Ujian kesabaran

1212 Words
Pagi telah kembali, menyapa semesta, menebar kehangatan diatasnya. Menyisihkan duka dan sesak semalaman, membawa hari baru sebagai harapan. Ayla terbangun, mimpi buruknya sudah terlupakan bersama obat penenang yang membawanya dalam lelap. Sinar mentari pagi yang menelusup, masuk melalui celah tirai. Membuat Ayla yang terlihat masih meringkuh dibalik selimut, silau akan sinarnya. Mengusik tidurnya. Sehingga, dengan masih sangat malas, gadis itu harus terbangun dari rasa nyaman dengan terpaksa. Tepat pukul enam pagi, gadis itu sudah bersiap, mengenakan seragam putih abu-abu kebanggaannya. Denting suara sendok dan garpu, saling beradu memenuhi ruang makan di rumah Ayla. Bersama sang Nenek kesayangan, gadis itu menyantap sarapan paginya. Lima belas menit berlalu, gadis itu sudah selesai dengan sepiring nasi putih, sayur sop, tahu, tempe dan ayam goreng. Segelas s**u putih, diteguknya hingga tandas. Tak bersisa. "Oma, Ayla berangkat dulu ya," pamit gadis itu. Tangan kanannya terulur, menyalami dan mencium punggung tangan neneknya khidmat, penuh hormat. Setelah itu, mendaratkan ciuman dikedua pipi yang terlihat kendor itu. "Daah... Oma..." ucapnya, sambil melambai kemudian berlalu, menghilang dibalik pintu. "Daah... Hati-hati." Balas Anik. Wanita setengah abad itu tampak tersenyum lembut, menatap jejak cucunya *** Lima belas menit, kembali berlalu. Tepatnya pukul setengah tujuh pagi. Ayla sudah menginjakkan kedua kakinya didepan pintu gerbang SMA NUSANTARA. Menghirup nafas dalam, dan menghembuskannya perlahan. Sambil kedua tangannya meremas tali tas ranselnya, gadis itu melangkah masuk, berjalan, kemudian berhenti didepan papan pengumuman. Kedua netra hitamnya tampak bergerak-gerak, mencari sebuah nama. 'Ayla Zahira' ada di urutan kedelapan, tepatnya di kelas sepuluh A. Setelah menemukan ruangan, yang nantinya akan ditempati selama ujian berlangsung. Gadis itu pergi, dan berjalan menuju ruangan tersebut. Sampai di dalam kelas, ia kembali melirik kanak kiri, mencocokkan nomor yang tertulis pada kartu pengenalnya, dengan nomor yang tertempel di pojok atas meja. Tepatnya ada di bangku kedua, barisan pertama. Di tepi jendela. Tempat yang selalu menjadi tempat favorit Ayla. Setelahnya, gadis itu duduk disana, membuka kembali buku pelajaran. Sambil menunggu bel berdering. *** Diluar sana, terlihat Alvin tengah berjalan menyusuri koridor, bersama dengan Fandi sahabatnya. Kedua cowok itu terlihat begitu asyik bercanda. Tawanya terdengar renyah, menggema memenuhi sepanjang koridor. Membuat mereka yang masih berada didepan ruangan, otomatis menoleh pada kedua cowok tersebut. "Vin, jangan lupa ntar bagi-bagi jawaban." ucap Fandi. Sejurus kemudian dibalas sentilan dikepala cowok tersebut. Pun berkata. "Mau pinter? Dapat nilai bagus?" katanya. Fandi pun mengangguk penuh semangat. "Mau." Balasnya antusia. Sambil menampilkan cengiran di wajahnya. "Makanya belajar." Tukas Alvin, dan disambut pukulan kecil di lengan atas cowok itu. "Aadduuhhh...." lirih Alvin, pura-pura kesakitan. Hiperbola. Kedua cowok itu kembali tergelak. "Hahahahaaa..." Sampai di ambang pintu kelas sepuluh A. Langkah kaki Alvin tiba-tiba terhenti. Tanpa disengaja, kedua bola matanya menangkap sesuatu yang membuat kedua netra hitamnya tak ingin lepas dari sesuatu itu. Sinar mentari yang masuk melalui celah jendela, dan menerpa tubuh Ayla, membuat tubuh gadis itu terlihat begitu terang, sehingga kelihatannya, tubuh gadis itu tampak memancarkan kilauan cahaya. Begitu indah. Denyut jantung Alvin seketika berdebar tak karuan. Kedua kakinya terasa begitu lemas, bahkan rasanya tak mampu menopang berat badannya. Ini aku kenapa lagi. Bisik Alvin dalam hati. Sekujur tubuhnya terasa ingin meleleh ditempatnya berdiri. Haduuh.... Luar biasa rasanya. "Kamu kenapa?" Tanya Fandi. Sahabat Alvin itu, melingkarkan tangannya pada leher Alvin. Dan kedua matanya pun turut mengikuti arah pandang Alvin. "Oallaah... Cewek toh." Ucap Fandi setengah berbisik di telinga Alvin. "Heemb!!" dan dehaman Fandi yang memang disengaja, dibuat sekeras mungkin itu, seketika menyadarkan Alvin dari lamunan. Seketika turut mengundang perhatian seluruh penghuni kelas. Tak terkecuali Ayla. Sehingga, semua mata menoleh pada Alvin pun juga Fandi. Gadis itu menatap kesumber suara. Dan, tanpa sengaja sepasang mata itu beradu tatap dengan sepasang mata Alvin. Membuat Alvin seketika meneguk ludah,untuk membasahi tenggorokan yang tiba-tiba dilanda kekeringan sesaat. Denyut jantung Alvin semakin tak karuan lagi. Tubuhnya seketika ingin luruh, berguling-guling diatas lantai. Senang, bahagia yang tiada terkira. Ayla beneran reinkarnasi bidadari deh kayaknya. Batin Alvin dalam hati. Itu cowok, memaksa kedua kakinya untuk melangkah, mencari tempat duduknya. Dan, satu lagi kebetulan yang sebenarnya sangat disyukuri oleh Alvin. Namun, nyatanya terasa sangat membuatnya malu sampai ke ubin. Tempat duduk Alvin, tepat berada disamping tempat duduk Ayla. Laah... Suatu keberkahan 'kan. Berkali-kali itu cowok terlihat menahan senyum. Entah mengapa. Dan itu membuat Fandi, bergidik ngeri menatap Alvin. "Kamu kesambet apa sih Vin? Muka kamu jadi kelihatan aneh." Beo Fandi bingung dengan perubahan sikap Alvin. Yah... Memang sih, pada dasarnya Alvin itu bukan tipe cowok yang selalu menunjukkan wajah datarnya. Itu cowok selalu tersenyum dan bersikap ramah pada siapapun. Cuma ya, keramahannya hari itu terlihat jauh berbeda dari biasanya. Terkesan luar biasa. Jadi bisa dibayangkan 'kan seperti apa wajah Alvin pagi itu. Kedua mata Alvin tak lepas menatap wajah Ayla disampingnya. Hingga pada akhirnya, bunyi nyaring bel, menyadarkan Alvin sepenuhnya dari lamunan. Kriiing kriiing kriiing. Disisi lain, Sonia yang juga berada satu ruangan dengan Alvin, gadis cantik bak model iklan itu, meremas kedua tangannya sendiri, hingga tampak kuku-kuku jarinya memutih. Wah... Ada yang kebakaran jenggot nih. Seorang guru memasuki kelas, dengan membawa dua kantong tebal naskah ujian. sebelum memulai ujian, tampak seluruh murid berdoa dengan penuh khusyuk. Setelah itu, sang guru membagikan seluruh naskah kepada murid. Dan, mereka terlihat sibuk membolak-balikkan lembaran soal itu. Entah karena mereka merasa kesulitan, atau apa. Detik-detik berlalu begitu cepat. Sejurus kemudian tampak keheningan berubah menjadi bisik-bisik, ketika guru pengawas keluar ruangan. "Vin, nomor lima belas, jawabannya apa?" Tanya Fandi, yang juga secara kebetulan tempat duduknya berada tepat dibelakang Alvin. Seketika Alvin menoleh, melempar tatapan lasernya, yang begitu mengerikan. Membuat Fandi seketika menciut, kembali ketempat duduk. Disamping Alvin, Ayla benar-benar tidak nyaman. Gadis itu terlihat gusar. Entah apa yang tengah dipikirkannya. Namun, kegelisahan hatinya, membuat gadis itu sedikit pun tak bisa berkonsentrasi. Beberapa kali mencoba membaca soal, setelah itu pikirannya kembali buyar. Sekuat tenaga, gadis itu berusaha menekan kegundahan hatinya. Mencoba tenang. Maka, yang gadis itu lakukan, menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Waktu terasa cepat sekali berlalu. Tinggal lima belas menit lagi, jam pelajaran pertama akan segera usai. Baru setengah Ayla mengerjakan soalnya. Sejurus kemudian, gadis itu memejamkan kedua matanya. Menghilangkan seluruh pikiran yang mengusik ketenangannya. Dan, perlahan ia mulai menghitami setiap jawaban, di lembaran khusus yang sudah disediakan. Kriiing kriiing. Waktu sudah habis, lembar jawaban, juga lembar soal, dikumpulkan secara terpisah. Sang guru mengakhiri waktunya. Dan, segera disambut keriuhan penghuni ruangan itu. "Permisi kak, saya mau lewat." Pinta Ayla pada Alvin, yang masih saja anteng ditempat duduknya, sedang yang lainnya sudah keluar, dan hanya menyisakan mereka berdua. Itu cowok hanya berdiam diri. Pura-pura tak mendengar suara Ayla, dan berhasil membuat geram gadis itu. "Permisi kak saya mau lewat!!" lagi, Ayla mengulang ucapannya. Kali ini dengan suara yang lebih keras. "Ya, kalau mau lewat, tinggal lewatin aja." jawab Alvin datar. "Gimana aku bisa lewat, kalau kaki Alvin menghalangi jalan aku kayak gini?" Tunjuk Ayla pada kedua kaki yang Alvin yang sengaja, diselonjorkan diatas meja. "Tinggal kamu langkahain aja, gampang 'kan?" ucap Alvin santai. Setelah itu melipat kedua tangannya dibelakang kepala. Menyandar, dengan berbantalan kedua tangannya. Ayla menghela nafas kasar. Entahlah, gadis itu hanya merasa Alvin sedang menguji kesabarannya. Maka, sejurus kemudian, gadis itu menaiki kursi, melangkah kemeja yang ada dibelakangnya. Dan, melompat dari sana. Sedang Alvin hanya melongo ditempat. Tidak percaya. Melihat bagaimana cara Ayla melewatinya. "ckckck." Cowok itu berdecak, menatap punggung Ayla yang semakin tak terlihat. "Itu cewek, emang beneran, aneh bin ajaib." gerutunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD