Suara menggelegar itu buat nyali Karan ciut.
“Maaf, saya hanya ingin bersihkan kamar sesuai perintah Tuan Zoe.”
“Apa kamu bilang? Kamu anggap kamar ini kotor hingga ingin dibersihkan?” sambar pemilik kamar yang tak bersahabat itu.
Karan sekarang bisa lihat sosok yang dari tadi baru ia dengar suaranya.
Seorang pria dewasa yang ceking dengan sorot matanya yang merah. Karan tidak ingin menambah masalah dengan terus meladeni perkataan pria tersebut.
Sebagai gantinya, ia langsung berjalan mundur sambil berkata, “Maaf, saya permisi.”
“Anak bodoh. Belum tahu apa-apa sudah tamak ingin punya uang sendiri!” gerutu pria itu yang masih tetap didengar oleh Karan.
Remaja itu pura-pura tuli dan kembali ke kamarnya.
Ia pasrah saja. Kalau nanti Zoe kembali mengecek, dia akan bilang kalau sudah ingin masuk ke setiap kamar, tetapi ia tidak punya alat bantu untuk lanjutkan tugas bersih-bersih.
Karan sekarang duduk di atas tembok dingin yang akan jadi tempat tidurnya.
Lampu di kamar itu begitu suram sehingga tidak jelas apa saja isi di dalam kamar kalau tidak mendekati benda yang ditatap.
Hanya ada tambahan satu wastafel di dalam kamar, selain itu tidak ada benda lain lagi. Di atas wastafel ada gelas, sikat gigi dan odol. Praktis, tempat yang disebut kamar itu kosong.
Baunya juga apek sehingga Karan tidak tahu entah berapa lama ia akan bertahan di sana.
Masalah baru bagi Karan adalah ia belum temukan kamar mandi atau toilet.
Ia bangkit dan berjalan ke arah yang berbeda. Ia tidak ingin lewat dari depan pemilik kamar yang sempat gusar padanya.
Karan masih sempat melongok sebentar ke setiap kamar yang ia lewati karena ia sebenarnya masih ingin kerjakan tugas dari Zoe.
Karan ingin tinggalkan kesan yang baik agar ia bisa diberi makan tepat waktu oleh Zoe dan teman-temannya.
Sekitar lima bilik yang ia lewati itu memang kosong.
Sampai di kamar yang paling ujung, barulah Karan temukan apa yang ia cari. Seperti toilet umum lainnya, tempat itu sangat terbatas. Bersyukur, ada banyak air karena Karan melihat tetesan cairan dari celah batu yang ditampung.
Lagi-lagi taka da pintu, tetapi ada sebuah papan yang menyandar di dekat tembok. Karan menduga itulah pintu yang akan mereka pakai nanti.
Mata Karan berbinar karena semua peralatan yang ia cari tadi ada di sana. Sebuah sapu ijuk, tongkat pel dan kainnya serta sikat dan ember.
Karan mengambil sapu ijuk terlebih dahulu lalu masuk ke kamar kosong yang paling dekat dengannya dan mulai bekerja.
Ia dahulukan menyapu semua kamar barulah akan ia pel sesudahnya. Jadi, nanti Zoe datang bisa lihat kalau setidaknya sudah sepuluh kamar kosong yang ia sapu.
Ada delapan belas bilik yang harus Karan bersihkan karena salah satunya ada penghuni, dan tidak termasuk kamarnya sendiri.
Zoe datang tepat waktu seperti janjinya dan beruntung. Karan baru selesai sapu di kamar ketujuh belas.
“Sudah selesai?” tanya Zoe.
“Semua kamar kosong sudah saya sapu, Tuan. Ini kamar terakhir yang akan saya bersihkan.”
“Ada berapa kamar?”
“Delapan belas tidak termasuk kamar saya dan ada satu kamar yang berpenghuni.”
“Pria itu pasti tidak kerja lagi hari ini, kebiasaan!” Karan diam saja. Ia tahu kalau Zoe bukan bicara padanya.
Rupanya pria tadi yang sempat menghardiknya sudah biasa tidak bekerja.
“Ke mana semua penghuni kamar berada sekarang, Tuan?” tanya Karan beranikan diri.
“Tambang. Kalian semua adalah pekerja di tambang. Tuan besar punya tambang logam mulia yang harus digarap setiap hari.”
“Kapan saya bisa mulai kerja di sana?”
“Ada banyak hal yang perlu kamu kerjakan sebelum pergi ke tambang. Kamu harus bisa dipercaya dulu baru bisa terjun ke sana.”
“Saya siap, Tuan. Kalau boleh saya tahu, apa yang akan dilakukan di sana?”
“Nanti saja. Tapi, singkatnya seminggu sekali, mandor untuk pekerja akan berkeliling untuk lihat hasil galian atau mendulang bahan mentah untuk logam mulia.”
“Logam mulia?”
“Ya, ada emas, perak, zamrud, dll. Masih banyak, aku tidak hafal.”
“Apa saya akan dapat uang kalau bekerja di sana?”
“Tidak ada uang, tapi siapa yang berhasil sesuai target harian yang telah ditentukan, akan diberikan penghargaan. Tidak ada yang sama. Pastinya, tetap kamu dapat hadiah untuk jerih payahmu.”
“Oh, begitu!”
“Jangan senang dulu. Jika kinerja kamu menurun sampai tiga kali berturut-turut, maka kamu akan dikurung selama seminggu di tempat seperti ini tetapi tanpa lampu sama sekali dengan jatah makan hanya satu kali sehari.”
“Siap, Tuan. Saya paham sekarang.”
“Lanjutkan kerjamu. Apa kamu hanya ingin sapu saja tanpa mengepel?”“Saya kerjakan sekarang.”
Dengan susah payah Karan mulai mengepel semua kamar itu kembali satu per satu. Sampai kamar ke lima, ia harus berhenti sebentar untuk menenangkan dirinya.
Tubuhnya mulai kehabisan energi tetapi ia tidak bisa menyerah begitu saja. Ia harus bersemangat.
Karan sungguh butuh air minum sekarang.
Tubuhnya sudah mulai mengucurkan keringat. Selesai mengepel di kamar ke lima belas, ia mulai merasakan lemas.
Tersisa tiga kamar lagi dan Karan memacu dirinya untuk lebih bersemangat lagi.
Ia hapuskan pikiran tentang minuman dan makanan yang ia butuh saat itu juga, karena akan semakin menyiksanya.
Tertatih-tatih, akhirnya selesai juga ia bersihkan kamar yang paling terakhir.
Karan rapikan semua peralatan ke tempat semula.
Ia melangkah terseok-seok menuju kamarnya sendiri.
Karan masuk ke dalamnya dan ia baringkan tubuhnya perlahan di atas tembok dingin yang akan jadi tempat ternyamannya sekarang.
Karan lapar dan haus tetapi tidak bisa lakukan apa pun. Hidupnya bergantung penuh pada Zoe dan pegawai lainnya.
Lebih baik ia tidak banyak mengeluh dan mengatur dirinya untuk tetap ramah pada semua orang, agar jatah makanan dan minumannya tidak dikurangi atau dicabut sama sekali.
Karan setidaknya sudah hilangkan rasa penatnya. Napasnya tidak lagi sesak atau memburu seperti baru selesai mengepel dan menyapu tadi.
Karan katupkan matanya. Seketika ia sadar kalau sebaiknya ia bersihkan tubuhnya sekarang juga, sebelum semua pekerja kembali dan mereka rebutan kamar mandi.
Beberapa bagian ototnya sakit tetapi Karan abaikan.
Ia kembali ke kamar mandi dan tuntaskan niatnya dengan cepat. Benar saja, papan yang ia lihat tadi pas dijadikan penutup agar tubuh pribadinya tidak terlihat.
Celaka baginya adalah ia tidak punya baju lain. Apa yang melekat di tubuhnya sekarang, harus dicuci agar tidak membuatnya gerah dan gatal. Ia bisa didera gatal-gatal kalau terus memakai pakaian kotor yang sama.
Karan putuskan untuk cuci bajunya dahulu dan pakaian dalamnya. Kalau sudah kering dan bisa ia kenakan lagi, barulah ia cuci celana pendeknya.
Hidupnya tidak akan mudah setelah hari pertama injakkan kakinya di kediaman Tuan Golzyver.