Aku berangkat sekolah dengan gembira. Ternyata usapan lembut dari om Bima di kepalaku bisa membuat suasana hatiku terus membaik. Wildan terlihat menungguku di dekat gerbang kemudian mengajakku ke halaman belakang. Sepertinya dia masih belum menyerah padahal aku sudah menjadi orang dengan mulut palling jahat di dunia.
"Manda, kamu benar-benar akan menikah dengan preman itu?" tanyanya masih tidak percaya.
"Preman? Dia bukan preman. Namanya om Bima dan dia adalah pengusaha. Selain itu dia juga tampan." balasku sambil tersenyum membanggakan.
"Mand, kita sudah janji untuk melewati semuany sama-sama. Kamu tidak lupa janji kita kan?"
"Janji?"
"Lihat! Aku ngerasa kamu mulai aneh sejak kamu jatuh dan di rawat di UKS waktu itu. Kamu bahkan tidak ingat janji kita? Janji yang setiap hari kamu ingatkan padaku. Sudah jelas kamu pasti tidak sedang dalam kondisi yang baik. Bagaimana kalau kita ke dokter saja Manda? Ayo kita periksa kepala kamu takutnya ada yang bermasalah. Tidak mungkin kamu akan meninggalkanku seperti ini padahal rencana yang kita janjikan sudah di depan mata." ucap Wildan sambil mencengkeram lembut pundakku. Meskipun menyebalkan, tapi laki-laki ini tidak bohong. Aku sempat memeriksa riwayat chat mereka dan Amanda memang terus menyebut soal janji. Aku tidak ingat apapun tentang hal itu. Tapi sekarang aku penasaran.
"Ah janji itu, aku membatalkannya." ucapku kemudian. Dahi Wildan berkerut dan matanya menatap tidak percaya.
"Manda, apakah semudah itu bagi kamu melupakan semua perjuanganku untuk menepati janji itu?"
"Perjuangan yang mana? Nyatanya aku tidak berubah sedikitpun setelah bersama denganmu. Aku masih tidak bahagia, aku masih menderita, aku masih di kucilkan, aku masih diganggu oleh orang-orang yang kamu anggap teman itu. Lalu dimana fungsi kamu sebagai seorang kekasih Wildan? Jika kamu benar-benar mencintaiku, kamu seharusnya tidak akan membiarkan aku menderita. Hari itu, saat aku dibawa ke UKS karena ulah teman-teman princess kamu yang sok baik itu, aku akhirnya sadar kalau yang kita miliki bukan cinta. Kamu mendekatiku demi tujuanmu sendiri dan aku mau di dekati olehmu karena aku butuh perlindungan bukan hanya sebatas janji. Lalu apa yang berubah setelah kita bersama? Apa aku terlindungi? Tidak kan? Persetan dengan cinta atau apapun itu. Apakah kamu tahu kalau beberapa hari yang lalu aku hampir mati karena disekap di gudang oleh ibu tiriku dan tidak diberi makan? Aku tidak butuh cinta atau apapun yang kamu banggakan itu. Aku hanya butuh orang yang bisa melindungiku karena hidupku tidak mudah. Dan kamu tidak bisa melakukannya karena kamu bahkan tidak berani melawan tiga gadis itu. Sekarang kamu menanyakan perihal janji padaku Wildan? Aku tidak butuh lagi janji itu. Karena jika aku bertahan sendirian dalam keadaan ini sampai aku lulus, aku akan gila. Aku bukan orang yang bisa menunggu sampai kamu menapati janji kita karena jika aku lengah sedikit saa aku pasti mati. Seburuk itu keadaanku di rumah." Aku mengucapkan kalimat panjang yang benar-benar keluar dari hati. Semua unek-unek Amanda yang selama ini tersimpan aku keluarkan semuanya.
"Kita sudah janji akan kabur bersama manda. Selama satu tahun ini aku tidak diam saja seperti yang kamu bilang. Kamu kan juga tahu kalau aku tidak mungkin bisa melawan
Julia dan teman-temannya karena orang tuaku ada dibawah perusahaan orang tua mereka. Kamu juga sepenuhnya sudah paham kalau aku membuat masalah dengan mereka maka rencana kita melarikan diri akan berantakan total. Aku tahu kamu menderita, karena itu setiap pulang sekolah kita selalu beli es krim untuk menghibur diri. Aku menghiburmu dengan caraku agar rencana kita berjalan lancar Mand. Selama satu tahun lebih kita pacaran, aku diam-diam mencuri uang di rumah dan mengirimkannya ke rekening bersama kita untuk modal kita melarikan diri. Uang kita sudah cukup sekarang mand! Sebentar lagi kita lulus dan seharusnya rencana yang sudah kita susun sejak lama ini akan segera kita lakukan. Tapi kenapa kamu begini? Kenapa kamu begini Mand? Jangan seperti ini! Aku hanya punya kamu saja di dunia ini karena kamu juga tahu orang tuaku sama brengseknya. Aku harus bagaimana kalau kamu tiba-tiba jadi seperti ini?" Wildan terlihat sangat frustasi dan aku terdiam membisu. Matanya memerah seperti ingin menangis, menciptakan perasaan bersalah yang berkecamuk di dalam diriku.
Jujur saja saat terbangun di tubuh Amanda, aku tidak ingat semua memorynya. Terutama hubungannya dengan Wildan. History chatnya juga dipenuhi rahasia karena mereka tidak membahas hal yang sensitif disana dan lebih suka membahasnya berdua secara langsung. Aku sungguh tidak menyangka ternyata mereka merencanakan melarikan diri bersama. Itu artinya uang yang ada di rekeningku kemungkinan adalah uang yang tadi Wildan bicarakan. Aku memang memiliki lebih dari satu rekening yang isinya cukup banyak untuk hidup selama beberapa tahun di negri orang.
"Ayo kita bicarakan lagi nanti! Sepulang sekolah!" ucapku pada akhirnya. Dengan nada rendah yang mengalah. Aku perlu mencerna semua ucapan Wildan terlebih dulu baru akan memutuskan bagaimana baiknya.
"Tidak bisa, aku pulang sekolah harus les berenang."
"Kalau begitu kita bicarakan saat kamu ada waktu." balasku lagi.
"Oke! Dan pikirkan baik-baik semuanya Mand! Tolong jangan menghancurkan semua perjuangan kita bersama selama beberapa tahun ini." ucapnya sebelum berpamitan pergi meninggalkanku yang masih termenung di halaman belakang. Bel masuk sudah berbunyi dengan nyaring, tapi bukannya masuk ke kelas aku malah melangkahkan kakiku menuju bangku di taman dan duduk disana sambil berpikir.
"Sial karena aku terburu-buru, semuanya jadi berantakan. Lagian kenapa nggak ditulis aja di novel kalau Wildan ngajak Amanda kabur sih? Setidaknya kasih petunjuk, Penulis sialan!" ucapku lirih sambil mengacungkan jari tengah ke arah langit untuk mengejek penulis Novel sialan yang aku masuki ini. Aku mendesah berat kemudian masuk ke dalam kelas. Sedikit terlambat, tapi guru sedang baik beberapa hari ini sehingga aku tidak mendapatkan masalah apapun ketika masuk.
Pelajaran membosankan seperti biasa meskipun aku sedikit merindukan masa-masa sekolah mengingat di kehidupanku sebelumnya aku sudah bekerja. Tidak ada yang spesial dan tidak ada yang membuatku tertarik. Tapi karena otakku lumayan cerdas, aku menyelesaikan semua tugas dengan baik dan membuat wajah para guru lumayan heran dengan kemajuanku.
Supir menjemputku tepat waktu dan tidak ada yang berani mendorongku di tangga seperti dulu. Bisa dikatakan hidupku sudah cukup membaik setelah mengenal om Bima. Inilah perubahan yang aku inginkan, tapi jika benar semua hal yang dikatakan Wildan sebelumnya, maka pikiranku akan kacau.
***
Sesampainya di rumah, ternyata om Bima sedang tidak ada. Dia memang jarang pergi ke kantor seperti pebisnis pada umumnya. Aku lebih sering melihatnya di rumah dibanding di luar sejak aku tinggal bersamanya. Paman Steven juga mengatakan kalau om Bima membenci suasana kantor karena itu dia memilih lebih sering bekerja di rumah. Tapi sepertinya hari ini ada urusan penting di kantornya sehingga dia tidak kelihatan ada di rumah.
Koki baru sudah datang hari ini membuat hidangan lezat sudah tersaji di meja ketika aku pulang. Setidaknya memakan makanan lezat sedikit membantuku mengurangi beban pikiran. Makanan lezat adalah surga selain uang! itu adalah moto hidupku sebelumnya. Dan aku rasa masih berlaku hingga detik ini. Seorang Asistent Rumah Tangga baru juga mulai bekera hari ini. Seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat keibuan. Aku menyukainya. Aku suka akhirnya ada wanita di dalam rumah yang semua pegawainya laki-laki berbaju hitam ini.
Namanya Ana. Dia bilang lebih suka dipanggil Teteh dibanding Bibi. Karena itu aku menurut saja. Tapi melihat Teteh Ana, entah kenapa seperti ada sesuatu di dalam kepalaku. Suatu memory yang sebenarnya ada tapi aku sulit mengingatnya. Seperti ingatan yang tersembunyi, tentang seseorang yang mirip dengan Teteh Ana.
"Non, Teteh sudah siapkan air mandinya. Kamar Non juga sudah Teteh bersihkan. Katanya Tuan akan pulang telat hari ini jadi Non makan malam duluan saja dan pergi tidur." ucapan Teteh membuyarkan lamunanku. Aku mendesah pelan kemudian mengangguk dan berterimakasih.
Setelah selesai mandi, aku keluar sudah mengenakan baju tidur. Aroma makanan menyeruak ke dalam kamar. Tapi makan malam jadi kurang menyenangkan karena aku makan sendirian meskipun hidangannya sangat lezat. Rumah besar ini jadi terasa tidak asyik karena om Bima tidak ada di dalamnya. Akhirnya makan malam itu berakhir membosankan dan aku memilih kembali ke kamar setelahnya dan berusaha untuk memejamkan mataku namun gagal. Semua ucapan Wildan berputar-putar di kepalaku. Bagaimana aku harus menananginya? Laki-laki itu terlihat terluka dengan perubahanku. Apakah Amanda yang asli akan terluka juga saat dia terbangun kembali di tubuh ini dan mendapati bahwa kekasihnya sudah tidak ada dan digantikan oleh om Bima? Apa keputusan yang aku ambil ini justru menciptakan jalan Villain lain untuk Amanda? Apa dia akan berubah menjadi Sumala yang menyalahkan Adrian karena dia berpiki hubungannya dengan Bima di dukung oleh pemeran utama itu? Bagaimana kalau jalan ini justru membuat Amanda semakin cepat menuju episode eksekusi? Aku merinding sendiri memikirkannya.
Aku mendesah kemudian berjalan mondar-mandir di kamar. Tidak ada pesan satupun yang dikirim Wildan padahal tadi di sekolah dia terlihat seperti sangat peduli tentang janji sialannya itu. Ditengah perasaan yang campur aduk itu, tidak sengaja mataku melihat ke dalam tong sampah dan menemukan botol obat. Dahiku tentu saja berkerut, kenapa ada botol obat aneh di tong sampahku dan siapa yang membuangnya disana?
Aku langsung mengambil ponselku kemdian mencari tahu fungsi obat itu yang ternyata obat tidur. Obat tidur keras yang harus menggunakan resep dokter ketika ingin membelinya. Isinya masih banyak dan jujur itu cukup membuatku merinding. Aku jelas langsung menccurigai semua orang di rumah ini yang memiliki kemungkinan sebagai pemilik obat itu sampai aku melihat ada sebutir obat yang sama di dasar tasku. Tas sekolahku yang aku buka untuk mengambil pulpen dan kertas untuk mencatat nama obat dan fungsinya agar aku tidak lupa.
Di dasar tas ada sebuah kotak kecil bersekat yang di dalamnya ada beberapa obat. Dan semua obat itu adallah obat yang sama, yaitu obat tidur ini. Ada nama-nama hari di kotaknya. Seperti jadwal minum obat yang anehnya tidak setiap hari. Tulisan itu jelas adalah tulisan Amanda. Kepalaku dipenuhi umpatan karena sekarang aku tahu milik siapa obat ini.
"Sialan Amanda! Kenapa kamu mengkonsumsi obat sialan ini untuk tidur?" umpatku kesal. Aku langsung membongkar tas sekolahku dan menemukan banyak hal lain yang biasanya di gunakan oleh orang yang depresi dan tidak bisa tidur. Seperti inhaller khusus untuk depresi atau permen yang dibuat kusus untuk menenangkan. Dibanding melanjutkan kemarahanku yang tadi, aku justru terdiam sesaat memandang semua benda yang mungkin Amanda pikir bisa menjadi penyelamat hidupnya. Tanpa sadar, air mataku jatuh begitu saja. Seberapa berat hidupnya sampai dia butuh banyak sekali alat bantu untuk tetap waras seperti ini? Pertanyaan itu hinggap di kepalaku dengan menyakitkan. Seperti kalimat yang seumur hidup tidak ingin aku tanyakan pada siapapun karena aku berharap semua orang bisa bahagia di hidupnya.
"Maaf karena kamu harus melewati semua ini sendirian Amanda! Tapi sekarang kamu punya aku. Jadi, Ayo kita hadapi semuanya bersama! Ayo kita hadapi seluruh dunia ini dengan berani bersamaku." bisikku lirih sambil memeluk erat tas sekolah Amanda yang sekarang terlihat seperti satu-satunya saksi yang mengetahui semua yang disembunyikan oleh Amanda yang asli.
"Belum tidur bocah?" Suara maskulin yang terdengar seksi itu, membuyarkan semua pikiranku. Dan ketika aku menoleh, laki-laki yang aku rindukan kehadirannya di meja makan tadi sedang berdiri di pintu sambil melipat kedua tangannya di d**a. Wanginya yang bercampur keringat menyeruak ke dalam kamarku. Kemejanya masih rapih dengan lengan di tekuk setengah dan kancing bajunya yang bagian atasnya terbuka memperlihatkan sedikit dadanya yang seksi. Bagaimana laki-laki bisa terlihat seseksi ini padahal dia tidak melakukan apapun? Jujur saja kehadiran om Bima membuat kepalaku jadi kosong. "Ngapain pelukin tas sialan itu? Kangen sama yang ngasih?" tanyanya lagi dengan nada datar. Aku bengong selama beberapa detik kemudian melepaskan tasku begitu saja. Jelas dahiku pasti sedang berkerut karen bingung dengan ucapan om Bima.
"Hah?"
"Tas itu hadiah ulang tahun dari mantan pacarmu kan? Kenapa di pelukin? Kangen? Mau ballikan sama dia?" pertanyaan om Bima menyadarkanku akan situasi aneh yang sedang terjadi.
"Aku bahkan lupa kalau tas ini dikasih Wildan." balasku tidak terima. "A-aku memeluknya karena aku tidak memiliki siapapun untuk dipeluk." jawabku sedikit gugup. Om bima mendesah pelan sambil memberikan ekspresi yang menyebalkan kemudian mengangkat jari telunjuknya dengan galak untuk menyuruhku tidur.
"Selamat malam Bocah Nakal! Jangan buat masalah besok!" ucap om Bima sambil mematikan lampu di kamarku dan kemudian menutup pintu kamarku setelah memastikan aku sudah terbaring dengan selimut rapi. Jujur saja ucapan selamat malam penuh sindirian itu sedikit menyebalkan tapi aku memilih untuk tidak protes.