memanggil suaminya. Dan, mataku membulat---yang kuyakni akan terlihat serpeti Oscar---begitu melihat sosok lelaki yang berjalan di samping Mbak Angel. Apakah itu Chris Evan? Mereka tertawa, entah sedang membicarakan apa. Aku bersumpah, mereka berdua adalah Pangeran dan Putri yang sesungguhnya. Lelaki dengan brewok tipis itu sesekali menoleh ke arah Mbak Angel, kemudian senyumnya semakin lebar. Aku melihat, ada cinta begitu besar. "Ini, Mas tetangga baru kita. Masih imut-imut, kan?" Suami Mbak Angel mengangguk. Ia mengulurkan tangan. "Halo, aku Bian. Kata Angel, kamu itu masih cocok jadi anak kuliahan. Memang bener, sih." "Aku Gea. By the way, kalau anak kuliahan kayak aku, terus yang layak nikah segimana?" Mbak Angel tertawa lagi. Wahai, Tuhan, aku senang bertemu mereka. "Kita bisa mulai beres-beresnya?" "Ternyata bukan Cuma mukanya yang cocok jadi anak kuliahan, Sayang." Mas Bian menggerlingkan mata ke Mbak Angel. "Antusiasnya juga kayak Clara." Mungkin karena melihat aku yang kebingungan, Mas Bian segera melanjutkan, "Keponakanku." Aku tertawa, disamakan dengan keponakan Mas Bian, yang aku sendiri tak tahu berapa usianya. Mungkin balita? Kami mulai beraksi. Mas Bian mengeluarkan semua isi dari kopor, aku dan Mbak Angel yang menyusun figura-figura kecil, pun termasuk pernak-pernik—hiasan meja—ke tempat-tempat yang sudah Mbak Angel jelaskan. Aku tertawa sendiri, saat melihat mereka yang sedang bergurau karena Mas Bian terlihat tidak kuat mengangkat satu kopor berukuran lumayan besar. Dan, bukannya membantu, Mbak Angel malah menggelitik perut lelaki itu, membuat Mas Bian terbahak dan memasukkan kepala Mbak Angel ke ketiaknya. "Bau, Mas! Ya Tuhan!" Itu teriakan Mbak Angel. Melihat pemadangan ini, aku teringat hal sama yang pernah aku dan Rafa lakukan saat baru pertama kali pindah rumah. Rumah itu hasil kerja Rafa sendiri, itu pun belum lunas. Aku kasihan, tetapi ia menolak untuk kubantu. Aku sedang menyusun beberapa bingkai kecil berisi foto Mbak Angel dan Mas Bian yang kuduga ini hasil dari bulan madu ke luar negeri. Ada foto mereka berciuman di bawah London Eye, entah siapa yang berhasil memotretnya. Aku juga menemukan foto mereka di saat sunset dengan background menara Eiffel. Pasangan yang penuh cinta. Gerakkan tanganku terhenti, saat aku menemukan sebuah kalung di bawah satu bingkai berisi foto close up wajah Mbak Angel yang sedang tertawa. Kalung salib. Aku memanggil Mbak Angel, dia dan Mas Bian menoleh bersamaan. "Sori, Mbak Angel dan Mas Bian Kristen?" "Iya, kami Katolik." Mbak Angel tersenyum. "Ehm, apa itu ganggu kamu, Ge?" Mas Bian terlihat kikuk, ia berjalan mendekatiku. Mengambil kalung yang kugenggam. Aku menggelengkan kepala. "Enggak. Kenapa ganggu?" Senyumku dibalas oleh mereka. "Oh, jadi ini, kenapa Mbak Angel tadi bilang minoritas, ya? Selow, Mbak. Sembahlah Tuhanmu, aku menyembah Tuhanku. Agamamu ya agamamu, begitupun agamaku. Ha-ha. Aku nggak akan ikut campur soal yang satu itu." Mereka saling pandang, kemudian tertawa. Aku mematung, saat mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Mbak Angel. Saat aku melihat Mas Bian dari balik punggung Mbak Angel, lelaki tampan itu berkata tenpa suara. "Dia mudah sayang." Aku mengangguk, kemudian membalas pelukan Mbak Angel tak kalah erat. Wahai, Tuhan apa yang baru kukatakan adalah benar, 'kan? Aku hanya perlu memberinya senyum, maka Mbak Angel dan Mas Bian tidak akan merasa takut.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD