Kejadian naas itu bermula dari kunjungan tamu ke rumah Praijing seminggu sebelumnya.
Saat itu, keadaan di rumah pria tersebut sedang tenang teduh.
Seorang remaja laki-laki berusia sekitar belasan tahun, sedang memandikan anjing peliharaannya di depan. Ia sekaligus bermain dan bercanda kegirangan bersama sahabatnya yang berkaki empat itu.
“Karan!” seru seorang wanita dengan suara merdu dari dalam rumah.
“Sebentar, Ma. Belum selesai,” balas Karan dengan cepat menggosokkan sampo di sekujur tubuh si doggy.
Dari tadi ia asyik membelai bulu lebat anjing kesayangannya itu, dan belum memberi cairan pembersih sama sekali.
“Ibu dengar ada kereta menuju kemari. Cepatlah! Tidak semua tamu suka dengan binatang, Nak!”
Zevho, nama wanita yang sedang berbicara dengan putranya Karan. Ia bisa melihat dari jendela di dapurnya, kalau di ujung jalan masuk ke rumah mereka, memang ada kereta kuda yang terus bergerak perlahan dan sebentar lagi akan tiba.
Zevho baru selesai mandi setelah memasak sarapan untuk keluarganya. Suaminya, Praijing sudah berangkat kerja ke kota atau negeri tetangga, sebagai pengumpul barang antik. Ia akan pulang malam hari setiap kali di keluar dari rumah, kecuali ia memilih untuk istirahat seharian dan tidak pergi bekerja.
Zevho tahu kalau kereta semakin dekat. Ia lalu merapikan meja kerjanya. Bola kristal yang selalu menemaninya ia lap ulang dengan kain basah sehingga semakin mengkilap dan tidak ada kotoran yang menempel pada kacanya.
Kain penutup dari sudut ruangan yang ia jadikan sebagai tempatnya bekerja, ia juga tarik melalui relnya dan ia rapikan, termasuk tempat duduk buat para tamu.
Satu kursi untuknya, satu meja dengan peralatan meramalnya dan dua buah kursi di hadapannya untuk para pengunjung. Selain bola kristal, ada tumpukan kartu tarot dan juga kartu bergambar simbol alam lainnya, yang biasa ia pakai sebagai alat bantu.
Ada juga cairan pewangi yang Zevho buat sendiri jadi ramuan rempah-rempah yang ia temukan di hutan.
Zevho mewarisi talenta dan kemampuan untuk memprediksi kejadian yang mungkin terjadi di masa yang akan datang, dari neneknya.
Neneknya mengajarkan kalau inspirasi dari kekuatan yang mereka miliki sejak lahir, akan muncul dengan mengaktifkan semua panca indera yang mereka miliki.
Jadi, cairan racikan berbagai rempah-rempah tadi, akan ia masukkan dalam wadah berisi sumbu untuk nantinya dibakar, bisa menemaninya saat bekerja nanti.
Sudah belasan tahun Zevho menekuni pekerjaan ini, sejak ia ditunjuk langsung oleh almarhumah neneknya agar ilmunya bisa diwariskan turun temurun.
Tepat sekali, Zevho adalah seorang peramal. Ia selalu dicari untuk bisa memberikan gambaran kejadian yang terjadi di masa yang akan datang.
Beberapa orang datang dengan keyakinan kalau Zevho bisa meramal nasib mereka. Pesan dari Zevho akan mereka ikuti agar hidup mereka menjadi lebih baik.
Uniknya, Zevho tidak bisa membaca masa depan dari orang-orang yang ia kenal sangat dekat, atau ada hubungan darah dengan dirinya.
Neneknya sudah mengingatkan dia tentang hal itu. Zevho belum pernah mencobanya sendiri karena ia pribadi, masih belum punya alasan saja.
Kesibukan Zevho diusik oleh ringkikan kuda di luar disertai langkah-langkah kecil
Karan terdengar semakin dekat.
“Bu, ada tamu. Karan bawa doggy ke belakang saja biar bulunya cepat kering.”
“Iya, Nak. Tidak usah lari, nanti kamu jatuh.”
Zevho keluar menunjukkan dirinya di depan pintu rumahnya untuk menyambut tamunya. Kadang, orang asing yang mencarinya.
Tapi, kali ini Zevho kenal dengan pemilik kereta. Ia tergopoh-gopoh mendekati pintu kereta.
Ia senang karena tamunya kali ini memang bisa dianggap sebagai langganannya dan beliau amat royal. Tidak pernah membayar jasa Zevho seperti yang lain. Selalu lebih dari standar harga yang Zevho berikan.
“Selamat pagi jelang siang, Nyonya!” sapa Zevho menyambut Sheela, istri dari gubernur Rama, pemimpin di wilayah tempat tinggal mereka.
Zevho menjulurkan tangannya, agar lengannya bisa jadi tumpuan bagi sang ibu gubernur untuk bisa turun dan menjejakkan kakinya di bumi.
“Terima kasih, Sayang. Kamu sudah siap rupanya.”
“Saya senang Nyonya selalu berkunjung ke sini. Saya siap melayani Anda, Nyonya,” balas Zevho penuh sopan santun.
Sheela langsung membuka payung transparannya, melindungi dirinya dari cahaya matahari pagi dan berjalan di samping Zevho untuk masuk ke dalam.
“Aku harus secepatnya bicara denganmu. Sejak semalam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Suamiku sudah tidak pulang sejak satu minggu yang lalu. Ini tidak bisa didiamkan saja. Aku tidak percaya kalau dia hanya bekerja di sana.”
Zevho tidak begitu paham apa maksud tamunya, tapi ia tidak ingin bertanya saat itu. Biarlah sampai di dalam bilik kain baru mereka berbicara.
Sheela sudah beberapa kali berkunjung ke rumah Zevho, minta diramal.
Baru saja minggu lalu ia datang dan sekarang ia muncul lagi. Kedatangannya waktu itu, ingin mengetahui seperti apa masa depan rumah tangganya, akankah ia bercerai dengan sang gubernur atau tidak. Mereka tidak mempunyai anak lagi sehingga ia cemas, suaminya akan meninggalkannya.
Mereka pernah punya seorang anak perempuan, tetapi sakit dan meninggal.
Keduanya masuk ke dalam bilik kain, duduk di tempat masing-masing dan Zevho mulai bekerja.
Ia kenakan atribut yang selalu ia butuh setiap kali bersama tamunya.
Zevho mulai dengan membakar wadah berisi ramuan, memasang tudung penutup wajah dan memegang bola kristal di depannya.
“Tutuplah mata Anda, Nyonya!”
Hening, Zevho beri kesempatan pada Sheela untuk siap berproses bersama.
Sheela juga ikut letakkan kedua telapak tangannya di bagian bola kristal yang nampak di depannya.
Kulit keduanya tidak saling bersentuhan tetapi sama-sama menyalurkan energi ke bola kristal yang mereka sentuh.
“Ceritakan apa yang Anda ingin ketahui!” lanjut Zevho. Ia bisa rasakan kalau Zevho juga sudah lakukan instruksinya.
Cerita dari Sheela berlangsung hampir lima menit panjangnya.
Sheela tidak harus menutup matanya, tetapi Zevho yang lakukan hal tersebut untuk bisa dapatkan petunjuk untuk jawab harapan dari pengguna jasanya.
Jeda beberapa saat setelah Sheela berhenti bicara dan menarik kembali tangannya.
“Aku melihatnya dengan sangat jelas dengan mata batinku. Nyonya harus siap untuk mendengar hal ini.”
Zevho membuka matanya.
Sheela menggigit jemarinya. Ia tahu kalau ada yang salah dengan sikap suaminya akhir-akhir ini, tetapi ia masih belum punya bukti untuk bicara dengan Rama.
“Aku siap,” balas Sheela dengan suara yang sudah bergetar.
Zevho tahu kalau selalu ada konsekuensi untuk setiap pesan yang ia keluarkan dari mulutnya, tapi ia tidak pernah berbohong.
Semua yang ia katakan terjadi. Waktunya mungkin akan meleset antara yang ia sampaikan dan kejadian yang sesungguhnya, tetapi memang terjadi, lambat atau cepat.
“Suami Nyonya memang sedang bekerja. Tetapi ia tidak sendirian.”
Sheela menatap wajah Zevho yang masih tertutup tudung untuk mendapat kekuatan. Namun, ia tahu kalau ia tidak bisa berharap pada orang lain, dan harus berusaha meneguhkan diri sendiri.
“Suami Nyonya sedang bersama wanita lain.”
Kalimat ramalan yang menjadi pemicu kemarahan Sheela pada Rama, yang gubernur itu lampiaskan kembali pada sumber informasi.
Rama sebagai gubernur yang berkuasa, mengeluarkan perintah menangkap Praijing dan membakar tempat praktik peramal yang telah mengotori pikiran dari istrinya. Itulah asal mula keluarga Praijing dan Zevho diusik kedamaiannya.