Bab 1- Tak tersisa lagi.
Langkah kaki yang berat beradu dengan dinginnya lantai rumah, mengiringi tubuh lelah seorang pelajar SMA yang baru saja pulang dari sisa-sisa perjuangan hidupnya hari itu. Belum sempat nafasnya terlepas lega, sebuah kalimat meluncur dingin, merayap bak sembilu yang langsung menancap di tengkuknya.
"Nanti malam kamu harus ikut ke pertemuan keluarga Lingga."
Kalimat itu berhembus seperti angin malam yang membawa hawa kematian. Niskala berdiri mematung. Wajahnya yang pucat pasi dan sorot matanya yang gulita tak lagi menyisakan daya hidup. Matanya mati, redup, menyiratkan jiwa yang sudah terlalu sering dihantam badai. Ia hanya diam, menatap dua sosok yang secara paksa dipanggilnya orang tua.
"Denger nggak kamu, Kal?!" jerit wanita di hadapannya—ibu tirinya. Suara itu sarat akan keangkuhan yang memuakkan, menguar dari bibir yang tak pernah sekalipun memberi kecupan hangat.
"Sejak kapan aku punya pilihan?" sahut Kala serak, menatap kosong. "Nolak pun... aku bakal tetap diseret, kan?"
Kala berbalik, berniat melarikan sisa-sisa dirinya ke kamar. Namun, bom itu meledak di detik berikutnya.
"Jaga sikap kamu, Kala! Malam ini keluarga Lingga sendiri yang minta kamu untuk jadi menantu mereka!"
Suara Rion—ayahnya—menggelegar, merobohkan seluruh dinding pertahanan Kala. Tiga kata itu memuat bobot seberat jutaan ton batu yang menghantam d**a Kala hingga tulang-tulangnya terasa remuk. Kala berbalik perlahan, menatap Rion yang matanya merah padam oleh amarah, menatapnya seperti musuh bebuyutan.
"Nikah...?" Suara Kala melengking tinggi, pecah oleh rasa ketakutan dan ketidakpercayaan yang kental. "Aku baru 18 tahun, Pah! Aku bahkan belum lulus sekolah!"
"Nggak ada penolakan!" tegas Rion tajam, memutus harapannya dalam sekali tebas.
Lagi-lagi, Kala dipaksa ingat akan kenyataan pahit: di rumah ini, ia adalah tawanan tanpa hak suara. Jeritan hatinya yang berdarah-darah hanya menjadi gaung yang tak pernah didengar.
"Kamu harusnya berlutut dan bersyukur karena keluarga Lingga milih kamu!" cerca Hilda, ibunya, menyiramkan racun ke atas luka Kala yang menganga. "Kamu kira saya mau nikahin kamu sama pewaris mereka?! Kalau bukan karena mereka yang maksa, Saya lebih sudi nyuruh Alda yang nikah ketimbang kamu!"
"Mamah benar," Rion menimpali, tatapannya menyalang penuh kebencian. "Harusnya Alda yang jauh lebih segalanya dari kamu! Kenapa juga mereka milih anak nggak berguna dan pembawa sial kayak kamu!"
"Mungkin dia tebar pelet ke anak mereka, Pah," cibir Hilda lagi, melayangkan tuduhan keji tanpa belas kasihan.
Setiap kata-kata yang mereka ucapkan terasa seperti belati yang bertubi-tubi menghunus jantung Kala hingga hancur berkeping-keping di dasar dadanya. Dalam kehancuran yang begitu lebur, Kala justru tertawa.Tawa getir yang gila, meluapkan rasa sakit yang sudah melewati batas kemampuan manusianya untuk menampung. Pelupuk matanya yang merekah basah menatap kedua orang tuanya dengan kepedihan yang teramat dalam.
"Kalau gitu... suruh aja Alda yang nikah," bisik Kala dengan suara bergetar namun tajam. "Kalian kan bisa berbuat apa saja semau kalian. Masa minta hal sekecil itu ke mereka nggak bisa?"
Rion membulatkan mata, napasnya memburu kesetanan. "Kalau bisa udah Saya lakukan dari awal! Tapi ini menyangkut kelangsungan perusahaan Saya!!" teriaknya sampai urat-urat di lehernya mencuat seperti cacing yang menggeliat murka.
"Udahlah Kala, nggak usah kamu sok menolak dan sok suci. Kamu pasti senyum-senyum di dalam hati nerima pernikahan kaya raya ini, kan?" cibir Hilda, melemparkan tuduhan penuh kecemburuan.
Dada Kala sesak hingga napasnya tertahan di tenggorokan. Mengapa air mata yang menetes di pipinya justru diartikan sebagai kebahagiaan oleh mata manusia-manusia jahat ini? Jelas-jelas hatinya sedang melolong memohon kematian ketimbang terjebak dalam perangkap perjodohan konyol yang mereka rencanakan.
───── ⋆⋅☆⋅⋆ ─────
Di dalam kamar yang temaram, hanya ada remang cahaya lilin aromaterapi yang menari-nari gelisah. Niskala merosot, terduduk lemas di sudut tempat tidurnya. Pandangannya terpaku pada gaun mewah yang terbentang di atas kasur—gaun tercantik dan pertama yang pernah ia miliki sepanjang hidupnya.
Namun alih-alih merasa bahagia, yang bergolak di dalam dadanya justru hasrat membara untuk membakar gaun terkutuk itu hingga menjadi abu.
Kala membuang muka menyedihkannya, merobohkan tubuhnya yang lebam oleh rasa lelah-----Kelelahan dari sekolah, dentang jam kerja part-time yang mencekik, serta caci maki keluarganya berbaur menjadi racun yang seakan menyuruhnya mati malam ini juga.
Ia tersenyum getir pada takdirnya sendiri. Kala tak pernah diizinkan mencicipi indahnya tumbuh di keluarga kaya yang berlimpah kasih sayang. Ia adalah anak buangan yang dipaksa bertaruh nyawa seorang diri. Sepeser pun harta orang tuanya tak pernah ia sentuh sedikitpun. Dan kini, jangankan harta, bahkan tubuh dan masa depannya pun dirampas untuk melunasi ketakutan mereka.
Detik demi detik merambat seperti derap langkah pencabut nyawa. Suara jarum jam seperti tawa yang mengejek di telinganya. Kala menarik nafas dalam-dalam, menahan robek di d**a. Ia hanya punya waktu satu jam sebelum pintu kamarnya didobrak dan dirinya diseret keluar menuju sangkar emas.
Tok... tok... tok...
Baru saja kakinya hendak melangkah menuju kamar mandi, ketukan halus merayap di pintunya. Kala membeku. Suara ketukan itu terlalu asing, terlalu lembut untuk rumah yang hanya mengenal dobrakan kasar.
Dengan jemari bergetar, Kala membuka pintu. Sosok wanita asing berdiri di sana, tersenyum begitu hangat—sebuah senyuman yang sudah bertahun-tahun tak pernah Kala dapatkan di rumah ini.
"Halo, Kak Kala. Kami dari tim make-up artist Aurora yang disewa langsung oleh Pak Lingga. Mohon izin untuk merias Kakak malam ini, ya?" ujar wanita itu, suaranya mengalun seperti lagu pengantar tidur di tengah badai yang mengamuk.
Kala terpaku. Kehangatan yang mendadak menyerbunya justru terasa asing dan menakutkan, hingga ia hanya bisa mengangguk pasrah dan membiarkan mereka masuk.
───── ⋆⋅☆⋅⋆ ─────
Sementara itu di kamar lain, atmosfer terasa pekat oleh kemurkaan. Alda melangkah bolak-balik seperti orang kesetanan, meluapkan amarahnya di hadapan Hilda.
"Kenapa harus dia, Mah?! Kenapa bukan aku?!" jeritnya memecah keheningan rumah.
"Mamah juga nggak tahu!" sahut Hilda, memegang kepalanya yang berdenyut hebat. "Mamah udah jelek-jelekin Kala sejadi-jadinya di depan mereka, tapi keluarga Lingga tetap bersikeras mau anak itu!"
"Nggak bisa dibiarin! Pokoknya aku yang harus nikah, Mah!" jerit Alda lagi, matanya menyalang penuh api kedengkian.
Ruangan megah itu seolah menyempit dan membakar. Sebelum Alda melangkah pergi untuk meluapkan dendamnya, suara Rion menghentikannya.
"Percuma kamu bikin masalah. Mau kamu nangis darah pun, tetap dia yang bakal dibawa malam ini."
"Papah tega ngebiarin dia nikah cuma demi keuntungan Papah?!" amuk Alda, suaranya melengking sarat ketidakadilan. "Sementara aku? Aku anak kandung kalian! Kenapa aku harus kalah sama anak p*****r itu?!"
"Alda! Bicaramu!" tegur Hilda kaget, namun Alda sudah terlanjur dikuasai iblis kedengkian. Ia menggeram dan berlari keluar.
Rion menyunggingkan senyum miring yang mengerikan di balik kegelapan hatinya. "Biarin aja dia meluapkan emosinya mumpung Kala masih ada di sini."
Bagi Rion, anak-anaknya hanyalah bidak catur. Yang ada di dalam benaknya hanyalah deretan angka, kekuasaan, dan tumpukan uang.
Dan benar saja, si iblis kecil berdarah dingin itu mendobrak pintu kamar Kala tanpa belas kasihan.
"NISKALA!!" sentaknya keras. Para tim MUA terperanjat ketakutan, namun Kala tetap duduk bergeming. Hatinya sudah terlalu kebal untuk merasa kaget.
"Lo ngapain nerima perjodohan ini, hah?! Lo mau bersaing sama gue?!"
Kala menatapnya melalui cermin, matanya memancarkan keremehan yang dingin. "Apa yang harus disaingin dari lo?"
"Sialan lo! Berani lo sama gue?!"
" BATALIN PERJODOHAN ITU!! SECUIL PUN KEINDAHAN DIDUNIA INI NGGAK PANTES BUAT LO MILIKI!! " Jeritnya kesetanan seperti orang gila yang lepas dari tahanan
Wajah Alda memerah padam, urat lehernya menegang menahan amarah yang meledak. Karena merasa diabaikan, Alda mencengkeram bahu Kala lalu melayangkan tamparan keras.
PLAK!
Suara benturan pipi itu menggema. Kala terdiam. Rasa panas membakar kulit pipinya, sementara telinganya berdengung hebat. Namun alih-alih menangis, kilatan berbahaya terpancar dari matanya.
Tanpa peringatan, tangan Kala melayang, membalas tamparan itu dengan dorongan tenaga yang begitu kuat.
PLAK!
Tubuh Alda tersungkur keras ke lantai. Ia memegangi pipinya yang memerah, matanya membelalak tak percaya.
"LO... LO NAMPAR GUE?!" teriaknya histeris dengan suara pecah.
"Iya. Kenapa?" sahut Kala dingin, berdiri tegak tanpa rasa takut.
Di sudut ruangan, para staf MUA menahan napas. Sebagian dari mereka bahkan saling berbisik, terkesima sekaligus miris melihat drama kejam keluarga konglomerat ini. Alda yang merasa terhina, akhirnya bangkit dan melangkah pergi sambil terisak penuh dendam.
"Sini, Kak... biar saya samarkan bekas tamparannya," bisik salah satu MUA dengan jemari bergetar.
"Nggak usah," potong Kala dingin.
Kala menatap dirinya di cermin. Di balik balutan gaun mewah yang teramat indah dan tata rambut yang anggun, berdiri seorang gadis dengan jiwa yang telah hancur menjadi debu. Parasnya cantik luar biasa, namun matanya adalah sumur tanpa dasar—gelap, dingin, dan benar-benar mati. Bahkan pendar matahari pun seolah enggan menyentuh kedalaman matanya.
"KALA!! BERANI-BERANINYA KAMU NAMPAR ALDA! KURANG AJAR! SAYA BAKAL MUKUL KAMU SAMPAI MATI!!"
Langkah kaki ibunya menghentak keras. Hilda menerobos masuk seperti monster yang haus darah, siap mencabik-cabik Kala.
"Silakan," Kala memiringkan wajahnya, memamerkan jejak merah tamparan Alda. "Kalau kamu mau bertanggung jawab atas pertanyaan keluarga Lingga nanti, saat melihat mukaku babak belur."
"Saya nggak peduli! Kamu udah nyakitin Alda!" jerit Hilda kerasukan.
"Dia nampar aku dua kali, Mah! Bales dia, Mah!" tangis Alda dibuat-buat dari belakang.
"Maaf Bu, tapi dia cuma mukul sekali," sela salah satu MUA yang tak tahan melihat ketidakadilan itu.
"DIAM KAMU!" bentak Alda melotot ganas.
"Kalian semua bakal dapat pembalasannya! Terutama kamu, Kala! Anak nggak tahu diri!" Hilda mengangkat tangannya tinggi-tinggi, siap menghantamkan telapak tangannya ke wajah Kala.
Kala tak menghindar. Ia justru menyodorkan pipinya dengan tatapan menantang. "Jangan banyak omong. Pukul nih!"
Tepat saat tangan Hilda hendak melayang, sebuah cengkeraman kasar menahan pergelangan tangannya.
"Otak kamu di mana, hah?!" Rion menghempaskan tangan Hilda secara kasar. Wajah pria tua itu sangat garang. "Kalau pipinya memar, mau jawab apa kita di depan Pak Lingga?!"
"Tapi Papah tadi bilang biarin aja!" hardik Hilda frustrasi.
"Bukan berarti kalian merusak mukanya! Dasar bodoh!"
Rion mengepalkan tangannya. Pria tua dengan tabiat jahat yang hanya bertekuk lutut pada kekayaan itu tidak akan pernah membiarkan investasi terbesarnya rusak. Dan malam ini, Kala bukan lagi anak yang bisa ia siksa sesuka hati—Kala adalah tiket emasnya menuju puncak kekuasaan, calon menantu dari keluarga tertinggi yang berada jauh di atas derajat mereka.