Matahari semakin terik karena waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang.
“Berhenti sebentar di depan, Vier!” seru Golzyver dari dalam kereta.
Pria berlemak dengan tampang berbentuk bulat lonjong. Ia adalah pemilik tambang logam terkenal dari Cevza Timur. Suaranya membahana membuat sang kusir tidak akan berani menolak apa pun permintaan dari majikannya.
Sejumput janggut menghiasi wajahnya.
Ia baru saja melakukan perjalanan panjang dengan dua orang pengawal yang paling ia percaya. Mereka mengendarai dua kereta kuda yang kokoh.
Sudah hampir tiga jam mereka berada di atas kereta sehingga Golzyver ingin meluruskan tubuh gemuknya sebentar saja.
Kebetulan mereka melewati kawasan hutan rimbun bernuansa hijau pekat hampir menghitam, yang buat Golzy ingin merasakan sejuknya udara di sekitar di tengah panasnya surya yang membakar.
Ringkik kuda menjadi salah satu tanda bahwa mereka sudah berhenti.
Dua orang pegawainya yang duduk di kereta bagian belakang, meloncat turun dari kereta, ikut waspada mengawal Golzy.
Pria gempal itu dengan susah payah menapakkan kakinya di bumi. Senyum menyeringai menghiasi parasnya.
“Vier, kamu bisa bersantai sejenak di sini. Aku suka dengan pemandangan di hutan ini dan udaranya sangat sejuk.”
“Baik, Tuan.”
Vier telah bekerja untuk Golzy lebih dari lima tahun. Ia sangat setia meski terkadang juga menyebalkan kalau sudah berurusan dengan ijin kerja untuk urusan keluarga.
Golzy melambaikan tangannya pada pengawalnya yang dia selalu ia panggil dengan nama logam meski bukan itu sapaan yang tepat untuk keduanya.
Ingatan Golzy memang separah itu. Terkadang ia memanggil mereka dengan kata yang benar tetapi lebih sering ia sematkan salah satu dari kata-kata seperti perak, emas, berlian atau logam berharga lainnya.
Dua orang pegawainya itu bergegas berlari mendekat.
“Zamrud, apa kamu punya ide lain ke mana lagi kita bisa cari tenaga kerja yang murah? Kalau bisa gratis akan lebih baik lagi.”
Pria yang dipanggil zamrud itu berperawakan kurus dan tinggi. Berbeda dengan temannya yang gempal dan pendek.
Namun, Golzy jauh lebih tinggi dari zamrud, sehingga kalau mereka bertiga sedang berdekatan seperti sekarang, nampak sangat kontras.
Perut Golzy yang buncit seolah akan menyundul tubuh si pendek sehingga pria itu berdiri agak menjauh setiap Golzy bergerak.
“Tuan, saya belum ada ide. Nanti, saya perlu bicara dengan keluarga saya sehingga bisa kumpulkan orang, dan Tuan bisa kirimkan kereta untuk menjemput mereka.”
“Tidak buruk sama sekali apa yang barusan kamu katakan. Ingatkan selalu aku tentang hal ini.”
“Apa saya juga bisa hubungi keluarga saya seperti kata zamrud?” tanya si pendek.
“Bisa juga. Tetapi, jangan janjikan dulu pada orang-orang yang kalian rekrut, karena aku butuh melihat postur mereka. Aku tidak ingin dapatkan pekerja yang lemah dan sakit-sakitan.”
Golzy lalu mengibaskan tangannya sebagai tanda kalau ia sudah selesai berbicara dan mereka bisa kembali ke keretanya lagi.
Pria kaya raya itu lalu menoleh untuk mencari kusirnya.
Golzy cukup terganggu dengan suara kuda yang terus meringkik, meski tidak begitu memekakkan telinga.
Meski pelan, tetapi suara seperti rengekan tak putus itu buat Golzy tidak bisa nikmati waktunya bersantai sebentar di pinggir hutan tersebut.
“Vier! Apa yang terjadi dengan semua kudamu itu? Tidakkah kau bisa hentikan tangisan mereka?”
“Baik, Tuan!” balas Vier yang juga memang sedang bingung.
Lengannya sudah mulai pegal karena sejak tadi, ia sudah berpindah dari kiri ke kanan, untuk mengelus punggung dari dua ekor kuda tersebut.
Vier juga heran, apa yang buat kedua ekor kuda tersebut sangat berisik. Tidak seperti biasanya.
Golzy sudah berjalan mendekati Vier untuk tahu alasan yang sebenarnya kuda mereka terus melenguh panjang.
Tadinya ia berdiri di belakang kereta.
“Apa mereka lapar atau perlu di beri air? Perjalanan kita masih cukup panjang.”
“Sudah, Tuan. Saya tidak tahu juga apa yang buat mereka resah.”
Golzy berjalan melewati keretanya untuk melihat pinggiran hutan dengan pohon-pohon kokoh yang menjulang tinggi.
Golzy senang karena ia cukup bosan dengan daerah tambangnya yang begitu kering, gersang dan tidak ada hutan selebat yang ia pandang saat ini.
Memang, kawasan yang ia jadikan sebagai lahan sumber kekayaannya sekarang, dulunya adalah hutan yang ia gundulkan.
Makanya, ia seperti bernostalgia saat melewati jalan ini.
Menikmati apa yang jarang sekali ia temui.
Salah satu pengawal dari kereta kedua, tetiba sudah ada di dekat kereta yang dikendalikan oleh Vier.
“Kudamu ini sangat berisik.”
“Aku tahu! Apa yang harus aku lakukan? Apa kita tinggalkan saja tempat ini?” balas Vier dengan tampang putus asa.
“Majikan kita sepertinya masih ingin berlama-lama menikmati pemandangan di hutan ini.”
“Aku juga tidak berani minta tuan untuk tinggalkan tempat ini sekarang.”
“Katanya, binatang itu peka pada alam di sekitarnya. Mungkin saja, sesuatu sedang terjadi di dalam hutan ini.”
“Benarkah?” balas Vier dengan menautkan ujung kedua alisnya.
“Seperti tanda kalau ada sesuatu yang akan terjadi atau ada seseorang yang sedang dalam bahaya.”
“Aku tak berani bilang pada Tuan. Apa kamu bisa bantu aku untuk ingatkan tuan Golzyver agar kita segera pergi dari sini. Jangan-jangan, ada hantu di hutan ini,” balas Vier sambil bergidik.
“Sembarangan saja kalau bicara! Masih siang begini, mana ada makhluk gaib yang mau muncul.”
“Apa yang kalian debatkan? Sebaiknya kalian tenangkan kuda-kuda ini karena saya masih ingin berada di sini.”
“Tapi, Tuan, binatang ini tidak akan berhenti meringkik, jika kita tidak pindah dari sini,” sahut Vier agak terbata-bata karena takut dimarahi oleh Golzy. Ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya.
“Kalian hanya mengarang cerita saja. Tunggu sebentar lagi dan segera diamkan kuda-kuda ini!” tegas Golzy berjalan berbalik arah sekarang. Ia menuju kereta kedua di belakangnya.
“Aku rasa ada yang janggal terjadi di sekitar sini. Karena, kuda di bagian kereta belakang tidak ribut sama sekali.”
Pengawal yang sejak tadi disapa zamrud berjalan melewati Vier. Ia terus berjalan sambil matanya awas mencari suatu petunjuk.
Ia ingin masuk ke dalam hutan, tetapi ia tidak berani. Hanya saja, suara ringkik kuda seperti pesan untuk mereka dan ia sedang berusaha menemukan penyebabnya.
Lalu, matanya menangkap sesuatu.
Sekitar dua ratus meter di depan kereta Vier, ada sosok yang bergeming seperti batu di pinggir jalan.
Zamrud berlari mempercepat langkahnya dan ia temukan seorang manusia setengah meringkuk, tak bergerak. Sebagian punggung si manusia, menempel pada dinding batu.
Pria itu berlari kencang menuju majikannya berada untuk sampaikan apa yang ia temukan.
Benar saja, saat itu juga, ringkikan kuda berhenti buat Vier juga ikut heran dan ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi.