Sebuah kamar. Ya, Richard berakhir di sebuah kamar lagi, dengan adegan yang sama lagi. Bahkan kali lebih… gila. Ia lebih rusuh dari seorang presiden yang ingin menyelamatkan keselamatan negaranya. Ini lebih emergency karena hal ini menyangkut burung gagah kebanggaannya. Richard musti sekali untuk memenuhi kebutuhan terdesak dari penisnya yang serasa akan meledak.
Ia meribut melucuti seluruh pakaiannya yang menempel di tubuhnya, bahkan saat pintu kamar hotel nomor 112 itu belum benar-benar tertutup rapat.
“Ka-kau, bisakah kau lebih pelan? Kita memiliki malam yang cukup panjang.”
Tidak. Sayangnya Richard tak bisa mengindahkan keinginan dari wanitanya, yang cukup kelabakan dengan gerakan cepat yang dilakukan Richard pada tubuhnya. Bahkan malangnya, semua kancing yang sudah bekerja sangat keras itu menutupi bagian paling menonjol dari tubuh Sera kini terlepas dari kemejanya.
Tanpa banyak berkata, Richard menelanjangi tubuh wanita yang lumayan montok itu.
Padahal pelan bisa, malam ini tak akan kurang dari biasanya, ia pun tak akan bergegas pulang, pikir Sera. Namun apa daya pria yang bersamanya sedang kebelet.
Dan, tepat ketika ia mendapati dua d**a yang bergelantungan bebas…, Happ. Langsung ia lahap. Tangannya tak bisa diam wakau hanya satu detik saja. Dari meremas satu p******a yang membuatnya sangat bernafsu, hingga menggosok bagian kemaluan Sera di antara selangakangannya.
Richard langsung melakukan apa yang diidamkannya sedari ia masih bersama dengan Sera di kafe. Setiap inci tubuh Sera ia gerayangi. Richard membuat paternya malam ini terus mengelinjang tanpa henti.
“Ouh, jangan kau… gigitt.”
Sayang, lagi-lagi seruan Sera tak mau didengar oleh Richard yang kalang kabut oleh nafsunya.
Dan seolah tak cukup hanya mencicip payudaranya, tubuh Richard turun kini menuju ke pusat tubuh Sera.
“Ahh…”
Desah Sera lantang, kala ia mendapat jilatan pertama, kedua, dan sebuah kuluman dari Richard di area paling sensitifnya. Tubuhnya terhentak berulang kali. Kaki-kakinya mengangkang. Sensasi yang didapatkannya seolah bisa membawanya terbang. Luar biasa merangsang Sera. Ia memejamkan matanya, menggigit bibir bawahnya, kepalanya terlengak, karena sebuah daging lincah bernama lidah kini seperti sedang berusaha mendesak untuk melesak masuk ke dalam lubangnya.
Basah sudah. Awal yang tak pasang kendur pikirnya. Ini akan jadi malam yang liar.
Desah, disis, semakin keras berkumandang. Sera kelimpungan dengan apa yang dilakukan si pemilik p***s yang sudah amat menegang di bawah sana.
“Richard,” panggilnya, dengan diselingi desah.
Dan yang dipanggil lantas mendongak, tanpa menghentikan aktifitas liar bibir dan lidah lincahnya.
“Bukankah ini sudah saatnya?” tanya Sera.
Senyum nakal langsung tersugging di wajah Richard, ia cukup mengerti kalau Sera sudah inginkan intinya, bergumul dan bercinta bersamanya.
***
Dua tubuh itu masih bergerak dengan gerakan yang sama dan seirama. Sudah berulang kali keduanya membalikan posisi, Sera di atas dan Richard di bawah, lalu berganti dan kembali. Richard memasang lebar senyumnya kala ia mendapati wanitanya meloloskan suara yang mewakili rasa nikmatnya.
Mungkin dia yang kubutuhkan, Dokter.
Perasaan seperti menemukan sosok yang ia cari, itulah yang memenuhi perasaan Richard malam ini. Ia mendapati wanita yang tak hanya bisa memberikan kepuasan seksual. Bukan hanya bermodal tampang yang menarik, cukup untuk membuatnya beberapa kali memekik, kala penisnya berhasil terpuaskan hangatnya dinding rahim wanitanya. Tapi, lebih dari itu. Sera adalah wanita yang cerdas. Ia tak akan terlalu bergantung kepadanya dan membuat hari-harinya terganggu oleh rengekan, pikir Richard. Ia tak suka kala wanitanya terlalu rewel, itu bisa menimbulkan perasaan terkekang dan menyesakan.
Sera… Richard rasa dia lah yang wanita yang dibutuhkannya.
“Kenapa kau terus tersenyum? Apa wajahku lucu saat sedang seperti ini?”
Richard menggelengkan kepalanya, dilanjutkan dengan sebuah belai pada wajah polos Sera tanpa kaca mata yang selama ini selalu menghalangi pesonanya. “Kau sangat cantik. Kenapa aku tidak menyadarinya?”
Sera setengah terkehkeh. Ini bukan momen yang pas untuk ia menertawakan ucapan manis patner sexnya, yang adalah bosnya sendiri. Namun mendengar pujian itu, Sera sungguh tergelitik karenanya.
Namun, Sera tetap lah seorang wanita yang tak bisa, kalau tak terbuai dengan pujian pria rupawan yang sangat sexy, terlebih ia kini menampakan tubuh polosnya, yang bagai pahatan patung Dewa Yunani.
Jantungnya berhasil ia buat bergedup lebih kencang, pipinya memanas sampai menampakan rona merah di wajahnya. Meski begitu, ia berusaha tetap tenang, tak sampai menunjukkan betapa tersanjungnya ia degan rayuan buaya, seperti seorang Richard Lee.
Sera berdehem sebelum menyahuti ucapan Richard. “Semua wanita itu cantik. Tidak ada yang tidak. Kau saja yang selalu melirik wanita-wanita yang menjajakan kesan.. ehm, apa namanya- akh!”
Sial. Sera sampai menggigit bibir bawahnya, itu kejutan baginya. Batang itu dilesakan pemiliknya terlalu dalam, sampai menyentuh area yang kerap disebut g-spot miliknya. “Kau-“ Sera memekik, suaranya terdengar tertahankan.
Sera mengenjang berulang kali. Tubuhnya menegang, bahkan kedua kaki jenjangnya melingkar pada pinggang ramping dihiasi otot-otot yang kokoh milik si prianya.
Inginnya untuk mengumpat kepada Richard, namun untuk membuka matanya saja ia agak kesulitan. Matanya benar-benar memejam, rapat, berkat sensasi gila yang membuat kupu-kupu di perutnya riuh berterbangan. Tubuhnya melemas bertepatan dengan pelepasan yang membuat bajir sampai keluar bibir vaginanya. “Ahh…” Sera menutupnya dengan sebuah hempas panjang napasnya.
“Curang. Bagaimana kau keluar lebih dulu? Aku masih belum.”
Sera menatap galak Richard tanpa berkomentar. Memang karena siapa ia bisa keluar kalau bukan karena ulahnya, batin Sera. Wajahnya agak mengerut selagi ia mengatur napasnya. Dadanya mulai mengembang dan mengempis dengan ritme yang lebih tenang, tak lagi memburu seperti beberapa detik lalu.
Richard nampaknya tak memiliki rasa bersalah untuk apa yang telah diperbuatnya. Hingga senyum yang tak berdosa kini mengembang, menunjukkan perasaan puasnya. “Sungguh, ini tak lucu Richard. Milikmu terlalu garang, sepertimu, yang selau melakukan serangan tiba-tiba saat di persidangan.”
Richard tergelak sebelum ia membaringkan diri di antara dua p******a yang menjadi bantalan ternyaman baginya malam ini. “Dan kau terlalu membuatku senang malam ini. Izinkan aku untuk terus seperti ini sampai pagi nanti,” balasnya.
Sera tersenyum. “Baiklah. Lakukan sesukamu.”
***
“Jadi kau terus berada dalam pelukan, dan berbaring di p******a Sera sepanjang malam?”
Yang mendapat tanya cepat membalas dengan sebuah anggukan pasti. Ia tersenyum, tergambar jelas kegembiraan di wajahnya yang merekah bagai bunga-bunga di musim semi.
“Kau tahu, beberapa wanita kadang mencakar punggungku, namun Sera tidak. Ia lebih memilih untuk meremas seprai, atau melampiaskan sensasi gila saat kami bercinta dengan menggigiti bibir bawahnya. Kau tahu karena apa? Karena dia tak mau menyakitiku.” Senyum Richard yang ditampilkannya pada Dokter Alice seolah ingin memamerkan betapa hebatnya wanita barunya ini. “Bukankah dia wanita yang sangat manis?”
Dokter Alice membalas dengan memberikan sebuah senyum kepadanya. Ia tentu harus turut senang dengan penemuan Richard akan wanita yang kedengarannya memang jauh lebih baik dari sebelumnya. Walau memang masih ada yang mengganjal baginya.
“Jadi kau menyukai personalitinya?”
Richard kembali mengangguk. “Aku sudah mengenalnya 3 tahun semenjak ia bergabung dengan firma hukumku. Ia memiliki integritas. Sosok wanita cerdas dan cukup tangguh. Sangat bertanggung jawab, cukup keras kepala, idealismenya tinggi, ehm, tapi dari semua itu rupanya ia memiliki sisi yang baru kutahu belum lama ini.” Sungguh penjelasan yang sempurna. Rentetan kepribadian kekasihnya, Richard jentre kan seperti sedang melakukan kampanye untuk mempromosikan seorang pemimpin daerah saja. LOL.
“Dan bagian terpentingnya….” Dokter Alice menunggu kalimat yang bagai encore dari penjelasan yang Richard jeda dengan wajah penasaran. “dia adalah PR sudah aku selesaikan darimu.” Tutup Richard. Tangannya bersikap terlipat di d**a, terlihat sangat bangga atas tugas yang diberikan sang dokter kepadanya telah ia tuntaskan.
“Jadi dia adalah sosok yang bisa mengobrol banyak hal denganmu? Selama berjam-jam?” Dokter Alice meminta konfirmasi, karena jujur saja ia merasakan ada sesuatu yang ‘kurang tepat’ dengan pekerjaan rumah si pasiennya itu.
“Ehm, yeah. Selama ini hanya dia yang bisa menghabiskan waktu untuk mengobrol denganku paling lama. Ia benar-benar orang yang sulit mengalah, sangat-sangat keras kepala, tak mudah berkompromi jadi aku harus berdebat sampai memakan hampir seluruh waktuku,” tuturnya. “Ckckck, aku saja masih tak menyangka akan bisa berakhir memiliki malam panas dengannya.”
Dan benar saja, ada yang harus diluruskannya kepada Richard. Karena pembicaraan panjang yang dimilikinya dengan si wanitanya tentunya bukan sebuah perdebatan, bukan sebuah masalah pekerjaan, pembahasannya bukan tentang hukum, persidangan dan klien mereka. Melainkan mereka secara personal.
Dokter Alice menghela napasnya, sebelum mengajukan tanya berikutnya. “Bagaimana dengan obrolan pribadi? Apa dia orang yag menyenangkan? Sebanyak apa sisi kalian yang sama secara kepriadian? Maksudku seberapa cocok kalian dalam hal yang kalian favoritkan?”
Richard terdiam, alis tebalnya mengkerut, ia tengah mencari jawab atas tanya beruntut itu. “Sepertinya aku harus mulai bertanya kepadanya?” balasnya.
“Coba tanyakan bagaimana kesehariannya di luar jam kantor? Bagaimana ia dibesarkan? Dan ceritakan pula tentang bagaimana dirimu.”
Richard mengangguk-angguk, tanda dirinya menyetujui atas saran dari Dokter Alice.
“Tapi sejauh ini, sepertinya memang Sera adalah wanita yang ceritanya membuatmu kepada sebuah perkembangan,” ungkap Dokter Alice dengan senyum lebarnya. Ia tentu harus merasa sangat senang dengan progres yang dilakukan oleh Richard.
“Berkat dirimu tentunya,” balas Richard. “Terimakasih banyak,” tedengar sangat tulus ia berterimakasih. Walau sebenarnya terlalu dini untuk menyimpulkan hubungannya yang kali ini akan berlangsung lebih lama dari yang sebelum-sebelumnya.
Terlebih kalau dari profiling singkat yang dilakukan oleh Dokter Alice tentang Sera dari cerita Richard, dia adalah perempuan cerdas dan sangat independent. Biasanya mereka akan sangat keras kepala, memiliki ego yang tinggi, sulit untuk mau meluluh dan mengalah kala perdebatan hubungan menghadang. Dan mengingat bagaimana sikap Richard yang juga memiliki kepala yang sama kerasnya, ia akan kesulitan dengan wanita seperti Sera.
Kita lihat perkembangannya, tutup Dokter Alice, untuk semua keriuhan yang ada di kepalanya tentang beberapa kemungkinan tentang Richard.
Richard mengakhiri sesinya dengan sebuah senyuman kali ini. Ia bahkan berkata akan langsung menemui kekasih barunya untuk sebuah makan siang bersama. Richard mendapat musim semi di dinginnya bulan Desember. Ia tampak berbunga-bunga melangkah keluar dari klinik psikiatri yang rutin di kunjunginya.
“Entah aku harus senang untuk yang satu ini atau tidak, tapi kita pantau perkembangannya,” gumam Dokter Alice seraya matanya membuntuti langkah-langkah Richard sebelum ia memasuki mobilnya, lalu melanju di jalanan.
“Apa dia bisa menemukan seorang wanita yang tepat?” tanya staff asisten Dokter Alice.
“Apa seorang wanita indipenden dengan karir yang sukses akan mau mengurus anak-anak mereka, memberikan seluruh kasih sayang sebagaimana seorang wanita yang hanya istri dan ibu dalam sebuah rumah tangga?” balas Dokter Alice balik bertaya.
Dan seketika mata staff berseragam hijau toska yang pudar itu melebar sempurna. “Apa?”
Dokter Alice tak mengulang pertanyaanya, karena Reyna, nama sang asistenya, pasti mendengar tanyanya, namun ia hanya terjebak perasaan bingung dan tak tahu harus memberikan jawab apa.
Dokter Alice menghela napasnya dengan mata yang menatap langit kelabu dari jendela gedung kliniknya. “Padahal semua sifatnya sudah jelas ia ketahui. Mulai dari bagaimana keras kepalanya, bagaimana sikapnya yang sulit berkompromi, tapi dia mengabaikannya, hanya memikirkan satu variable saja tentang tugas yang kuberikan… bisa diajak mengobrol lama.”
“Ah.”
Akhirnya Reyna mengerti kemana arah ucapan sang Dokter. “Kalau begitu, kenapa tak Dokter ingatkan hal itu pada Mr. Richard. Sepertinya ada misinformasi dalam sesi konselingnya.”
Dokter Alice mengangguk. “Benar, memang ada misundertsanding. Seharusnya sebuah obrolan yang menyenangkan, yang hangat, yang membuatnya membicarakan segala hal dengan si wanitanya. Bukan sebuah perdebatan.”
Reyna berdecak. “Mana yang lebih baik,” Ia menjeda matanya bergulir ke kanan dengan kepalanya memiring pula sisi kanannya. “Perjalanan yang hening dan membosankan, atau,” kepala dan matanya beralih ke arah kiri ”perjalanan yang tak hening tapi di isi perdebatan?”
Dokter Alice tampak menimbang. “Setidaknya sebuah obrolan walau berakhir dengan perdebatan menandakan tidak adanya sebuah pangabaian, bukan? Itu hanya komunikasi yang agak kurang baik saja.”
“Ah,” sekali lagi suara itu terdengar, dengan sebuah anggukan yang menjadi signal kalau dirinya mendapat sebuah insigth yang baru. “Tapi,”
Dokter Alice yang semula mengira percakapannya dengan Reyna akan menemui akhir, nampaknya masih belum, buktinya anggukannya dibuntuti sebuah kata ‘tapi’.
Dokter berwajah setengah darah Belanda itu menatap, siap mendengarkan. “Memang kenapa kalau diabaikan? Bukankah itu lebih baik dari pada mendengar kata-kata yang tidak menyenangkan. Bahkan aku lebih suka ketenangan selama perjalanan dari pada mendengar sebuah ocehan tak jelas, atau seorang teman yang kadang berkomentar tak enak tentang diriku.”
Segurat senyum tipis terlengkung dipadankan dengan wajah yang agak murung. Bahkan sekelebat ingatan dari hasil tes yang dijalani oleh Richard beberapa waktu lalu, bergumul di kepala Dokter Alice. “Karena semua masalah yang menghampiri Richard sekarang ini, berawal dari pengabaian masa kecilnya, perilaku abuse atau menghardik di usianya yang seharusnya mendapat banyak kasih sayang dari orang tuanya.”
“HAH?” Reaksi spontan itu cukup menunjukkan betapa tak percayanya Reyna akan kata-kata Dokter Alice. ”Bagaimana bisa? Manusia setampan itu? Semempesona itu… diabaikan? Dihardik? Saat masih kecil?? WOW!”
Dokter Alice ingin tertawa dengan reaksi berlebihan asistennya. Namun itu adalah reaksi normal pikirnya, siapa pun itu pasti akan sangat tak percaya tentang apa yang telah dialami oleh seorang Pengacara sukses yang tampan dan rupawan itu. Masa-masa sulit, luka paling sakit, dan kisah yang paling mematahkan hati.
“Wah, itu tak mungkin. Mendadak aku ingin menjadi orang tuanya kalau benar dia mengalami masa kecil yang seperti itu.”
Dokter Alice hanya tersenyum tanpa menyahutinya. Ia sudah tak heran dengan semua pasiennya yang sebagian besar masalah hidupnya berasal dari luka masa kecil yang menyakitkan.
***
“Jadi kita akan kemana? Kau tak akan membawaku ke kamar hotel lagi, bukan?”
Mendengar tanya dan terka yang cukup menggoda itu, Richard menampilkan smirk nakalnya. “Inginnya sih begitu, aku rindu tidur dalam pelukanmu, memainkan payudaramu, dan merasakannya hangatnya-“
“Richard kau!” Bisikan nakal yang liar itu langsung dihentikan oleh Sara yang geli-geli ngeri mendegarnya. Matahari masih ada di atas kepala mereka, hingga terpaksa sebuah bentakan dilayangkannya pada kekasihnya.
“Kenapa? Aku hanya berkata jujur. Bukankah kekasihku sangat menyukai kejujuran dan sebuah integritas?”
Bola mata Sera sampai berputar karena tingkah Richard. Kepalanya menggeleng, tak setuju dengan ucapan kekasihnya yang bertingkah kekanak-kanakan, menurutnya.
“Masuklah ke mobil, kau akan tahu saat kita sampai,” ucapnya seraya membuka pintu mobil dan mempersilahkan kekasihnya duduk manis di kursi samping kursi kemudi.
Sera tak banyak bertanya lagi, ia langsung masuk ke dalam dengan harus agak lebih menunduk karena tinggi tubuhnya lebih dari rata-rata wanita kebanyakan. Cukup bongsor. Rambutnya ia sibakan ke samping sebelum ia menyandarkan kepalanya pada punggung mobil. Sementara Richard terlihat berlarian untuk menyusul Sera masuk ke dalam mobil.
Cuaca hari ini agak dingin, walau sinar matahari di atas sana terlihat namun sayang cahayanya bahkan mengalahkan warna kuning telur mata sapi yang Richard makan tadi pagi. Ini sangat dingin.
Namun percayalah, Richard tak kedinginan. Dia cukup dihangatkan, oh, bahkan dibakar oleh percikan api cintanya pada wanita yang terlihat sangat elegan, berkelas, cerdas yang duduk di sampingnya.
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?” Tanya Sera sadar tatap yang lain dari si prianya. Ia sampai bercermin pada kaca spion mobil yang diraih tangannya. Dan hasilnya jelas tak ada yang salah atau hal aneh dengan penampilannya. Hanya saja…
“Cantik. Aku suka dan cinta sekali dengan wanitaku yang satu ini.”
Sera terseyum simpul, pujian tak terduga itu sangat tak biasa baginya. Mungkin karena hari ini ia berdandan agak lain, pikirnya. Kaca matanya ditinggal begitu saja di meja riasnya, ia memoles wajahnya dengan jauh lebih hangat, lipstik merah mewarnai bibirya. Gaun putih dengan belahan agak rendah namun tak membuat dirinya terlihat rendahan, tetap terkesan high class. Sera tampil sangat cantik hari ini.
Dan bukan Richard namanya kalau ia bisa tahan. Cukup handal mengontrol kendali keinginan penisnya yang selalu b*******h saat melihat tubuh indah di dekatnya. Hingga tangannya memulai aksi nakal dan liarnya di tengah ia yang harus fokus pada jalanan di depan sana.
Start dari paha. “Ehm?” Sontak Sera bergumam seraya menatap tanda bertanya atas sikap tangan Richard yang semakin lama semakin atas mencapai pangkal pahanya.
Tangan Richard terlalu gatal untuk hanya diam, kulitnya halus, lebih mulus dari lalu lintas jalanan kota siang ini. Dan kini ia sudah mencapai paha dalamnya. Satu jarinya menyapa bagian v****a Sera yang terbungkus celana dalamnya.
Dan si pemiliknya belum bergeming, masih betah dengan tatap. Tatap yang berubah jadi agak… melotot. Sampai jari-jari Richard menyibak celana dalam itu, menyapa bibir juga k******s dari vaginya Sera.
Plakkk!
Sebuah tamparan keras terdengar.