Yatim Piatu

1145 Words
Karan bisa dengarkan suara dua orang asing di sekitarnya. Ia masih bergeming belum buat keputusan sama sekali untuk bangun. Meskipun lambungnya sudah meronta disusul rasa nyeri yang mulai mendera. Tanpa sadar, Karan sedikit menggerakkan kakinya untuk menekuk demi membantu menghilangkan rasa nyeri yang ia derita. Gerakan sekilas itu tertangkap oleh Rynza. “Bangunlah! Kami tidak akan sakiti kamu!” teriak Rynza. Karan pikir berulang kali dan akhirnya ia turut juga dengan kata-kata orang asing yang ada di sekitarnya. Pilihannya untuk menolak juga terbatas karena ia sedang ada di atas kereta yang bergerak cukup kencang. Karan tidak bayangkan kalau dia akan melawan mereka dan melarikan diri. Ada tebersit niat itu tetapi sangat minim desakannya. Karan menegakkan tubuhnya sekaligus menekuk kedua kakinya untuk meredakan nyeri pada lambungnya yang semakin menggigit. “Kamu pasti sudah lapar. Minumlah teh hangat ini dulu, baru makan rotinya,” ujar salah satu pria yang tidak diketahui namanya oleh Karan. Pria yang lainnya menyodorkan sebuah wadah bagi Karan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Karan menyambut mangkuk tersebut dan mendekatkan ke wajahnya. Benar sekali kalau teh hangat yang ia seruput sedikit demi sedikit itu membuat lambungnya berhenti bergejolak. Karan habiskan minuman itu tanpa ia beri jeda. Ia memang butuh air dan juga makanan. Di saat yang sama, pria itu memberikan sepotong roti yang cukup besar ukurannya dari yang biasa ada di rumah Karan. Remaja itu tidak menolak dan langsung melahapnya. Rynza dan temannya juga ikut menatap Karan dalam hening. Mereka seolah ikut rasakan kelegaan begitu Karan selesai dengan makanannya. Rynza mengambil wadah yang telah kosong dan tambahkan lagi cairan untuk dihabiskan oleh Karan untuk kedua kalinya. Karan sendiri sudah bisa dapatkan kembali kekuatannya. Setidaknya, keringat yang terus bercucuran sebelumnya sudah tidak muncul lagi. “Duduklah di sini. Kami tidak akan memakanmu,” pinta Rynza kali ini tidak terlalu kasar lagi bicaranya. Karan perlahan bangkit dan ambil tempat di bangku kayu samping Rynza. Pikir Karan, pria itu dari tadi sangat perhatian padanya sehingga ia rasa cukup aman untuk mulai terbuka padanya. “Namaku Rynza dan temanku yang satu ini tidak suka perkenalkan diri. Siapa kamu?” kata Rynza lagi setelah Karan duduk di dekatnya. “Karan.” “Nama yang unik.” “Ada artinya,” sahut Karan lagi beranikan diri untuk lebih santai. Tidak masalah bagi remaja itu untuk sekedar berbagi cerita. “Apa tepatnya?” tanya teman Rynza. “Seorang pejuang yang kuat dengan telinga yang peka.” “Berapa umurmu, Karan?” “Genap dua belas, tahun ini.” Rynza menatap temannya dengan menaikkan alisnya sekilas. Rynza ingin katakan kalau memang temannya benar, ternyata mereka temukan sosok seorang anak. “Siapa orang tua kamu dan di mana kamu tinggal?” tanya temannya Rynza penasaran. “Nama Om siapa? Saya tidak terbiasa bicara dengan orang yang tidak punya nama,” balas Karan. Ia memang tidak ingin bingung menyapa. Juga, agar ia tidak salah orang nantinya. Rynza menendang kaki temannya agar bisa memberikan jawaban yang benar. Memang, pengawai Golzy yang satu ini selalu mengelak untuk sampaikan nama aslinya. Ia merasa malu sehingga selalu ia sembunyikan nama aslinya. Ia gunakan nama samaran karena baginya, nama yang disematkan orang tuanya padanya itu lebih cocok untuk anak perempuan. “Zoe, panggil saja Zoe.” “Baik Om Zoe. Saya tidak tahu di mana tempat tinggal saya dan siapa orang tua saya.” Rynza mengernyit. Jadi banyak pertanyaan timbul di kepalanya. “Kamu sudah dua belas tahun tapi tidak tahu siapa orangtua dan alamat rumah kamu?” “Selama ini saya memang hidup di hutan. Saya sudah tidak punya ayah dan ibu lagi. Saya sudah lupa bagaimana bisa tiba tinggal di hutan.” “Dengan siapa kamu tinggal di hutan?” balas Rynza. “Sudah berapa lama kamu berada di hutan?” sambar Zoe tidak sabar. “Saya tinggal sendiri. Saya juga tidak tahu sudah berapa lama saya ada di dalam sana.” Rynza dan Zoe saling menatap. Ada ekspresi ragu di antara keduanya tetapi mereka tidak ingin menuduh anak bernama Karan itu sedang mengelabui mereka. “Apa yang kamu makan selama di hutan?” “Awalnya saat saya terjaga di pagi hari, ada dua keranjang besar di samping saya. Isinya berbagai jenis makanan kering. Jadi saya habiskan semua makanan yang ada, saat pagi, siang dan malam.” “Kamu tidak takut dengan binatang jahat selama di hutan?” “Tidak ada. Saya belum bertemu dengan binatang yang menakutkan. Tetapi, saya sering melihat ular dan babi hutan. Burung, jangkrik dan cacing itu yang paling banyak saya temui. Pernah saya dengar kokok ayam di pagi buta tetapi saya belum pernah lihat wujudnya. Saya juga belum jelajahi bagian terdalam dari hutan, sehingga saya tidak tahu apa isinya.” “Saya masih bingung. Jadi, selama ini kamu tinggal di dalam hutan sendirian?” “Betul sekali.” “Bagaimana kamu bisa pingsan?” “Stok makanan saya habis. Saya bertahan dengan ikan-ikan kecil yang saya kumpulkan saat saya mandi di danau. Tapi, saya butuh tambahan energi. Saya berjalan keluar dari hutan untuk bisa temukan rumah masyarakat. Saya lelah sebelum bisa temukan apa yang saya cari.” “Kamu sama sekali tidak ingat dengan wajah orang tuamu? Ayahmu atau ibumu?” tanya Zoe lagi ingin pastikan pendengarannya. Karan mengangguk beberapa kali, lalu berkata, “Sepertinya saya yatim piatu. Saya tidak ingat siapa pun yang pernah tinggal bersama saya.” “Lalu, siapa yang tinggalkan kamu di hutan dengan dua keranjang makanan tadi?” “Sampai sekarang saya tidak tahu. Apa, siapa, kenapa dan mengapa saya tinggal di hutan.” Pernyataan Karan yang ia sampaikan dengan lirih membuat Zoe dan Rynza trenyuh. Mereka larut dalam cerita sedih kisah remaja dua belas tahun itu. Sementara Karan sendiri merasa lega. Ia memang harus bisa menyamar kali ini. Biarlah mereka tahu kalau ia seorang yatim piatu saat ini sehingga mereka tidak mencari tahu alamat dan orang tuanya. Karan tidak lupa ingatan. Ia sedang coba selamatkan keluarganya. Jika ia melarikan diri dari dua pria asing itu, ia pasti akan mati kelaparan di hutan. Untuk sementara, ia akan ikut dengan mereka. Setelah ia bisa bertahan hidup dan cukup dewasa untuk mengenal daerah tempat tinggalnya dengan lebih baik, ia akan mencari kedua orang tuanya. Karan ingat betul kalau ayahnya bernama Praijing seorang pengumpul barang antik dan ibunya yang cantik adalah seorang peramal bernama Zevho. Teakhir kali mereka bersama makan malam seperti biasa sebelum ke kamar masing-masing. Karan ingat betul tamu terakhir yang datang ke rumahnya bertemu dengan ibunya adalah seseorang dengan kereta putih yang sangat bagus. Karan bisa lihat dari pakaian yang dipakai tamu ibunya waktu itu dan banyak pengawal berseragam yang datang dengan wanita itu. Karan masih tidak tahu siapa nama wanita itu tetapi yang pasti, ia sangat hafal wajahnya. Jika mereka bertemu tanpa sengaja, Karan dengan mudah akan kenal parasnya. Satu-satunya kebingungan yang buat Karan sedih adalah kenapa ia bisa tertidur di hutan sepanjang malam. Seseorang telah memisahkan dirinya dengan keluarganya dan Karan akan temukan orang tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD