10. Kata Ajaib (Bima)

2195 Words
Pagi hari yang aku takutkan akhirnya datang. Amanda terbangun sebagai Manda si penakut yang di dalam otaknya Wildan masih kekasihnya. Melihatnya menyendok makanan pelan sekali dan mengunyah perlahan membuatku frustasi. Tanpa sadar aku memijit keningku dan mendesah pelan. Padahal semalam aku sudah berdoa agar hari ini tidak ada masalah yang akan terjadi karena pekerjaanku di kantor akan padat. Tapi lihatlah sekarang! Gumpalan masalahku datang tanpa permisi. "Apa yang sedang kamu lakukan Manda?" tanyaku sambil menatapnya penuh selidik. Hari ini kami sarapan Pancake. Milliku sudah habis beberapa menit lalu tapi milik Amanda masih tersisa setengahnya karena dia mengunyah lama sekali sambil menyembunyikan matanya dariku menggunakan rambut panjangnya. "Paman jangan galak-galak! Aku memang makannya lama." cicitnya pelan sambil memanyunkan bibirnya sedikit seolah aku sedang memarahinya. Aku mengambil napas sekali lagi kemudian menyungggingkan senyuman palsu. "Bagaimana kalau hari ini kamu bolos sekolah saja Manda?" tanyaku. "Kenapa aku harus bolos Paman? Katanya nilaiku tidak boleh jelek atau aku akan dijual sama Paman." jawabnya polos. Aku hampir frustasi mendengarnya. Mulai sekarang sepertinya aku harus hati-hati dalam berbiucara terutama pada Manda atau kalimatku akan menyerangku kembali seperti sekarang. "Tapi hari ini paman tidak bisa mengantarmu." ujarku mencari alasan. "Wildan akan menjemputku." "Kalian sudah putus. Berapa kali Paman harus mengatakannya huh?" "Tap..." "Tidak ada tapi-tapian Manda! Kalau kamu masih mendekati WIldan, paman benar-benar tidak bisa menyelamatkanmu lagi. Kamu akan dijual." potongku cepat. Manda menunduk dan terlihat sedih membuatku merasa seperti orang dewasa jahat yang baru saja berbuat tidak adil pada anak dibawah umur. Jujur saja aku masih kesulitan menghadapi Manda padahal Amanda jauh lebih energic tapi Manda lebih sulit aku hadapi. "Kenapa semua orang tidak suka aku menjadi pacar Wildan?" cicitnya pelan. Jujur aku malas menanggapi. Tapi saat ini Manda terlihat seperti ingin menangis dan membuatku tidak tahan. "Hanya Wildan yang mau dekat denganku di sekolah. Setiap hari aku dibelikan es krim, karena itu hariku jadi tidak terlalu buruk." ucapnya lagi dengan air mata mulai berjatuhan. Membuatku mengusap wajah frustasi karena seumur-umur aku belum pernah menghadapi orang cengeng. "Berhenti membuat drama Manda! Paman bukan sutradara jadi akting menangismu itu tidak ada gunanya." balasku tidak peduli. Dia malah semakin menangis dan membuat beberapa pegawai di rumahku datang dan menatapku dengan tatapan aneh. Aku benar-benar kesal tapi tidak bisa memarahinya. Aku mendesah berat kemudian berpikir untuk mengalah. Lagipula aku juga tidak mungkin terus menyuruhnya membolos setiap kali dia berubah menjadi Manda si penakut. "Baiklah-baiklah! Paman akan mengantarmu ke sekolah tapi dengan beberapa syarat." ucapku kesal. Manda menarik ingusnya kemudian memberanikan diri menatapku dengan sorot mata yang penuh pertanyaan. "Pertama, kamu tidak boleh dekat-dekat dengan Wildan. Meskipun kamu keras kepala tapi sebelumnya kita sudah saling bernjanji untuk ini Manda. Paman hanya di titipkan kamu oleh Ayah dan ibu Kamu, itu artinya jika kamu masih dekat dengan Wildan, Paman tidak bisa berbuat apa-apa saat mereka memutuskan untuk menjual kamu. Cara paman menyelamatkan kamu adalah dengan persyaratan ini. Kamu paham?" ucapku berusaha menjelaskan dengan halus. Gadis itu mengangguk lemah meskipun wajahnya tampak tidak ikhlas. "Lalu yang kedua, kamu dilarang membuat masalah di sekolah. Jika guru sampai menghubungi Pamana dan mengatakan kamu membuat masalah maka kamu akan mendapatkan hukuman. Yang ketiga, tidak usah hiraukan teman-temanmu dan fokus saja belajar. Jika kamu bisa melewati hari ini tanpa masalah, Paman akan memberikan kamu hadiah." tambahku lagi. Aku berusaha bicara sehalus mungkin dan herannya aku cukup terharu karena reaksi Manda sedikit melunak. Gadis penakut yang sebelumnya selalu ketakutan dan menunduk setiap kali berhadapan denganku, sekarang mulai berani menegakkan kepalanya dan menatapku meskipun masih agak ragu. Air matanya juga sudah tidak berjatuhan lagi dan sorot matanya seperti menyiratkan sebuah harapan. "Baik Paman." jawabny tanpa bantahan dan membuatku cukup lega sekaligus ada kebanggaan yang aneh di dalam diriku. Dari sekian banyaknya hal yang berhasil aku kerjakan dengan tingkat kesulitan yang tinggi, entah kenapa aku belum pernah sebangga sekarang. Padahal aku hanya berhasil menghadapi Manda yang sedang tantrum saja. Benar-benar sulit ku pahami perasaan-perasaan ini. *** Ketika aku sampai di kantor, tiba-tiba saja sudah ada seseorang yang menungguku. Aku pikir dia adalah kenalan Adrian yang seorang pskiater karena aku sudah membuat janji temu pagi ini untuk konsultasi masalah Amanda. Tapi ternyata laki-laki muda yang sedang menungguku di kantor ini adalah utusan ayah Amanda. Si tua bangka b******k yang ingin sekali aku tenggelamkan ke lautan lepas agar dimakan oleh ikan hiu ganas. "Untuk apa mendatangiku?" tanyaku tidak ramah. Untuk apa pula aku bersikap ramah pada utusan Hanara si b******k itu. Sudah bagus aku tidak membalikkan meja untuk mengusirnya. "Tuan Hanara meminta saya untuk mengantarkan berkas yang katanya perlu anda pertimbangkan untuk pertemuan selanjutnya." ucap laki-laki itu lugas kemudian memperkenalkan dirinya secara resmi sebagai seoang pengacara. Otakku langsung panas begitu melihat apa isi berkas itu. "Kalian siapa berani membicarakan uang di depanku huh?" suaraku berubah rendah karena aku berusaha menahan diriku untuk tidak mengamuk. "Hanya menghidupi Amanda sampai dia tua saja, tidak akan membuatku miskin. Ambil semua harta kalian yang tidak seberapa itu! Amanda tidak akan menyentuhnya sedikitpun seumur hidupnya sialan!" tambahku kesal. Aku hampir mencengkeram kerah baju pengacara muda itu tapi pintu ruanganku tiba-tiba saja terbuka dan Adrian masuk dari sana bersama seorang laki-laki yang aku tebak adalah Pskiater muda yang sebelumnya dijanjikan akan bertemu denganku. Utusan Hanara terkejut melihat Adrian masuk ke ruanganku begitu saja karena sejauh ini hubungan baikku dengan suami Lisa ini memang hanya teman-teman dekat saja yang mengetahuinya. Wajah Adrian saat ini terlihat tidak cukup ramah. Aku tebak dia mendengar ocehanku dan ocehan pengacara ini sebelum masuk. "Saya tidak bermaksud menghina anda tuan Bima. Tapi tuan saya berpikir anda akan kesulitan mengurus Amanda karena itu beliau ingin memberikan kompensasi atas kesulitan itu sebagai jaminan agar anda tidak mengembalikan Amanda di masa depan saat anda kewalahan." Si b******k muda ini melanjutkan obrolan yang sudah membuatku naik darah ini setelah menyapa Adrian dengan ramah. Aku benar-benar ingin memukulnya saat ini juga. Aku juga melihat Adrian berusaha keras untuk tidak ikut campur dalam masalahku. Tapi rahangnya mengeras itu artinya dia juga sama marahnya denganku mendengar semua ocehan Pengacara Muda b******k ini. "Amanda? Anda memangil si b******k itu tuan tapi hanya memanggil calon istriku dengan namanya saja? Sok akrab sekali aku lihat-lihat! Kalian dekat huh? Kalian berteman? Sampai tidak ada embel-embel Nona di depan namanya?" Aku mulai murka. Bukan hanya karena sikap Hanara yang b******k, tapi karena orang-orang di sekitarnya seperti tidak diajari untuk menghormati Amanda. Tapi belum sempat aku melanjutkan omelanku, sebuah telpon dari pihak sekolah Amanda menghentikkanku. Aku mengumpat di dalam hati. Sepertinya si tantrum baru saja membuat masalah. "Kami lebih mengenal Nona Amanda dibanding anda tuan Bima. Saya baru saja mengatakannya tapi Nona Amanda sudah membuat masalah bukan?" ucap pengacara muda itu dengan ekspresi menyebalkan setelah aku mengakhiri panggilanku dengan pihak sekolah. "Anda akan berterimakasih atas pengertian tuan saya hari ini di masa depan." tambahnya lagi semakin menyulut emosiku. "Sebaiknya anda pulang tuan Denis. Bawa juga surat perjanjian sampah itu karena saya sendiri yang akan menjamin Amanda tidak akan dikembalikan ke kediaman Hanara." Adrian akhirnya angkat bicara sambil memberiku isyarat agar aku pergi mengurus masalahku di sekolah Amanda. Sambil mendengus aku keluar dari ruanganku dan membiarkan Adrian melanjutkan obrolan dengan orang Hanara. "Pertemuan dengan pihak gedung setengah jam lagi Boss. Jika kita pergi ke sekolah Nona muda kemungkinan pertemuannya tidak akan sempat." Steven berucap lirih. "Atur ulang pertemuannya, kalau tidak bisa kita cari gedung lain." jawabku tanpa menoleh dan Steven tidak membantah sedikitpun seperti biasanya. Aku hanya duduk diam saja sambil menatap jalan sepanjang perjalananku menuju sekolah Amanda. Bukan kesal karena dia membuat masalah, tapi justru perasaan sedih. Bagaimana kalau dia sampai tahu ayahnya sebegitu tidak menginginkannya sampai berniat memberikan aku sebuah perusahaan kecil sebagai jaminan agar dia tidak dikembalikan ke kediaman Hanara? Amanda belum dewasa, usianya juga belum ada dua puluh tahun. Seharusnya dia sedang bahagia-bahagianya menikmati hidup di sekolah. Jalan-jalan bersama teman, nonton bioskop, mendatangi Kafe lucu atau sekedar belanja barang tidak penting. Tapi tidak satupun dari hal yang aku sebutkan tadi bisa dinikmati oleh Amanda karena kehidupannya di sekolah juga seperti neraka. Jika orang lain memiliki keluarga untuknya beristirahat dari kehidupan sekolah yang kejam, Amanda tidak memilikinya. Ayahnya bahkan ingin membuangnya cepat-cepat dari tanggung jawabnya. "Saya akan mencarikan lagi perihal gedung Boss, tapi kemungkinan semua jadwal seminggu kedepan jadi mundur." ucap Steven setelah beberapa saat. Aku mengangguk saja tanpa mengatakan apapun. Pikiranku dipenuhi oleh Amanda saat ini. Dan ketika mobil kami terparkir di halaman sekolah, aku langsung keluar dan berlari menyusuri koridor menuju ruangan kepala sekolah yang sudah aku hapal denahnya karena sekolah ini sudah aku pelajari sebelumnya. Begitu aku membuka pintu ruangan Kepala Sekolah yang aku lihat pertama kali adalah Amanda yang sedang duduk di bangku paling pinggir. Menunduk ketakutan sementara orang-orang tampak sedang menyalahkannya. Aku berdiri dengan kemarahan membuncah di kepalaku. Tapi ekspresi takut yang ditunjukkan oleh Amanda begitu melihatku datang membuyarkan segalanya. Aku tidak mempedulikan Kepala sekolah yang menyapaku dan mengabaikan keberadaan Wildan yang tidak berguna disana. Langkahku pasti ke arah Amanda sedang duduk ketakutan sekarang kemudian memeluknya erat. "Paman disini, semuanya baik-baik saja." bisikku pelan. "Aku tidak melakukannya, aku benar-benar tidak melakukannya." ucapnya lirih nyaris tidak terdengar. Air matanya berjatuhan. "Paman tahu Manda anak yang baik." bisikku lagi dan entah kenapa dia jadi terlihat lebih tenang. Semua orang disana yang tadi terus berusaha bicara mengenai masalah yang sedang dialami Amanda, terdiam melihat reaksiku. Setelah gadis itu cukup tenang aku menariknya berdiri tanpa melepaskan pelukan kami. "Bagaimana kalau tuan Bima duduk dulu, biar saya jelaskan masalahnya." ucap Kepala sekolah dengan sopan sambil memberikan gestur menyuruhku duduk. "Tidak perlu! Menurut anda Manda mencuri uang bukan? Kalau begitu biar pengacara saya saja yang mengurusnya. Ayo kita bertemu di pengadilan." jawabanku langsung membuat teman-teman Amanda terlihat panik. Sejujurnya aku hanya ingin tahu saja reaksi mereka jika aku menyebutkan hal ini. Wajah Wildan juga terlihat panik. Begitupun dengan guru dan Kepala Sekolah yang ada disana. "Kami bukan bermaksud menuduh om, tapi kenyataannya uang kas kelas kami ada di dalam tas Amanda. Kami hanya minta Amanda meminta maaf saja karena uangnya juga sudah ketemu. Tidak perlu seserius itu sampai ke kantor polisi." ucap salah satu murid disana. Pelukan Amanda semakin erat. Dia ketakutan. Aku tersenyum miring mendengar hal itu. "Meminta maaf memang mudah. Tapi apa kamu pernah memikirkan beban mental yang harus di tanggung oleh orang yang dipaksa meminta maaf padahal dia tidak salah?" tanyaku tegas. "Saya melibatkan pengacara saya dalam kasus ini tentu saja karena saya tahu ini bukan kasus pertama Amanda di tuduh ini dan itu dan dipaksa meminta maaf. Bukankah seharusnya kalian senang? Jika Amanda memang bersalah, dia akan mendapatkan hukuman secara resmi dari pihak kepolisian. Kenapa kalian terlihat tidak senang padahal saya hendak menegakkan keadilan." tambahku lagi, memotong kepala sekolah yang hendak bicara. Sungguh menyenangkan mempermainkan orang-orang bodoh. Meskipun mereka terlihat berusaha untuk tenang, aku yang terbiasa mengurus para penjahat langsung tahu kalau saat ini mereka sedang panik. "Bagaimana kalau nanti kita cek CCTV dan bukti lain dulu sebelum melangkah ke lebih lanjut." ucap Kepala Sekolah menengahi. "Oh, jadi dari tadi anda belum mengecek CCTV dan sudah meminta Amanda meminta maaf?" pertanyaanku membuat wajah Kepala Sekolah terlihat pias. Aku tertawa kecil setengah mengejek kemudian memberi isyarat pada Steven untuk masuk. "Asisten saya akan mengurusnya. Tapi jika Amanda terbukti tidak bersalah, saya akan menuntut ganti rugi atas kerusakan mental yang dia alami hari ini." ucapku tegas sambil menggandeng Amanda keluar dari ruangan itu. Dia terus menunduk sepanjang perjalanan kami menuju mobil. "Manda..." panggilku hati-hati. Meredam semua perasaan pribadiku, emosiku dan gejolak di dalam diriku demi bisa tetap bersikap manis di depan Amanda. Ini adalah pertama kalinya aku tidak jadi pemarah yang meledak-ledak padahal sejak tadi aku sudah emosi. "Aku benar-benar tidak melakukannya Paman! Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya sedang pergi ke kantin sebentar lallu tiba-tiba aku di tuduk." ucapnya terbata kembali terlihat ketakutan. Aku menggenggam tangannya dengan lembut, membuatnya memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya menatapku. "Paman tahu Manda tidak melakukannya." balasku sambil tersenyum. Matanya yang tadi terlihat putus asa, seperti memancarkan sebuah harapan. "Apakah Manda tahu kalau di dunia ini ada yang disebut dengan kata ajaib?" pertanyaanku membuat Manda mengerutkan dahinya. "Kata Ajaib?" dia mengulai ucapanku dengan mata yang bergerak-gerak lucu. "Perjanjiannya adalah kita kita akan saling memahami bukan? Itu artinya semua hal harus Manda bicarakan lebih dulu pada Paman. Tapi tadi ketika Manda terkena masalah, paman bukan tahu dari Manda tapi dari Kepala Sekolah. Kenapa Manda tidak menghubungi Paman?" tanyaku lagi. Manda menunduk sambil memilin jarinya. "Manda takut dan bingung mau bilang apa sama Paman bukan?" Gadis itu kembali mengangguk dan membuat bibirku tersenyum. "Mereka terus menatapku Paman. Jika aku menghubungi Paman dan meminta tolong, mereka pasti akan tahu dan semakin memusuhiku." cicitnya pelan. "Bagaimana kalau kita membuat Kata Ajaib yang hanya kita berdua saja yang tahu? Kata yang jika Manda kirimkan pada Paman, maka Paman akan datang untuk membantu Manda kapanpun." "Seperti Kode Rahasia Paman?" "Benar! Kode Rahasia yang bisa memanggil Paman untuk datang kapanpun Manda butuh bantuan." jawabku sambil tersenyum. "Bagaimana kalau Hello Kitty? Manda suka sekali Hello Kitty bukan? Manda cukup kirimkan Paman pesan Hello Kitty saat Manda butuh bantuan maka Paman akan datang. Bagaimana? Manda suka?" Senyum di bibir gadis itu merekah kemudian kepalanya bergerak mengangguk dengan cepat. "Iya Paman, Manda suka." jawabnya dengan ekspresi yang jauh lebih bersahabat padaku. Dan lagi-lagi kemajuan ini membuatku merasakan kebanggaan yang sulit aku pahami. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD