Baru Terjaga

1025 Words
Matahari pagi mulai menampakkan wajahnya dengan siluet cahaya menembus dahan pepohonan. Tanah yang lembab dan dingin masih jadi teman terbaik bagi Karan. Remaja dua belas tahun itu masih belum terjaga. Seakan ia masih nyaman dengan kasur empuk dan bantal gulingnya. Sedang tak jauh darinya, puing-puing rumahnya sebagian besar sudah menjadi debu. Asap mengepul dari beberapa titik tanda sisa pembakaran yang perlahan masih terus berlangsung. Tak nampak tubuh dari Zevho di antara reruntuhan bangunan rumahnya sendiri. Sekitar beberapa jam yang lalu ia sempat masuk untuk mencari putranya, menerobos nyala api. Namun, setelah kobaran api meredup, sosoknya pun tak terlihat. Sementara di tempat yang berbeda. Praijing sudah mendekam di dalam sebuah ruang kecil ukuran 3x4 meter berdinding tembok lusuh. Pintu terali jadi pembatas gerak-gerik praijing Pria itu menatap tembok di sampingnya dengan kepala yang berkecamuk. Ia sungguh tidak paham dengan apa yang terjadi pada dirinya. Ingin berontak tapi ia tidak punya daya lagi. Ada sejuta tanya dalam kepalanya. Entah apa yang membuatnya difitnah sekeji sekarang. Ada rasa marah tetapi lebih kental rasa tak berdaya. Berhubungan dengan tim penjemput seperti tadi malam memang tidak beri pilihan yang banyak selain pasrah pada kenyataan. Ia sudah dengar banyak kisah tentang para pembangkang dari gubernur yang berakhir mati sia-sia selama dalam masa pengasingan mereka. Hanya satu pilihan untuk Praijing, menyerah atau bertahan. Ikuti alur yang ada atau melawannya dengan segala kekuatan yang dimiliki tetapi akan berdampak fatal pada jiwanya sendiri. Dilema yang sedang dialami oleh Praijing dalam kesendiriannya. Membayangkan istrinya yang jatuh tersungkur menatap kepergiannya semalam, sungguh hal yang menyisakan pilu terdalam baginya. Sejak ia tiba dan dijebloskan ke dalam ruang lembab dengan ventilasi yang sangat kecil jauh di atas kepalanya, ia masih belum memejamkan matanya. Seakan rasa kantuk dan lelah tidak ia kenal. Hanya penyesalan mendalam yang menderanya kini. Namun Praijing tidak meratap atau menangis. Ia hanya mengutuk dirinya dalam diam karena sudah bersikap begitu lemah. Ia sendiri juga masih tidak tahu kalau sebenarnya, rumahnya telah habis terbakar. Di sela rasa penyesalannya, ia berusaha untuk mendeteksi lingkungan di sekitarnya. Ruangan yang ia tempati itu tidak bercahaya lampu yang terang benderang. Ia menatap ke sekitarnya dan menajamkan pendengarannya untuk mengetahui jika ada penghuni lainnya, yang alami nasib seperti dirinya. Tapi hening. Sayup-sayup ia dengar seperti ada suara percakapan dan tawa. Ia menduga, bunyi tersebut berasal dari ruangan yang lain sehingga tidak terdengar begitu jelas selain pantulan gaungnya. Untung saja, Praijing termasuk laki-laki yang sehat. Ia tidak miliki penyakit apa pun yang bisa memperparah kondisinya. Praijing masih belum tahu berapa lama dan sampai kapan ia akan berada di rumah barunya itu. Ruang gerak sangat amat terbatas tanpa tahu akankah ia masih punya harapan untuk hidup. Sedang jauh di luar sana, di pinggiran hutan, sosok dari putra Praijing mulai bergerak perlahan. Karan mulai membuka matanya. Ia baru saja terjaga. Hal pertama yang remaja itu lakukan saat buka matanya adalah merasakan dingin. Bukan hanya udara di sekitarnya, tetapi juga di bawah tubuhnya. Matanya yang telah terbuka lebar, tanda kalau ia sudah raih kesadarannya dengan sempurna. Melihat langit-langit di atasnya yang biru di sela-sela dedaunan pohon yang rimbun, buat Karan langsung bangkit dari rebahannya. “Kenapa aku ada di sini?” tanyanya pada diri sendiri sambil menoleh ke kiri dan ke kanan. Sangat heran dan bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Karan lalu berdiri dan mulai mengenali pemandangan di sekitarnya. “Apakah ini mimpi?” tanyanya lagi. Suaranya yang serak mengusik pendengarannya sendiri. Ia memukul pipinya dan ia bisa rasakan sakit yang artinya ia tidak sedang di dalam mimpi. Remaja itu mulai melangkah untuk memastikan posisinya berada. “Aku tidur di luar, ternyata.” Karan semakin sadar dengan situasinya sekarang. Untungnya, ia sudah sangat hafal dengan wilayah hutan di belakang rumahnya, meski tidak pernah sampai masuk ke bagian yang paling dalam. Ia sering sekali ikut ibunya mencari tanaman yang akan dipakai sebagai ramuan. Karan terus berjalan menyusuri tapak yang terlihat sering dilewati, untuk keluar dari kawasan yang sejuk namun terasa agak lembab tersebut. Ia masih belum ada rasa apa pun selain dari bingung alasannya ia bisa tertidur di dalam hutan. Karan bahkan setengah berlari untuk bisa cepat keluar dari barisan pohon yang menjulang tinggi di sekitarnya. Meski ia tahu sedang berada di mana, tetapi ia sebenarnya tidak sadar kalau setiap penjuru dari hutan itu terlihat sama. Dari titik utara ke selatan, semuanya mirip. Penuh dengan pohon yang rimbun menjulang. Setelah beberapa menit berjalan dan berlari, akhirnya Karan bisa menemukan tepian jalan besar. Terlihat lengang tanpa ada kendaraan yang lewat sedikit pun. Ia gembira karena bisa juga keluar dari dalam hutan. Ia berdiri sambil menenangkan debaran jantungnya, karena sempat berlari sebentar tadi, saat ia lihat ada titik pandang yang berbeda di depannya. Lama kelamaan barulah Karan mengernyitkan dahinya. “Di mana rumahku? Kenapa hanya terlihat jalan yang luas tanpa ada pagar tanaman yang mengelilingi rumah? Di mana aku sebenarnya?” Rasa cemas itu mulai muncul seiring dengan kaki kecilnya yang kali ini sudah berlari lagi menyusuri jalanan yang masih terlihat sepi itu. Matahari pagi semakin terik dan daerah sekitar Karan semakin jelas sekarang. Karan tak melihat rumahnya sama sekali. Sepertinya, ia telah keluar dari sisi hutan yang berbeda dari arah belakang rumahnya. Semalam, Praijing memang berlari menembus hutan tak terlalu jauh ke dalam. Tetapi, memang ia tidak ingin para algojo bisa menemukan putranya sehingga ia mencari tempat yang tidak langsung terlihat dengan jelas dari jauh, jika kelompok penjagal itu berniat menghabisi seluruh anggota keluarganya. Tak menutup kemungkinan bahwa apa yang dianggap Praijing tidak begitu jauh dari rumahnya, ternyata sudah dilewati Karan yang membuat remaja itu malah telah berjalan ke jalur yang berbeda, bahkan meninggalkan huniannya, yang terletak di sisi hutan yang berbeda. Karan mulai merasakan kebas di telapak kakinya karena ia memang hanya digendong dari atas tempat tidur, tanpa Praijing sempat ingat untuk memakaikan alas kaki pada putranya. Peluh mulai membasahi bajunya. Celakanya, ia juga mulai merasakan lapar. “Ibu, di mana kamu? Karan mulai lapar!” keluhnya sambil mengusap telapak kakinya. Ia sedang beristirahat dengan duduk di atas sebuah batu dengan permukaan yang datar di pinggir jalan. Sambil terus awas melihat di sekitarnya, Karan juga bisa menangkap derap kaki kuda dari jauh. Mata remaja itu berbinar. Ia merasa kalau akan datang pertolongan untuk dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD