Kala hanya mematung. Sudah hampir satu jam jamuan makan malam itu berlangsung, namun atmosfer di ruangan terasa begitu membeku dan menghimpit d**a. Pembicaraan para orang tua hanya berputar pada lingkaran tak berujung: tentang ekspansi perusahaan, grafik keuntungan, dan ambisi masa depan. Tidak ada satu pun kata yang sudi menyentuh topik utama tentang perjodohan sialan ini.
"Aduh... lama banget sih, Pah. Raiden ke mana, sih? Jam berapa ini?" keluh Sekar—calon mertua Kala—yang duduk tepat di sisinya dalam balutan dress merah-hitam nan elegan.
"Sebentar lagi, Mah. Sabar dulu," sahut Lingga, berusaha menenangkan istrinya.
"Mungkin dia emang gak mau nikah sama Kala," celetuk Alda melirik tajam. Matanya penuh sirat ejekan yang menusuk.
"Dia mau, cuma masih ada urusan di sekolah," potong Lingga dingin. Sejak awal, ia memang paling tidak sudi melihat tingkah Alda yang selalu memancing keributan.
"Nah! Itu dia!" seru Sekar tiba-tiba dengan mata berbinar.
Sesosok pemuda bertubuh tinggi menjulang—hampir menyentuh dua meter—melangkah angkuh menghampiri meja mereka. Kehadirannya seketika menyedot perhatian seluruh isi restoran. Kulitnya yang putih bersih tampak begitu kontras dengan rambut hitam legam yang membingkai wajah tampannya.
"Maaf, gue telat. Tadi habis nganterin Bianca dulu," ucap Raiden santai tanpa beban.
Sekar langsung mencubit pinggang putranya dengan wajah menahan emosi yang nyaris meledak, sementara Lingga buru-buru mencairkan suasana dengan tawa renyahnya.
Lalu bagaimana dengan Kala? Gadis itu tetap bergeming. Bahkan saat Raiden mengambil tempat di sisinya, Kala sama sekali tak sudi meliriknya sedikit pun.
"Jadi, kita langsung ke intinya aja ya," ujar Lingga memecah kekakuan. "Gimana kalau besok Raiden sama Kala langsung ngurus berkas pernikahan? Berhubung mereka belum lulus, saya rencana mau adain tunangan dulu. Nanti lima tahun lagi baru nikah resmi, tapi selama itu Kala bakal tinggal di rumah kami. Gimana menurut Anda?"
Rion, ayah Kala, mengulas senyum manis yang kelewat palsu. "Saya setuju banget dan serahin semuanya ke kalian. Buat saya, Kala mau nurut buat nikah aja udah syukur banget."
Kala nyaris tertawa getir mendengarnya. Nada suara Rion terdengar begitu lembut dan hangat—sangat bertolak belakang dengan kenyataan bahwa pria itu selalu menaburkan duri tajam di setiap langkah hidupnya.
"Kalau kalian? Setuju, kan?" tanya Sekar memandang pasangan muda itu.
Kala terhenyak, tetapi bibirnya terkunci rapat. Ia hanya menatap kosong gelas jus di hadapannya.
"Kayak yang aku bilang di rumah, aku setuju-setuju aja asal—" Ucapan Raiden terhenti seketika saat Sekar menepuk pelan tangannya, menyuruhnya bungkam.
"Gimana kalau Kala pindah sekolah juga? Biar satu sekolah sama Raiden. Walaupun sebentar lagi lulus, rasanya gak masalah, kan? Kala?"
"Iya," sahut Kala pelan. Suaranya terdengar serak dan pecah karena terlalu lama bungkam.
Kala bisa merasakan gerak-gerik Raiden yang sejak tadi mencuri pandang ke arahnya. Namun, gadis itu sama sekali tidak peduli. Pikiran Kala justru sibuk merapel doa: semoga ada keajaiban yang bisa membuatnya menghilang atau berpindah ke kamarnya detik ini juga.
"Kalau gitu, mari kita berdiri dan persilakan Raiden menyematkan cincin tunangan di jari Kala!" seru Sekar penuh antusias. Senyum bahagia memancar terang dari wajah cantiknya.
Pemandangan itu sungguh ironis, berbanding terbalik dengan kedua tokoh utama yang tampak begitu enggan. Kala berdiri dengan raut wajah yang sedatar papan.
Saat kotak perhiasan dibuka, mata Alda nyaris melompat keluar dari kelopaknya. Ia dan ibunya saling bertukar pandang, benar-benar terperangah melihat silau berlian raksasa yang bertengger di atas cincin itu.
Dengan gerakan cepat dan dingin, Raiden menyematkan cincin berlian itu ke jari manis Kala. Sebaliknya, dengan sikap tak kalah acuh, Kala menyematkan cincin di jari Raiden.
Tepuk tangan dan sorak-sorai bercampur kepalsuan bergema di ruangan. Satu-satunya orang yang benar-benar bahagia malam itu hanyalah Lingga dan Sekar.
Kala tak habis pikir. Di luar sana masih banyak perusahaan raksasa yang jauh melampaui kekayaan keluarganya, tapi kenapa keluarga Lingga begitu gigih menginginkannya menjadi menantu?
Pembahasan konyol itu akhirnya selesai. Karena para orang tua kembali tenggelam dalam obrolan bisnis yang membosankan, Kala meminta izin untuk menghirup udara segar di balkon restoran.
Ia berdiri bersandar pada pagar balkon, membiarkan angin malam menyapu wajahnya sembari menatap kerlip lampu kota. Suasana di luar jauh lebih menenangkan ketimbang terjebak di antara orang-orang berjiwa egois di dalam sana.
"Gak usah sok cuek atau mainin peran jadi cewek dingin dan misterius," tegur sebuah suara menusuk dari belakang. "Jujur aja, gue gak tertarik sama lo dan gue udah punya pacar."
Kala melirik sekilas saat bayangan Raiden perlahan mendekat.
"Gue gak peduli," sahut Kala singkat dan tajam.
Raiden tertawa geli. Ia berdiri di sisi Kala sambil menggenggam gelas wine, menatap lurus ke dalam restoran. "Setelah lulus nanti, gue cuma bakal nikahin Bianca dan cuma dia istri sah gue. Lo bakal tetap jadi istri kedua yang gak bakal pernah gue peduliin, apalagi gue sentuh!"
Kalimat itu sengaja dirancang untuk meremukkan hati, namun sama sekali tak sanggup menggores Kala. Gadis itu justru mengukir senyum tipis, lalu memalingkan wajah menatap Raiden.
"Bagus, itu malah harapan gue," jawab Kala tenang. "Gue nerima perjodohan ini cuma buat kabur dari keluarga sialan itu, dan makasih banyak karena keluarga lo udah milih gue."
Kala memberikan senyuman singkat yang dingin sebelum raut wajahnya kembali angkuh.
Raiden mendadak bungkam. Tenggorokannya tercekat, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Gertakannya sama sekali tidak mempan untuk membuat Kala ketakutan atau membatalkan pernikahan ini.
"Lo gila ya?! Seumur hidup gue gak bakal pernah cinta sama lo, paham?!" tekan Raiden, yang di mata Kala justru terlihat begitu menggelikan.
Kala mengangguk santai. "Itu juga yang gue mau."
Tanpa menunggu balasan, Kala melangkah pergi meninggalkan Raiden yang masih berdiri membeku.
"Bukan itu maksud gue, sialan!" geram Raiden menatap tajam punggung Kala yang perlahan menjauh.
"Raiden..."
Sebuah suara manja menyapa. Alda berjalan mendekat dengan senyum dikulum. Gerakannya tampak heboh bagai belatung nangka—sibuk merapikan rambut dengan wajah yang kelewat antusias.
"Harusnya kamu milih aku buat jadi istri kamu, bukan Kala. Dia itu jelek, buruk, dan gak pantes banget jadi menantu keluarga Lingga," bisik Alda bernada merayu.
Raiden meliriknya dengan tatapan tajam nan membunuh. "Gue bahkan jauh lebih benci cewek kayak lo. Suka ngomongin orang dari belakang!"
Alda tercengang seketika. Hatinya seperti dihantam hantaman batu raksasa. Napasnya tercekat, dadanya sesak karena terguncang hebat.
"DASAR COWOK LANTAM!" teriak Alda emosi, tetapi Raiden terus melangkah tanpa sudi menoleh sedikit pun.
Tirai malam perlahan terkuak, berganti dengan fajar yang memancarkan sinar hangat membakar embun.
Pagi itu, Kala mendapat pesan bahwa ia dan Raiden harus pergi menandatangani surat perjanjian nikah untuk lima tahun mendatang. Kala membaca setiap poin dengan cermat, lalu membubuhkan tanda tangannya tanpa ragu sedikit pun. Berbeda dengan Raiden yang terus menggerutu dan mengeluhkan keputusan orang tuanya.
Usai urusan berkas selesai di gedung perusahaan Lingga, mereka berjalan menuju pintu keluar.
"Lo pulang duluan, gue mau ketemu Bianca," ujar Raiden dingin.
Lagi-lagi Kala tidak ambil pusing. Ia melenggang pergi begitu saja meninggalkan Raiden yang berdiri di depan pintu lobi.
"Kok dia gak marah atau ngamuk sih, Bang?" tanya Raiden heran pada asisten keluarganya.
"Mungkin cara marahnya memang begitu, Mas. Diam," jawab Seno seadanya.
Sementara itu, Kala sudah melangkah masuk ke dalam mobil jemputan. Baginya, berhasil lepas dari cengkeraman keluarga Taraya adalah sebuah kemenangan besar.
"Pak, turunin aku di halte bus depan aja ya," pinta Kala.
"Loh, kenapa, Neng?" tanya sang sopir heran.
"Gak apa-apa, Pak."
Sesuai permintaan, sopir pribadi itu menurunkannya di halte terdekat. "Neng Kala, kalau ada apa-apa langsung kabari ya, nanti Saya jemput."
"Iya Pak Toni, tenang aja."
Kala menaiki bus yang baru saja berhenti. Ia memutuskan menuju toko bunga tempatnya bekerja paruh waktu. Ia bingung harus pergi ke mana lagi, dan mengurung diri di rumah keluarga Lingga yang asing bukanlah pilihan menarik.
Sesampainya di toko bunga asri di sudut kota, Kala melangkah masuk dan langsung disambut senyum hangat dari pemilik toko.
"Loh, kok tumben ke sini siang-siang, Kal? Gak sekolah?" tanya Anna heran.
"Gak Kak Ann, aku lagi libur," jawab Kala beralasan.
Anna agak bingung. Tak biasanya Kala membolos. Jangankan bolos, saat badannya demam membara hingga 40 derajat pun gadis itu biasanya tetap nekat pergi ke sekolah. Namun Anna memilih tidak memperpanjang. "Yaudah, kebetulan Kakak ada janji sama temen. Kakak titip toko sebentar ya?"
Kala mengangguk lega. Ia bersyukur Anna tidak mengajukan banyak pertanyaan.
Waktu bergulir begitu cepat. Kala menyibukkan diri melayani deretan pembeli yang berdatangan. Jarum jam menunjukkan pukul lima sore ketika suasana toko mulai renggang. Udara sore di luar terasa begitu sejuk dan menenangkan, langit melukiskan rona jingga keemasan yang cantik. Di sela kepenatannya, Kala merangkai lima tangkai bunga calla lily segar dengan jemarinya yang terampil.
Lonceng di atas pintu berdenting halus menandakan kedatangan pengunjung baru. Kala mengulas senyum ramah yang paling tulus—tersenyum adalah hal langka baginya, dan hanya di toko bunga inilah ia bisa melakukannya dengan bebas.
Namun, senyuman hangat itu seketika runtuh saat matanya menangkap sosok Raiden yang masuk... bersama seorang gadis yang diyakininya adalah Bianca.
"Loh? Kok lo bisa ada di sini?" tanya Raiden kaget mendapati Kala di balik meja kasir.
"Siapa, Sayang? Kamu kenal?" tanya gadis di samping Raiden. Wajahnya tidak bersahabat, dipenuhi tatapan sinis dan keangkuhan yang meluap-luap.
"Kenal, tetangga," kelit Raiden cepat. "Oiya Kal, ini Bianca."
Sesuai dugaan Kala. Gadis itu hanya mengangguk pelan dan berusaha tetap profesional.
"Cantik, kan?" puji Raiden. Bianca tersipu malu sambil mencubit gemas lengan Raiden.
"Iya, cantik," jawab Kala seadanya. "Mau cari bunga apa?"
"Gue mau yang itu!" tunjuk Bianca penuh keangkuhan pada buket calla lily yang sedang dipegang Kala.
Kala menggeleng pelan. "Maaf, yang ini gak dijual karena kita cuma punya stok ini aja."
"Tapi gue mau yang itu!" sentak Bianca memaksa dengan mata melotot.
"Ini udah pesenan orang," jelas Kala dingin.
"Siapa?!" tantang Bianca semakin sengit. Ia bersedekap d**a dengan gaya menantang.
Kala menatapnya lurus dengan pandangan membeku, lalu menjawab pelan
"Mayat."