Dijadikan Pekerja Tanpa Hak

1055 Words
Rynza merasa sudah cukup menginterogasi remaja bernama Karan tersebut. Setidaknya, jika nanti mereka ditanya oleh Golzy, sudah ada jawaban yang bisa mereka berikan. Tidak perlu mendengar langsung dari remaja tersebut. Karan sendiri mulai waspada dengan situasi di sekelilingnya. Makanan dan minuman yang tak seberapa tadi, mampu kembalikan fungsi semua inderanya. Ia menatap ke luar kereta dan ia tahu kalau jalanan yang mereka lintasi ini benar-benar asing untuknya. Ia tidak pernah melewatinya. Kalau selama ini yang ia lihat lebih pada rumput hijau, hutan lebat dan juga tanah luas yang datar. Sementara mereka sedang berada di lereng bebukitan yang menurun. Rasa sedih dan sepi itu mendera Karan. Ia ingat pada orang tuanya terutama anjing kesayangannya doggy. Tapi Karan berjanji dalam diam kalau ia tidak boleh terlihat lemah. Ia harus bisa berjuang. Ia tidak boleh menangis meski ia sangat rindu rumah. Setidaknya, jangan di depan orang banyak. Kali ini kereta yang mereka tumpangi sudah sampai di daerah datar. Hamparan bebukitan sudah tergantikan dengan pemukiman yang nampak tertata memanjang di depan mereka. Sungguh pemandangan yang belum pernah Karan temui selama ini. Ia menanti dengan antusias akan tiba di mana mereka nanti. Kereta terus melaju dan akhirnya mereka tiba juga di depan sebuah pintu pagar. Setelah dekat semakin jelas kalau yang Karan pandang dari jauh itu rupanya dinding tembok berpagar. Begitu pintu dibuka oleh penjaga, kereta segera masuk. Bukan hanya satu kereta yang sedang ia tumpangi, ternyata di depannya juga ada satu kereta yang mendahului mereka. Tidak terlihat siapa penumpangnya karena tertutup, beda dengan jenis kereta di mana Karan berada. Kereta mereka berhenti tak jauh di belakang kereta pertama. Karan masih tetap di atas meski pun dua pria yang bersamanya sudah melompat turun. Karan amati salah satu pria yang bernama Rynza sudah berlari mendekati seorang pria berbadan gemuk dan tinggi besar yang baru turun dari kereta pertama. “Ayo, turun!” teriak Zoe menatap tajam pada Karan. Remaja itu dengan perlahan ikut perintah. “Sana, temui Tuan Golzyver!” lagi ia berseru setelah Karan sudah menapakkan kakinya di tanah. Karan ikut saja berjalan menuju arah yang ditunjukkan oleh Zoe dengan telunjuknya. Remaja itu tidak sampai gemetar tapi ia memang merasa cemas. Pria yang akan ia temui ini tubuhnya terlampaui besar untuk Karan. Ia butuh mendongak untuk bisa melihat wajahnya. “Kamu sudah sempat nikmati makanan milikku. Sekarang, kamu harus bayar!” Suara pria itu menggelegar membuat Karan berhenti melangkah. Jarak di antara mereka sekitar dua depa milik Karan. Karan tidak lagi berani menatap wajah si pemilik suara. Sebagai gantinya, Karan mengangguk pelan sekali saja. Entah sempat dilihat Golzy atau tidak, tapi yang pasti Zoe menangkap gerakan itu. “Zamrud, bawa dia ke barak kumpulan pekerja. Ingat, dia tidak punya hak apa pun. Berbicara hanya jika ditanya. Diberi makan jika sudah selesaikan tugas seperti pekerja yang lainnya. Hukum jika lakukan kesalahan dan jangan diberi ampun jika ada niat mencuri. Tempatkan di bilik dalam hutan jika ” Karan hanya mendengar ucapan pria besar itu tanpa tahu harus berkata apa. Ia sekarang masuk dalam perangkap dan dijadikan sebagai pembantu untuk tuan berbadan besar seperti raksasa ini. Tak bisa lagi mengeluh. Ia hanya butuh bertahan. “Lalu, siapa yang akan mengawasinya, Tuan?” “Dia, biarkan temanmu itu yang aku tidak ingat namanya untuk mengawasi pekerja baru ini saat bekerja.” Golzy menujuk Zoe yang berdiri tak jauh di belakang Karan dan disambut dengan anggukan tanda patuh dari Rynza dan juga Zoe. Semua aksi mereka itu tidak Karan amati karena ia tetap menunduk. Rasanya, ia memang butuh sendiri sekarang. Ia tidak sabar lagi untuk segera menjauh dari pria raksasa yang punya kekuasaan penuh itu. Lalu Karan mendengar langkah kaki menjauh dan ia mencoba melirik ke arah pria raksasa itu yang memang sudah meninggalkan mereka. “Ikut denganku!” ujar Zoe sudah ada di samping Karan. Patuh seperti kerbau dicocok hidungnya, Karan melangkah di belakang Zoe. “Jangan malas, biar kamu cepat dipindahkan ke kamar yang lebih layak!” teriak Rynza begitu mereka sudah melangkah ke arah yang berbeda. Karan mengamati lingkungan baru yang ia masuki. Ada pintu seperti lorong yang memisahkan mereka dengan pekarangan luas tadi. Berjalan sekitar tiga ratus meter dalam hitungan Karan, mereka tiba juga di sebuah kawasan baru. Sebuah bangunan panjang berbentuk U yang ada di depannya sekarang. Ada tangga lebih dari sepuluh undakan di depan Karan sekarang. Namun, Zoe mengajaknya turun ke sebuah lorong di sebelah kanan tangga. Suasana di bagian bawah itu temaram dan juga terkesan lembab, meski bersih dari sampah. Ada banyak ruang bersekat, namun tak ada daun pintu yang menutup. Karan tidak sempat menghitung jumlah bilik kecil yang ia lewati. Semuanya kosong. Zoe yang berjalan di depannya lalu berhenti di salah satu bilik paling pojok. “Apa yang temanku katakan tadi benar adanya. Kamu baru bisa dapat tempat tidur dengan kasur, jika sudah berhasil buat Tuan Golzy senang. Ini kamarmu, mulai dari sekarang.” “Apa yang harus saya lakukan sekarang, Om?” tanya Karan. “Tuan! Panggil saya, Tuan. Saya bukan saudara kamu!” sahut Zoe dengan suara yang jauh lebih dingin dari sebelumnya. Karan berpikir, saat di kereta tadi mereka cukup ramah padanya. Ternyata, setelah tiba di tempat tujuan, suasana di tempat baru ini merubah cara mereka bersikap padanya. Pelajaran pertama untuk Karan, jangan mudah terkecoh dengan sikap manis seseorang. “Baik, Tuan. Apa tugas saya sekarang?” “Bersihkan semua kamar yang kosong ini. Hanya yang kosong saja. Jika ada orangnya, abaikan saja.” “Siap, Tuan!” “Saya akan kembali untuk mengecek, setengah jam lagi.” Karan mengangguk. Ia melangkah untuk mencari alat pembersih untuk bisa bekerja seperti yang dimaksud oleh Zoe. Untungnya, Karan sempat diajarkan oleh ibunya untuk bisa menyapu rumah dan halaman. Ia jadinya tahu harus kerjakan apa sekarang. Sialnya, apa yang ia cari untuk bisa bantu kerjanya nanti, tidak ia temukan. Ia masuk ke dalam kamarnya untuk temukan apa yang ia cari. Tingkat kecemasan Karan mulai bertambah. Ia harus segera mulai kerjakan tugasnya tetapi alat bersih-bersih tidak ada. Karan masuk ke dalam bilik kosong lainnya, untuk bisa dapat apa yang ia cari. Ia amati kalau setiap kamar sama persis. Tidak ada tempat tidur atau pun kasur, hanya sebuah papan yang sepertinya berfungsi untuk merebahkan tubuh setelah lelah bekerja. “Berani benar kamu masuk ke kamarku tanpa ijin!” teriak seseorang membuat Karan tersentak dan mematung. Belum juga mulai bekerja, Karan harus berhadapan dengan pemilik kamar yang sepertinya tidak ramah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD