Nyaman

1275 Words
"Urusan aku sama dia, jadi kamu minggir sana!" kata Alvin tegas. Nada bicara cowok itu, terdengar begitu pedas ditelinga Amanda. Bagaimana tidak, gadis itu harus menanggung malu, karena sudah mendapat penolakan terlebih dulu dari Alvin. Maka tak heran jika wajahnya kini berubah semerah tomat. Kepercayaan diri yang sudah setinggi langit, runtuh seketika. Terlebih ketika Amanda harus ditertawakan oleh gerombolan kelas dua belas yang berada satu meja dengan Alvin. "Hahahahaaa... " Amanda meremas kedua jemarinya ketakutan, apalagi ketika ia menatap mata elang Alvin yang terasa menusuk sampai kepusat dadanya. Merobek-robek hati. dan, membuat jantung gadis itu terasa seperti berhenti berdetak seketika. Salah satu dari gerombolan itu bangkit, berdiri dari posisi duduknya. Layaknya tukang parkir memberikan arahan pada setiap pengendara yang akan keluar dari area parkir. Fandi memberikan kehormatan itu pada Amanda. Cowok berwajah oval itu dengan riangnya menunjukkan pintu keluar pada Amanda, dan berhasil disambut gelakan tawa membahana yang memenuhi seluruh penjuru kantin. "Dari sini kamu minggir selangkah, setelah itu belok kanan, kamu jalan lurus... terus... Nah... Tuh pintu keluarnya di ujung. Keliatan jelas 'kan. Kalau kurang jelas. Nih.. Aku kasih pinjem kaca mata kuda." jelas Fandi dengan nada mengejek. "Wwhahahahahahaaa..... " Ya Tuhan... Kok tega banget. "Yuk, La kita keluar aja dari sini." ucap Amanda ketus. Gadis itu menarik pergelangan tangan Ayla yang saat itu hanya berdiam diri dibelakang Amanda. Gadis bertubuh mungil itu mengekor, berjalan mengikuti Amanda, kemana kaki gadis bertubuh tinggi besar itu melangkah. Perbedaan tubuh mereka yang cukup jauh membuatnya terlihat seperti ibu yang menuntun anaknnya ketika pergi kepasar. Asal bukan Shela, si topeng monyet yang pergi kepasar. Hihihiii.. Baru saja mereka berjalan satu langkah, Alvin menarik bagian atas tas punggung Ayla. Pun cowok itu mengucapkan satu kalimat yang membuat Ayla menyeletuk keras. "Eits.. Kamu mau kemana? Urusan kita belum selesai." kata Alvin. "Apa!!" Seru Ayla dengan keras. Lagi Alvin memberi kehormatan pada Amanda. "Oh iya.. Kamu pergi dulu aja, udah aku bilang 'kan, urusan aku sama dia," tunjuk Alvin pada Ayla. "Bukan sama kamu." pungkasnya. "Syuh.. Syuh.." celoteh gerombolan kelas dua belas mengusir Amanda, yang membuat gadis itu menghentakkan kakinya dua kali kelantai, demi menyalurkan rasa kesal dan malu yang sudah mencapai ubun-ubun kepala. Selepas kepergian Amanda. Ayla seperti tidak bisa lagi merasakan tubuhnya sendiri, lutut kakinya terasa lemas, lidahnya terasa kelu, untuk sekedar berkata pun suaranya terasa tercekat sampai pangkal tenggorokan. Berdiri seorang diri, diantara gerombolan setingkat diatasnya. Ayla merasa dirinya tengah terhimpit ribuan pasukan yang siap mengajaknya perang. Merenggut pasukan oksigen dari dalam tubuhnya. Membuatnya merasakan sesak, sehingga tubuhnya terasa bergetar. Pun keringat dingin menetes disekitar wajahnya. Tes!! "Kamu takut?" Tanya Alvin, khawatir melihat perubahan raut wajah Ayla, yang terlihat semakin pucat. Naluri Alvin tergerak untuk mengusap butiran-butiran bening tersebut. Untuk sejenak, wajah ayu Ayla seperti menyihir pandangan cowok itu untuk tetap menatap manik mata gadis didepannya. Rasanya mata itu pernah Alvin lihat. Sorot mata yang menjelaskan besarnya kerinduan didalamnya. Dan seketika membuka kerinduan yang dipendam jauh didalam lubuk hati cowok itu akan rindu pada cinta dimasa lalu. Waktu seolah berhenti, menyisakan mereka berdua dalam keheningan, dan hanya mata yang saling berbicara. Cukup lama, kedua remaja itu seolah terperangkap kedalam keheningan yang mereka ciptakan. Tak ada satu pun ucapan yang terlontar dari bibir keduanya. Saling menyelami dalamnya perasaan masing-masing melalui sorot mata. Dan, karena itu, hati Anwar, si manusia setengah siluman setengahnya lagi orang, karena penampilan wajahnya yang sengaja dirias menyerupai gadis, sedang tubuhnya menunjukkan bentuk tubuh cowok sejati, sehingga terciptalah julukan ladyboy. Anwar yang saat itu berada di meja sebelah Alvin, turut menjawab dengan suara lantang. "Ya iya lah takut, orang yei ngeliatinnya udah yang macam singa kelaparan, karena nggak makan satu tahun. Pengen langsung nge-hap aja itu mangsa didepan mata." celetuknya, dibarengi melahap bulatan daging kedalam mulutnya. Mengunyahnya sadis, sehingga membuat Ayla seketika meneguk ludah. Ngeri. Glek. Ucapan Anwar itu kembali membuat gelakan tawa seisi kantin pecah. "Whahahahaa... " Alvin memperhatikan kembali penampilannya dari ujung kaki sampai kepala. Pun ia tak lupa menyugar rambut yang sedikit gondrong kebelakang kepala menggunakan kelima jarinya, demi meluruskan kembali penampilannya agar terlihat sempurna dimata Ayla. Yang mana, justru membuat gadis-gadis yang berada disana menjerit histeris akan pesona ketampanannya. Terutama adik kelas yang begitu memuja cowok tersebut. Kecuali Ayla ya. "Aaahhhh... " "Iiihhhh... Kak Alvin I LOPE YOU." teriaknya histeris. Mendengar teriakan membahana memujinya, Alvin melambaikan tangannya penuh rasa bangga. Dan, pakai gaya dong tentunya. Kembali pada Ayla didepannya, sedikit membungkukkan badan, untuk bisa menatap wajah gadis tersebut. "Memangnya kelihatan banget ya, kalau aku udah yang kayak mau nerkam kamu gitu?" Tanya Alvin menggoda, sambil mengerlingkan kedua alis tebalnya. Ayla sedikit ketakutan. Pernyataan Alvin yang satu itu, membuatnya memundurkan satu langkah kaki kebelakang. Bukannya apa, Ayla tidak terbiasa dengan keadaan ramai seperti itu. Berhadapan dengan cowok lagi, ini pengalaman pertama kali ia menjadi pusat perhatian. Dihadapkan langsung dengan seorang cowok, dihadapan banyak orang. Yang membuatnya seketika ingin menghilang saja dari peradaban. Perlahan gadis itu, kembali melangkahkan kakinya mundur kebelakang. Pada saat itu juga, Anwar yang saat itu duduk dibelakang Ayla berdiri dan tanpa sengaja menyenggol tubuh Ayla. Sehingga tubuh gadis itu terdorong kedepan dan membentur sesuatu. "Aahhhh... " pekiknya. Sesaat semua tampak gelap dimata ayla. Terjatuh, tersungkur dengan posisi tengkurap membentur lantai. Dan apalah itu, pokoknya hal memalukan yang melintas dibenak ayla saat itu. Tangannya bergerak meraba-raba. Dan sesuatu yang terasa padat, keras, namun kenapa tidak ada rasa sakit dibagian kepalanya yang membentur benda tersebut. Ini apa ya? Kenapa rasanya tidak sakit, ini cenderung ... Nya..Man.. Bersamaan dengan satu kata yang melintas dibenak Ayla, telinga gadis itu mendengar bunyi sesuatu yang rasanya tidak asing lagi. Deg.. Deg.. Deg.. Gadis itu berpikir sejenak, mengingat bunyi tak asing di telinganya. Pada bunyi ketiga, kesadaran Ayla, kembali pulih sepenuhnya. Gadis itu segera menarik diri. Memelototkan kedua matanya selebar mungkin. Pun dengan mulutnya yang juga menganga serupa lebarnya. Menyadari itu adalah bunyi detak jantung Alvin. Satu hal yang pasti dan akan lebih memalukan dari sekedar terjatuh, nyungsep, tengkurap, tersungkur, atau apalah itu pokoknya yang memalukan. Gadis itu tidak terjatuh atau tersungkur diatas lantai, melainkan menempel pada d**a bidang seseorang, dan orang itu tak lain tak bukan adalah... "Kak Alvin." lirih Ayla nyaris tak terdengar. Pantas saja rasanya begitu nyaman. Ayla terjatuh kedalam pelukan Alvin. Parahnya lagi, tanpa disadari, gadis itu sempat-sempatnya menikmati pelukan nyaman yang terasa begitu menenangkan. Hangat pula. Aaaaahh..... Rasanya Ayla ingin menjerit sekeras-kerasnya. Tapi, belum sampai terlaksana tenggorokannya sudah terasa mengering terlebih dulu. Glek Ayla menelan ludahnya sendiri untuk membasahi tenggorokannya yang belum apa-apa rasanya sudah sekering dan setandus gurun Sahara. Gadis itu melebarkan kedua kelopak matanya, untuk menatap pada kedua bola mata Alvin. Cukup lama Ayla hanya berdiam diri mematung ditempatnya berdiri. "Ayla." Panggil Alvin khawatir melihat perubahan raut wajah Ayla, yang semakin pucat. "Ayla.." panggil Alvin lagi, dan berhasil menyadarkan kembali Ayla dari keterbengongannya. "Ma, maaf." kata Ayla terbata. "Saya permisi." pamitnya lagi. Buru-buru gadis itu melangkahkan kedua kakinya. Ingin keluar dan segera menghirup udara bebas sesuka hatinya. Entah kenapa, berada didekat Alvin, apalagi setelah menikmati pelukannya. Membuat gadis itu ingin segera menghilang dari dunia. Gadis itu pun segera berlari, meninggalkan Alvin dengan berbagai pertanyaan dibenaknya. Akhirnya Ayla bisa bernafas lega. Berdiri didepan gerbang sekolah. Menunggu angkot Pak Mat lewat. Sambil menunggu, gadis itu mengipasi wajahnya yang terasa panas tiap kali teringat peristiwa di kantin. Rasanya ia tidak akan bisa tidur malam ini. Menghirup nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menormalkan kembali keadaan yang sedikit membuatnya kacau. Hampir sepuluh menit lamanya, angkot Pat Mat tak juga lewat. Ayla ingin menangis, kedua matanya sudah berkaca-kaca. Tak ada teman yang bisa dia mintai pertolongan. satu-satunya teman yang ia miliki yaitu, ... "Buku!?" kata Ayla berseru. Kedua matanya melotot sempurna. Mengingat sahabat bukunya masih berada didalam kantin, ditangan cowok itu. "Kak Alvin!" lirihnya lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD