Kejadian Berkesan

1087 Words
Setelah bersihkan dirinya, Karan belum lihat lagi tampang Zoe. Ia jadinya tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Harapan Karan, kalau ia punya kerja yang lain, bisa langsung ia lakukan. Tentu saja rasa lelah sekaligus lapar itu masih ada. Tetapi, Karan tahu kalau sudah bukan saatnya lagi untuk bersikap manja. Ia harus belajar untuk melawan semua keinginan tersebut. Ia harus latih dirinya untuk jadi kuat dan bisa berpuasa. Dengan begitu, ia tidak akan terlalu stres jika makanan datang terlambat. Hari pertama ada di dalam biliknya, Karan masih belum paham situasi, kondisi dan ritme yang harus ia jalani. Dengan tubuh yang sudah lebih segar tetapi terasa dingin, karena bajunya masih coba ia keringkan dengan dihamparkan begitu saja di ubin di dalam kamar. Karan masih tidak belum lihat tempat untuk mengeringkan pakaian dan saat ia berkeliling dari satu kamar ke kamar yang lainnya, hampir semua orang menjemur pakaiannya di dalam kamarnya sendiri. Sepertinya memang mereka tidak punya keistimewaan untuk menikmati cahaya matahari yang disediakan secara gratis oleh Sang Pencipta. Tanpa alas pada ubin dan dan tubuh bagian atas yang polos karena bajunya masih basah, Karan coba untuk tidur. Tanpa melihat matahari dan jam dinding atau penunjuk waktu lainnya, Karan sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di luar sana. Sementara di deretan kamar tersebut, terdengar suara ribut dari salah satu kamar. Karan tidak memedulikannya dengan beranjak dan mengintip ada yang sedang terjadi. Namun, karena semua kamar tak berpintu, dengan jelas Karan bisa dengar ucapan-ucapan yang dilontarkan oleh beberapa orang. “Keluar kamu dari kamar!” teriak kepala mandor kepada salah satu penghuni kamar. Pria ceking yang sempat menghardik Karan yang sedang dituju. Kepala mandor bernama Zalgrix adalah adik kandung dari Golzyver. Biasa dipanggil Tuan Zal oleh semua orang. Pria yang dipanggil masih bergeming. Ia sepertinya masih tertidur. “Kalau kamu masih tidak mau dengar, dalam hitungan sepuluh detik maka tempatmu bukan lagi di ruang penyekapan tetapi di luar wilayah tambang!” lagi Zal mengancam karena perkataannya diabaikan. “Sepuluh!” “Sembilan!” Suara yang mulai menghitung adalah orang yang berbeda. Algojo Zal yang memang selalu mengikutinya ke mana pun ia ingin pergi terutama berhadapan dengan pekerja yang sulit diatur seperti pria ceking ini. “Lima!” “Empat!” “Tiga!” “Dua!” “Satu!” Tidak ada suara gebrakan pintu karena memang tidak ada penghalang bagi anak buah Zal untuk masuk ke dalam kamar. Hanya hentakan kaki yang terdengar. Dua orang berderap menyerbu kamar dan menarik pria ceking itu yang memang sedang tertidur. Entah memang ia benar-benar nyenyak, atau hanya akal-akalannya saja agar tidak ada yang mengusiknya. “Mau dibawa ke mana dia?” suara bisik-bisik dari penghuni kamar lain yang sudah mulai berdatangan karena waktu kerja di tambang sudah selesai. Dua orang pengawal Zal menarik pria ceking itu keluar dari kamarnya. Satu orang di bagian ketiaknya dan yang lainnya di kedua pahanya. Lalu mereka lepaskan begitu saja begitu sudah ada di depan Zal. Pria itu mendarat di tanah dengan bunyi debaman yang tidak pelan. Tidak ada perlawanan sama sekali darinya. Terlalu lemah untuk berdebat dengan para pemberi kerja. “Pasti rasanya sangat sakit dilempar begitu saja,” kata penonton dari kamar yang lain. “Dasar tidak berguna. Rugi beri makan dan minum padamu tetapi tidak pernah bekerja dengan sungguh. Sudah waktunya kamu dilenyapkan agar kamar ini bisa diberikan pada pekerja baru.” Zal lontarkan kekesalannya. Tidak ada suara yang keluar dari pria ceking itu. Ia seperti orang yang tidak punya panca indera. Tidak bisa dengar atau pun bicara. “Buang dia dan jangan pernah biarkan ia muncul lagi di hadapanku atau kalian yang dipecat!” seru Zal lalu berjalan meninggalkan kawasan kamar pekerja. Dua orang pengawalnya mengapit lengan si pria ceking yang bungkam itu dan menariknya keluar dari sana, mengekori langkah tuan mereka. Semua pekerja yang menyaksikan hal itu hanya bisa mendesah. Lalu, masuk ke bilik masing-masing dan ada yang langsung membersihkan diri di kamar mandi. Tak perlu mereka pertanyakan lagi, semua sudah tahu ke mana pengawal tadi akan mengirim teman mereka. Si pria ceking memang sudah tujuh hari tidak muncul di tambang dengan alasan sakit. Padahal, sebenarnya ia malas kerja yang sudah enam bulan di sana, ia tidak pernah di berikan penghargaan. Sekitar sepuluh orang pekerja yang direkrut di hari yang sama dengannya sudah pindah ke kamar yang lebih layak dan tersisa dirinya. Karena si ceking tidak pernah memenuhi target harian. Tidak konsisten lebih tepatnya. Dia akan dikeluarkan dari kawasan tambang. Dibiarkan mencari makan sendiri di luar. Di balik pagar tembok, di bagian selatan tambang ada hutan lebat. Biasanya, ke sanalah para pekerja yang tidak berguna dilempar. Setelah itu, kabar mereka tidak terdengar lagi oleh siapa pun. Sebenarnya, ada bilik penghukuman yang disediakan bagi pekerja yang malas. Namun, karena sakit, si ceking tidak disimpan di sana tapi tetap dikamarnya yang sekarang. Lalu, apakah tidak ada perlindungan untuk para pekerja yang bernasib seperti si ceking? Jangan pernah mimpi. Jadi pekerja untuk Golzyver artinya kamu tidak punya hak apa pun. Kamu wajib bekerja, tetapi tidak ada kebebasan untuk menuntut apa pun yang diberikan padamu. Berbicara pun tidak bisa seenaknya saja. Boleh antara sesama teman, tetapi tidak dengan para staf lain apalagi kepala mandor. Karan sama sekali tidak keluar dari biliknya. Ia hanya meresapi setiap suara yang bisa ia tangkap. Kasak kusuk dari pekerja yang lain tidak ia tangkap lagi dengan indra pendengarannya. Kecuali langkah-langkah kaki orang yang mondar mandir. Sampai sebuah suara sejuk membuat Karan bangkit dari rebahannya. Sekujur tubuhnya terasa dingin karena ubin yang ia tiduri seolah meresap masuk ke dalam tulang belulangnya yang tebungkus oleh daging dan otot. “Penghuni baru, siapa namamu?” tanya suara sejuk seorang wanita yang buat Karan langsung ingat pada ibunya Zevho. “Karan. Panggil saja saya Karan.” “Ini makananmu, Karan. Tidak ada pilihan lain, semoga kamu bisa terbiasa dengan rasa yang ada.” Adzja. Itulah sapaan untuk pelayan wanita yang bertugas menyiapkan makanan ke hampir tiga ratus pekerja yang ada. Tidak selalu ia lakukan tugas mengantar ke semua kamar. Ia biasanya memang akan bertemu dengan pekerja baru saja, untuk memberikan motivasi kepada mereka seperti yang ia coba lakukan pada Karan. “Terima kasih, Tante. Saya akan bertahan dengan setiap makanan yang ada.” “Panggil saya Adzja. Tetapi, jangan di depan para pegawai yang lainnya, karena nanti kamu akan dihukum.” “Apalagi yang tidak boleh saya lakukan, Kak Adzja? Saya takut buat kesalahan.” Adzja baru melihat Karan dengan jelas setelah remaja itu berjalan dan berdiri cukup dekat dengannya. Hanya satu kata yang ada dalam benak Adzja begitu melihat perawakan Karan yaitu iba.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD