7. Benar-benar tidak Romantis (Amanda)

2520 Words
Aku tidak ingat apapun sejak aku pingsan di kediaman pemeran utama yang aku datangi ketika melarikan diri. Tiba-tiba saja saat aku bangun, aku sudah ada di dalam mobil om Bima yang terparkir di halaman rumahku. Tentu saja aku merasa sangat kecewa dengan keputusan yang om Bima ambil dan merasa sangat putus asa karena jika aku kembali ke rumah ini maka aku tidak akan bisa melarikan diri lagi. Ibu tiriku pasti akan memperketat penjagaanku dan semakin menyiksaku. Dan entah kenapa perasaan Amanda seperti bercampur dengan perasaanku ketika aku sedang marah. Ketakutan di dalam diriku menggila sampai aku tidak merasakan sakit saat pisau yang aku ambil di pos satpam mengiris pergelangan tanganku. Aku sudah benar-benar bertekad akan mengakhiri hidupku. Entah ini perasaanku atau perasaan Amanda, tapi keinginan itu sangat kuat di dalam diriku sampai om Bima mengatakan hal yang membuat semua orang tercengang. Ayah terllihat tidak senang dan seorang pengganggu yang tiba-tiba datang bersama pengganggu lain juga tidak senang. Tapi hatiku bersorak gembira. Semua perasaan asing yang sepertinya milik Amanda, seperti langsung sirna. Jika keadaanya tidak sedang tegang, mungkin saja aku sudah bersorak dengan gembira karena pemutus jalanku menjadi tokoh antagonis, baru saja melakukan tugasnya dengan baik. "Sebenarnya saya dan Amanda sudah dekat cukup lama. Dia melarikan diri karena tidak ingin dijual oleh ayah dan ibu tirinya pada laki-laki hidung belang. Sebelumnya dia sudah pernah mencoba berpacaran dengan seseorang yang dia pikir bisa membantunya, tapi ternyata laki-laki itu sangat pengecut dan tidak bisa membantunya. Itulah kenapa dia memutuskan mencari saya ketika melarikan diri semalam. Perutnya lapar karena istri anda tidak memberinya makan seharian selama dia di kurung di gudang. Dia sempat pingsan juga dan kata dokter kondisi lambungnya cukup parah karena sepertinya keluarga ini tidak memberinya makan dengan baik. Melihat dari cara kalian memperlakukannya, sepertinya kalian tidak menginginkannya bukan? Kalau begitu, bagaimana kalau Amanda menikah dengan saya? Winwin solution bukan? Saya mendapatkan orang yang saya cintai dan kalian tidak perlu lagi melihat gadis yang kalian anggap pembawa sial ini?" Kalimat paling panjang yang pernah aku dengar dari om Bima. Sebuah lamaran yang sangat tidak romantis. Tidak ada rasa hormat sedikitpun yang ingin dia sampaikan pada keluargaku. Justru om Bima terdengar seperti sedang mengolok-olok keluargaku. Tapi aku suka. Aku suka kalimat lamaran yang terasa sangat asal ini. Mulai sekarang aku adalah penggemar nomor satu om Bima. Jika aku bisa kembali ke kehidupan asliku, aku akan menceritakan seberapa keren laki-laki ini pada sahabatku sampai dia muak. Bahkan kalimat Romantis yang pernah Adrian ucapkan pada Lisa dalam pernikahan mereka tidak bisa mengalahkan seberapa keren kalimat om Bima tadi. Ekspresi semua orang benar-benar terlihat sangat menarik sekarang. Wajah ayah pias, wajah kakaku pucat dan ibu tiriku terlihat kebingungan. Jika disini ada kakak tiriku, dia pasti akan langsung iri karena dia pemuja laki-laki tampan. Aku yakin om Bima adalah seleranya dan dia akan sangat marah melihat laki-laki yang merupakan seleranya datang melamarku dengan berani. "Apa yang kamu bicarakan? dan siapa kamu?" ibu tiriku akhirnya mengeluarkan suaranya. Dia pasti merasa terganggu karena ada yang menginginkanku. "Ah, sebelumnya perkenalkan, saya adalah Bima atau mungkin semua orang lebih mengenallku sebagai Big Boss." jawab Bima sambil tersenyum manis. Dia kemudian mendekatiku perlahan, merebut pisau di tanganku dan melemparnya semabarangan. Dia juga membalut lukaku dengan sapu tangan mahal yang dia keluarkan dari saku jaketnya. Manis sekali om mafia ini bukan? "Aku akan membuangmu ke tengah laut kalau kamu berani melukai dirimu sendiri lagi." bisiknya penuh ancaman tapi wajahnya tetap tersenyum. Aku tertawa kecil kemudian mengangguk saja dan mengekor dibelakangnya. Wildan pucat pasi dan terlihat berjalan cepat hendak menghampiriku tapi om Bima langsung menarikku ke belakang tubuhnya dengan sigap. "Jangan menyentuh milikku! Aku paling benci millikku di sentuh orang lain." ancam om Bima galak. Setelah itu dia mengabaikan Wildan dan berjalan mendekat ke arah ayah dan kakakku yang masih belum mengeluarkan suara sedikitpun. Aku yakin sekali akan ada perdebatan panjang. Apalagi kalimat lamaran om Bima tadi sangat tidak sopan dan ayahku paling benci orang yang tidak sopan. Aku sudah siap mendengarkan pertengkaran hebat yang terjadi, tapi apa yang dikatakan ayahku selanjutnya bukan hanya mengejutkanku. Tapi Om Bima juga sangat terkejut. "Baiklah, kalau begitu atur tanggal pernikahannya!" ucap ayahku dengan tenang. Tidak ada amarah disana. Dia juga tidak menatapku sedikitpun. Ini adalah jawaban yang aku inginkan, tapi entah kenapa air mataku keluar sendiri. Rasanya sedih sekali karena dibuang. Ayah mana yang akan memberikan anak gadisnya semudah ini pada laki-laki tidak sopan yang mencurigakan seperti om Bima? Tanpa sadar aku meremah tangan om Bima dengan keras menyalurkan perasaan kecewaku yang menggila. "Om, laki-laki tidak jelas ini mungkin saja hanya mengaku-ngaku sebagai Big Boss! Kenapa anda semudah ini menyetujui pernikahan Amanda padahal dia masih sekolah?" Wildan terlihat tidak terima. "Dia ingin menikah sampai melarikan diri dari rumah dan membuat kehebohan satu rumah. Saya tidak memiliki alasan untuk menahannya di rumah dimana dia tidak lagi ingin tinggal sampai hampir memilih untuk mati daripada kembali ke rumah ini." balas Ayah tanpa ekspresi apapun. Seolah melepasku adalah hal yang selama ini sangat dia tunggu kesempatannya. Kakaku juga diam saja dan terlihat tidak peduli. "Mas, kita memiliki janji pada..." "Apakah kamu bisa menjamin anak nakal ini tidak akan melarikan diri lagi jika kita nikahkan dengan orang lain huh? Sudahlah! Sudah bagus ada yang mau menampungnya. Masalah kerja sama bisnis dengan Tono, aku akan mengurusnya." balas Ayah memotong ucapan ibu tiriku. "Bawa dia pergi dari sini, besok kita bicarakan masalah pernikahan di kantorku. Kamu bisa datang kan?" tanya Ayah pada om Bima. "Mas!" ibu tiriku setengah berteriak. Tapi ekspresi om Bima berubah. Tidak sekurang ajar tadi. "Terimakasih banyak ayah mertua. Kalau begitu saya akan membawa calon istri saya pergi dari sini." balasan om Bima membuat ibu tiriku melotot. "Jangan coba-coba membawa putriku!" teriak wanita itu lantang sambil hampir menerjangku tapi om Bima lebih dulu menghindar. "Ratna!" Ayahku membentak dengan keras sambil melotot marah. "Mas, kita tidak bisa setuju dengan pernikahan Amanda semudah ini. Apalagi laki-laki ini juga tidak jelas dan tidak sopan. Bagaimana kamu bisa menyerahkan putrimu sendiri pada laki-laki tidak jelas ini?" ibu tiriku tetap tidak terima. Aku pikir om Bima akan menyahut dengan gaya arogannya yang keren, tapi ternyata dia memilih diam saja dan bergeser ke samping__sedikit menjauh sambil menggenggam tanganku erat. "Lalu apa bedanya dengan Tono? Bukankah dia juga laki-laki tidak jelas juga. Kamu bilang intinya kamu tidak ingin melihat Amanda terus bertengkar dengan Lina bukan? Ini solusi yang baik! Ini dia solusi yang tidak membuat pusing. Aku juga tidak perlu repot-repot menyenangkan Tono apalagi bekerja sama dengannya. Sudah aku katakan dia terlihat menyebalkan dengan syaratnya yang banyak ini. Laki-laki ini datang ke rumah tanpa memberi syarat apapun dan ingin menikahi putriku! Bukankah ini solusi yang lebih baik?" jawaban Ayah benar-benar menyakiti perasaanku. Tapi aku akan menahan perasaan Amanda ini demi bisa bebas dari rumah sialan ini. "Tapi mas," "Sudahlah Ratna, kamu tidak perlu ikut campur masalah Amanda. Bukannya bagus kalau dia pergi dari rumah ini." ucap ayah sambil memberi isyarat agar om Bima membawaku pergi. Tapi ibu tiriku langsung mencekal tanganku ketika aku mulai melangkah pergi. "Tidak bisa! kamu tidak boleh pergi begitu saja. Pernikahanmu sudah kami atur sebelumnya dan tidak bisa dirubah!" "Ratna!" suara Ayah melengking. "Apa yang sebenarnya kamu inginkan huh? sudah ku katakan aku benci orang yang merencanakan sesuatu di belakangku diam-diam. Apa yang kamu rencanakan sampai kamu tidak membiarkan Amanda pergi huh?" suara Ayah berubah rendah dan terkesan penuh ancaman. Mendengar itu ibu tiriku akhirnya melepaskan cekalan tangannya dan menghentikkan om Bima yang hendak menyerang cekalan di tanganku tadi. Sementara Ayah dan ibu tiriku melanjutkan pertengkaran, Om Bima menarik tanganku dengan lembut kembali ke mobilnya. Tapi tanganku kembali di cekal, kali ini oleh Wildan. Wajahnya pucat. "Amanda, kenapa kamu seperti ini? Bukankah kita sudah sepakat untuk pelan-pelan mencari cara? Aku sayang sama kamu Amanda. Kenapa kamu...." "Sayang?" tanyaku sambil berbalik menatapnya. Dengan tatapan penuh amarah membayangkan rasa sakit yang ditanggung Amanda di sekolah karena laki-laki yang mengaku pacarnya ini tidak membelanya. "Apakah membiarkan semua rumor buruk beredar di sekolah dan membuatku menjadi bahan olok-olok semua orang adalah cara kamu menyayangiku Wildan?" aku yakin sekali ekspresiku sangat dingin sekarang. "Bukan begitu, Aku..." "Diam kamu b******k! Terus saja jilat kaki tuan putrimu itu sampai kamu puas. Aku tidak butuh laki-laki pengecut sepertimu. Membusuk saja di neraka sana dan jangan kembali! Dasar iblis sialan!" potongku kesal kemudian masuk ke dalam mobil om Bima dan membanting pintunya. Entah kenapa aku merasa om Bima sedang menatapku dengan bangga ketika dia masuk ke dalam mobil juga. Tapi aku terlalu jengkel untuk memperhatikannya. *** "Jadi, kamu tidak ingat apapun yang terjadi semalam Amanda?" om Bima bertanya setelah hampir tiga puluh menit kami saling diam dengan pikiran masing-masing. "Tidak om." jawabnya sambil mendesah. "Oke, mari kita bahas itu nanti. Kita bahas dulu soal pernikahan. Karena sudah terlanjur basah seperti ini, kita tidak bisa melarikan diri lagi dan harus menikah. Tapi kita berdua sama-sama tahu kalau aku tidak menyukaimu dan kamu juga tidak mungkin mencintaiku semudah itu bukan? Jadi pernikahan ini akan jadi pernikahan kontrak. Aku akan melindungimu sampai kamu bisa hidup mandiri dengan syarat kamu bersedia menjadi tawananku dalam balas dendam yang sedang aku lakukan pada ayahmu. Syarat dan ketentuannya akan kita bahas bersama nanti. Tapi satu hal yang HARUS kamu patuhi adalah tidak membantahku apapun yang aku katakan." ucap om Bima sambil menekankan kata harus. "Baik om Bima, itu mudah. Kebetulan aku adalah anak yang penurut." balasku sambil tersenyum manis. Om Bima terlihat muak. "Penurut dari hongkong? Mana ada anak penurut yang kabur dari rumah dan mencari laki-laki asing." cibirnya menyebalkan. Tapi aku hanya tertawa ringan saja dan memilih untuk tidak berdebat karena rasa perih di pergelangan tanganku mulai terasa. Dan tiba-tiba saja om Bima berhenti di sebuah Klinik untuk mengobatiku sebelum melanjutkan perjalanan kami kembali ke rumah. Aku cukup lega dengan keadaan yang sesuai dengan harapanku. "Tapi om, apakah kita akan langsung menikah dalam waktu dekat?" tanyaku penasaran. "Kamu sekolah dulu anak kecil! Lulus sekolah baru kita bicarakan pernikahan." balasnya tanpa menoleh. Aku sedikit kecewa karena aku sudah tidak ingin kembali ke sekolah yang seperti neraka itu. "Bolehkah aku mengambil paket saja om?" "Tinggal beberapa bulan lagi sekolah kamu Amanda!" "Baiklah kalau begitu. Aku akan menahannya." cicitku pelan. "Sekolah kamu tidak akan seburuk sebelumnya besok. Percaya padaku." balasnya tidak terlalu aku mengerti. Tapi keesokkan harinya ketika aku datang ke sekolah, guru-guru yang sebelumnya selalu cemberut melihatku terlihat tersenyum ramah. Tiga gadis yang selalu menindasku dengan berbagai macam cara, tidak lagi berani mendekatiku. Suasana di kelas juga berubah tidak seperti biasanya. Seolah semua orang sedang terkena sihir yang melarangnya untuk menggangguku. Apakah ini ulah om Bima? Sejujurnya pertanyaan ini tidak diperlukan karena jawabannya sudah jelas. Om mafiaku yang keren itu pasti melakukan sesuatu pada semua orang di sekolah untuk menjagaku bukan? Aku rasa aku mulai terlarut dalam karakter Amanda yang aku rasuki ini. Ternyata menjalani kehidupan seperti tokoh Novel menarik juga. "Apakah kamu serius akan menikah dengan laki-laki itu Amanda?" sayangnya ada satu orang yang kelihatannya tidak suka dengan hidupku yang damai hari ini. "Lalu aku harus menikahmu gitu? Dengar Wildan! Saat aku memilihmu menjadi kekasih, mataku pasti sedang buta. Jujur saja kamu terlalu kerempeng dan bukan tipeku." balasku sambil tersenyum manis seolah aku tidak baru saja melontarkan kalimat penuh penghinaan. Wajah Wildan terlihat tidak senang. "Kamu berubah Amanda! Padahal dulu kamu sangat manis." "Bagaimana rasanya di hina fisiknya? saking tidak sukanya kamu sampai mencari alasan lain untuk menyalahkanku bukan? Aku menanggung semua penghinaan itu selama hampir tiga tahun sekolah disini Wildan! Dan aku yakin telingamu tidak mungkin tuli jadi kamu seharusnya juga mendengar semua penghinaan yang aku terima. Lalu, apa yang sudah kamu lakukan untuk melindungi pacarmu ini huh? Tidak ada kan? Itu artinya sebagai seorang pacar kamu tidak berguna dan semua hal tidak berguna seharusnya berada di tempat sampah. Itulah alasan kenapa aku membuang kamu dan memilih laki-laki yang akan lebih berguna untukku. Setidaknya dia bisa melindungiku dari orang-orang yang merundungku." ucapku panjang lebar, kemudian menghempat tangannya yang mencekal tanganku dan masuk ke dalam mobil jembutan kiriman om Bima. Wildan diam saja dan tidak mengatakan apapun lagi sampai mobil yang aku naiki menjauh. Tapi wajahnya terlihat frustasi. "Dasar laki-laki tidak berguna!" Aku bergumam sendiri. Sejujurnya aku masih tidak mengerti kenapa Wildan sampai sebegitunya mempertahankanku. Entah kenapa firasatku buruk. Aku merasa dia memiliki maksud tersembunyi. Dan jika Amanda asli mengetahuinya dia pasti akan sangat sedih. Karena sejujurnya aku bisa merasakan perasaan Amanda setiap kali berada di hadapan Wildan. Aku tahu dia mencintainya karena jantungnya terasa berdebat setiap kali berhadapan dengan si b******k itu. Sesampainya di rumah, hanya ada penjaga seperti biasa karena Om Bima sedang di kantor. Aku berganti baju kemudian menyalakan televisi hingga ketiduran. Ketika bangun aku mencium bau masakan yang sangat lezat. "Bangun tukang tidur! Hari ini kita makan malam seadanya." ucap om Bima dari arah dapur. Tapi makanan yang laki-laki itu sebutkan seadanya tadi adalah Steak dengan daging terbaik. Standar orang kaya memang berbeda dengan rakyat jelata sepertiku. "Hmm ini enak Om. Dulu waktu kecil aku juga sering dibuatkan Steak oleh Amih." ucapku bersemangat. "Siapa Amih?" tanya om Bima penasaran. Aku diam selama beberapa saat karena aku juga tidak tahu siapa nama orang yang aku sebutkan barusan. Kenapa nama itu bisa keluar dari mulutku tanpa sadar. "Nggak tahu?" jjawabku dengan ekspresi yang pastinya terlihat aneh. "Kamu nggak jelas deh!" cibirnya sambil merengut. Aku terkekeh kemudian mengangkat kedua bahuku dengan gestur meledek lalu melanjutkan makan malam fancy yang keren ini. Makan malam mewah yang om-om kaya itu sebut sebagai makan malam seadanya. "Apakah om sudah bertemu Ayah?" tanyaku memecah keheningan. "Belum! Kamu mau menemuinya juga untuk bicara?" tawarnya yang langsung aku balas dengan gelengan. "Aku nggak akrab. Males juga ngomong sama si jahat yang udah buang aku kaya nggak berguna itu." balasku sambil mendengus kecil. Aku lihat ada senyum aneh di bibir om Bima, tapi dia tidak mengatakan apapun dan memilih untuk duduk dengan tenang dan menemani aku makan. Selesai makan aku yang mencuci piring kemudian om Bima masuk ke dalam ruang kerjanya dan tenggalam dengan tumpukan pekerjaan disana. Sementara aku memilih masuk kamar kemudian terlelap dalam tidur. Rasanya sangat lega sampai aku merasa tidurku sangat nyenyak. Tapi sejujurnya ada yang aneh dengan tidurku belakangan ini. Karena aku selalu memimpikan banyak hal aneh. Hal yang terasa tidak masuk akal dan kadang mengerikan dimana didalamnya aku selalu menjadi pemeran utamanya. Tapi mengingat seberapa buruk kehidupanku selama ini, maksudnya kehidupan Amanda Hanara, akan sangat wajar jika aku mengalami banyak mimpi buruk. Menjadi Amanda di kehidupan ini sangat melelahkan. Aku mengakui itu. Sejujurnya meskipun di kehidupan sebelumnya aku kekurangan uang, tapi aku masih bisa hidup dengan tentram. Sejak jadi Amanda Hanara, aku menyadari bahwa tidak semua kehidupan orang kaya itu sempurna. Tapi jika ditanya apakah aku suka uang atau tidak, jawabannya tetap suka. Untungnya uang sangat akrab dengan om Bima, jadi menikah dengannya adalah pilihan yang sempurna meskipun kami mengawalinya tidak dengan cinta. Melihat dari kesehariannya dan gaya hidup om Bima, aku jelas bukan tipe wanitanya. Tapi di dunia ini tidak ada yang bisa bertahan selamanya, termasuk perasaan. Orang yang saling cinta saja bisa tiba-tiba saling membenci dalam sekejap. Karena itu bukan tidak mungkin untuk membalikkan perasaan om Bima yang tidak tertarik menjadi sangat tertarik. Lagipula Amanda Hanara itu cantik seperti model, menggoda om Bima bukan hal yag sulit. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD