Trauma

1063 Words
“Kamu kenapa tegang gitu sih?” tanya Alvin. Tak tahan melihat wajah tegang dan pucat Ayla, pada akhirnya, itu cowok menanyakan keingin tahuannya. “Kamu nggak pernah ya naik motor?" Tebak Alvin dengan benar. Ayla paling enggan kalau diajak naik motor. Bukannya sombong, cuma gadis itu punya riwayat menakutkan seputar motor atau pun sepeda. Ayla menganggukkan kepala. Dengan jelas, dapat dilihat oleh Alvin dibalik kaca spion motornya. “Kalau kamu takut? Pegangan sama aku.” Saran Alvin. Dengan segera dilaksanakan oleh Ayla. Dan, akibatnya Alvin meringis, merasakan perih, akibat cengkeraman Ayla yang begitu kuat dikedua pundaknya. Namun, sebagai cowok ia harus kuat menahan sakit dong ya, jangan sampai kelihatan lemah didepan Ayla. Bisa menjatuhkan reputasi dan harga diri. Heemb... Heran juga sih, melihat ketegangan Ayla saat naik motor. Apalagi, di zaman yang sudah modern, dan super canggih seperti sekarang ini. Naik motor, sudah menjadi keseharian anak seusia Ayla. Ditambah, yang boncengin cowok ganteng nomor wahid di sekolahnya, sudah bisa dipastikan gadis-gadis yang melihatnya pada ngiler dan iri. Ini cewek memang datangnya beneran dari jaman purba deh kayaknya. Masak cuma naik motor saja, udah sepucat itu wajahnya. jangan sampai aja ntar mabuk. Lirih Alvin dalam hati. Cowok itu terlihat mengerutkan dahinya, berpikir keras, memutar otak, mencari cara, bagaimana supaya gadis itu bisa lebih santai dan nyaman menikmati perjalanan mereka. Padahal ‘kan Alvin melajukan motornya juga nggak yang terlalu kencang amat. Dan yang terjadi selanjutnya, bukan membuat gadis itu nyaman duduk dibelakangnya, malah yang ada justru membuat gadis itu semakin ketakutan saja. Bagaimana tidak, dua remaja berbeda kelamin itu harus dikejar oleh seorang petugas, gara-gara Ayla tidak memakai alat pelindung di kepalanya. Melanggar aturan lalu lintas 'kan namanya. Dan tentu saja, meraka panik. Maka, secara otomatis Alvin menambah laju kecepatan motornya. Melesat cepat, meliuk-liuk diantara padatnya kendaraan yang lain, hingga menyalip beberapa kendaraan sekaligus yang ada didepannya. Dan, perbuatan Alvin itu bukanlah hal yang patut untuk di contoh. Deru kenalpot motor milik Alvin terdengar saling bersahutan dengan bunyi sirine kendaraan milik petugas. Menggema, memecah kepadatan yang ada, dan membuat perhatian pengguna jalan lainnya, tertuju pada mereka. Dengan satu pertanyaan yang hampir sama dalam benak mereka. 'Apa yang terjadi?' Alvin membawa motornya berputar-putar mengelilingi kota. Dengan harapan bisa segera terhindar dari kejaran petugas tersebut. Setelah sekian lama, akhirnya petugas itu kehilangan jejak Alvin. Cowok itu entah bersembunyi dimana, sehingga hilang dari pandangan petugas. Akhirnya, Alvin bisa bernafas dengan lega. Kendaraan petugas itu, tak terlihat lagi dibelakangnya. Maka, Alvin kembali menurunkan laju kecepatan motornya. Perlahan, dan akhirnya berhenti ditepi jalan. "Kak Alvin, rasanya aku mau muntah." lirih Ayla. Mengeluh merasakan tubuhnya begitu tidak nyaman. Satu kata itulah yang keluar dari bibir pucat gadis itu, setelah sebelumnya hanya berdiam diri, tidak berani berbuat apa-apa, selain pasrah menyerahkan seluruh keselamatannya pada Alvin. Melingkarkan kedua tangannya pada perut Alvin, dan meringkuh menyembunyikan diri dibelakang punggung tegap cowok itu. Seolah punggung Alvin adalah tameng yang akan melindunginya dari bidikan anak panah. Alvin membantu Ayla turun dari atas motornya. Tubuh gadis itu begitu lemas, Seolah tak mempunyai daya. Denyut jantungnya berdebar hebat, menggedor dadanya dari dalam sana. Gadis itu terus saja memegangi kepala, pun pandangannya terasa berputar-putar. Duduk ditepi trotoar dibawah pohon. Alvin memijit tengkuk leher gadis itu. Supaya, gadis itu bisa mengeluarkan rasa yang bergejolak dari dalam perutnya. Namun, bukannya muntah seperti yang ada dibayangan Alvin, Ayla justru meneteskan air matanya. Semakin lama, air matanya semakin deras saja. Mengalir membasahi pipi, pun juga baju seragam yang tengah dipakai. Meninggalkan beberapa titik jejak basah disana. Ayla semakin meringkuh memeluk tubuhnya. Menenggelamkan wajah. Tubuhnya terlihat bergetar hebat, menahan isakan agar tak menjadi jeritan. Membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang bakal terjadi di jalanan tadi. Yah... Meskipun sudah berlalu, dan selamat tak kurang suatu apapun. Tetap saja, rasa takutnya terasa begitu membekas. Melihat bagaimana gadis batunya menangis pilu. Penyesalan pun juga kekhawatiran melingkupi hati cowok itu. Mengaduk-aduk perasaannya menjadi satu. Sehingga, membuat itu cowok kebingungan sampai pusing tujuh keliling karena tidak tau caranya menenangkan Ayla. "Ayla..." Lirih Alvin. "Udah, jangan nangis ya, malu dilihatin orang." Bujuk Alvin. Mengusap lembut lengan atas gadis itu. "Aku beneran takut." tutur Ayla. Alvin terlihat menghela nafas panjang. Memandang Ayla dengan tatapan menyelidik. ketakutan gadis itu bukan ketakutan biasa. Ketakutan gadis itu seperti, ketakutan yang begitu luar biasa. Sehingga membuat satu pertanyaan melintas dibenaknya. Apa mungkin Ayla punya Trauma? Tak mau hanya memendam pertanyaannya. Sejurus kemudian, cowok itu langsung mengutarakan apa yang melintas dikepalanya. "Apa kamu punya trauma, naik motor ngebut kayak tadi?" Tanya Alvin penasaran. Dan, Ayla hanya diam tak menjawab. Pertanyaan Alvin, sedikit banyak menyentil kenangan yang sudah lama sekali berusaha dikuburnya dalam. Kenangan yang membutuhkan perjuangan keras untuk bisa melupakannya. Siang itu, kenangan itu seolah muncul kembali kepermukaan. Bayangan seorang bocah laki-laki bersimbah darah, tergeletak tak berdaya ditepi jalan. Dan seorang bocah perempuan yang berusaha menggapainya. Namun, kesadaran tak mengizinkannya. Bocah perempuan itu membiarkan bocah laki-laki itu pergi. "Tidak....!!!" teriak Ayla histeris. Setelah itu gadis itu tak bisa lagi merasakan apapun. Semuanya terasa gelap. *** "Tidak..." Teriak Ayla. Seperti biasa, Ayla lagi-lagi harus terbangun ditengah malam. Mimpi yang dialami oleh Ayla terasa begitu nyata. Gadis itu meraih segelas air yang berada diatas nakas. Meneguknya hingga tandas. Selanjutnya, gadis itu melempar gelas yang sudah tak ada lagi isinya itu keatas lantai. "PYAAR...." Suara itu terdengar menggema memecah keheningan malam. Seorang wanita paruh baya, terlihat lari tergesa-gesa menghampiri Ayla. "Ada apa sayang, Kamu mimpi buruk lagi?" tanya wanita itu. Khawatir. Anik, wanita paruh baya itu. Memeluk tubuh Ayla, mengusap lembut punggung gadis itu penuh sayang. Menenangkan. Gadis itu menarik selimut tebalnya, menutupi seluruh tubuhnya. Dan meracau tak karuan. "Ayla bukan pembunuh, Ayla tidak membunuh Zydan, Oma. Kenapa semua orang menyalahkan Ayla. Kenapa semua orang membenci Ayla. Ayla tidak salah." Kembali gadis itu menangis, dan menutupi wajahnya. "Ayla..." lirih Anik. "Tenang sayang, kamu hanya mimpi. Oma ambilkan air putih, mau?" tuturnya. Dan Ayla pun mengangguk. Beberapa menit kemudian. Anik kembali kekamar Ayla, membawa segelas air putih ditangannya. Menatap lekat wajah cantik cucu kesayangannya, dan mengusap lembut kepala Ayla penuh sayang. Maaf Ayla, Oma terpaksa. Lirih wanita paruh baya itu dalam hati. Mengingat, obat penenang yang dicampur kedalam minuman yang diminum oleh Ayla saat itu. Detik selanjutnya, Ayla sungguh merasakan kantuk yang begitu sangat. Setelah itu kembali kedalam lelap. Anik menyelimuti tubuh rapuh gadis cantik yang kembali tertidur. Wajahnya begitu damai, tanpa sedikitpun beban. Mengusap puncak kepala gadis itu, dan menciumnya dalam. "Maafin Oma, Ayla. Ini demi ketenteraman kamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD