8. Good Girl! (Bima)

2603 Words
Adrian mendesah beberapa kali sambil menatapku dengan tatapan yang aneh. Saat ini aku sedang duduk di bangku Rumah Sakit dan menunggu dengan gelisah. Semalam Amanda masih normal, tapi pagi harinya dia bangun menjadi suram lagi dan menangis histeris karena aku tidak jadi memulangkannya ke rumah. Pada akhirnya aku meminta bantuan Adrian untuk mengarahkanku ke Dokter yang tepat. Dan disinilah aku sekarang, di bagian kejiwaan dan Amanda sedang di periksa di dalam ditemani oleh Lisa. Kondisinya sudah cukup tenang saat ini, tapi aku masih khawatir. "Untuk seseorang yang mengalami hal buruk mungkin sejak dia masih kecil, mentalnya tidak mungkin baik-baik saja Bima. Sekarang aku tanya sekali lagi! Dengan kondisi ini, kamu masih mau menikahinya? Mungkin kedepannya dia akan sangat merepotkan. Akan lebih merepotkan kamu dibanding membantumu dalam balas dendam. Kamu yang sangat tidak suka di repotkan apakah yakin akan menerima beban ini?" Pertanyaan Adrian tidak langsung aku jawab. Aku diam merenung selama beberapa saat karena aku sendiri tidak tahu jawaban seperti apa yang harus aku lontarkan. Sampai pintu Rumah Sakit dibuka, aku masih belum memberikan jawaban yang Adrian inginkan. Lisa keluar dari sana bersama Amanda yang sudah cukup tenang. Kami kembali ke Rumah Adrian untuk menenangkan Amanda sekaligus menjelaskan keadaanya padaku. "Menurut dokter ada kemungkinan Amanda mengalami Age Regression. Kondisi ini merupakan mekanisme pertahanan psikologis di mana seseorang tidak sadar kembali ke perilaku, pola pikir atau emosi dari tahap sebelumnya. Misalnya seperti anak-anak atau semacamnya sebagai resp[ons terhadap stress, konflik emosional, atau trauma. Dan melihat Amanda tidak bisa mengontrol dirinya atau bahkan tidak mengenal sekitarnya, itu artinya dia melakukannya tanpa kesadaran. Kondisinya akan dipantau lebih jauh oleh Dokter seiring dengan terapi yang sudah dijadwalkan. Ada kemungkinan kondisi mentalnya lebih serius dari yang aku sebutkan tadi karena perilakunya juga mirip dengan kasus kepribadian ganda." ujar Lisa menjelaskan dengan lembut seperti biasanya. "Bim, Amanda benar-benar seperti berubah menjadi orang lain. Dia bilang namanya bukan Amanda tapi Manda, ketika ditanya usia dia memilih diam saja tapi perilakunya tidak seperti anak seumurannya. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan seburuk apa masa kecilnya dan kehidupannya selama ini." Wanita itu menambahkan. "Ini tidak akan mudah Bim. Kamu yakin akan melanjutkan? Kemungkinan keluarganya sudah mengetahui kondisi Amanda sekarang, karena itu ayahnya dengan mudah melepaskannya padamu." Adrian kembali berbicara. Terus terang seperti biasanya. "Ada yang aneh dengan Hanara Yan." "Aneh?" "Dia memang bersikap cuek seolah dia tidak menginginkan Amanda lagi di rumah itu. Tapi gesturnya menunjukkan rasa takut dan matanya seperti memancarkan permintaan tolong agar aku menjaga Amanda. Dia bertengkar dengan istrinya karena wanita itu tidak mengijinkanku membawa Amanda tapi Hanara seperti bersikeras agar aku membawa putrinya keluar dari rumah. Menurutmu, apakah ada kemungkinan terjadi sesuatu di dalam kediaman Hanara?" "Sejujurnya aku sendiri tidak memperhatikan mereka karena mereka bukan merupakan ancaman jadi tidak perlu aku awasi. Tapi segalanya bisa terjadi di dalam rumah yang kelihatan sangat hangat pun." ucap Adrian. "Lalu apa yang akan kamu lakukan?" "Aku akan menikahinya, Amanda." jawabku akhirnya menemukan jawaban meskipun sejujurnya aku masih ragu. Tapi jawabanku membuat Adrian dan Lisa tersenyum. Seolah mereka berdua memang menantikan jawaban ini keluar dari mulutku. "Aku rasa guru cinta untuk Bima, akhirnya datang." balas Lisa dengan nada menggoda. AKu hanya tersenyum tipis saja kemudian mendesah kecil. Menyadari bahwa aku baru saja menambah masalah baru yang cukup berat ke dalam hidupku yang baru sebentar merasakan kebebasan ini. "Awal yang buruk tidak selalu berakhir dengan buruk Bim. Lihat aku dan Lisa, kami bahagia sekarang bukan? Dimas dan Dewi juga memulai segalanya dengan permusuhan tapi sekarang mereka bahagia. Tidak semua kisah cinta harus diawali dengan jatuh cinta. Tapi jujur saja ini akan berat Bim. Mengatasi seseorang dengan penyakit mental sangat melelahkan. Kamu harus menanamkan ini terlebih dahulu di dalam dirimu. Semuanya tidak akan mudah, tapi bukan berarti tidak bisa kamu hadapi. Jangan sampai nanti kamu merasa lelah dan mulai menyalahkan Amanda atas keadaan yang sejak awal merupakan pilihan kamu sendiri. Karena jika itu terjadi, maka kondisi Amanda akan semakin buruk." wejangan Adrian tidak bisa aku bantah karena semuanya benar. Menerima Amanda seperti menerima sebuah benda yang rawan rusak jika aku tidak hati-hati menggenggamnya. Penuh Resiko, tidak ada jaminan akan apapun tapi anehnya aku yang biasanya keras kepala dalam menolak seseorang dalam kasus ini tidak bisa menolaknya sedikitpun. Aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa jika Amanda jika dikembalikan ke rumah mengingat ibu tirinya sangat mencurigakan. Aku tidak bisa membiarkannya dirawat oleh orang lain dalam keadaan seperti itu. Karena entah kenapa Amanda mengingatkanku dengan Sena yang tidak terlalu sehat sejak kecil. Ucapan Adrian terus berputar di kepalaku. Dalam keadaan seperti itu Sena memiliki aku sebagai kakaknya, tapi Amanda tidak memiliki siapapun. Bahkan seorang teman saja dia tidak punya. Akan seperti apa hidupnya jika tidak bersamaku? Padahal kami baru bertemu beberapa hari, tapi aku sudah memiliki kepercayaan diri tinggi bahwa selain bersamaku, Amanda akan hancur. Sungguh perasaan yang sulit aku pahami. Karena kehadiran Amanda, menghancurkan semua rencana, kebiasaan dan juga aturan hidup yang sudah aku ikuti selama puluhan tahun. Malam itu akhirnya aku membawa pulang Amanda yang sudah tidur lelap setelah meminum obatnya. Setelah menidurkannya di kasur, tidak sengaja aku menyenggol tasnya di meja hingga semua benda di dalamnya terjatuh. Aku akhirnya tahu kalau Amanda ternyata mengkonsumsi obat tidur. Kemungkinan dia memang sudah mengalami gangguan tidur sejak lama. Aku mendesah kecil kemudian menatap wajah lelap Amanda yang terlihat tenang. Gadis ceria yang pemberani, itu adalah imagenya di depanku ketika pertama kali bertemu. Tapi sekarang semuanya berubah, karena ternyata ada sosok pemurung tersembunyi di dalam dirinya yang baru dia tunjukkan padaku. "Baru kenal tapi sudah memberiku beban seberat ini. Dasar gadis nakal!" gumamku lirih sambil membenarkan letak selimutnya kemudian keluar dari kamar Amanda dan duduk di ruang televisi. Tidak lama kemudian Steven datang dengan segelas kopi hangat yang dia buatkan untukku. Aku tahu dia hanya ingin mendapatkan perkembangan dari hubuanganku dan Amanda untuk dia jadikan bahan Gossip bersama yang lain, tapi aku senang karena dia datang dan berani mendekatiku setiap kali aku sedang sendirian dengan wajah yang aku yakin tidak terlalu ramah ini. "Jadi bagaimana Boss?" "Aku akan menikahinya." jawabku cepat. Aku bisa melihat gestur Steven yang reflek ingin bersorak tapi dia tahan sambil memberikan senyuman yang aneh. "Akhirnya Boss tidak lagi sendiri. Akhirnya kami punya nyonya rumah. Atau kami harus memanggilnya Nyonya Muda mulai sekarang Boss?" tanyanya antusias. "Jangan lebay!" "Loh, kita harus mulai mempersiapkan diri dong. Rumah ini akan memiliki seorang nyonya dan kami wajib menghormatinya." ujarnya keras kepala. "Pernikahan kami mungkin tidak akan berlangsung selamanya. Karena itu bertindaklah seperti biasanya. Lagian dia juga masih anak kecil yang masih belum mempedulikan masalah kehormatan yang kamu sebutkan tadi." balasku sambil menyandarkan punggungku di sandaran Sofa. "Tidak ada yang tahu masa depan Boss. Mungkin saja Boss Khilaf dan kami punya keponakan jadi.... Ampun boss Ampuuun!" teriaknya sambil berlari karena aku melempari bantal ke arahnya yang mulai bicara sembarangan itu. *** Sore harinya gadis itu terbangun dengan ekspresi yang suram. Dia mendekatiku yang sedang duduk di Sofa sambil memperhatikan gerak-geriknya. "Jadi akhirnya paman memutuskan untuk benar-benar membeliku?" tanyanya lirih. Tidak berani menatap mataku. Kedua tangannya terlihat gelisah. Dia bahkan tidak berani duduk di sofa yang sama denganku sekarang. "Duduk Manda!" perintahku berusaha untuk lembut. Karena versi Amanda yang ini sangat ketakutan pada suara keras atau hal-hal yang sedikit kasar. Dengan hati-hati dia duduk sangat jauh dariku. "Kamu tahu kalau ibumu ingin menjual kamu. Kenapa kamu tetap ingin pulang ke rumah." tanyaku penasaran. "Karena Wildan akan marah kalau aku tidak ada di rumah ketika dia menjemputku besok pagi." ucapannya membuatku pusing. "Wildan bahkan tidak mencintai kamu. Kenapa kamu begitu mempedulikannya?" tanyaku lagi. "Tentu saja karena dia pacarku." "Kalian sudah putus!" potongku cepat. "Tidak mungkin!" teriaknya lirih. "Wildan bilang dia akan menikahiku kelak." tambahnya lagi. Terlihat seperti anak SMP yang baru pernah pacaran. Aku diam cukup lama. Benar kata Adrian, ini tidak akan mudah. "Ayahmu menitipkan kamu ke Paman karena tidak mau kamu pacaran dengan Wildan. Katanya nilai kamu buruk semua sejak pacaran dengan Wildan karena kamu sibuk mengurusi tugas-tugasnya." "Aku tidak begi..." Amanda terlihat ragu, kemudian kembali menunduk. Setelahnya dia tidak melanjutkan bantahannya tadi. yang artinya dia tidak menyangkal ucapanku sedikitpun. "Rumah Paman memilliki aturan. Karena mulai sekarang kamu akan tinggal disini, itu artinya kamu harus mengikuti semua peraturan yang ada. Tidak boleh mendekati Wildan selama nilai kamu masih buruk. Ini adalah aturan pertama dan paling penting. Lalu aturan yang kedua dan selanjutnya akan kita bicarakan nanti. Jika kamu melanggar aturan Paman, kamu akan dijual ke tempat hiburan sesuai dengan keinginan ibu tiri kamu. Jika kamu dijual, maka kamu tidak akan bisa bertemu dengan Wildan seumur hidup kamu." ucapku cukup tegas. Amanda terlihat gugup, tapi dia tidak mengeluarkan bantahan sedikitpun. "Peraturan ini juga termasuk aturan kamu tidak boleh mengerjakan tugas Wildan lagi. Paman kenal dengan semua guru di sekolah kamu dan ada banyak anak murid disana yang mengenal Paman. Karena itu Paman akan langsung tahu jika kamu melanggar aturan ini Manda. Apakah kamu mengerti?" Gadis itu menangguk kecil dan terlihat murung. Tapi aku harus tegas masalah peraturan ini, takutnya dia yang terbangun ketika harus berangkat ke sekolah seperti tadi pagi. Tidak ada interaksi lagi setelah itu. Manda masuk ke kamar yang sudah lebih dulu aku singkirkan semua benda berbahaya di dalam sana sebelumnya. Dia sangat penurut sampai membuatku sedikit khawatir. Siangnya, Hanara mengirimkan anak buahnya untuk mengundangku ke kantornya. Aku pergi setelah memastikan Manda meminum obatnya dan tidur siang. Penjagaan di rumah aku perketat. Aku juga mulai mencari seorang asistem Rumah Tangga perempuan yang bisa dipercaya untuk menjaga Manda kelak. Sambil menatap gedung menjulang tinggi milik Hanara, aku mendesah. Amanda benar-benar merusak semua rencana balas dendam yang sudah aku buat sebelumnya. Pada akhirnya aku harus masuk ke Perusahaan milik Hanara lebih cepat dari yang aku rencanakan karena alasan yang tidak terduga. Dan yang lebih mengejutkan adalah aku akan menikah putri dari orang yang kemungkinan menjadi pembunuh ibuku. Sungguh jalan hidup yang tidak terduga sedikitpun. Aku melangkah masuk dengan berani dan Resepsionist langsung mengantarku ke ruangan di lantai tertinggi yang ditempati oleh Hanara. Ketika aku masuk, laki-laki itu sedang berkutat dengan pekerjaanya yang menumpuk. Dia cukup tenang untuk orang yang perusahaannya hampir bangkrut. Ini terllihat mencurigakan dimataku. "Duduk Bima!" ucapnya cukup ramah sambil memberikan isyarat pada sekertarisnya untuk menyajikan minuman untukku. "Saya memutuskan untuk menikahinya setelah dia selesai sekolah." ucapku memulai pembicaraan tanpa basa-basi. Laki-laki yang matanya mirip sekali dengan Amanda itu mengangguk-angguk santai. "Aku setuju dengan itu. Lagipula dia sebentar lagi akan lulus." balasnya. Tidak lama kemudian sekertarisnya datang menyajikan kopi dan beberapa cemilan untukku. Setelah kepergian wanita yang cukup seksi itu, aku beranjak dan mengunci pintu di ruangan itu. Hanara cukup terkejut apalagi melihat aku menyalakan alat kedap suara yang aku bawa dari rumah. Tapi laki-laki itu tidak bereaksi apapun padahal sikapku cukup kurang ajar mengingat dia adalah calon mertuaku. "Saya akan terus terang pada anda, saya tidak akan mengajak Amanda menginjakkan kakinya di rumah anda selama istri anda masih yang sekarang dan selama putri anda dengan wanita itu masih ada di rumah itu." ucapku semakin kurang ajar. Hanara benar-benar sangat pandai menyembunyikan ekspresinya. Penilaianku terhadapnya sepenuhnya berubah setelah berinteraksi secara langsung seperti sekarang. Hanara tidak sebodoh yang aku pikirkan. Itu artinya aku harus memikirkan ulang rencanakuyang ingin memanfaatkan Judy untuk menjerat Hanara. Sekarang, aku bahkan tidak yakin calon mertuaku ini benar-benar akan bangkrut atau tidak. "Aku juga akan terus terang saja Bima. Putriku sakit. Dia mengalami halusinasi yang membuatnya berpikir dia mengalami penyiksaan di rumah. Melihatmu yang sudah membawanya ke dokter Jiwa tadi pagi, sepertinya kamu sudah mengetahuinya. Selama ini aku berhasil mengendalikannya dengan bantuan seorang pskiater. Tapi belakangan ini dia berubah seperti bukan dirinya dan mulai melakukan pemberontakan. Dan aku beritahu saja padamu, dia bisa jadi sangaaat merepotkan jika tidak dikendalikan dengan baik. Kamu harus memiliki kontrol yang kuat terhadapnya jika kamu ingin mengendalikannya. Jadi bagaimana? Ingin melanjutkan?" Hanara mengucapkan semua itu seolah Amanda bukan putrinya sendiri. Tidak ada emosi sedikitpun yang tergambar di wajahnya. Tidak ada belas kasih sedikitpun dan bahkan empati sebagai sesama manusia saja tidak ada. Benarkah laki-laki yang sedang duduk di hadapanku sekarang benar-benar seorang manusia? Bagaimana caranya membesarkan Amanda selama ini sampai gadis itu menjadi seperti sekarang. Apa yang dia katakan tadi? Kontrol? Bagaimana dia bisa melakukan hal menyebalkan itu pada putrinya sendiri? "Jika apa yang dia alami di rumah memang halusinasi, lalu kenapa istri anda menyekapnya di gudang seharian tanpa diberi makan seperti kemarin?" aku tidak langsung menjawab pertanyaan Hanara karena aku ingin tahu lebih jauh tentang seberapa busuk laki-laki ini. "Kamu akan mengerti alasan kenapa dia di kurung setelah kamu hidup dengannya selama beberapa waktu." balas Hanara sambil tersenyum tipis yang meremehkan. Pikiranku berkecamuk hebat. "Apakah anda benar-benar seorang ayah?" pertanyaan itu muncul begitu saja di bibirku tanpa aku rencanakan. Karena selama ini aku selalu melihat ayah yang baik untuk anak-anaknya seperti Adrian dan teman-temanku yang lain. Tapi yang dihadapanku sekarang lebih terlihat seperti ibllis dibanding seorang ayah. "Kamu akan memahami semua sikap kami setelah kamu hidup dengan Amanda, Bima. Jadi bagaimana? kamu akan maju atau mundur setelah mengetahui seberapa beban anak itu?" "Beban? Anda menyebut putri anda sendiri sebagai beban? Bahkan seekor hewan sekalipun masih menyayangi anak-anaknya. Apakah anda benar-benar manusia?" Suaraku rendah syarat akan kemarahan ketika mengatakan kalimat ini. Tapi Hanara masih tidak memiliki ekspresi. "Dia jadi seperti ini gara-gara anda yang tidak becus membesarkannya!" Aku setengah berteriak saking marahnya. "Anda tidak berhak menyebutnya beban karena justru andalah beban yang sebenarnya. Beban berat yang membuat Amanda jadi seperti itu." "Melihat dari reaksimu, sepertinya kamu tetap akan menikahinya jadi..." "Tentu saja! Saya akan menikahinya dan menyelamatkannya dari keluarganya yang b******k sialan seperti anda!" potongku cepat dengan kemarahan yang memuncak. "b******k sialan!" tambahku lagi. "Karena Amanda adalah putriku, aku juga akan akan terus terang masalah warisan karena sepertinya..." "Dia tidak butuh uang anda. Saya lebih kaya dari anda." potongku cepat kemudian beranjak dari tempat dudukku. Mematikan alat kedap suara yang aku bawa dan bersiap-siap untuk pergi dari sana. Amarahku memuncak, jika pembicaraan ini dilanjutkan aku akan memukuli calon mertua sialanku yang seperti iblis ini. "Kalau begitu, atur sendiri pernikahannya. Panggil aku datang ketika akad saja. Selain itu aku setuju dengan ucapanmu tadi. Tidak perlu membawanya kembali pulang ke rumah. Dia sekarang milikmu dan tidak ada hubungannya lagi dengan Hanara." "Iblis sialan!" umpatku kesal kemudian keluar dari ruangan itu sambil membanting pintunya keras-keras. Sepanjang perjalanan kembali ke rumah aku terus memikirkan pembicaraanku dengan ayah Amanda dan membuat amarahku semakin meletup hebat. Dadaku rasanya sesak sekali. Perasaan baru yang sebelumnya belum pernah aku rasakan. Seperti ada rasa sakit yang memukuli dadaku dengan keras. Tenggorokkanku juga rasanya tersumbat dengan hebat sampai napasku tercekat. Kepalaku dipenuhi oleh senyuman jahil Amanda ketika dia sedang berada di Versi cerianya. Gadis nakal pemberani yang tidak memiliki siapapun di sisinya. Keluarga yang seharusnya menjaganya dengan baik, justru bersikap seperti iblis. Teman-teman dan guru di sekolahnya juga seperti iblis. Lihat saja nanti, setelah dia lulus aku akan memberikan pelajaran pada teman-temannya dan sekolah sialan itu. "Om dari mana?" suara ceria itu menyambutku dengan gembira. Senyumnya lebar memperlihatkan gigi-giginya yang putih dan rapih. Aku sungguh ingin memeluk gadis ini, tapi jika aku melakukannya takutnya dia akan terkejut dan berpikir aku m***m. Tapi senyum sumringahnya benar-benar terlihat berbeda setelah aku mengetahui seberapa gelap kehidupannya. "Apakah Amanda bersikap baik selama om tidak ada?" aku balik bertanya. "Tentu saja! Aku bahkan membuatkan om Pan Cake untuk kita makan sore ini. Dan teh yang wangi dan enak!" ucapnya antusias. Aku tersenyum kemudian tanpa sadar tanganku sampai di puncak kepalanya. "Good Girl!" bisikku nyaris tidak terdengar karena suaraku seperti tercekat. Senym di bibirnya kembali merekah. Tangannya kemudian menarikku masuk ke dalam dan di meja makan benar-benar ada Pan Cake yang dia hias dengan indah menggunakan buah. Kenapa hidup bisa sejahat ini pada gadis kecil yang kakinya bahkan belum kuat untuk melawan dunia? Sungguh tidak adil!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD