Sebuah Sulur Pohon

1225 Words
Setengah jalan lagi, gunung ini memang bukan gunung tertinggi jika dibandingkan gunung lain yang ada di provinsi Jawa Barat. Tapi tetap saja, perjalanan terasa panjang dari hari kemarin. Bebanku terasa sedikit ringan, makanan yang sudah kuisi banyak-banyak dalam carrier bag tinggal menyisakan beberapa saja. Aku tak boleh menangis jika nanti makananku habis di tengah jalan dan kelaparan. Ya, aku punya teman-teman yang akan membantu. Kive berjalan penuh semangat paling depan. Kali ini kulihat Tania tak terlalu menempel pada Zein. Rakai ada di sampingku sedang membaca catatan yang ia bawa. Aku memutar mata malas melihatnya yang berbinar-binar setiap menatap catatan itu macam orang melihat pengumuman siapa saja yang tak ikut remedial ujian matematikan dan namanya tertera di sana. Jalanan semakin curam tapi entah kenapa aku sudah terbiasa. Untuk ukuran seorang anak rumahan sepertiku, ini tugas yang tak terlalu sulit. Atau mungkin saja karena efek aku sering berolahraga yoga di rumah, tubuhku terasa bugar sekali.  Nampaknya semua orang sepakat penantian setelah mendaki gunung adalah melihat indahnya lautan awan yang tergantung bagai kapas terbang raksasa. Aku tak sabar menantinya, setelah jalan yang kutempuh ini, aku harus menikmatinya. Ya, harus, bagaimanapun juga. "Sebentar lagi sampai nih, guys," teriak Kive dari depan Aku melihat Zein bertampang bingung karena dia pikir perjalanan tidak secepat ini. Dia tahu betul tepatnya kapan akan sampai di puncak. "Sebentar lagi gimana? Ini masih lumayan jauh dari puncak loh, Kiv," ujar Zein "Hehe, maksudku sebentar lagi kita sampai ke gerbang dua dunia, Zein." Tania dan Zein terlihat tak mengerti dan kebingungan. Mereka melihat ke arahku dan aku membalasnya dengan gestur menggesek-gesekkan telunjuk di dahi. Melihat orang yang mempercayai dunia imajinasi bisa disebut sinting bukan? Pikirku. Perjalanan berlanjut tanpa ada hambatan sama sekali. "Dunia peri, dunia peri, dunia peri, aku datang..." Senandung dari mulut Rakai benar-benar mengganggu telinga. Aku kelepasan mencabut daun dari satu tanaman liar dan memasukkannya ke dalam mulutnya itu. "Demi apapun Mei...kalau keracunan mau tanggung jawab, hah?" Aku tak peduli. Liburanku sangat disayangkan jika mendengar nyanyian tak mengenakkan seperti itu. Kive melambai-lambai, dari tempatku berdiri dia kelihatan sangat macho dengan rambut pendek dan keringatnya yang hampir menetes. Tapi aku lebih tergoda pada Zein yang demi apapun aku ingin mengelap peluh di wajahnya tapi Tania melakukannya lebih dulu. Rakai yang berada di sampingku berlari menuju ke arah yang Kive tunjukkan sambil melebarkan matanya. "Benarkah ini tempatnya?" Kulihat tak ada apa-apa di sana, hanya ada pohon besar dengan sulur yang terjuntai. "Kalian mau apa sih sebenernya?" tanya Tania "Ada deh, kalau beneran terjadi kalian jangan terkejut ya," jelas Rakai Cukup, sudah kubilang itu hanya karangan fiksi. Aku membiarkan saja apa yang mereka lakukan sambil mencomot snack. Aku, Zein dan Tania duduk di sebuah batu menonton apa yang dua orang kurang literasi itu lakukan dengan catatannya. "Hei kalian berdua, biasanya ya kalau orang mau masuk ke dunia lain itu mereka berada di situasi yang memungkinkan," ujar Zein tiba-tiba "Maksudnya?" "Jatuh dari jurang. Kebanyakan itu terjadi setelah mereka terjatuh dari jurang dan hampir sekarat." Rakai menunjuk ke sampingnya tempat dimana jurang itu berada. "Kalau kita coba, bagaimana?" "Rakai sialan, siapa yang mau mati di tempat kaya gini? Mending Kita lanjut jalan aja yuk." Tania mendekap erat-erat tangan Zein "Bercanda. Menurut catatan, kita cuma perlu menatap pohon sambil membayangkan mimpi kita, ayo kita coba." Aku tak mau mengikutinya karena demi apapun itu sangat membuang waktu. Lautan awan sedang menunggu di atas sana dan mereka melakukan hal yang tidak berguna. Zein berbisik padaku kalau lebih baik menurut saja supaya masalah cepat selesai. Setelah terbukti kalau gerbang dunia ghaib murni tidak ada, Rakai dan Kive akan bungkam setelah itu. Aku mengerti, masa remaja memang masa yang dipenuhi dengan rasa penasaran teramat sangat. Pohon itu menjulang sangat tinggi dan memiliki batang yang besar. Akar-akarnya terlihat menjalar sampai ke tempat dimana aku duduk sekarang. Kelihatan seperti pohon angker, aku yakin bahkan pohon beringin dekat rumahku yang terkenal berhantu kalah seram dari pohon besar ini. Rakai ikut duduk di salah satu akarnya dan mulai melakukan apa yang catatan bodoh itu perintahkan. Matanya terpejam, aku jadi penasaran kehidupan apa yang dia inginkan selain membual tentang dunia peri. Kive juga memejamkan matanya, aku tebak dia sedang membayangkan kehidupan yang penuh kemachoan. "Kalian ikuti kita juga dong," Rakai berkata tanpa susah payah membuka matanya Zein juga tampak memberi kode padaku dengan menggesek-gesekkan telunjuknya di dahi. Tapi akhirnya dia melakukannya juga diikuti Tania. Sempat kulihat Tania tersenyum-senyum dengan matanya yang terpejam. Mungkin dia sedang membayangkan kehidupannya yang indah bersama Zein di masa depan nanti? Aku tak mau berpikir lebih jauh. Kalau aku? Aku mencoba memejamkan mata, tak ada apapun yang kubayangkan selain bersenang-senang bersama Zein seharian. Bermain game, bermain basket di atap, memasak bersama, dan membersihkan mobil Ayah sambil bermain air seperti yang dilakukannya dulu. Sempat-sempatnya aku membingungkan diri sendiri tentang bagaimana Zein bisa tak tertarik padaku padahal aku sudah tertarik dengannya sejak SMP. Aku putar balik waktu dimana aku menghabiskan waktu dengannya dan kurasa aku tak memiliki kesalahan padanya. Kenapa Zein bisa tak tertarik pada Meika? Kenapa? Sedangkan Tania dapat dengan mudah menarik perhatiannya dan Zein pernah bercerita padaku kalau... "Sial, tak terjadi apa-apa," umpat Rakai Tampaknya yang lain sudah membuka mata dan seperti yang kuduga, gerbang ghaib itu murni tidak ada. Omong kosong. "Sudahlah, ayo kita pergi." Zein membuka suara "Mei, buka matamu Mei...oke kamu menang karena aku memang bodoh." Aku sadar aku belum membuka mata karena kehidupan yang aku inginkan sangat panjang. Yang lain mulai berjalan pergi, aku berusaha melangkahkan kaki juga tapi tiba-tiba kakiku ini terasa sangat berat. "Tunggu sebentar, ini kakiku..." Aku melirik ke bawah dan tampaknya salah satu akar yang menjalar itu berusaha menahan sepatuku. Akarnya bergerak-gerak hidup dan itu membuatku merinding setengah mati. "Kenapa, Mei?" Mereka berbalik dan berusaha melihat keadaanku tapi sebelum itu sebuah sulur panjang dari atas pohon bergerak, menyerang, dan melilit tubuhku. Sulur itu bergerak-gerak seperti ular, demi apapun itu membuatku geli sekaligus takut akan mencekikku. "Astaga, sulurnya...kenapa bisa begitu? bagaimana..." "Cepet bantuin woi!" Zein mengambil sebuah kayu, dari atas pohon, sulur lain menyerang Zein sebelum berhasil membantuku. Wajah ketakutan tampak di mata mereka dan mereka juga tak bisa membantuku karena demi apapun sulur yang bergerak seperti ular itu bertambah banyak dan mulai menyerang mereka satu persatu. Teriakan tak terelakkan dari mulutku, berharap ada pendaki lain yang lewat tapi hari itu benar-benar sepi. Tak ada yang dapat kudengar selain teriakan teman-temanku yang bersahutan. "Zein, aku gak mau mati di sini." "Catatan itu gak bilang kalau kita bakal diserang kaya gini." "Rakai b**o, tanggung jawab!" "Ampun, aku yakin ini cuma mimpi." Sulur yang melilit di tubuhku tampak semakin ganas dan dapat kurasakan aku tak lagi menginjak tanah. Bertambah tinggi, sulur itu membuatku melayang seketika mereka yang dibawah berteriak ketakutan. "Mei...Meika..." Keringat mengucur tak terkendali, dari atas dapat aku lihat satu per satu mereka juga dibawa melayang oleh sulur itu. Sulur sialan, aku merasakan pergerakan yang membawaku mendekati jurang. "Jangan...jangan..." Lilitan semakin mengendur, teman-temanku tampak menangis dan aku hanya bisa memandang mereka pasrah. Apa yang harus kuucapkan untuk terakhir kali? Sekali gerak, sulur itu melepaskan lilitan dan menghempaskan tubuhku, tepat ke dalam jurang. "Jangan...Mei...Meika..." Aku pasrah. "Rakai begooo!!!" Hanya itu yang bisa kuteriakkan sebelum aku benar-benar merasakan kebebasan jatuh ke dalam jurang. Apa aku akan pergi ke dunia peri? Kuharap, karena jika aku mati kuharap teman-temanku juga mati. Kami sudah berjanji untuk merasakan suka dan duka bersama. Tapi nyatanya kematian bukanlah sebuah toleransi. Semoga saja, aku belum mati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD