Senyum lega merekah di wajah tampan remaja yang sudah lelah kakinya itu.
Ia menanti dengan sabar sampai kereta yang akan lewat nanti melintasinya. Entah apa yang ia harapkan, tetapi Karan senang karena ada tanda-tanda kehidupan dengan bunyi berderap yang sudah semakin dekat.
Ia akhirnya bangun berdiri untuk menampakkan dirinya pada siapa pun yang akan lewat nanti.
Karan menatap lekat pada kereta berwarna putih yang sudah mulai nampak.
Tidak semua orang punya kereta berkuda atau seekor kuda sekali pun. Bahkan di rumah Karan pun tidak ada.
Ia selalu melihat ayah atau ibunya akan naik kereta berwarna hitam yang jadi kendaraan untuk masyarakat umum.
Selain warna kereta yang legam, ada tanda khusus yang dipakai sang kusir sehingga mereka tidak sampai salah melambai, jika ingin bepergian.
Tetapi ini adalah kereta berwarna putih yang tidak hanya satu tetapi dua buah.
Gemuruh itu semakin dekat. Karan yang awalnya senang menjadi kecut wajahnya.
Dua buah kereta putih itu sudah jelas berisi orang-orang asing yang tidak ia kenal.
Rasa lega tadi sirna. Awalnya ia pikir bisa temukan wajah ibu atau ayahnya di sana. Sayangnya, Karan harus kecewa karena apa yang ia harapkan mustahil terjadi.
Ia kembali terduduk dan kali ini wajahnya benar-benar meringis. Nyeri di lambungnya tak tertahankan lagi.
Ia sudah sangat lapar.
Karan bahkan sudah berkeringat karena menahan rasa lapar.
Ia sama sekali tidak ada petunjuk, berapa lama sudah lambungnya kosong tanpa diganjal oleh makanan yang layak.
Dua buah kereta yang masing-masing ditarik oleh dua ekor kuda itu meluncur menjauh meninggalkan jejak kepulan debu di belakangnya.
Wajah Karan semakin pucat sekarang. Remaja itu benar-benar butuh pertolongan.
Selain perutnya yang nyeri, kepalanya juga mulai berdenyut. Rasa pusing yang tidak pernah ia alami selama ini. Namanya pun sangat asing baginya. Ia tidak pernah tahu ciri dari apa yang disebut sebagai pening di sekitar batok kepalanya.
Pandangannya mulai kabur. Semua tanaman hijau yang bisa ia lihat dengan jelas awalnya, mulai mengabur.
Seperti ada selaput putih yang menghalangi pandangannya. Jadi kabur dan mulai menggelap.
Tubuhnya sudah lunglai. Seolah tak ada tulang untuk menopang otot pada raganya. Ia coba bertumpu pada batu yang ada di dekatnya karena rasanya ia tidak sanggup untuk berdiri lagi.
Perlahan-lahan Karan terjatuh. Matanya tertutup rapat karena gelap yang ia lihat di sekitarnya.
Karan tak sadarkan diri, di pinggiran hutan sebelum berhasil meminta pertolongan pada satu pun manusia yang mungkin lewat di jalan besar tersebut.
Karan yang malang. Nyawanya mungkin tidak akan tertolong lagi.
Sementara di tempat yang berbeda, tepatnya di bekas puing-puing rumahnya, sebuah kereta baru saja berhenti.
Penumpang dalam kereta turun dan menatap tak percaya pada apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
Ia menyibakkan kain penutup yang berfungsi sebagai jendela kecil, penghubung antara tempatnya duduk dengan pegawainya.
“Pak, apa yang terjadi di sini sebenarnya?” tanyanya pada pekerjanya yang menjadi kusir.
“Saya juga baru lihat ini, Bu. Sepertinya rumah ini baru habis kebakaran.”
“Kenapa bisa secepat ini? Beberapa hari yang lalu kita baru dari sini dan semuanya baik-baik saja.”
“Saya juga tidak begitu paham dengan penyebabnya, Bu. Kita baru bisa tahu jika sudah ada beritanya di koran seperti semua kejadian yang selama ini terjadi di kota kita ini.”
Sang kusir berusaha beri penjelasan.
Wanita itu kurang puas. Ia turun dari kereta dan berjalan mendekati bekas reruntuhan rumah peramal langganannya.
Ia tidak mungkin salah alamat. Sudah beberapa kali ia mampir di sana.
Wajahnya murung karena ikut prihatin dengan keadaan bangunan yang sudah tidak berbentuk tersebut.
“Keluarga yang malang,” lirihnya sambil masih memandang ke depan. Ia tidak tahu apa yang ia cari sebenarnya. Ia sungguh kaget dan bingung dengan apa yang ia saksikan sekarang.
Dengan hati kecewa karena tidak bisa jumpa dengan teman peramalnya, ia meninggalkan halaman rumah yang sudah berantakan itu untuk kembali ke kereta.
“Ayo, kita pulang, Pak!”
Sang majikan langsung naik kembali ke atas tumpangannya dan mereka meninggalkan jalan di depan rumah Karan yang telah terbakar habis.
Ibu yang ada di dalam kereta tak lain dan tak bukan adalah istri dari gubernur Rama. Ia kembali untuk berjumpa dengan sang peramal yang tak lain adalah Zevho, demi lanjutkan percakapan mereka yang masih belum tuntas.
Sheela sudah punya sejuta pertanyaan di kepalanya untuk bisa diramalkan. Tapi, ia harus kecewa karena niatnya tidak kesampaian.
Di saat yang sama, ia juga sedih karena tidak tahu ke mana harus mencari Zevho.
Sejak ia terima kabar soal ulah suaminya, ia jadi tidak tenang. Ia terus cemas dan tidak bisa terima kalau ada wanita lain yang menemani gubernur jika tidak sedang bersamanya.
Semua itu yang ingin ia ceritakan pada Zevho.
Gundah gulana perasaan Sheela sekarang. Zevho bukan hanya sekedar peramal yang ia bayar tetapi seseorang yang ia percayai untuk bagikan rahasia hidupnya.
Hal yang buat Sheela heran adalah apa pemicu dari terbakarnya rumah Zevho. Sheela tidak tenang jika belum tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dari kunjungannya beberapa kali ke rumah itu untuk minta diramal, ia tidak lihat tanda-tanda kalau Zevho dalam keadaan stres.
Ada banyak pemicu kebakaran. Yang pasti bukan karena cuaca yang kering karena wilayah yang mereka diami sangat sejuk dan lebih panjang musim hujan daripada kemarau.
Mungkin saja karena kelalaian penghuni rumah seperti lupa padamkan kompor atau alat masak ini meledak karena terlalu panas, atau ada lilin yang tak sengaja terbakar dekat benda lain yang mudah tersulut dan timbullah kobaran api besar yang tidak bisa dikendalikan lagi.
Faktor lainnya adalah berasal dari sesuatu yang disengaja. Ada orang yang memang punya rencana untuk menghancurkan bisnis Zevho dan keluarganya. Caranya dengan membakar rumah mereka saat penghuninya sedang tidak ada di dalam.
Sheela berharap memang tidak ada korban jiwa. Ia juga punya asa bahwa ia akan bertemu dengan Zevho dalam keadaan sehat. Ia mungkin sedang merintis kerjanya di tempat yang baru.
Sheela menutup wajahnya karena benaknya membuatnya berimajinasi kalau Zevho sekeluarga sebenarnya terbakar di dalam rumah mereka sendiri. Sangat mungkin terjadi, jika api merambat dengan cepat di malam hari, saat mereka sedang lelap tertidur dan mereka tidak sempat melarikan diri.
Mungkin mereka sempat terjaga, tetapi ada dalam suasana kamar yang sudah panas dan terkepung api, sehingga hanya bisa pasrah. Pilihan mati bersama selalu jadi keputusan yang bijaksana jika mereka memang termasuk pasangan yang kompak.
Kereta itu tanpa sadar melewati jalan besar yang dekat dengan hutan lindung, di mana Karan berada dalam keadaan pingsan.
Namun, mereka tidak menyangka kalau ada Karan yang butuh pertolongan mereka.