“Ayla tunggu.. .” teriak Adelia, dan suara melengking gadis itu, terdengar menggema memenuhi lorong sekolah. “Tungguin napa,” ucapnya lagi. Setelah berhasil meyamai langkah kaki Ayla, segera Adelia menarik lengan gadis itu, sehingga membuat langkah kakinya terhenti. “Ayla!” teriak Adelia. “Ada yang mau aku tanyain sama kamu.” Katanya.
Menghela nafas. Ayla berkata. “Apa?” kedua gadis itu terlihat saling berhadapan, dengan sorot mata saling menyelidik.
“Kamu tadi ngapain ngasih duit Kak Alvin?” tanyanya sarkas. “Jangan bilang, kalian ada hubungan.” Tuduh Adelia. Suara keras gadis itu menimbulkan lengkingan, dan membuat perhatian setiap mata yang saat itu berada di lokasi tertuju pada kedua gadis itu. terlebih kalimat yang diucapkan oleh Adelia sangat menarik perhatian gadis paling top satu SMA NUSANTARA bernama Sonia.
Gadis cantik modis, bak model iklan itu berjalan anggun menghampiri Ayla dan Adelia, diikiuti dua antek setia yang berjalan dibelakang Sonia. Gadis itu berdiri tepat dihadapan Ayla. “Kalian ngomongin apa tadi,” Tanya Sonia. Gadis itu terlihat melipat kedua tangannya didepan d**a. Menunjukkan sikap angkuh, penuh kuasa pada dua gadis yang terlihat seperti tikus yang akan dimangsa oleh kucing di pojok gudang.
Ayla dan juga Adelia meneguk ludah bersama. Bola mata mereka melotot sempurna. Berhadapan dengan Sonia terasa seperti berhadapan dengan singa betina. Terlebih, mengingat orangtua Sonia adalah donator terbanyak. Sehingga, sedikit banyak gadis perawakan bule itu merasa memiliki kekuasaan disana, dan cukup menakutkan bagi gadis lainnya.
“Aku denger kalian ngomongin Alvin. Alvin yang mana?” tanya Sonia. Dan, fakta yang sudah tersebar luas dikalangan SMA NUSANTARA. Selain menjadi gadis nomor satu disana, prioritas utama gadis cantik itu adalah, mendapatkan kembali Alvin. Setelah mereka berpacaran selama satu minggu, dan Alvin memutuskan hubungan mereka, secara sepihak. Alasannya sih, katanya Alvin nggak tahan sama sikap semena-mena Sonia. Jadi, kalau ada gadis lain yang berani ngomongin Alvin didepan Sonia, siap-siap saja.
“Kita lagi ngomongin Kak Alvin sepupu aku. Dia pacarnya Ayla.” Bohong Adelia. Sengaja demi bisa terlepas dari cengkraman Sonia.
Sonia melempar lirikan tajam pada Ayla. “Bener? Yang dia katakan.” tanya gadis itu dengan nada suara penuh ancaman.
Ayla menggeleng, tapi detik selanjutnya juga mengangguk. Suatu jawaban yang tidak bisa diperjelas kebenarannya. “He’emb.” lirihnya.
“Awas saja, kalau kalian sampai bohong.” Ancam Sonia. “Ini peringatan buat kalian.” Ucapnya sambil menunjuk menggunakan dua jari, pada kedua mata Ayla dan Adelia bergantian. “Awas!!” setelah itu Sonia dan kedua anteknya berlalu pergi.
Fyuuh…
Dua gadis itu akhirnya bisa bernafas dengan lega. Setelah beberapa saat yang lalu, mereka berlomba menahan nafas. “Untung, aku bisa cepet nyari alasan.” Kata Adelia, gadis itu terlihat mengusap dadanya.
Ayla menoleh pada Adelia dan berkata. “Lain kali, jangan ngomongin Kak Alvin lagi deh ya,” pintanya.
Adelia membuang nafas kasar. Melipat kedua tangannya didepan d**a. Melempar lirikan ketus pada Ayla dan menjawab. “Siapa juga yang ngomongin. Aku ‘kan cuma nanya aja sama kamu. Tadi kamu ngapain ngasih duit sama dia.”
Sebenarnya, Ayla sangat tidak ingin bercerita. Namun, melihat lirikan ketus, dan lengkingan suara Adelia, yang mungkin bisa saja menarik perhatian banyak anak lainnya, termasuk Sonia, lagi. Dan jujur saja kalau bukan karena alasan yang dibuat oleh Adelia, Ayla tidak tahu nasib kedepannya akan seperti apa. Sonia terkenal kejam dalam mengeksekusi lawan. Hiii.. Bikin ngeri.
Akhirnya, mau tidak mau terpaksa Ayla membuka suara. “Buat ganti uang bensinnya dia, karena udah mau nganterin aku pulang kemarin.” Spontan pernyataan Ayla lagi-lagi membuat Adelia mengeluarkan lengkingan suaranya.
“WHAT!!!”
“sshhtt…” desis Ayla. Gadis itu menempelkan jari telunjuk dibibir ranumnya. Mengisyaratkan pada Adelia agar tidak terlalu keras bersuara. “Jangan kenceng-kenceng. Ntar Kak Sonia balik gimana?”
“Sorry,” lirihnya kali ini dengan suara yang dibuat sepelan mungkin. “Kok bisa? Ceritanya gimana?”
Menengok kanan kiri, memastikan tidak ada Sonia, kemudian Ayla berkata lagi. “Nggak tau, semua terjadi begitu saja.” Katanya. “Udah yuk pulang, ntar aku ditinggalin sama Pak Mat.”
Jawaban Ayla sangat tidak membuat puas Adelia. Terkesan setengah-setengah, dan ditutupi. Membuat Adelia semakin yakin bahwa Ayla memiliki hubungan dengan cowok bernama Alvin.
Sampai di gerbang kedua gadis itu harus terpisah, selain letak rumah mereka yang tidak searah, Adelia pulang pergi dengan membawa kendaraan pribadi. Adelia sempat ngotot akan mengantar Ayla pulang sampai rumah. Namun, sifat kaku Ayla memang susah untuk ditekuk, membuat Adelia hanya bisa bernafas pasrah. Jadi, Adelia meninggalkan Ayla sendiri didepan gerbang menunggu angkot yang lewat.
“Ya udah, aku duluan kalau gitu. Kamu hati-hati ya.” kata Adelia.
“Iya, kamu juga hati-hati, jangan ngebut.” Tutur Ayla.
Ayla melepas kepergian Adelia, menatap punggung yang semakin lama semakin tak terlihat lagi. sampai tak menyadari keberadaan seseorang yang sudah berdiri disampingnya, turut memandang jauh, apa yang tengah dilihat oleh Ayla.
“Liatin apa sih?”
Ayla melonjak kaget, sampai melompat dari tempatnya berdiri. “Haadduuhh.. .” seru Ayla. Gadis itu mengusap dadanya sendiri. Rasanya jantung Ayla mau melompat dari tempatnya. Peluh menetes dipelipis Ayla. Dan lagi-lagi membuat Alvin terkekeh geli melihatnya.
“Hehehehehee… .”
“Sampai segitunya. Memang lagi lihatin apa sih? Kok seriusnya pake’ banget.” Tanya Alvin penasaran.
Menggelengkan kepala cepat, Ayla kemudian menjawab. “Nggak.. Nggak lihatin apa-apa kok.” Ucapnya terbata.
“Oh… .” Alvin melirih panjang. Setelah itu berkata. “Ayo kita pulang.”
Haah… Pulang? Lo aja kali gue enggak. Ini maksud Alvin apa coba. Ngajak Ayla pulang bareng lagi? salah-salah Sonia tau ‘kan bisa gawat. Ayla sudah mendapat peringatan lhoo. Dari pada berurusan panjang sama cewek itu, mending ‘kan nggak usah pulang bareng.
“Nggak usah kak. Terima kasih, aku bisa kok pulang sendiri.” Tolak Ayla. “Kalau temen-temen kamu mau godain aku, ya silahkan.” Sengaja gadis itu berkata mendahului. Berasa sok berani didepan Alvin. Membuang muka memandang jalanan, menghindar dari tatapan Alvin, yang membuatnya menggerutu dalam hati. Kok angkotnya lama banget sih?
Alvin tampak menganggukkan kepalanya mengerti. Tak berhenti disitu, cowok itu justru terang-terangan berkata pada Ayla begini. “Temen-temen aku sih, nggak bakalan berani gangguin kamu. Cuma, kayaknya, aku deh yang bakal gangguin kamu.” Sambil mengerlingkan kedua alisnya, juga cengiran khas yang dibuat-buat.
Dan itu seketika, membuat Ayla mengerutkan dahinya. Geleng-geleng kepala. Tidak mengerti sama sekali. “Kak Alvin mendingan pulang dulu aja deh. Ntar dicari lagi sama mamanya.” Katanya.
“Kali aku ini bocah berusia lima tahun.” Katanya lagi sambil menyodorkan uang lembaran ratusan ribu kepada Ayla. “Nih..”
“Buat apa?” Tanya Ayla ketus.
Alvin menarik kembali uang itu dan memasukkannya lagi kedalam saku celana. “Kamu sudah berani bayar aku dua ratus ribu. Dan itu lebih dari cukup buat ongkos ojek kamu kemarin. Nah, karena aku nggak ada uang kembalian. Sebagai gantinya, aku bakalan siap dan bersedia antar jemput kamu setiap hari, anggap aja ini pelayanan khusus yang istimewa buat pelanggan. Gimana?” kata Alvin menawarkan.
Kalau sampai Ayla menerima tawaran Alvin. Nyari mati itu namanya. Gadis itu menengok kebelakang tepatnya keparkiran mobil yang ada didalam sana. Mobil milik Sonia masih ada, otomatis gadis itu pasti masih ada didalam sana. Ia semakin gelisah.
“Kak Alvin plis deh pergi dari sini.” Pinta Ayla penuh permohonan. Gadis itu sampai menangkupkan kedua tangannya didepan d**a.
“Nggak mau.” Jawabnya. “Aku bakalan pergi kalau kamu juga mau pergi bersamaku. Bakalan aku tungguin sampai kamu mau.” Bantah Alvin. Ayla kembali menoleh kebelakang. Dari kejauhan terlihat, Sonia dan kedua anteknya berjalan menuju parkiran. Dan kalau sampai mereka melihat Ayla, apalagi bersama Alvin didepannya, sudah pasti tak ada ampun lagi untuk Ayla.
Dengan perasaan terpaksa Ayla mau. “Duuh… .” lirih Ayla kesal. “Ya udah deh, buruan cepet.” Kata Ayla ketus.
“Belum juga naik La.” Lirih Alvin. Cowok itu segera menaiki motor ninjanya. Memakai helm dikepala, kemudian berkata. “Masih ingat ‘kan cara naiknya gimana?” Katanya menggoda.
“Masih kok.” Jawab Ayla.
“Oke. Yuk buruan.” Kata Alvin.
Dengan perasaan gelisah, dan entah bagaimana, Ayla turut menaiki jok belakang. Duduk disana dengan nyaman. Setelahnya, Alvin menghidupkan mesin motornya dan melesat dijalan raya.
Aman…