Dua minggu kemudian.
Pagi-pagi benar, Zoe sudah ada di depan kamar Karan.
“Keluar kamu!” seru Zoe yang datang hanya sendirian.
“Iya, Tuan.”
“Keluarkan semua pakaian kamu!”
Karan sempat bingung tetapi ia lakukan juga.
Dua buah kaos dan satu buah celana ia tunjukkan pada Zoe.
“Dari mana kamu dapat semua pakaian ini?” tanya Zoe.
“Milik saja sendiri, Tuan,” sahut Karan berusaha menjaga suaranya agar tidak terdengar bergetar.
“PEMBOHONG!” balas Zoe dengan sangat marah.
“Ti-tidak Tuan. Ini memang pakaian saya.”
Terbata-bata Karan mempertahankan pendapatnya.
Ia memang tidak berbohong karena semua pakaian yang ia kenakan adalah miliknya.
Ada tambahan dua potong kaos dan satu celana kain pendek dari Adzja yang sedang dipermasalahkan oleh Zoe sekarang.
Tetangga kamar Karan yang ingin dapat perhatian khusus yang menyampaikan kecurigaannya pada Zoe.
Tetangganya yang melapor itu tidak dapat balasan apa pun selain dikenal oleh penjaga seperti Zoe.
Demi bisa tampil menonjol maka ia sampaikan rasa curiganya.
Tidak ada dendam pada Karan karena mereka baru bertemu di sana tetapi ia memang hanya ingin dipertimbangkan oleh salah satu penjaga tambang.
“Kamu dipungut dengan pakaian apa adanya. Bagaimana mungkin sekarang ada baju ekstra. Jika tidak diberikan orang lain, maka kamu mencuri.”
“Ti-tidak Tuan. Saya mengenakan pakaian dobel saat pertama kali datang. Sa-ya tidak mencuri,” balas Karan masih tetap bertahan.
“Bocah banyak bacot. Ikut aku sekarang!”
Zoe tidak peduli. Ia tarik lengan Karan dan remaja itu berakhir ikut dengan Zoe sambil memeluk pakaian yang ia pegang tadi.
Entah mau dibawa ke mana, Karan sama sekali tidak ada ide.
Rupanya, Karan dimasukkan ke dalam ruangan paling menakutkan untuk para pekerja.
Tidak ada lampu sama sekali dan hanya akan diberi makan satu kali saja.
“Tempatmu di sini selama tiga malam agar kamu bisa merenung dan tidak mencuri lagi setelah keluar dari sini.”
“I-Iya Tuan,” sahut Karan dengan suara yang lesu.
Ruang yang ia tempati sekarang terlihat menyeramkan.
Hanya ada penerang sejenis lilin yang akan menemaninya sepanjang tiga malam di sana.
Begitu Zoe ingin pergi, Karan beranikan diri untuk bertanya, “Tuan, maaf. Apakah ada orang lain juga yang tinggal di sini selain saya?”
“Kamu beruntung. Kali ini kamu bisa kuasai tempat ini sesukamu. Berdoalah semoga tidak ada orang lain yang aku jebloskan ke sini.”
“Terima kasih, Tuan.”
Sungguh jawaban yang tidak cocok tapi Karan kehilangan akal. Ia sungguh cemas ada di sana sendirian.
Zoe bergegas meninggalkan Karan. Sebelum ia menghilang, ia sempat berteriak, “Jika kamu ingin melarikan diri, inilah saatnya. Semoga kamu selamat tiba di tujuanmu!”
Karan mendengar teriakan Zoe dan ia tidak punya tenaga untuk membalasnya.
Semua panca inderanya ia fokuskan pada tempatnya berada sekarang.
Ada banyak bau yang menerpa indera penciumannya sekarang.
Susah untuk meneliti setiap sudut kamar tanpa penerangan sama sekali.
Karan meletakkan pakaian yang ia genggam erat dari tadi untuk bisa meraih sejenis lentera kecil yang menggantung di dekatnya.
Agak susah ia melepaskan lentera tersebut awalnya, tapi dengan tangan gemetar dan jantung yang berpacu lebih cepat dari sebelumnya, Karan bisa juga melepaskan lampu sederhana itu dari pengaitkan.
Ia berjalan perlahan dengan penerangan terbatas di tangannya.
Ia melihat sesuatu menyerupai dinding yang ada di sekitarnya tetapi warnanya gelap kehijauan. Saat ia sentuh dengan telapak tangannya, terasa lembab dan basah.
“Tembok yang sudah sangat lama dan berlumut. Aku bisa mati kedinginan di sini,” gumam Karan pada diri sendiri.
Ia terus mengitari apa yang ia anggap sebagai tembok itu dan memang ukurannya cukup luas. Sayangnya, kosong melompong tanpa apa pun.
Karan temui bukan hanya lumut di dinding yang melingkupinya, tapi juga tanaman menjalar yang ikut menutupi sebagian permukaan.
Untungnya, tidak ada pintu pembatas atau ia terkunci di dalam ruang itu.
Benar kata Zoe, ia punya waktu tiga malam untuk melarikan diri.
Ia harus bisa mulai dari saat itu juga untuk menghemat waktu. Ada jeda tujuh puluh dua jam baginya dengan para pengawal yang nanti akan menjemputnya.
Ruang itu memang disiapkan oleh pemilik tambang untuk membuat para pekerjanya berhenti melanggar aturan.
Terkadang ada lebih dari sepuluh orang yang dimasukkan dalam satu kamar itu untuk jangka waktu tertentu. Ada yang seperti Karan sekarang, tetapi ada yang lebih lama lagi.
Tahun-tahun sebelumnya, ada beberapa orang yang berusaha untuk melarikan diri, namun tidak berhasil.
Para penjaga sebenarnya tidak pernah berupaya untuk mengejar siapa pun yang kabur. Mereka tahu kalau butuh perjuangan lebih untuk bisa melintasi hutan yang lebat itu. Para pekerja bisa kehabisan bekal dan meninggal bahkan sebelum keluar dari hutan.
Kawasan yang cukup luas untuk dijelajahi. Kalau pun mereka punya alat perlindungan diri yang lengkap, butuh satu hari untuk bisa keluar dari rimba itu.
Sekarang, Karan hanya seorang remaja tanpa kekuatan dan pelindung apa pun. Ia tidak akan mungkin bisa luput dari bahaya yang mengancamnya di dalam hutan, jika ia nekad untuk menembusnya dalam tiga hari.
Karan selesai mengitari ruangan yang tiga kali lebih luas dari kamar sebelumnya. Ia sudah berdiri di titik awal mula ia bergerak tadi.
Penasaran dengan kata-kata Zoe, Karan melewati pintu bilik untuk melihat apa yang ada di luar.
Lentera kecil masih ia genggam erat. Tidak ia temukan sejenis kamar mandi atau toilet pembuangan di dalam kamar sehingga ia berasumsi, para penghuni kamar pasti buang kotoran di luar tanpa penampung khusus.
Bergidik dengan rasa jijik sekaligus takut, Karan melangkah perlahan menyusuri setapak yang tersembunyi di antara tanaman liar yang tumbuh subur.
Ia berhenti sebentar untuk menengadah ke langit.
Hitam yang ia lihat meski ada sorot cahaya sekilas yang menembus lebatnya pepohonan di hutan itu.
Sunyi. Mencekam. Karan berharap ada kicauan burung atau suara apa pun yang tunjukkan ada kehidupan lain selain dirinya di sana. Tapi, belum ia dapatkan apa yang ia mau.
Langkah kakinya masih belum berhenti. Ia takut tapi juga ingin tahu lebih banyak lagi tentang alam yang ia pijak sekarang.
Tanpa Karan tahu, sepasang mata hitam pekat yang ukurannya jauh lebih kecil dari mata manusia sedang menatapnya tajam.
Gerakan tiga langkah kaki Karan diikuti dengan satu langkah dari sosok yang berada di sekitar Karan.
Ia tidak butuh lampu untuk bisa melihat Karan, asalkan ia tetap jaga jaraknya tidak lebih dari dua ratus meter dari tubuh Karan.
Makhluk ini juga bernapas seperti manusia. Kadang ia bisa jadi teman tetapi lebih sering ia jadi lawan untuk spesies sejenis Karan.