Kenalan Baru

1055 Words
Adzja mengantarkan makanan ke kamar beberapa pekerja termasuk ke tempat Karan. Melihat kondisi Karan dan sadar kalau pekerja itu masih anak-anak, buat Adzja trenyuh tapi juga tidak bisa buat apa-apa. Ia sendiri juga masih usia enam belas tahun dan masih tergolong anak-anak. Bukan pertama kali ia temukan pekerja anak yang direkrut oleh tuan Golzyver. Sungguh sayang karena masa depan mereka akan terbatas sebagai pekerja tambang saja yang bagi Adzja, cukup membosankan. Sama seperti nasibnya kini. “Kamu hanya butuh kerja keras untuk bisa keluar dari kamar ini.” “Iya, Kak. Apa yang harus saya hindari agar tidak dihukum?” “Patuhi permintaan para penjaga atau mandor. Tidak usah membantah sampai kamu diberi kesempatan untuk bicara.” “Saya butuh pakaian saat ini, apakah Kak Adzja bisa bantu?” “Pakaian menjadi salah satu barang mewah di sini. Bertahan dan bersabarlah sambil terus patuh, agar kamu bisa segera dapat kamar yang lebih layak. Di sana akan ada banyak baju untukmu.” “Baik, Kak. Terima kasih.” Adzja pamit. Ia masih ingin bicara dengan Karan untuk mengajari anak itu apa yang boleh dan yang tidak serta tips lainnya untuk luput dari siksaan para penjaga. Tapi, ia sendiri takut akan dapat hukuman karena gerakannya juga diawasi sehingga ia tunda niatnya itu. Entah sampai kapan tetapi sosok Karan sudah melekat dalam hatinya meski baru berjumpa satu kali dan dalam waktu yang sangat singkat. Adzja bergegas melewati lorong itu dengan sebuah paket makan malam yang masih harus diantar ke kamar kepala mandor yaitu tuan Zalgrix. Satu-satunya kamar yang tidak pernah luput untuk Adzja layani. Gadis itu tidak punya kuasa untuk menolak perintah karena sudah ditetapkan dari awal dan ia tidak boleh mengeluh. Meski, ada banyak alasan bagi Adzja untuk tidak berada di kamar tuan tak punya sopan santun itu. Terbukti sekarang pun Zal sedang asyik sendiri dengan sorang wanita malam. Pria itu memang tidak pernah sendiri setiap harinya. Tidak seperti kakaknya Golzyver yang sudah menikah dengan satu istri, Zal masih lajang. Namun, entah sudah ratusan wanita yang ia nikmati tubuhnya karena ia suka. Jumlah penduduk di tempat mereka tinggal tidak terlalu banyak, dan sebagian wanita di sana sudah bersuami juga. Zal belum pernah secara sengaja meniduri wanita bersuami sehingga banyak wanita yang ia temui dari luar kota Cevza. Para wanita itu datang sendiri. Tak ada satu pun yang ia jemput. Adzja menekan bel kamar dan menanti untuk dibuka. Ia pernah sekali meninggalkan makanan yang terbungkus rapi itu dipintu luar begitu saja, dan ia diberikan hukuman yang setimpal keesokan harinya oleh Zalgrix. Satu hal menjijikkan yang Adzja tidak suka dari Zal adalah selalu membelainya di permukaan kulitnya yang terpapar sehingga Adzja selalu punya kecemasan tersendiri jika ingin ke kamar pria. Jadi, Adzja selalu berpakaian tertutup selama di luar kamar. Sialnya, pipinya yang akan jadi sasaran sentuhan Zal karena ia bosan hanya sekedar mengelus sejenak punggung tangan Adzja. Pelayan itu masih beruntung karena Zal belum pernah menyuruhnya masuk ke kamarnya sehingga ia masih selamat. Semua orang tahu kalau Zal tidak pernah tinggalkan seorang wanita lajang merasa tenang berada di sekitarnya. Segala cara akan ia lakukan untuk bisa menggauli wanita mana pun yang ia temui. Beberapa secara sadar tetapi kebanyakan saat ia sedang mabuk. Jadi, itulah tabiat dari Zal setiap malam. “Kamu ganggu kesenanganku, kali ini Adzja.” “Maafkan saya, Tuan. Silakan!” balas Adzja menyodorkan nampan makanan yang ia jaga sejak tadi, tanpa menatap tampang Zal. Meski sudah menunduk, Adzja tahu kalau Zal tidak sendiri. Pria itu keluar hanya dengan celana pendek tanpa memakai baju. Belum lagi bekas-bekas merah di sekitar permukaan kulitnya yang buat Adzja jadi mual melihatnya. “Kamu selamat malam ini karena kekasih baruku sedang menanti di dalam. Aku tunggu jatahku besok pagi.” “Siap antarkan sarapan besok, Tuan.” Zal tidak menjawab dan langsung menutup pintu. Adzja sangat lega. Ia bebas dari intimidasi majikannya yang satu itu. kalau saja Adzja tidak berutang budi baik pada Golzyver dan istrinya, ia sudah sejak lama ingin tinggalkan wilayah tambang. Posisi tempat mereka berada sekarang di Cevza Timur. Wilayah mereka dikenal dengan negara empat penjuru. Cevza Utara berlimpah dengan s**u dan madu karena d******i masyarakatnya diatur untuk memiliki beragam ternak. Cevza Selatan adalah daerah perkebunan dan tanaman. Sedangkan Cevza Timur menjadi pusat pertambangan sudah sejak lama. Wilayah keempat yaitu Cevza Barat yang jadi daerah pembuangan dan penjara. Namun, Cevza yang jadi pusat kota, dikenal sebagai daerah untuk pendidikan dan ekonomi. Semua transaksi dan bisnis terjadi di sana. Pemimpin wilayahnya adalah gubernur Rama. Orang yang sama yang telah memporak-porandakan kehidupan Karan. Rumah asli karan terletak di Cevza Selatan, sehingga ia tidak pernah terpapar dengan topografi di penjuru wilayah lainnya, sebelum sampai kawasan Cevza Timur. Sedangkan Adzja sendiri juga seorang yatim piatu yang dipungut oleh istri Golzyver. Ia ikut nyonya rumah sejak usia delapan tahun. Karena pekerjaannya, Adzja terlihat seperti gadis dewasa padahal umurnya hanya berpaut empat tahun lebih tua dari Karan. Mereka masih sama-sama anak-anak yang nasibnya tidak beruntung. Tidak salah jika Adzja jadinya tak bisa enyahkan pikirannya dari Karan, karena ia merasa mereka senasib sepenanggungan. Gadis itu tinggalkan kamar Zal untuk kembali ke dapur. Permintaan Karan untuk dapatkan baju terus terngiang di telinga Adzja saat ia sudah di kamarnya. Tidak begitu besar tempat yang disediakan oleh nyonya rumah untuk Adzja, yang pasti jauh lebih nyaman dari kamar Karan sekarang. Cahaya matahari bisa menerobos setiap celah yang ada tanpa terhalangi begitu pula sirkulasi udaranya terus berganti sehingga tidak akan membuat pemiliknya kekurangan oksigen segar. Adzja menuju lemarinya yang tidak begitu besar. Ia mencari kaos atau kemeja miliknya yang bisa dipakai oleh pria. Ukuran tidak jadi masalah sekarang, tetapi lebih pada kain untuk melindungi tubuh Karan. Ruang bawah tanah yang mereka tempati memang sangat lembab sehingga kalau Karan tidak segera keluar dari sana, Adzja khawatir kenalan barunya itu akan sakit. Ada dorongan kuat dalam diri Adzja untuk menolong Karan. Ia hanya ikuti kata hatinya saja. Akhirnya, ia dapatkan tiga potong baju yang bisa ia berikan pada Karan. Masalahnya sekarang, ia tidak bisa seenaknya saja mengantarkan pakaian itu ke kamar Karan apalagi dititipkan pada orang lain. Sama saja cari mati. Ada aturan ketat terkait menjumpai pekerja tambang. Harus dengan alasan yang jelas atau karena perintah langsung dari Golzyver atau bagian dari rutinitas yang sudah pasti ada jadwalnya. Demi keselamatan Adzja dan juga Karan, pelayan itu akan tunggu saat yang tepat agar bisa bantu Karan tanpa salah satu dari mereka dihukum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD