Regu Penjemput

1085 Words
Rumah dengan interior batu alam berwarna kombinasi hijau lumut dan putih terlihat asri dari luar. Halamannya tidak begitu luas dan dihiasi dengan tanaman bunga berwarna warni. Cahaya lampu dari teras memantul pada bunga-bunga yang ada, menambah keindahan pemandangan damai tersebut. Burung malam tidak terdengar suaranya, tetapi bintang bercahaya terang menerangi segenap semesta. Dari kejauhan, terdengar derap kaki kuda yang berderu, mengusik teduhnya kesunyian malam. Waktu hampir genap tengah malam saat ringkikan binatang gagah itu berhenti di depan rumah. Salah satu di antaranya tiba lebih dahulu dan pengendaranya sudah menambatkan di salah satu pohon. Tiga ekor kuda lainnya yang gagah, nampak mendengus panjang, sambil menggoyangkan ekor mereka setelah berhenti dalam posisi stabil. Empat orang pria dengan postur yang kekar, melompat turun dari kuda masing-masing yang langsung disambut temannya yang sudah turun dari kudanya. Pria yang tiba pertama tersebut langsung meraih tali kekang dari tiga ekor kuda yang baru saja tiba. Ia akan atur sekaligus berjaga-jaga sampai urusan empat orang lainnya selesai. Dia memang selalu bertugas selayaknya pengawal di dalam timnya. Mereka disebut sebagai regu penjemput. Ada tanda yang disematkan sama di jubah yang mereka kenakan. Sekali melangkah, empat orang pria langsung ada di depan pintu rumah. Dua orang bergerak menjaga jarak dengan berdiri di masing-masing sudut rumah sambil menengok ke belakang. Seperti sudah diatur kalau mereka sebagai pemantau keadaan sekeliling. Jangkrik malam yang menyambut kedatangan mereka selain gedoran di depan pintu. Sambutan gonggongan anjing putih kelabu yang ada di teras membuat salah satu tamu menarik keluar binatang malang itu. Suaranya masih terkaing-kaing karena protes dengan sikap kasar sang tamu. Pria itu kepit anjing tersebut di ketiaknya, lalu salah satu tangannya ia katupkan pada moncong si anjing. Sekali sentak, terdengar bunyi gemeretak tulang belulang sekaligus suara lemah yang juga menghilang. Anjing tersebut sudah tak bernyawa. Ia letakkan dengan pelan di sudut taman lalu kembali berdiri di belakang temannya yang masih menggedor pintu. “Masih belum dibuka?” tanyanya sambil mengibaskan tangannya. Membersihkan tubuhnya dari bulu anjing. “Mereka tidur seperti orang mati,” sahut temannya sedikit menggeram. Praijing, pemilik dari rumah asri tersebut terjaga dari tidurnya saat mendengar gedoran yang tidak pelan itu. Ia menatap istrinya yang berbaring di sampingnya. Zevho tepatnya, masih belum sadar akan kedatangan tamu di rumah mereka tengah malam begini. Praijing melompat turun dari pembaringannya bersama Zepho. Ia melesat dengan cepat keluar dari kamar dan mengintip dar balik gorden, siapa gerangan yang datang di tengah malam begini. Darah Praijing berdesir hebat melihat para tamunya. Dari apa yang ia lihat, keluarga mereka dalam masalah. Seragam dan tanda yang ada di jubah mereka membuat Praijing gemetar. Ia tahu kalau tidak ada banyak jalan jika sudah dihampiri oleh grup tersebut. Praijing mundur lalu bergegas membuka pintu belakang. Ada hutan lebat tak jauh dari kediaman mereka sehingga Praijing berpikir dengan cepat untuk menyelamatkan dirinya dan keluarganya, ke arah sana. Suara gedoran semakin kencang dengan jarak antar setiap ketukan semakin rapat, tanda sang tamu sudah mulai hilang kesabarannya. Praijing baru saja keluar dari kamar anaknya. Ia gendong putranya dengan berlari cepat ke arah hutan dan ia tinggalkan di sana. Ia cari tempat yang datar agar anaknya tidak celaka. Putranya menggeliat tetapi tidak terbangun. Masih terus memejamkan matanya. Lalu ia bergegas kembali ke dalam rumah untuk menjemput istrinya. Saat ia masuk, Zevho sedang menggulung naik rambutnya karena ia juga sudah terjaga. Ia masih belum keluar karena cemas. Ia menanti Praijing. Tidak berani berteriak karena takut akan ketahuan oleh para tamu yang tidak mereka undang itu. “Ayo, kita pergi. Di depan ada regu penjemput,” ajak Praijing berbisik di telinga istrinya. “Brak!” Suara pintu rumah mereka ambruk. Rupanya tamu mereka sudah tidak sabar lagi. “Praijing! Kamu ditangkap karena telah melawan gubernur Rama. Ikut kami, sekarang!” seru pria yang dari tadi menggedor pintu. Temannya juga sudah ikut masuk dan memeriksa setiap kamar. Tak lupa ia nyalakan lampu saat ia temukan saklarnya. Cahaya lampu serta menerangi ruang tengah dan ruang tamu. Pasangan suami istri itu belum sempat berlari keluar lewat pintu belakang, ternyata tamunya sudah ada di hadapan mereka. “Apa salah suami saya?” jawab Zevho memberanikan diri. Ia berdiri di belakang Praijing tapi suaranya lantang terdengar menunjukkan kalau ia tidak takut. “Baca ini!” sahut pria yang membunuh anjing penjaga rumah mereka setelah menarik sesuatu dari saku jubahnya dan dilemparkan ke arah Zevho dan Praijing. Benda seperti gulungan kertas itu jatuh di lantai dan langsung diambil Zevho dengan cepat. Ia buka gulungan kertas itu yang ada alasan penjemputan suaminya. “Berselingkuh dengan istri gubernur, Nyonya Sheela Rama.” “Ini fitnah!” tegas Praijing dan Zevho bersamaan. Keduanya saling mengaitkan tangan mereka bersepakat untuk tidak akan setuju dengan isi perintah yang ada. Ada cap gubernur di sana, tandanya surat itu resmi dan tidak bisa dibantah. Tanpa jawaban apa pun, sudah ada empat orang di dalam rumah mereka. Dua orang pria langsung menarik tubuh Praijing untuk dipisahkan dari Zevho. “Lepaskan aku! Kalian salah orang. Aku tidak pernah bertemu dengan ibu gubernur. Kalian salah tangkap!” teriak Praijing tak mampu berbuat apa-apa. Dua orang yang membawanya sekarang itu sangat kuat. Tubuh mereka jauh lebih kekar dan lebih tinggi dari Praijing. Pria yang lainnya menyumpal mulut Praijing dengan kain, sehingga ia berhenti berteriak. Begitu juga, ia ambil lagi seutas tali lalu diikat menutupi mata Praijing. Praijing tetap berteriak tapi tenggelam dalam sumpalan kain. Ia bukan pria yang tahu bela diri sehingga hanya bisa berupaya untuk membebaskan diri, tapi tak berkutik. Ia benar-benar diseret keluar dari rumahnya tanpa alas kaki. “Jangan bawa suami saya!” teriak Zevho mengejar dua orang yang telah membawa Praijing. Zevho meraih gagang sapu yang ia temukan di sudut rumah dekat pintu. Ia pukul lengan salah satu pria yang menarik Praijing agar bisa bebaskan suaminya tetapi pria itu seperti algojo tanpa rasa. Pria lain yang menutup mata Praijing dengan kain, menarik sapu dari tangan Zevho sehingga membuat wanita itu jatuh tersungkur di halaman. Pria itu membuang gagang sapu itu dan meninggalkan Zevho meratap sendirian di luar. Ia berlari masuk ke dalam rumah untuk membantu temannya yang lain. “Kurang ajar kalian. Jangan bawa suami saya!” teriak Zevho di tengah tangisannya. Ia sungguh kehilangan akal. Ia melihat suaminya sudah dinaikkan ke atas kuda dan diapit oleh dua orang pria tadi. Tidak lama kemudian, kuda tersebut sudah meringkik dan berlari menembus malam dengan tiga orang penunggang. Chevo terlalu syok dan sedih sehingga ia tidak sadar kalau dua orang tamu lainnya, sedang lakukan sesuatu di dalam rumah. Mereka masuk ke area dapur dan sibuk di sana. Ada rencana besar lainnya yang sedang mereka lakukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD