Zevho menangis tersedu-sedu tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Ia meraung seraya mengigau nama suaminya, tetapi kenyataan tidak berubah.
Ia menatap nanar ke jalanan yang sudah sepi. Suaminya telah menghilang, entah dibawa kemana.
Tuduhan berselingkuh dengan ibu gubernur sangat mustahil bagi pendengarannya dan Praijing. Tapi surat perintah sudah dikeluarkan dan mereka tidak kuasa untuk melawan titah pimpinan tertinggi di wilayah tempat mereka tinggal.
Sepanjang waktu suaminya itu bekerja ke tempat yang berbeda-beda sehingga tidak mungkin ia bertemu dengan ibu gubernur dan b******u dengannya.
Tuduhan yang sangat keji dan tidak masuk akal. Mereka telah jadi korban fitnah dari orang yang tidak mereka kenal. Orang yang sama sekali tak bertanggung jawab dan telah menghancurkan keutuhan keluarga kecil mereka yang harmonis.
Zevho yang merana hanya bisa menatap di sekelilingnya.
Di antara kabut matanya karena butiran kaca bening yang mengalir tak henti, masih ada tiga ekor kuda dan satu orang penjaga yang ia pindai dari posisinya berada.
Dengan susah payah, ia berusaha untuk bangkit berdiri. Namun, otot dan tulangnya terlalu lemas untuk bisa menyangga seluruh anggota tubuhnya yang lain.
Perlahan-lahan mata Zevho mengatup dan ia terjatuh tertelungkup karena pingsan.
Zevho yang malang. Kesedihan telah membuatnya jadi lemah. Ia sampai lupa kalau ia punya seorang putra yang baginya, masih tertidur pulas di dalam kamarnya.
Praijing dan Zevho sudah menikah belasan tahun. Putra mereka sebentar lagi menjelang remaja. Ada percekcokan dalam rumah tangga mereka tetapi Praijing bukanlah tipe pria yang mudah tergoda dengan wanita lain.
Lagipula, dengan kekuatan yang dimiliki istrinya, Praijing tidak pernah berniat untuk mengkhianati pernikahan mereka.
Putra mereka bernama Karan. Ia lahir normal dan tumbuh menjadi anak yang gagah dan cerdas. Sayangnya, Karan tidak punya banyak teman karena rumah tempat tinggal mereka di pinggiran kota.
Jauh dari pemukiman penduduk lainnya.
Bukan karena mereka kurang bergaul, atau ingin menyendiri, tetapi karena pekerjaan
Zevho yang mengharuskan mereka dekat dengan alam.
Hutan di belakang rumah mereka adalah tempat bagi Zevho menemukan berbagai tanaman yang ia butuhkan, sehingga mereka betah tinggal di sana.
Zevho masih tergeletak tak berdaya.
Sementara, dua orang yang ada di dalam rumah Praijing akhirnya keluar juga.
“Apa yang terjadi pada wanita itu? Apa dia hanya pingsan?” seru salah satu pria begitu mereka sudah di halaman.
“Biarkan saja. Tidak usah hiraukan dia. Kita pergi dari sini.”
“Bukankah kita harus melenyapkan mereka sekeluarga?” tanya temannya mengingat perintah dari asisten gubernur.
“Abaikan saja. Tinggal kita lapor kalau memang kita sudah bakar habis seluruh isi rumah dan penghuninya.”
“Apa kita perlu periksa dulu, mungkin wanita itu hanya pingsan.”
“Kenapa kamu begitu cerewet malam ini. Ikuti prosedur seperti biasa. Jangan hiraukan lagi wanita itu,” balas temannya sudah menarik belakang bajunya agar mereka segera tinggalkan rumah Praijing.
Temannya masih bergeming. Entah kenapa, ia merasa iba dengan keluarga itu. Pekerjaan mereka memang berat. Di satu sisi harus taat pada perintah atasan, namun di sisi yang lain, mereka juga tidak tega melihat penderitaan dari orang-orang yang mereka datangi.
Terlepas dari kedatangan mereka karena bukti yang kuat atas kesalahan orang yang ditunjuk untuk dijemput, selalu ada derai air mata yang mereka saksikan.
Hidup memang tidak adil untuk sebagian orang.
Tapi, mereka harus tetap jalankan peran dan tanggung jawab yang sudah diemban.
Tak bisa menolak, meski mereka sulit untuk berada dalam beberapa situasi.
‘Wanita ini memang beruntung. Ia sendiri yang mengantar dirinya ke luar dari rumahnya. Semoga kita tak berjumpa lagi di kemudian hari,’ batin salah satu algojo saat menatap istri Praijing untuk terakhir kalinya, sebelum angkat kaki dari halaman rumah mereka.
Sementara itu, bunyi gemerisik benda yang dilahap api mulai terdengar di sekeliling Zevho.
Wanita itu tidak sadar sama sekali kalau rumahnya dan segala isinya mulai lenyap dimakan nyala api.
Letak rumah mereka yang jauh dari pemukiman, membuat tak ada seorang pun yang sadar dengan apa yang terjadi.
Tiga ekor kuda dengan pengendaranya masing-masing baru saja berderap meninggalkan kawasan itu, yang mulai terang benderang karena kobaran si jago merah yang sedang bergembira menunaikan tugasnya.
Setengah bagian rumah Praijing sudah habis terbakar. Sumber api dari arah dapur, sehingga rangka bangunan bagian belakang yang mulai runtuh satu demi satu.
Asap hitam mengepul membubung tinggi di angkasa membelah malam yang kelam dan sunyi.
Semua binatang malam enggan berkicau mau pun meraung karena ikut tertegun dengan nasib naas yang dialami oleh keluarga Praijing.
Hawa panas mulai mendekati Zevho.
Ujung jemari kakinya mulai bergerak seperti merespons hawa panas yang terbawa oleh angin malam.
Untung saja Zevho pingsan di luar rumahnya.
Alam bawah sadar wanita itu mulai mengusiknya untuk terjaga.
Zevho terbatuk pelan karena asap yang ada di sekitarnya, membuatnya membuka matanya perlahan.
Sepertinya tadi ia bermimpi sedang melihat sebuah cahaya benderang berasap di dekatnya.
Panas tubuhnya mulai menguasainya dan Zevho sukses membuka matanya.
Ia terbeliak begitu sadar kalau di depannya ada api merah yang sebentar lagi bisa melalapnya juga.
Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Zevho baru ingat pada Karan, putra tunggalnya.
“Kebakaran! Di mana Karan? Anakku Karan! Di mana dia?” gumamnya bertubi-tubi.
Ia merangkak menuju tiang teras dan mencoba mencari tumpuan untuk bisa berdiri.
Panas pada kayu yang ia pegang membuatnya tidak terlalu lama berada di sana.
Setelah bisa berdiri, bukannya menjauh, Zevho malah menerobos ke dalam rumah. Ia menuju kamar putranya. Ia tidak peduli dengan panasnya api yang bisa merenggut nyawanya.
“Karan! Di mana kamu, Nak! Bangun! Ada kebakaran. Api!” teriak Zevho dengan tubuh terhuyung, berjalan terseok-seok sambil batuk sesekali di tengah teriakannya mencari Karan.
Tujuannya hanya satu, yaitu menyelamatkan putranya, Karan.
Tak ada satu pun makhluk bernama manusia yang lewat di dekat rumah Praijing untuk membantu memadamkan api.
Percikan api kecil dimulai sekitar pukul satu dini hari dan sudah tujuh jam lamanya api itu melahap habis rumah milik Praijing.
Zevho hilang di antara puing-puing bangunan. Suasana porak poranda karena bekas reruntuhan kayu dan bahan bangunan lainnya.
Embun pagi bahkan tidak bisa melenyapkan nyala api. Sampai dengan matahari terbit pun, masih ada sisa titik api di bagian tertentu dari rumah tersebut.
Seorang pria tua pencari kayu bakar, melenggang keluar dari dalam hutan dengan dua panggul besar ikatan kayu yang ia ikat di punggung kudanya.
Ia berhenti sejenak dan tertegun dengan pemandangan di depannya. Tetapi, ia hanya bisa mendesah dan takjub. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali, tanda heran.
Sepertinya semalaman ia ada di dalam hutan sehingga tidak sadar dengan kejadian yang mengalami penghuni rumah yang telah terbakar.
Setelah memandang beberapa saat, pria tua itu berakhir menaiki kudanya, lalu meninggalkan rumah yang sudah habis terbakar itu tanpa sempat mencoba mencari tahu atau menolong siapa pun yang pernah tinggal di sana.
Pria tua itu yakin, pasti semua penghuni rumah sudah tak tertolong lagi jika kebakaran berlangsung sejak semalam, pada saat mereka sedang tertidur.
Keluarga Praijing tinggal kenangan. Sepertinya mereka sudah tidak tercatat sebagai penduduk di negeri itu lagi.