Naik Kereta

1047 Words
Vier sangat lega, karena dua ekor kudanya akhirnya bisa tenang juga. Namun, ia sekarang merasa penasaran, alasan apa yang buat temannya bisa berlari dengan begitu cepat menuju tuan besar mereka. Golzyver sedang mengelus batang dari sebuah pohon kokoh yang tumbuh tepat di pinggir dekat jalan. Diameter pohonnya masih belum begitu luas tapi sudah bisa dibayangkan kalau dalam beberapa tahun ke depan, jika tidak ditebang maka tanaman tersebut akan menjadi penyeimbang ekosistem di sekitarnya. “Maaf, Tuan. Ada orang pingsan dekat kereta kita. Hal itu yang buat kuda-kuda milik Vier terus melenguh panjang sejak tadi!” ucap si pengawal tergesa-gesa. “Orang pingsan? Karena kuda kita yang membuatnya tidak sadarkan diri?” “Sebaiknya kita lihat, Tuan. Mungkin, kita bisa selamatkan dia dan jadikan pekerja di tambang kita.” “Ide yang bagus. Di mana dia?” Golzyver pikir, jika ia bisa temukan tenaga kerja yang tidak perlu ia bujuk atau beli dengan mahal, maka telah jadi capaian yang sangat memuaskan. Golzy baru saja mengeruk lahan baru. Belum pernah ia lakukan dalam tiga tahun terakhir, karena hasil tambang mereka masih cukup baik. Sangat lumayan, bisa menutupi pengeluaran operasional. Namun, belakangan, tuntutan pasar akan logam mulia melonjak naik, ditambah ia harus mengirimkan bahan mentah setiap minggu ke negara tetangga, maka mau tidak mau, ia butuh tenaga kerja baru. Sudah satu bulan ini ia gerilya dari satu wailayah ke wilayah lainnya untuk bisa mengumpulkan sekitar seratus tenaga baru. Baru sekitar empat puluh orang yang ia sudah dapatkan dan belum memenuhi target. Untuk itu, ia akan terus mengejar target yang telah ia tetapkan. Golzy sudah sampai dekat sosok yang masih tergeletak di atas tanah. “Lingkar lengannya cukup besar. Ia akan jadi pekerja yang produktif,” ujar Golzy begitu sudah menatap sejenak tubuh yang masih bergeming. “Apa kita bawa dia saja ke dalam kereta, Tuan?” tanya Vier. “Coba kalian cek, apakah dia masih hidup?” Vier memandangi teman sejawatnya dan sedikit menganggukkan kepalanya seperti beri perintah agar segera lakukan apa yang barusan majikan mereka perintahnya. Rupanya, Vier itu tipe penakut. Dia tidak ingin memegangi mayat jika memang tubuh di hadapan mereka itu terbukti nanti, sudah tak bernyawa. “Apa yang kalian tunggu?” seru Golzyver mulai tidak sabar. Vier dan temannya tentu saja tersentak. Suara majikan mereka itu bukan hanya meninggi tetapi seperti mencekik keduanya sehingga serta merta mereka menunduk dan mendekati tubuh yang masih tak bereaksi apa pun tersebut. Vier memberanikan diri, meski bajunya sudah basah karena keringat. Ia ketakutan pada tubuh kaku yang harus ia sentuh dan juga amukan dari majikannya nanti. “Masih hidup, Tuan. Meski, sangat lemat denyutan nadinya,” imbuh pegawai yang dipanggil zamrud oleh Golvy tadi. “Siram saja tubuhnya kalau begitu, biar dia terjaga. Bisa jadi dia tertidur dan bukan pingsan.” Golvy kembali memerintah. Vier dengan sigap bangkit dan menuju keretanya. Ia kembali dengan sebuah botol di tangannya. Vier sodorkan botol tersebut pada temannya yang masih menyentuh beberapa bagian lain dari tubuh tak bergeming tersebut. Golvy menatap tajam pada dua orang pegawainya dengan tidak sabar. Zamrud menyiram perlahan air dari dalam botol ke bagian kepala dan wajah yang baru terlihat salah satu sisinya saja. Botol tersebut tidak begitu besar sehingga airnya langsung habis setelah beberapa detik dituangkan isinya. Tiga pasang mata itu menunggu reaksi. Zamrud bahkan menepuk-nepuk pipi dari sosok tersebut. Beberapa menit kemudian, ada sedikit reaksi. Kelopak mata dari sosok bergeming itu mulai bergerak pelan. “Bawa dia di kereta belakang, kita berangkat sekarang.” Golzy dengan tegas memberi perintah. “Tapi, Tuan!” sahut Vier sambil menggaruk belakang kepalanya. “Ada apa, Perak? Kamu terlalu banyak bicara hari ini.” Salah sapaan lagi yang dilakukan oleh Golzyver. Sudah biasa sehingga Vier tetap sadar kalau ucapan barusan adalah comelan untuknya. “Bagaimana kalau dia sebenarnya tidak ingin ikut kita, atau ada keluarganya yang mencari?” “Lihat sekitarmu, Perak. Apakah ada pemukiman atau rumah yang terlihat?” tantang Golzy sambil melebarkan kedua lengannya. Vier menggeleng lalu menunduk. Zamrud yang dengar perdebatan singkat antar majikannya dengan Vier, sudah bisa duga kalau mereka selamanya tidak akan pernah menang dari tuan mereka, meski pria itu jelas-jelas salah. Nasib jadi babu. Tidak punya kuasa untuk berpendapat. “Beri dia makanan selama di atas kereta, jika ia sudah bangun!” perintah Golzy lagi. Dengan tatapan tak berdaya, Vier hanya bisa merapikan botolnya yang sudah kosong dan melihat Zamrud yang sudah membopong tubuh tersebut untuk dimasukkan dalam keretanya. Golzyver sendiri sudah masuk juga ke dalam kereta, yang langsung diikuti Vier. “Langsung ke tambang terlebih dahulu. Kita tidak usah mampir ke mana-mana lagi,” seru Golzy dari dalam kereta. Pengalaman kerja yang lama dengan Golzy, buat Vier sudah paham kalau titah majikannya itu tak terbantahkan. Vier memecut punggung kuda yang langsung berderap meninggalkan kawasan hutan tersebut. Sedang di kereta belakang, tubuh yang tergeletak di lantai dasar berbahan kayu itu, mulai bergerak. Karan tentu saja pemilik tubuh yang baru digendong oleh zamrud. Remaja itu sukses membuka netranya. Tetapi yang ia rasakan pertama kali adalah goyangan dari kereta. Lalu dinginnya kulit wajahnya dan sebagian rambutnya. Ditambah lagi, matanya menangkap tekstur kayu dengan sebagian permukaan tertutupi oleh karpet biru. Karan masih tidak menunjukkan pada orang-orang di atas kereta, kalau ia sudah siuman. Nyeri di perutnya kembali hadir dan ia semakin sadar kalau ia memang butuh makan. “Mana sisa makanan kita tadi, biar bisa diberikan pada orang ini kalau ia sudah bangun,” ucap zamrud yang nama sebenarnya adalah Rynza. Sangat jauh berbeda memang sapaan zamrud dibanding Rynza. Pria lain yang juga di dalam kereta, menarik sebuah kotak kayu sedang dan meletakkannya di atas bangku di samping Rynza. Mendengar ada kata makanan, buat pikiran Karan langsung berdebat hebat antara langsung bangun saja agar bisa makan ataukah tetap tertidur karena ia masih tidak tahu tujuan dari orang-orang tersebut membawanya ke dalam kereta mereka. Karan juga sedikit khawatir jika ia sedang bersama dengan orang jahat. Akhirnya, Karan hanya diam saja untuk bisa pelajari situasi. Meski perutnya sudah sangat perih dan keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya, ia masih diam. Tidak ingin gerakkan tubuhnya sama sekali. Karan mau dengar dulu apa saja yang nanti dibicarakan pemilik kereta. “Tubuhnya masih tidak terlalu panjang. Ia sepertinya hanya seorang bocah,” ucap temannya Rynza. “Jangan bercanda kamu. Dia sangat berat saat aku gendong tadi. Aku pasti langsung tahu kalau dia hanya anak-anak.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD