Karan sudah mematri wajah ayah dan ibunya agar tidak ia lupakan. Mengingat keduanya buat Karan jadi sedih. Akibatnya, ia rasa tubuhnya jadi lemah.
“Aku tidak boleh ingat mereka terus. Nanti, aku akan cepat lemah karena terlalu ikuti apa kata hatiku. Aku harus kuat untuk bisa berjuang.”
Karan seperti sedang ambil sumpah dan janji untuk dirinya sendiri.
Setelah ia diam, ia rasakan hembusan lembut yang hangat menerpa tengkuknya.
Ia mengusap belakang lehernya dengan telapak tangan kirinya untuk mengenyahkan apa yang ia rasa.
Namun, tetap saja hal yang sama ia rasakan. Bagian kulit lainnya tidak terasa hangat. Karena janggal, Karan akhirnya menoleh ke belakang.
Ia ingin tahu apa mungkin ia tanpa sengaja bersandar pada permukaan tertentu yang buat ia rasa ada yang berbeda dan aneh.
“Hah! Siapa kamu?” seru Karan melonjak dari tempatnya duduk. Ia hampir terjungkal sendiri karena tiba-tiba berdiri tanpa atur keseimbangan dengan baik.
Sosok yang tak nampak jelas ada di hadapannya sekarang. Sekitar lima puluh meter. Matanya yang mengilap yang buat Karan kaget setengah mati.
Jantungnya berdetak sangat cepat. Karan sungguh sangat takut tapi harus bisa tunjukkan kalau ia bukan anak yang lemah.
“Jawab aku, siapa kamu!” teriak Karan sekali lagi. Tetap tidak ada reaksi.
Perlahan Karan bergeser ke arah lampu. Ia harus tahu apa yang ada di depannya sekarang. Binatang atau manusia.
Karan berharap apa pun itu yang matanya mengilat dan menakutkan, bisa bergerak mengikutinya sehingga ia bisa melihat sosoknya dengan jelas, setelah terkena pantulan cahaya lampu.
Tapi, harapan Karan tidak terkabul.
Ia terus berdiri dekat dengan lampu sambil berseru, “Apa yang kamu inginkan? Siapa kamu?”
Hening. hanya suara Karan sendiri yang memantul di dalam bilik tak berpintu tersebut dan bergema pelan lalu menghilang.
Karan jadi merinding sendiri.
‘Apakah semua hanya halusinasiku saja? Apakah barusan itu makhluk yang nyata. Kenapa ia tidak bersuara? Setidaknya, ia membalas apa yang aku tanyakan.’ Banyak pertanyaan berkecamuk dalam kepalanya.
“Tolong, kamu harus bisa katakana siapa kamu? Aku tidak bisa berbuat apa-apa kalau kamu tidak jujur. Kita bisa berteman, kalau kamu mau,” tawar Karan spontan.
Kasihan betul remaja yang satu ini. Saking tak punya teman bicara, sejak terpisah dari kedua orang tuanya, memang ia inginkan ada seseorang yang bisa jadi lawan bicaranya.
Ia sudah punya teman, gadis yang ada di dalam rumah dari pemilik tambang.
Hanya saja, mereka tidak sering berjumpa dan sangat sulit untuk melakukannya dengan terang-terangan.
Harus diatur sedemikian rupa hingga tidak diketahui oleh penjaga lain kalau mereka mau selamat atau tidak ingin dihukum.
Karan tenggelam dalam pikirannya sesaat.
Tidak ada balasan dari lawan bicaranya, buat Karan berhenti berkata-kata. Ia terima saja kalau tadi itu hanya sesuatu yang ada dalam pikirannya. Ia mengira apa yang ia pikirkan berujud nyata tapi yang sebenarnya, tidak sama sekali.
Apa yang barusan ia lihat, murni hanya rekayasa alam yang ada di dalam bilik hukuman mereka yang usianya sudah puluhan, mungkin juga ratusan tahun.
Segala sesuatu bisa saja terjadi karena bentukan alam.
Karan mengurut dadanya. Sungguh rasanya tidak nyaman jika sedang dalam keadaan bimbang seperti sekarang.
Ia kembali duduk di tempat semula. Kali ini ia tidak jongkok seperti tadi, tapi memilih untuk berbaring.
Dua potong bajunya yang ia sempat kepit saat dijemput untuk menuju bilik hukuman, jadi alas badannya agar kurangi lembab dan kotor yang ada di lantai.
Tidak berikan banyak pengaruh tetapi bisa jadi alat untuk kurangi rasa khawatirnya.
Karan tidak ingin sakit. Sejauh ini, ia bersyukur masih dalam kondisi aman. Meski ia sudah pernah pingsan, tetapi ia siuman, kemudian dalam keadaan pulih total.
Sungguh bukan hari yang menyenangkan baginya. Karan semakin yakin kalau ia harus ubah rencananya.
Awalnya, ia ingin lari dari bilik tersebut, tetapi hutan yang ia akan lewati bukanlah tempat yang bersahabat.
Karan memilih untuk mengatupkan matanya dan menyusun rencana di kepalanya.
Ia harus tetap ada di dalam bilik agar bisa dapat makanan.
Kalau ia sempat tinggalkan bilik, penjaga yang datang akan berpikir kalau ia sudah kabur sehingga tidak perlu suguhkan makan lagi untuknya.
Karena ini baru pertama kalinya ia dihukum, ia masih belum tahu kapan mereka akan mengantar air dan juga pengganjal untuk perutnya.
Karan mencoba untuk tidur.
Dinginnya udara dan juga lantai sebagai alas badannya begitu mengganggu. Tapi, ia terima saja. Dengan begitu, ia bisa tertidur. Tepat seperti yang ia lakukan saat pertama kali tempati kamar di barak untuk para pekerja.
Karan duga, ia sudah bebas dari apa yang dia anggap sebagai halusinasi belaka beberapa menit yang lalu.
Ternyata, ia keliru.
Sinar mengilat dari tatapan satu sosok itu bukan khayalan.
Pemilik benda yang mengilat tadi itu bergerak perlahan mendekati tempat Karan berbaring.
Sesosok makhluk berujud. Ada kepala, badan, tangan dan kaki. Jadinya tampak seperti manusia. Ia terus mendekati Karan untuk bisa menunjukkan dirinya.
Makhluk ini memang ada dan bukan hanya satu orang saja. Sayangnya, mereka beranak pinak bukan di Cevza.
Makhluk ini tersesat di dalam hutan saat sedang berburu bersama keluarganya.
Ia masih sangat kecil sehingga tidak bisa temukan jalan pulang atau mencari salah satu dari anggota keluarganya.
Uniknya, mereka memang tidak bisa berbicara bahasa manusia, tapi sangat paham dengan apa yang diucapkan oleh kaum tersebut. Tanpa perlu diajar. Seperti mereka memang tercipta sebagai pelengkap bagi manusia.
Kaum mereka juga punya kepekaan batin yang tinggi. Mereka bisa tahu banyak hal tapi sulit untuk ungkapkan kepada manusia, sehingga tidak bisa tersalurkan apa yang mereka ketahui.
Bilik hukuman jadi tempat baginya bernaung selama ini, terutama jika ada hujan di luar sana.
Ada banyak pekerja yang menghuni bilik, tapi ia tidak pernah tunjukkan ujudnya.
Sampai pada Karan ditinggalkan sendirian oleh penjaga barulah ia muncul. Pertama kalinya ia ingin dikenal dan mengenal makhluk lain.
Bisa jadi karena tadi, secara batiniah ia merasa cocok dengan Karan. Makhluk yang bentuknya tidak aneh lagi dalam pandangannya, karena ia sudah lihat rupa manusia sebelumnya.
Juga mungkin karena mereka sama-sama ada pada usia anak-anak, sehingga akan cocok nantinya.
Masalah terbesarnya adalah mereka tidak akan bisa berkomunikasi secara lancar. Belum ada gaya yang pasti untuk bisa ubah keterbatasan ini.
Seiring dengan sang makhluk bergerak mendekat, Karan juga mulai rasakan terpaan dan aroma berbeda di sekitarnya.
Matanya menutup, tetapi indranya yang lain masih aktif mendeteksi. Terutama indra perasa dan pembauan.
Perlahan-lahan, Karan buka matanya. Apa yang tadi ia lihat, benda mengilat dalam cahaya remang kamar kembali ada di dekatnya.
Karan berguling ke samping untuk menjauh dan ia mendarat di lantai terbawah yang tidak dialasi kain bajunya.
Ia lalu cepat berdiri dan berlari menghampiri tembok di mana lampu berada.
Jangan ditanya lagi, betapa jantungnya berdetak sangat cepat. Rasa cemas tadi belum hilang bahkan semakin bertambah lagi.
“Aku tahu kalau kamu itu nyata, tapi kamu itu PENGECUT!” teriak Karan karena takut dan juga marah bercampur aduk jadi satu.
Kalau tadi ia menanti makhluk aneh itu mendekatinya, maka kali ini Karan menyambar lampu di tembok dan mendekati sosok yang telah membuatnya kesal.
Semakin ia dekat, pikirnya makhluk tersebut akan mundur tetapi malah ia bergeming.
Karan menahan napasnya setelah melihat apa yang ada di depannya.
Jarak mereka sekitar seratus meter jauhnya.
Apa yang ia anggap tak berujud itu terbukti nyata.
Tidak jelas bentuknya tetapi setidaknya ia tidak begitu takut lagi.
Tampaknya memang aneh setelah terkena cahaya samar, tapi tidak ada kesan bengis di matanya.
Hanya hitam mengilat ketika terkena cahaya. Tak berkedip.
Karan menenangkan debaran dalam dirinya. Jantungnya ia tenangkan karena sebagian rasa kuatir tadi sudah lenyap setelah ia tahu sedang berhadapan dengan apa.
“Kalau kamu itu memang bukan makhluk aneh, setidaknya perkenalkan dirimu. Siapa namamu yang sesungguhnya?”
Karan lontarkan pertanyaan setelah ia bisa tenangkan diri.
Tapi, nihil. Masih sama. Tak ada jawaban.