Malam tadi Rakai berkoar-koar dalam grup chat tentang urban legend di gunung yang akan kita daki. Sangat seram, membuatku berpikir dua kali untuk ikut mendaki besok hari. Tapi aku adalah orang yang pantang menjilat ludah sendiri. Lagipula Kive sudah berpengalaman dalam hal daki mendaki. Dia memang berbeda dari wanita biasanya. Aku sangat mengandalkannya dalam hal ini.
Sedikit kuberitahu tentang Kive. Nama aslinya adalah Kiara Veronica, nama yang sangat cantik jika dibandingkan dengan wajahnya yang macho. Dia tak mau dipanggil Kiara, apalagi Veronica. Cukup panggil dia Kive maka dia akan menatap dengan wajah machonya. Satu lagi, dia jago berkelahi karena dari kecil ikut pelatihan judo. Aku sangat menyayangi temanku yang satu ini. Jangan samakan penampilan dengan sifatnya karena walaupun begitu, hatinya sangat baik karena pernah berbagi makan siang ketika aku lupa membawa uang saku.
Kuberitahu juga tentang Rakai. Kita pernah sama-sama dihukum bernyanyi karena tak menyelesaikan tugas dengan benar. Waktu itu aku sangat siap dengan pita suaraku yang tak begitu buruk digunakan untuk bernyanyi. Rakai, dialah orang yang menghancurkan panggung hukuman yang ingin kujadikan panggung konserku dengan suara yang demi apapun lebih buruk dari piring pecah sekalipun. Maafkan aku, tapi aku memang orangnya suka mengkritik. Tapi Rakai adalah tipe teman yang tak membiarkan teman lainnya kesepian. Dia akrab dengan semua orang di kelas, aku bahkan hampir setiap hari bercanda dengannya. Aku juga sangat menyayangi temanku yang satu ini.
Giliran Tania, entah kenapa aku malas membicarakannya. Bukannya aku tidak adil, Tania adalah sosok yang intinya sangat Zein sukai. Dia gadis manis, feminim, dan manja. Aku pernah berbagi tempat duduk dengannya selama tiga hari dan aku belum menemukan apa yang istimewa darinya. Maafkan kritikku yang satu ini karena sekarang aku sedang menahan kesal. Di depanku, Tania dan Zein saling menautkan tangan melewati jalanan yang menanjak curam. Sementara aku di belakangnya, bersama Rakai. Kive berada paling depan seolah menjadi penunjuk jalan dengan lagak tangguhnya.
"Kai, masih lama ya?" tanyaku
"Baru satu jam Mei...seperempat dari jarak juga belum nyampe."
Serius, aku baru merasakan bagaimana peluh menetesi kaosku sebanyak ini. Rasakanlah Mei, suruh siapa anak rumahan sepertimu mendaki gunung hanya demi sahabat yang tak tahu perasaanmu yang sebenarnya, batinku. Rakai sesekali berhenti dan menungguku selesai menarik napas dalam-dalam. Semakin ke atas napasku semakin sesak. Kali ini bukan karena sesak melihat Zein dan Tania yang saling memijat kaki dan berbagi minuman.
"Kita istirahat dulu guys." Kive yang berada paling depan menyahut
Bagus, memang seharusnya kita beristirahat dari tadi. Aku merogoh carrier bag-ku dan menemukan banyak obat penambah stamina dan pereda pegal. Aku sangat tahu siapa yang melakukan ini, pasti ibuku.
"Mei, kamu masih kuat, kan?" tanya Zein
"Eh? Masih kuat, kok. Liat nih kelakuan ibuku, masa kasih obat pereda pegal banyak banget."
"Ibumu kan memang begitu."
Zein peduli padaku, aku tersenyum. Sedikit kulihat wajah Tania yang tak suka karena Zein bertanya padaku. Aku malah membalasnya dengan senyum kemenangan. Maafkan aku, aku tak tahan tak bersikap seperti itu. Karena sejatinya, seorang sahabat dari kecil punya sedikit keunggulan jika dibanding pacar yang bahkan baru mengenal beberapa bulan.
Aku mendekati Rakai dan Kive yang sedang asyik mengobrol. Dari awal aku merasa mereka sangat antusias hingga berpikir kalau ada yang tak beres dengan mereka.
"Menurut catatan sih setengah jalan lagi Kiv, tapi kayaknya ga bakal sempat hari ini. Mending siap-siap bikin tenda, kasihan yang lain,” ujar Rakai
"Iya juga, yaudah ayo lanjut keburu malem. Sebentar lagi kita nyampe di pos buat bikin tenda."
Aku bersiap menggendong carrier bag-ku lagi. Rakai Dan Kive kembali mengobrol sambil berjalan dan aku berada di belakangnya.
"Kalau catatan itu bener, kayaknya aku bakalan jadi orang paling beruntung di dunia," ujar Rakai
"Jangan senang dulu, Kai. Kita belum tahu apa yang terjadi selanjutnya."
Serius, aku sama sekali tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Jadi jangan salahkan aku jika nanti aku kerasukan karena kebanyakan melamun. Aku tak punya teman ngobrol, melihat betapa romantisnya Zein dan Tania membuatku mengurungkan niat mencuri sedikit perhatiannya, pasangan itu, uh kenapa bikin iri melulu.
"Hei, apa yang kalian omongin sih? Aku gak ngerti nih. Dari tadi kalian ngomongin catatan terus." Akhirnya aku bertanya pada Rakai Dan Kive
"Mei, kamu percaya pada gerbang gaib yang menghubungkan dua dunia?" tanya Rakai
"Hah? Mana ada yang seperti itu," jawabku, seolah menirukan gaya Zein saat ditanya sesuatu yang tak masuk akal
"Mainmu kurang jauh Mei...lihat nih sebulan yang lalu aku nemu catatan dari buku di perpustakaan daerah."
"Terus?"
"Isinya tentang perjalanan menemukan dunia ghaib. Cerita asli, penulisnya yang mengalami sendiri."
Aku mengernyit heran. Lihat aku, ketika di rumah aku sering membaca buku fiksi dan banyak sekali cerita perjalanan ke dunia lain seperti itu. Aku baru ingat kalau Rakai memang orangnya kurang literasi.
"Penulis itu mengalaminya saat mendaki di gunung ini, dia juga memiliki caranya supaya bisa masuk ke dunia itu," kali ini Kive menjelaskan, sepertinya ia terpengaruh oleh kegilaan Rakai
"Kalian mempercayainya begitu?"
"Tentu saja, kalau belum dicoba mana tahu, kan?"
"Kayanya hanya orang bodoh yang percaya hal itu."
"Iya aku tahu aku bodoh Mei, udah deh mending diem aja. Katanya ya kalau gak bisa jaga omongan di gunung ini, kamu bakal diumpetin kalong wewe."
Aku berjalan mendahului mereka. Kukira mereka sedang membicarakan apa, sekarang aku sudah tak penasaran. Yang menjadi penasaranku sekarang adalah kenapa Zein begitu anteng badannya ditempeli Tania terus. Aku bahkan mendengar Tania minta digendong setelah mengaku amat lelah. Dia pikir Zein juga tak lelah apa? Aku menggeram. Sempat kucabut dedaunan di sepanjang jalan dan meremasnya bulat-bulat sebagai bentuk kekesalan.
"Mei, jangan ngerusak tanaman sembarangan. Mau diumpetin kalong wewe ya?" teriak Rakai dari belakang
Ya ampun maaf, aku kelepasan.
***
Di sepanjang jalan tadi sempat kulihat banyak orang yang menuruni gunung. Rupanya mereka sudah selesai dengan perjalanan mereka. Tak sedikit juga orang yang menaiki gunung sama sepertiku dan teman-temanku. Sayangnya, di tempat ini hanya kami berlima yang mendirikan tenda. Beberapa pendaki memutuskan melanjutkan perjalanan sementara kita adalah remaja yang butuh lebih banyak waktu istirahat.
Hanya ada dua tenda, sudah bisa ditebak aku tidur dengan siapa. Malam ini harusnya aku bisa tidur dengan tenang sebelum aroma parfum tercium di penjuru tenda yang akan kutempati. Sangat menyengat.
"Astaga, bau apa ini Tania?"
"Parfumlah, Mei."
"Maksudku buat apa kamu nyemprot parfum sebanyak ini?" tanyaku sambil menutupi hidung dan hampir terbatuk
"Kita ini kan perempuan Mei, dijamin deh nanti pagi sehabis tidur kita bakalan wangi walaupun ileran."
Terserah, sementara Tania mulai tidur aku keluar dan mendapati Zein tengah membuat minuman hangat sementara Rakai dan Kive lagi-lagi mengobrol. Aku curiga Kive juga tak bisa tidur di tenda dengan Tania karena demi apapun aromanya sangat feminim untuk wajah Kive yang macho.
Aku sengaja bergabung dengan Rakai hanya untuk mendengar leluconnya saja. Lelucon kalau katanya ada gerbang yang menghubungkan dua dunia. Itu sangat lucu, di tengah suasana mencekam ini mereka malah asyik membicarakan dunia imajinasi mereka. Tapi itu lebih baik dibanding berbagi cerita horor di tengah gunung seperti ini dan jangan sampai ada yang memulainya.
"Heh, memangnya dunia apa sih yang kalian omongin itu?" tanyaku sembari menyemil ramuan herbal kemasan untuk masuk angin
"Menurut catatan sih, kalau kita benar-benar menemukan gerbangnya, di sana akan ada dunia Peri," jawab Rakai antusias
"Oh peri yang punya sayap itu ya? Terus yang wajahnya cantik-cantik begitu?"
"Iya betul, di sana juga ada harta karun dan pemandangan yang bagus banget, ya kan Kiv?"
"Iya, persis yang digambarkan penulis." jawab Kive
"Astaga, kenapa kalian sangat percaya pada penulis bodoh itu."
Setelah berkata begitu aku beralih tempat menemui Zein yang sedang berada dekat tenda. Di tangannya terdapat gelas yang menguar aroma kopi. Aku menghabiskan ramuan herbal dan memasukkan tanganku ke dalam saku jaket.
"Mei, Tania udah tidur?"
"Udah, kelihatannya dia capek banget."
"Kamu gak capek?"
"Capek, tapi entah kenapa belum bisa tidur."
Jangan sampai kuceritakan alasanku tak bisa tidur karena parfum sialan itu. Zein sesekali menyeruput minumannya lalu kita mengobrol. Mengobrol, layaknya dua orang sahabat yang begitu akrab. Aku dan Zein memang seharusnya dekat seperti ini, tak peduli apapun masalahnya karena kita sudah tumbuh bersama dari kecil.
"Mau kubuatin kopi?" tanya Zein di tengah percakapan
Aku menggeleng pelan.
"Kalau begitu sana tidur, besok perjalanan masih panjang."
Aku menurut, Rakai hendak memasuki tenda tapi sebelumnya dia menyambar gelas yang dipegang Zein dan meminumnya. Tak tahu malu, tapi begitulah seorang Rakai. Dia memamerkan giginya setelah meminum sementara Zein menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kai, aku tunggu dunia peri yang kamu haluin itu," kataku sebelum memasuki tenda
"Bukan halu ya Mei, lihat aja nanti," Rakai menjulurkan lidahnya
Aku balas menjulurkan lidah juga sementara Zein tampak tak mengerti situasi. Kalau kuceritakan pada Zein, dia juga pasti tak akan percaya dengan apa yang Rakai dan Kive rencanakan. Mereka berdua benar-benar kurang literasi dan kurang kerjaan.