Karan terus melangkah perlahan dengan mata yang awas pada sekelilingnya. Bukan hal yang mudah untuk bisa jelajahi tempat baru dengan cahaya yang sangat terbatas.
Semakin Karan berjalan, ia berharap ada cahaya matahari yang sambut kehadirannya. Sayang sekali, hutan itu begitu lebat hingga matanya perlu beradaptasi dengan kondisi yang ada.
Karan berhenti di satu titik.
Kalau sebelumnya ia lewati semak belukar tak tertata dengan rapi, tapi sekarang, ia ada di sebuah tanah lapang yang tidak terlalu luas dengan pepohonan tinggi mengitarinya.
Jika ada dalam situasi normal, Karan pastinya bahagia bisa bermain di daerah lapang tersebut.
Ingin ia berada di sana lebih lama lagi, tapi ia jadi ingat pesan dari Adzja mau pun Zoe kalau ia hanya dapat jatah makan satu kali saja.
Jika ia lebih lama ada di luar bilik, mereka berpikir ia telah larikan diri dan tidak memberinya makan.
Karan putuskan untuk kembali ke bilik.
Biarlah ia ikuti dulu aturan yang ada. Ia perlu belajar. Mudah untuk masuk ke bilik hukuman. Cukup mencuri atau buat kesalahan lain saja.
Selama aturan tidak terus berubah, ia akan ada dalam situasi yang lebih menguntungkan jika sudah lebih tahu keadaan di sekitarnya.
Jalan kembali ke bilik tidak begitu sulit untuk Karan.
Ia tidak sadar kalau sudah ada kejutan yang menantinya di dalam bilik.
Sementara di tempat yang berbeda.
Zal baru selesai dengan aktivitas paginya. Ia keluar dari kamar mandi dengan tubuh polos. Baru saja mandi setelah bekerja keras hampir semalaman suntuk dengan pasangan barunya yang masih bergelung selimut.
“Enyahlah kamu dari sini. Waktu bersama kita sudah selesai.”
Zal sudah mengenakan celananya. Masih tanpa penutup tubuh bagian atas, ia tarik selimut yang menutupi sebagian tubuh wanita yang menemaninya.
Wanita itu masih setengah mengantuk tapi tidak bisa merajuk. Ia sudah diberitahu dari awal kalau harus patuh pada perkataan Zal jika ingin dibayar, waktu mereka bersama.
Dengan bergegas wanita malam itu turun dari ranjang dan mengenakan semua pakaiannya.
Zal menghisap cerutunya sambil menatap wanita itu merapikan dirinya kembali. Tidak sempat membersihkan diri karena lagi-lagi, karena ultimatum dari Zal.
Ada aturan tak tertulis yang Zal terapkan bagi semua wanita yang ia tiduri.
Ia tidak akan meninggalkan sel telurnya di dalam rahim wanita mana pun. Kalau sampai ia terlanjur lakukan hal itu, artinya ia akan memperistri wanita itu.
Sialnya, ia tidak perhitungkan tentang kesadarannya seringkali hilang, saat ia asyik lampiaskan hormonnya di bawah kendali alkohol.
Sampai sejauh ini, hampir ratusan wanita yang sudah menemani Zal, mungkin lebih karena setahun saja, ada tiga ratus enam puluh lima hari panjangnya.
Sungguh pria yang tidak memiliki beban dalam hidupnya.
Zal merasa ia cukup lihai untuk kendalikan dirinya, jika tidak dalam keadaan mabuk.
Entah telah berapa banyak benih yang sudah ia taburkan dan tinggalkan dalam rahim setiap wanita.
Mungkin pula sudah ada yang dilahirkan tanpa ia ketahui.
Naas bagi para wanita, karena mereka tidak akan bisa berjumpa lagi dengannya untuk kedua kalinya seperti juga bagian dari kesepakatan mereka.
Mana pernah Zal hafal dengan setiap wanita yang menghangatkan ranjangnya di malam hari.
Pernahkah Zal berpuasa? Tentu saja, ketika dia dalam keadaan sakit. Jika sudah sembuh, maka ia kembali bersenang-senang.
Wanita yang baru saja ia usir keluar dari kamarnya sudah menerima bayarannya.
Zal punya beberapa pengawal setia yang selalu ikut perintahnya.
Jika ada wanita yang buat Zal kesal, maka ia akan minta untuk melayani salah satu dari anak buahnya.
Semuanya diatur oleh Zal. Pria itu sangat suka mengatur. Untuk tunjukkan betapa ia sangat berkuasa.
“Bos, kami hampir ketahuan oleh tuan besar tadi,” ucap Rex, pengawal terbaik yang ia miliki.
“Bagaimana mungkin? Rute yang kita biasa pakai tidak pernah diketahui oleh yang lain?” sanggah Zal menatap tajam pada pengawalnya.
Mereka sedang berada di kafe, dua jam setelah Zal mengusir dengan halus, penghiburnya.
“Tuan Golzy sedang mencari pekerja baru yang ia temukan di hutan. Kami berpapasan dengannya sedang bicara dengan Zoe.”
“Apa dia lihat wanita itu?”
“Tidak, Bos. Kami pasti langsung dipecat kalau ketahuan memasukkan wanita di dalam barak dan terlihat bersama seperti tadi.”
“Kalian jangan macam-macam. Kalau kalian ceroboh, aku tidak akan menyangkal kalian di depan kakakku.”
“Maafkan kami, Bos. Tidak akan kamu ulangi lagi.”
“Apa yang kamu katakan tadi bahwa kakakku menemukan pekerja baru?”
“Iya, Bos. Ia tadi sedang cari buruh baru itu.”
“Kamu sudah lihat sosoknya?”
“Belum Bos.”
“Siapa penanggung jawabnya?”
“Sepertinya, Zoe.”
“Panggil Zoe ke kamarku saat kita kembali nanti. Aku ingin tahu siapa pekerja baru yang dicari kakakku. Bukan sesuatu yang lazim. Aku penasaran.”
“Siap, Bos!”
Kembali ke bilik hukuman di belakang tambang, dekat hutan perbatasan Cevza dan wilayah lainnya.
Karan sudah hampir dekat dengan biliknya.
Ia baru rasakan gerah dan lelah berjalan setelah sampai di ambang pintu bilik.
Ia letakkan lagi lampu lentera yang telah menemaninya di tempat semula.
Karan duduk berselonjor untuk menghilangkan letih. Ia tidak peduli lagi dengan alas lantai yang pastinya sangat kotor.
Bukan hanya akan tinggalkan noda pada pakaiannya, tetapi sudah pasti juga lembab.
Karan tak peduli. Ia ingat masih ada baju salin yang akan ia ganti nanti kalau baju yang ia pakai sekarang, sudah benar-benar kotor dan berbau.
Tak jauh dari Karan, sepasang mata yang menatapnya tajam dari awal itu mulai bergerak perlahan-lahan.
Ia ada di belakang Karan, sekarang.
Jika dilihat dari sosoknya, wajahnya cukup menakutkan karena matanya agak besar. Tingginya juga satu meter tak sampai, hingga lebih tepat disebut sebagai manusia pendek.
Benarkah dia memang bersosok manusia? Tampangnya cukup menyeramkan sebenarnya. Telinganya agak besar dan melancip melewati garis alis matanya.
Ia semakin dekat dengan Karan bahkan sudah ada di belakang remaja itu, tapi Karan masih tidak peka.
Pikiran Karan sedang melayang kepada kedua orang tuanya. Ia kembali rasakan rindu setelah beberapa hari bisa dia abaikan.
Karan hanya tidak ingin lupa dengan wajah ayah dan ibunya. Ia pasti akan sangat sedih jika sampai hal itu terjadi.
“Mungkin, aku butuh untuk menggambar sketsa wajah mereka, agar aku bisa tetap ingat garis wajah keduanya. Jika aku sudah bisa temukan alat tulis dan kertas untuk bisa lakukan apa yang aku rencanakan.”
Karan berbicara sendiri. Kurang lebih itu yang ia tahu, padahal ada sepasang telinga lain yang juga ikut dengar, apa yang ia gumamkan.