Bertunang dengan ku

1562 Words
Tanpa di sedari, Mawar dan Melati telah tinggal di vila Barbara hampir lima tahun. Dua minggu lagi Danial akan keluar dari penjara. Kegembiraan itu terpancar di wajah Barbara.. Barbara telah membulatkan tanggal haribulan Danial keluar penjara di kalender nya di kantor.. Perkara itu di sedari Burn ketika berkunjung di ruangan Barbara.. Kerna Barbara meletakkan kalender itu di atas meja nya. ' Aku harus melakukan sesuatu.. Agar Barbara tidak tetap buta dengan cinta bohongan Danial.' Burn mengatakan itu di dalam hatinya. " Om.. sudah lama nunggunya. " " Ngak lama kok.. Om cuma mau ajak kamu makan siang.. Ada hal yang mau Om bincangkan.." " Sepertinya serius om.. Ya udah.. Mari kita pergi om.." Mereka hanya makan di restoran yang dekat dengan kantor... Jadi tidak perlu memakan masa yang lama.. Sementara menunggu makanan tiba.. Barbara penasaran apa yang ingin di bicara kan om nya. " Om.. Apa sih yang mau di bincangkan..?" " Kita makan dulu Bar.. Om sudah lapar ni.." Makanan yang mereka pesan juga sampai tepat pada waktunya.. Selesai makan.. Burn menarik nafas untuk menguatkan dirinya berdepan dengan Barbara. " Om.. Kita sudah selesai ni. Bilang deh.. Aku jadi penasaran.. " Bar. begini... Om ingin menjodohkan kamu dengan seseorang.." " ngak Om.. Aku kan sudah punya pacar.. Ngak mungkin kan aku akan ninggalin Danial.." " Om bagi kamu masa seminggu Bar.. Om tidak akan memaksa kamu.. Lepas seminggu kalau keputusan kamu tetap sama.. Om harap kamu jangan menyesal .." " Apa paan sih Om.. Kalau pun Om bagi aku tempoh sebulan.. Aku ngak akan setuju.. Kerna aku itu cinta sama Danial seorang.." Burn memegang tangan Barbara.. Dia ingin memberitahu Barbara segalanya.. Tapi pasti Barbara tidak akan percaya pada nya.. Burn ingin Barbara membuka mata hatinya.. Melihat yang mana permata dan yang mana kaca .. " Om ingin kamu melihat dengan mata hati kamu Bar.. Kalau pun Om beritahu kamu.. Kamu pasti ngak akan percaya sama Om.. Om tahu kamu baik.. Kamu juga seorang yang bijak.. Lihat ini.. Atau kamu mau selidik nya sendiri.." " Apa ni Om..?" Burn memberikan Barbara sebuah sampul yang agak besar.. Berisi sesuatu yang membuat Barbara berfikir berkali- kali.. " Kamu buka nya nanti di Kantor.. Ingat.. Sampul ini kamu simpan baik- baik.. Cuma Om mau pesan.. Bukan semua yang kamu lihat itu kamu boleh percaya.. Lihat dengan mata hati kamu.. Om sayangkan Kamu Bar.. Om mau lihat kamu bahagia.. Om suka cara kamu yang sekarang.. Tapi Om mau kamu cari orang yang benar- benar ikhlas.. Sepertinya Burn menitiskan air matanya.. Burn tidak ingin Barbara terluka.. Burn tahu Barbara akan berubah menjadi pendiam semula jika semua kejahatan Danial dan keluarganya terbongkar. " Om kenapa?? Apa aku ada membuat salah sama Om..? Aku tau Om mau aku bahagia.. Aku sekarang bahagia Om.. kalau Om malu Danial itu dari penjara.. aku dan Danial boleh aja nikah secara tertutup Om.." " Ermmm... Bukam begitu Bar..Kamu lihat aja sampul itu dahulu.. Ingat pesan Om.. Jangan percaya tanpa berfikir dahulu apa yang kamu dengar atau lihat.. Om pergi ya.." Barbara seperti orang yang kebingungan.. " Kenapa dengan Om Burn."? Barbara hanya melihat Om nya berlalu pergi.. ************ Barbara tidak sabar membuka sampul yang di berikan Burn.. Barbara melihat di dalam sampul itu terdapat DNA punya Danial, Melati Dan Mawar.. DNa Danial tidak sepadan dengan kepunyaan Melati dan Mawar. " Apa semua ini..?? Apa Harus aku bertanyakan Danial..?" Tiba- tiba Barbara teringat pesan paman nya.. " Jangan percaya tanpa berfikir...? Apa Danial Menipu ku..?" Bermacam- macam persoalan bermain di fikiran Barbara.. untung sahaja dia tidak punya meeting dengan client.. Akhirnya Barbara pulang dengan persoalan di minda nya sehingga dia lupa melawat Danial di Penjara. ********** Sampai sahaja di vila nya.. Melati sedang bermain - main bersama anaknya Dani.. Barbara telah mengembalikan kartu nya kepada Mawar setelah di baku kan selama setahun oleh pengacara ayahnya.. Tapi penggunaan kartu itu ada batasnya. Mawar tetap berpuas hati dengannya.. Dani anak kepada Melati juga kini beusia 4 tahun. Barbara juga sudah berusia 24 tahun. Kini Barbara yang mengelola perusahaan ayahnya. Om Burn mempunyai perusahaan sendiri. Kadang kala dia hanya memantau perusahaan anak saudaranya itu. Perubahan wajah Dani dari tahun ke tahun semakin iras kepada Danial.. Perubahan itu di sedari oleh Mawar dan Burn.. Kerna itu Mawar sering melarang Melati membawa keluar dari kamar jika Barbara berada di villa. Bermacam - macam alasan yang terpaksa di berikan Melati jika Barbara bertanya soal Dani.. " Bar.. Awal pulang hari nie.. Ngak melawat kak Danial??" Barbara yang ingin segera ke kamar nya berhenti seketika.. Dia menutup matanya.. Dia sebenarnya terlupa untuk melawat Danial di penjara.. " Arhh.. Aku ngak enak badan Mel.. kerna itu aku ngak melawat Danial.." Barbara memandang kepada bocah kecil yang sedang tersenyum ke arahnya.. ' Kenapa aku seperti kenal senyuman, pandangan dan wajah bocah itu..' Selama ini Barbara jarang melihat Dani secara dekat sejak dia berusia 3 dan 4 tahun .. baru hari ini Barbara melihat secara jelas.. " Mel.. Aku naik ke atas dulu ya.. " " Baik Bar.." Melati tidak merasa ada yang pelik dengan Barbara. Bagi Melati Barbara kelihatan capek dan perlu beristirehat. Barbara masuk ke dalam kamarnya. Dia berdiri di beranda biliknya. " kalau Melati dan Danial bukan saudara kandung.. Tapi bagaimana rupa Dani dan Danial seiras.?. " Barbara menutup mulutnya dengan tangannya.. Air mata Barbara mengalir tanpa hentinya. Dia masuk ke dalam kamarnya kerna tidak mau ada sesiapa pun yang melihatnya dalam keadaan lemah ketika itu.. "Patutlah aku ngak pernah meliat pacarnya Melati.. Tapi kenapa?? Kerana Uang..?? Kenapa aku ngak sedar selama ini.. Apa benar kata Om.. Aku di butakan cinta.." Puas Barbara menangis di dalam kamarnya.. Hampir seminggu juga Barbara berkurung di kamarnya.. dengan alasan dia ngak enak badan.. Pekerjaan di kantor terpaksa di uruskan oleh Om Burn.. Makanan juga di hantar ke kamar Barbara.. Kadang makanan itu tidak di jamah sedikit pun oleh Barbara. Burn merasa menyesal kerna Barbara telah mengetahui segalanya.. Tapi cepat atau lambat Barbara harus juga mengetahui nya. Burn merasa khawatir dengan keadaan Anak saudaranya. Burn mengirim Ivan untuk menceriakan Barbara. Ivan tidak lagi tinggal di villa Barbara.. Pak Anton juga lebih senang tinggal di rumah pekerja bersama yang lain . Tokk..tokkk.. Ivan memberanikan diri membuka pintu kamar Barbara. Ivan melihat Barbara sedang menatap ke luar beranda nya.. " Bik.. letak aja makanan nya di sana.." " Bar. Ini aku Ivan." Barbara tidak menoleh sedikit pun.. " Sampai bila harus kamu begini Bar.." "Aku kecewa Van.. Orang yang aku percayai cintai mengkhianati ku.. Aku kecewa Van.. aku rasa ngak guna lagi aku hidup.. Mereka pasti senang melihat aku mati.." Ivan mendekati Barbara dan berada di sampingnya.. Mata Barbara sedikit bengkak kerna menangis setiap hari.. Wajahnya juga sedikit kurus kerna tidak makan.. "Bar.. coba kamu liat di sekeliling kamu.. Kamu bukan hanya ada mereka yang jahat pada mu.. " Ivan menunjukkan kepada Barbara tukang kebun yang menyiram bunga, supir yang membersihkan mobil dan pembantu yang baru pulang dari membeli barang makanan.. " Coba kamu fikir.. Bagaimana kehidupan mereka - mereka itu bila kamu tiada nanti.. Pernah kamu fikir tentang mereka juga.." Barbara hanya mendiamkan diri.. " Kamu ingat mereka ngak sedih.. Gimana pula dengan om kamu yang selalu menjaga kamu.. Pernah kamu fikir perasaan nya.. Begini Bar.. Aku faham kamu merasakan hidup semula bila dia ada.. Tapi kamu pernah terfikir.. semasa kamu tengah down.. siapa yang ada di dekat kamu.." Barbara masih diam tanpa kata.. tapi otak nya mula berfikir.. Barbara mengimbas kembali Ketika dia merasa kehilangan, semua pekerja nya datang menghiburkan nya.. koki rumahnya membuatkan dia masakan yang di sukai nya.. Bibik dan Pak Anton menghiburnya dengan bercerita tentang kampung halaman.. Supirnya membawa dia pergi ke mana pun dia mau.. dan Om Burn orang yang selalu ada untuk dia.. " Kenapa aku baru sedar selama ini.. Kenapa aku egois dengan mereka.. Lebih percaya orang yang aku baru kenal dari orang yang selama ini di sisi aku.." Ucap Barbara dengan linangan air mata.. "Masih belum terlambat Bar.." " Tapi aku ngak mampu berbuat apa- apa van.." " Kenapa ngak kamu lawan mereka yang mengkhianati kamu.. Ngak perlu lo mau bertumbuk segala.. Cuma sekadar memberi mereka pengajaran.. Jadi orang kena kuat Bar.. " " Aku ngak mampu Van.. Aku tidak sekuat itu.." " Aku bisa membantu mu.. Apa kamu mau..?" " Gimana caranya..?" " Kamu setuju ngak?" " Aku fikirkan nya dulu.." " Sampai bila.. kamu suda seminggu ngak keluar kamar.. ngak ke kantor lagi.." " Aku ngak tau gimana mau menghadapi mereka.. Melihat muka mereka aja aku ngak mau lagi Van.. " Kalau mereka boleh bermuka dua.. Kenapa kamu ngak.." " Kamu mau aku menghalau mereka?" " Tidak buat masa ini.. " " Jadi apa rancangan nya.. ?" " Tapi kamu mesti penuhi syaratku.. " " Apa.. ?" " Bertunang dengan ku.." " Apa..???" " Apa kamu juga ingin mengambil hartaku..?" " Ahahahhahah... Aku ingat aku seperti itu.. Aku sudah meminta izin ke Om kamu.. Cuma tinggal keputusan dari kamu aja.." " Jadi kamu pria yang ingin Om jodohkan dengan ku.." " Iya Barbara.. Jadi gimana??" " Ermmmmm Aku setuju.." Barbara menutup matanya ketika mengatakan kalimat itu.. " Kita akan bertunang dalam beberapa hari lagi.." Ivan tersenyum mendengar Barbara sudi menerima nya. " Secepat itu.." " Iya Bar.. Ingat walau apa pun berlaku.. aku tetap di sisi mu.." Entah mengapa Hati Barbara merasa senang mendengar kata- kata Ivan itu.. " Ya udah Bar.. Aku pergi dulu.." " Van.. Makasih ya.. " Ivan hanya tersenyum dan berlalu pergi..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD